White House Down, film bergenre thriller ini
sebenarnya cukup menarik dilirik dari judulnya yang secara harfiah mungkin dapat
diartikan sebagai runtuhnya gedung putih. Fil berdurasi 2 jam ini dibintangi
oleh actor berbadan kekar Channing Tatum sebagai pria yang tengah mencari
pekerjaan dan di film ini ia tengah berusaha mendapat pekerjaan sebagai
pengawal presiden. Ada juga Jammie Fox
dimana ia berperan sebagai Presiden Amerika Serikat yang merupakan analogi
Barack Obama. Akan tetapi dalam film ini ia tidak berperan sebagai Barack
Obama, melainkan Presiden Mayer.
Jadi di bagian awal penonton disuguhi adegan
Cale (Channing Tatum) tengah berada dalam sebuah interview untuk mendapatkan
pekerjaan sebagai pengawal Presiden oleh seorang wwanita yang keras. Ia tak
segan melecehkan Cale mulai dari backround academic nya juga pengalamanya. Kita
mungkin maklum saja, pekerjaan yang Cale lamar bukan pekerjaan sembarangan.
Pekerjaan ini menyangkut keselamatan seorang pemimpin Negara besar, Negara
Adikuasa, Amerika Serikat. Secara implicit Cale ditolak. Dan entah sebuah
kebetulan atau tidak, penonton akan disuguhi awal-awal pembajakan gedung putih.
Teroris-teroris itu tengah memulai aksinya. Yup, dengan sekejap teroris itu
berhasil meledakan salah satu ruangan di Gedung Putih. Pengunjung Gedung Putih
dan pejabat Negara pun histeris. Presiden harus diselamatkan. Tapi ternyata
teroris itu bekerja sama dengan salah satu pejabat Negara yang sangat dekat
dengan sang presiden. Ini juga yang menjawab kegusaran saya atas gampangnya
teroris itu masuk ke gedung putih. Percaya atau tidak, Cale pun jadi pahlawan
sang presiden. Yihaa! Lewat baku tembak, cale berhasil dengan sigapnya melindungi
presiden dan berhasil mengamankan sang Presiden. Tapi cerita belum selesai
disitu. Teroris masih memiliki banyak rencana yang telah tersusun. Gedung putih
semakin kacau. Kode rahasia senjata nuklir berhasil dibajak. Presiden diduga
telah tewas sehingga melalui Amandemen 22 sang wakil presiden menjadi presiden.
Tapi beberapa saat setelah pelantikan pesawat yang ditumpangi sang presiden itu
berhasil ditembak dengan senjata rudal, kursi kepresidenan pun jatuh ke tangan
sang Juru Bicara kepresidenan. Dalam satu hari kursi kepresidenan diganti dua
kali. Tak hanya warga Amerika, penduduk dunia pun gempar.
Presiden yang diduga telah meninggal itu
masih bersama dengan Cale. Ia tak boleh dilenyapkan, sang pencetus terror
menginginkan Mayer untuk tetap hidup.
Plot sebenarnya menarik, tapi begitu memasuki
30 menit pertama saya mengalami kejenuhan. Pertama, teroris itu terlalu mudah
masuk ke gedung putih meskipun pada akhirnya saya tahu siapa dalangnya dan bisa
membuat saya memaklumi kegampangan mereka masuk ke gedung putih. Apalagi,
gedung putih bisa diakses oleh orang luar sebagai salah satu tempat berlibur.
Kedua, presiden Mayer dilukiskan seolah-olah tanpa wibawa. Ya, memang presiden
juga manusia, tapi dalam film ini tokoh presiden seperti tokoh Parodi yang
memancing Tanya “begitukah sang Presiden Amerika?”. Ketiga, ini mungkin
stereotype saya, tapi beberapa teroris yang melakukan penyerangan kurang
greget, beberapa diantara mereka terlalu emosional yang tidak perlu. Keempat,
alasan melakukan terror dan pembajakan sebenarnya terlalu sederhana. Hanya
karena dendam pribadi. Bukan tidak boleh hanya saja mungkin kurang digali
sehingga terkesan dangkal. Beberapa hal tersebut menimbulkan keseluruhan cerita film menjadi amburadul, kurang chemistry dan
tak berkesan.
And yeah, diakhirr cerita tentu saja Cale
menjadi pengawal presiden.
