Kamis, 31 Oktober 2013

WHITE HOUSE DOWN


White House Down, film bergenre thriller ini sebenarnya cukup menarik dilirik dari judulnya yang secara harfiah mungkin dapat diartikan sebagai runtuhnya gedung putih. Fil berdurasi 2 jam ini dibintangi oleh actor berbadan kekar Channing Tatum sebagai pria yang tengah mencari pekerjaan dan di film ini ia tengah berusaha mendapat pekerjaan sebagai pengawal presiden. Ada juga  Jammie Fox dimana ia berperan sebagai Presiden Amerika Serikat yang merupakan analogi Barack Obama. Akan tetapi dalam film ini ia tidak berperan sebagai Barack Obama, melainkan Presiden Mayer.
Jadi di bagian awal penonton disuguhi adegan Cale (Channing Tatum) tengah berada dalam sebuah interview untuk mendapatkan pekerjaan sebagai pengawal Presiden oleh seorang wwanita yang keras. Ia tak segan melecehkan Cale mulai dari backround academic nya juga pengalamanya. Kita mungkin maklum saja, pekerjaan yang Cale lamar bukan pekerjaan sembarangan. Pekerjaan ini menyangkut keselamatan seorang pemimpin Negara besar, Negara Adikuasa, Amerika Serikat. Secara implicit Cale ditolak. Dan entah sebuah kebetulan atau tidak, penonton akan disuguhi awal-awal pembajakan gedung putih. Teroris-teroris itu tengah memulai aksinya. Yup, dengan sekejap teroris itu berhasil meledakan salah satu ruangan di Gedung Putih. Pengunjung Gedung Putih dan pejabat Negara pun histeris. Presiden harus diselamatkan. Tapi ternyata teroris itu bekerja sama dengan salah satu pejabat Negara yang sangat dekat dengan sang presiden. Ini juga yang menjawab kegusaran saya atas gampangnya teroris itu masuk ke gedung putih. Percaya atau tidak, Cale pun jadi pahlawan sang presiden. Yihaa! Lewat baku tembak, cale berhasil dengan sigapnya melindungi presiden dan berhasil mengamankan sang Presiden. Tapi cerita belum selesai disitu. Teroris masih memiliki banyak rencana yang telah tersusun. Gedung putih semakin kacau. Kode rahasia senjata nuklir berhasil dibajak. Presiden diduga telah tewas sehingga melalui Amandemen 22 sang wakil presiden menjadi presiden. Tapi beberapa saat setelah pelantikan pesawat yang ditumpangi sang presiden itu berhasil ditembak dengan senjata rudal, kursi kepresidenan pun jatuh ke tangan sang Juru Bicara kepresidenan. Dalam satu hari kursi kepresidenan diganti dua kali. Tak hanya warga Amerika, penduduk dunia pun gempar.
Presiden yang diduga telah meninggal itu masih bersama dengan Cale. Ia tak boleh dilenyapkan, sang pencetus terror menginginkan Mayer untuk tetap hidup.
Plot sebenarnya menarik, tapi begitu memasuki 30 menit pertama saya mengalami kejenuhan. Pertama, teroris itu terlalu mudah masuk ke gedung putih meskipun pada akhirnya saya tahu siapa dalangnya dan bisa membuat saya memaklumi kegampangan mereka masuk ke gedung putih. Apalagi, gedung putih bisa diakses oleh orang luar sebagai salah satu tempat berlibur. Kedua, presiden Mayer dilukiskan seolah-olah tanpa wibawa. Ya, memang presiden juga manusia, tapi dalam film ini tokoh presiden seperti tokoh Parodi yang memancing Tanya “begitukah sang Presiden Amerika?”. Ketiga, ini mungkin stereotype saya, tapi beberapa teroris yang melakukan penyerangan kurang greget, beberapa diantara mereka terlalu emosional yang tidak perlu. Keempat, alasan melakukan terror dan pembajakan sebenarnya terlalu sederhana. Hanya karena dendam pribadi. Bukan tidak boleh hanya saja mungkin kurang digali sehingga terkesan dangkal. Beberapa hal tersebut menimbulkan  keseluruhan cerita  film menjadi amburadul, kurang chemistry dan tak berkesan.

And yeah, diakhirr cerita tentu saja Cale menjadi pengawal presiden.