Jumat, 31 Oktober 2014

Sepenggal Kenangan Misterius Dari Gunung Purba


Oh my God! Ungkap saya ketika itu secara spontan setelah sampai di sebuah batu besar. Teman saya mengira saya melihat hantu. Memang keadaan sudah gelap dan dibelakang kami adalah pohon-pohon yang lumayan rapat dimana kami tadi baru saja melaluinya. Berbeda dengan apa yang kami lihat di depan mata kami; pemandangan lampu-lampu jogja yang membentuk sebuah kumpulan cahaya seperti kumpulan gemintang di langit.
 Teman saya mengira kami sudah sampai di puncak karena kebetulan baru saya yang pernah ke Gunung Purba. Sayangnya kami belum sampai di puncaknya, tapi saya biarkan mereka menikmati apa yang bisa dinikmati sambil meluruskan kaki dan melepas penat sejenak. Sebetulnya saya agak kebingungan karena jalur yang kami lalui mengantarkan kami pada batu besar tersebut. Meskipun demikian, buat saya malam itu adalah malam minggu terindah karena saya bisa duduk santai melepas penat, bercengkerama dengan sahabat-sahabat sambil menikmati jogja yang menjelma menjadi ribuan cahaya. Sayup-sayup kami juga mendengar suara gamelan yang berasal dari entah. Anggap saja itu berasal dari desa di kaki Gunung Purba ini. Saya tidak mau menebak-nebak kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin berujung pada misteri. Bukannya saya tidak suka akan misteri, tapi ada kalanya misteri tetap menarik dibiarkan menjadi misteri. Dan misteri ini menjadi semakin menarik karena ia berupa tabuh gamelan yang menjadi latar kami bercengkerama.
Tapi ada misteri lain yang membuat saya mengernyitkan dahi begitu sampai di puncak batu itu. Saya biarkan diri saya tenang untuk mencari jalan keluar akan masalah yang awalnya Cuma saya yang tahu. Ya, meskipun kami nampak dipuncak tapi batu besar tempat kami istirahat bukanlah puncak. Masalahnya adalah sehabis batu itu tak ada lagi jalur untuk ke puncak yang saya tahu dibawahnya terdapat camping ground yang luas. Misteri yang lain adalah jalur yang kami lalui sebelum sampai di puncak batu tersebut bukanlah jalur yang pernah saya lalui. Jalur yang pernah saya lalui dulu terhitung mudah dengan banyak bantuan plang-plang penunjuk arah dan informasi yang sangat membantu. Sedangkan yang kami lewati adalah jalan setapak yang kanan kirinya ditumbuhi pohon yang lebat. Kadang-kadang pohon-pohon itu menutupi jalan sehingga perlu disibak terlebih dahulu. Bahkan ada juga pohon berduri yang sempat melukai kaki saya dan jari tangan teman saya. Untuk hal ini, saya salut dengan kegigihan teman-teman saya, terutama yang perempuan karena mereka tetap gigih dan tangguh meskipun harus meraba-raba jalan ditengah gelap dengan medan yang cukup menanjak. Bahkan mereka tetap ceria dan memberi warna pada pendakian kala itu. Sesekali salah satu teman saya bercanda konyol sesekali berujar alay, dan sesekali tertawa terbahak-bahak yang memecah keheningan dengan suara cemprengnya. Sedangkan teman saya yang satunya yang saya tidak sangka-sangka telah mendaki merbabu dua kali terlihat baik-baik saja dengan semangat terukir di wajah dan cahaya matanya di dalam diamnya. Sedangakan teman saya yang satunya tak perlu dipertanyakan lagi, dia senior saya dalam kaitanya dengan hal semacam ini. Tapi yang mengejutkan adalah ternyata dia termasuk orang yang bisa banyak bicara sekedar mengenyahkan keheningan. Selama ini, sebelum ke Gunung Purba, yang saya tahu dia termasuk pendiam dan pendek kata. Ini adalah misteri yang terungkap yang bisa jadi mengambang menjadi tanya sebelum kami mendaki gunung yang tersusun dari batu-batu raksasa itu. Meskipun demikian mereka tetap menarik, saya yakin banyak misteri yang tetap harus tersimpan menjadi rahasia dalam masing-masing individu. Pada akhirnya tanpa diminta misteri itu akan terkupas dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa dan dimata-matai.
Jalur ini kami lewati sehabis istirahat di Gardu Pandang 2 dimana setelah itu saya dan teman-teman tidak melihat satu pun plang penunjuk. Memang saya akui jalur yang kami lewati lebih menarik, tidak monoton, dan lebih membutuhkan lebih banyak perjuangan dibandingkan jalur yang sebenarnya, tapi tetap saja menyisakan tanya. Tanya yang menyimpan misteri dan tetap menarik dibiarkan menjadi misteri meskipun rasa penasaran membuat kami mencoba mencari tahu hingga esok hari.
Ketiga, adalah bagaimana kami harus berjalan agar sampai di tempat kemah. Disekitar tempat kami duduk adalah hutan yang cukup lebat seperti yang telah saya terangkan. Mendirikan tenda diatas batu juga agak berbahaya.
Keempat dan seterusnya adalah kenapa kami bisa sampai ditempat buntu itu; bukan puncak Gunung Purba tetapi tak ada lagi jalur untuk kami naik. Dimanakah awalnya?

Ketika itulah saya merasa mendapat keberruntungan. Ya, beruntung karena malam itu malam minggu yang kata Bapak penjual cilok yang saya temui di kaki Gunung Purba ini mengatakan bahwa malam minggu biasanya ramai oleh pengunjung. Tidak lama setelah kami mencoba mencari jalur untuk kepuncak saya melihat sorot lampu. Tidak menunggu lama, saya dan teman-teman mencoba mengejar mereka. Kami turun kembali dan sungguh terkejut ketika kami menjumpai gazebo yang bertuliskan Gardu Pandang 4 beserta petunjuk arah ke puncak. Tanda Tanya besar melayang-layang dan mengembung diatas kepala, dimanakah Gardu Pandang 3? Tapi pertanyaan ini kemudian tertutup oleh kelegaan dan keriangan bahwa pada akhirnya kita berada di jalur yang benar tanpa menafikan bahwa yang kami lalui sungguh menarik. Tengoklah bagaimana kami berbagi lampu penerangan karena kami Cuma bawa satu dan sisanya adalah dua senter HP yang redup. Ketika itu karena gelap oleh malam dan pepohonan rimbun sedangkan jalur cukup terjal, kami harus bergantian berjalan; satu jalan dulu di depan kemudian menerangi yang dibelakang. Begitu seterusnya dan seterusnya untuk saling menunggu, menerangi, dan saling menyemangati.

Setelah itu kami mendaki jalur yang sebenarnya. Memang lebih mudah tanpa mencoba meremehkanya jika dibandingkan dengan apa yang telah kami lewati. Tidak lebih dari 10 menit kami di sambut keramaian. Ada yang menyanyi dengan gitar akustiknya, ada yang tertawa terbahak. Segala riuh itu berpadu menjadi satu ditengah langit malam berbintang dan api-api unggun kecil yang mencoba merebak malam. KAMI SAMPAI DI TEMPAT KEMAH. 

Senin, 13 Oktober 2014

Menikmati Matahari Terbit dari Atap Dieng

Dieng menawarkan beberapa tujuan wisata alam yang mengagumkan sebut saja telaga, kawah, dan pemandangan matahari terbit. Pesona Dieng dengan lanskap pemandangan alam berpadu dengan udara dingin dan perkebunan yang luas membuat Dieng menjadi semakin eksotis. Lihat saja bagaimana komplek Candi Arjuna maupun telaga warna di pagi hari yang berkabut. Pemandangan semacam ini membuat kesan yang mistis nan magis.
Dari beberapa pilihan wisata yang terdapat di Desa Dieng, berburu matahari terbit adalah salah satu yang senantiasa dicari wisatawan meskipun mereka harus rela mendaki bukit bahkan gunung sekalipun. Meskipun harus bersusah payah, pemandangan matahari terbit yang mengagumkan bisa mengobati lelah. Tanya saja pada wisatawan setelah menikmati keindahan tersebut, bisa dipastikan yang diingat adalah indahnya bukan lelahnya. Nah, untuk mencari pemandangan matahari terbit di Dieng, ada beberapa tempat yang bisa dikunjungi salah satunya dari Gunung Prau yang setahun ini bak primadona. 
Untuk mencapai puncak Gunung Prau, ada beberapa jalur pendakian yang bisa dilalui, akan tetapi yang paling populer adalah jalur Pathak Banteng karena jarak tempuh yang lebih pendek, kurang lebih 3 jam untuk mencapai puncaknya. Dari jalur ini, selama pendakian, pendaki akan dimanjakan dengan pemandangan Dieng, telaga warna, dan kawah sikidang yang selalu mengepulkan asam putih dimana kesemuanya seperti sebuah miniatur yang dikelilingi oleh perkebunan bersekat-sekat yang hijau. Sebelum sampai puncak, ada hutan cemara yang teduh setelah itu ada padang bunga liar yang disebut Bunga Lonthe Sore oleh warga setempat.

Puncak Gunung Prau merupakan padang savana luas berbukit-bukit yang dijuluki bukit teletubies. Ini tidak mengherankan jika tanggal 31 Agustus yang lalu, tercatat lebih dari 3000 pendaki memenuhi puncak untuk menikmati matahari terbit. Puncak yang landai tersebut memang sangat ideal untuk berkemah sambil menunggu pagi.
Untuk menikmati momen-momen lahirnya matahari, bangunlah sebelum jam 05.00. Selain pemandangan setelah matahari terbit, langit pagi sebelum matahari benar-benar muncul dengan gradasi lembayung di ufuk timur berpadu dengan warna langit yang biru cerah tidak kalah istimewa. Agar keindahan yang tersaji tidak rusak, pakaian hangat sangat diperlukan. Perlu diingat karena Dieng sendiri suhunya sudah dingin apalagi jika berada di tempat yang lokasinya lebih tinggi.
Bersiap-siaplah menahan nafas ketika matahari mulai terbit dari balik cakrawala dimana lautan awan membuat beberapa puncak gunung yang terlihat seperti bahtera-bahtera raksasa. Benar saja, pemandangan seperti ini mampu menghilangkan lelah yang telah ditempuh; Kombinasi lautan awan, gradasi matahari terbit keemasan, dan langit biru. Belum lagi bias cahayanya diantara padang savana yang hijau dan padang bunga liar. Surga yang dianugerahkan Tuhan di dunia. Nikmati dan syukurilah selagi bisa karena ini tidak akan berlangsung lama sembari minum kopi atau teh panas. Sensasi yang luar bisasa bukan? Bisa jadi belum ada cafe yang menyajikan kenikmatan semacam ini.
Bagi yang ingin menikmati keindahan tersebut, untuk mencapai Dieng ada banyak pilihan baik transportasi umum maupun menggunakan kendaraan pribadi karena dieng memiliki akses jalan yang mudah, salah satunya melalui Kabupaten Wonosobo. Setelah sampai di Wonosobo, terdapat plang-plang yang akan mengantarkan kita ke Dieng. Lokasi jalur pendakian Pathak Banteng terletak sebelum desa Dieng. Jadi jangan lupa untuk memerhatikan kanan dan kiri agar tidak keblabasan.
Untuk tiket masuk objek wisata Gunung Prau, pengunjung hanya perlu membayar Rp 6000/ orang. Jangan lupa juga untuk membawa perbekalan dan peralatan kemah, jika tidak memilikinya, tidak perlu khawatir karena di dekat base camp gunung prau terdapat tempat persewaan alat kemah. pertimbangkan juga faktor cuaca dan musim, waktu terbaik adalah pada saat musim kemarau. Hindari juga pergi ke daerah Dieng ketika pergantian musim karena suhu biasanya berada di titik terendah. Bahkan tidak jarang terjadi hujan es. Ini bisa saja menjadi daya tarik akan tetapi tidak disarakan untuk mendaki karena biasanya sering terjadi badai. 

Selasa, 22 Juli 2014

Mendaki Gunung Sumbing

Dia tahu, dia rasa, Maka tersenyumlah kasih
Tetap langkah jangan henti, cinta ini milik kita

Mendaki Gunung Sumbing diawali dengan doa dan sebuah alunan lagu romatis dari seoarng penyeru kritik, Iwan Fals. Romantis dengan cita rasa yang tentu saja berbeda. Saya mendaki gunung ini, kurang lebih setahun setelah saya mendaki saudara kembarnya, Gunung Sindoro. Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3371 mdpl, lebih tinggi dibandingkan dengan gunung Sindoro. Yang saya suka dari keduanya adalah bahwa mereka begitu presisi dan konsisten dilihat dari seluruh penjuru mata angin meskipun Gunung Sindoro tampak lebih ideal jika kita kembalikan ke gambar-gambar gunung sewaktu kita duduk dibangku TK maupun SD.
Dari beberapa milis backpacker banyak yang merekomendasikan pendakian Sumbing lewat Jalur Garung, maka, jam enam pagi saya dan teman pendaki setia saya pun berangkat dari Jogja menuju Wonosobo setelah kami menghangatkan badan dengan susu coklat panas dan jeruk anget di burjo dekat kos-kosan teman saya itu. Perut saya masih cukup mengantuk untuk sarapan jam enam pagi, setelah membayar, kami mengecek perlengkapan,meregangkan tubuh, menstarter motor, tancap gas dan go... kami menyusuri jalanan yang belum terlalu padat. Bersama-sama dengan anak-anak sekolah baik putih biru maupun abu-abu motor kami melaju dengan begitu ceria lalala yeyeye.
Dari kejauhan, Gunung Sumbing bak seorang resi; tenang dan tampak begitu anggun. Biru yang tak melulu sedih tapi indah dan damai. Ia disana tak terusik. Seperti Budha dalam meditasi yang dalam. Saya memang buta warna, tapi saya masih bisa melihat warna biru dengan guratan-guratan di bagian punggungnya. Siapa yang tahu bahwa dari kejauhan yang nampak tenang dan penuh wibawa, ia menyimpan belantara, padang sabana, medan terjal berbatu dan mitos-mitos yang tak lekang. Diluar itu, tentu saja ia adalah rumah bagi ribuan petani yang hidup damai berdampingan dengannya. Kelak begitu kamu dekat, kamu akan melihat bidang-bidang lahan dimana benih disemaikan, bibit-bibit ditanam dalam barisan yang rapi setelah sebelumnya diberi pupuk, disiram, diobati ketika ada hama; bukankah ini serupa orang tua merawat anaknya, dan begitulah bagaimana petani mengasihi wortel-wortelnya, kol, cabai rawit, cabai keriting, atau bahkan tembakau sekalipun yang mana akan ditemui di perjalanan menuju pos I Gunung Sumbing.
Ditempat seperti ini pula akan ditemui petani-petani yang kuat dan bagaimana kesetaraan gender berlaku tanpa digembar-gemborkan dalam beberapa hal; seorang Ibu mungkin usia 40an membawa seikat besar kayu bakar. Dibelakangnya, seorang lelaki yang mungkin suaminya juga memikul kayu bakar. Jangan bandingkan dengan tas carrier bawaan saya yang Cuma 50 liter. Mereka menuruni jalanan berbatu yang telah ditata begitu rapi dan begitu telaten. Satu hal, saya pikir ibu-ibu yang berpapasan dengan saya di lereng Gunung Sumbing dan menyapa saya tak tahu itu apa kesetaraan gender, tapi toh ia mau keluar rumah dan melakukan apa yang suaminya lakukan. Mungkin juga ia seperti ibu saya, tetap bekerja di sawah seperti suaminya tapi tetap menghawatirkan anak perempuanya jika tak kunjung menikah. Dan sama seperti Ibu saya, mungkin setelah menggendong kayu bakar yang sampai terbungkuk-bungkuk di punggungnya itu, ia harus memasak untuk anak dan suaminya. Betapa perkasa perempuan-perempuan ini, di saat lelaki mungkin istirahat, ia masih perlu memikirkan perut orang diluar dirinya. Mereka wanita-wanita yang mengerjakan beberapa pekerjaan laki-laki tapi tak perlu menjadi laki-laki. Dan ngomong-ngomong, di tempat tinggal saya, ada juga lho perempuan yang mencangkul sawahnya sendiri karena tak punya suami.
Meskipun mereka bersusah payah naik turun gunung dengan beban di punggung maupun di pundak, mereka makan dari peluh mereka sendiri. Saya bisa bertaruh, mereka tak melakukan money laundry apalagi mobil mercy. Uang tabungan mereka mungkin tak seberapa. Tapi, mereka tetap bisa ketawa.
Saat saya mendaki Gunung Sumbing, kebanyakan tanaman baru tumbuh menjadi remaja yang hijau atau bahkan baru saja di cocok kecuali tanaman cabai dibeberapa bidang lahan yang saat itu tengah di panen. Tanaman tembakau yang hampir ada di setiap lahan yang membujur dari lembah hingga perbukitan pun bahkan ada yang baru ditanam. Hanya beberapa yang hampir di panen. Jalur yang kami lalui terus mendaki, dari tempat dimana saya berdiri saat itu, yang nampak adalah bidang-bidang tanah yang dibagi-bagi membentang dari ujung kaki saya hingga ujung pandang yang terhalangi bukit kemudian masuk perkampungan-perkampungan untuk kemudian perkebunan lagi ke utara terus naik hingga kita bisa melihat pucuk Gunung Sindoro dari kaki Gunung Sumbing ini.
Perjalanan akan terus naik dengan sedikit sekali jalur landai dan akan membawa kita meninggalkan perkebunan menuju hutan cemara yang sesekali berbisik karena terusik angin. Jalur pun menyempit dan mengantarkan kita pada semak belukar yang lebat dan tinggi, deru kendaraan semakin lirih terdengar hingga pada akhirnya semakin menanjak dan kita akan sampai di sebuah padang sabana yang berbukit-bukit hijau di bagian kanan maupun kiri. Padang sabana itu terhubung sekaligus dipisahkan oleh ceruk-ceruk lembah yang cukup terjal. Jika ditarik lebih jauh baik ke timur maupun ke barat, maka mata kita akan menemukan langit yang tak lain adalah biru sejauh yang mata kita mampu jangkau. Dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang lebih baik daripada merebahkan tubuh sejenak diatas rerumputan dan menikmati langit yang hampir senja. Ini adalah kemewahan yang langka, yang tak bisa dinikmati di hingar bingar kehidupan kota. Saat itu, Gunung Sumbing terasa begitu romantis ditambah sebuah lagu yang mengalun indah dari Sang Legenda, Iwan Fals Buku Ini Aku Pinjam. Sempurna, lagu cinta ditengah sabana. Sesaat kemudian, saya merasa berada diatas awan ketika bergumpal-gumpal awan putih muncul menyeruak menutupi Gunung Sindoro dengan seluruh dari bawah padang hijau ini. Beruntung sekali dewa dewi yang tinggal di langit, bisa setiap hari melayang-layang  dan menapaki awan putih dan memandang senja maupun pagi. Kita manusia tempatnya di bumi, tempatnya realita yang bising.
Oh, saya bukanlah orang yang religius. Tapi, ditempat seperti inilah saya merasa dekat dengan Tuhan, Tuhan yang indah,  dengan cara yang romantis. Lihatlah bagaimana Ia menciptakan gumpalan-gumpalan awan putih  yang bergumul diterpa matahari dengan sinar lembut keemasan. Rasa dekat ini mungkin karena hening, saya bisa lebih melihat,lebih mendengar, dan lebih merasa dengan hati yang tidak tercemar bising dan deru yang membuat telinga pekak. Di tempat yang tinggi ini pula, saya bisa rehat dari hingar bingar rusuh tentang siapa yang lolos menjadi anggota DPR, siapa bakal capres dan cawapres. Saya juga tak perlu miris setiap kali membuka portal berita on line yang memuat polemic perbedaan keyakinan atau kasus korupsi yang tak ada ujungnya. “tanyakan pada rumput yang bergoyang”, disini saya merasa utuh dalam kedamaian yang tak perlu dibahasakan. Mungkin saya egois dan apatis tapi untuk sejenak saja, saya perlu mengganti gambaran tentang Indonesia yang tak melulu hitam. Saya ingin tahu, ada di suatu sudut, kawan, dimana kamu tak perlu mengeluh akan kasur yang kurang empuk, akan pendingin yang rusak, atau selimut yang kurang hangat. Di sini kawan, Tuhan terasa begitu nyata karena saya bisa bersyukur meskipun satu cangkir kopi buat berdua.
Lantas untuk apa terburu-buru, esok kita akan kembali lagi kepada jalanan yang penuh jelaga dan debu. Untuk saat ini, biarlah sejenak larut dalam hening yang tak berbahasa.
Jika diperhatikan lebih seksama, hamparan padang sabana yang berbukit bukit ternyata adalah bukit batu. Ada celah-celah yang tidak ditumbuhi rumput di sana. Batu-batu itulah yang kelak akan menjadi jalur ke puncak dan menyusun puncak Gunung Sumbing. Awalnya nanti disebuah tempat bernama Pasar Watu, kemudian jalur akan menurun sebentar karena habis itu akan  mendaki lagi, disanalah ada sebuah batu besar  lebih besar dari kamar kos saya tentunya, bahkan lebih besar dari outleat-outleat Indomaret. Batu itu disebut Watu Kotak, tempat bagi para pendaki untuk membangun tenda jika masih tersedia tempatnya. Setelah Watu Kotak ini, jalur Pendakian Gunung Sumbing hampir semuanya berbatu. Kelak sebelum puncak, jalur berbatu ini akan semakin curam. Dan kelak saya harus merelakan tenda yang telah disewa seharga 25 ribu perhari tidak terpakai karena kami tak menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ketika itulah saya juga akan tahu bahwa teman pendaki saya phobia ketinggian. Tahukah bahwa ia begitu ingin terjun setiap kali melihat jurang atau tebing yang terjal. Tapi ia tentu saja tak menyerahkan diri pada tebing-tebing curam berbatu itu. Ia bersama saya dipuncak dengan haru biru menunggu terbitnya matahari seperti mertua menunggu cucu pertamanya lahir. Begitu antusias. Makin lama langit makin cerah dengan garis lurus warna orange yang lembut membentuk gradasi bertumpuk tumpuk dengan warna biru muda kemudian menjadi tua begitu menjauh dengan calon matahari.
Kabut pagi membuat Gunung Merapi dan Merbabu melayang di atas awan di sebelah timur. Makin lama, gradasi warna orange tumpah, semakin ke inti semakin kuat warnanya yang perlahan mengabur menjadi biru ketika semakin jauh dari inti itu. Biru itu semakin melebur dengan kuning dan orange yang membuncah dari sebuah inti detik demi detik. Kali ini inti yang dimaksud lebih kuning daripada orange, inti yang tidak hanya membuuat kulit saya menjadi hangat, tapi juga riuh sorak dan luapan bahagia. Inti itu satu yang disebut dengan matahari. Mendaki Gunung Sumbing pun lunas sudah.





Kamis, 15 Mei 2014

Pendakian Gunung Sumbing

Beberapa waktu lalu saya dan satu rekan saya melakukan pendakian ke gunung Sumbing, gunung tertinggi ke dua di Jawa Tengah setelah Gunung Slamet. Pendakian di mulai jam 10. ini pertama kalinya saya mendaki di pagi hari. Hasilnya, banyak momen indah yang bisa dinikmati.
Di Pestan, Pos Pendakian Gunung Sumbing

Di Pestan, Pos Pendakian Gunung Sumbing

Di Pestan, Pos Pendakian Gunung Sumbing

Di Pestan, Pos Pendakian Gunung Sumbing

Di Pestan, Pos Pendakian Gunung Sumbing

View Hijau Trek Gunung Sumbing Setelah Pestan

Setelah Pestan, Trek Pendakian Gunung Sumbing


Pemandangan Hijau di Trek Pendakian Gunung Sumbing

Puncak Gunung Sumbing

Pemandangan Hijau di Trek Pendakian Gunung Sumbing

Puncak Gunung Sumbing

Gunung Sindoro dari Puncak Gunung Sumbing

Gunung Sindoro dari Puncak Gunung Sumbing

Pemandangan Sunrise Cantik dari Puncak Gunung Sumbing

Gunung Sindoro dari Puncak Gunung Sumbing
Pos Pestan (Peken Setan), Jalur Pendakian Gunung Sumbing

Pos Pestan (Peken Setan), Jalur Pendakian Gunung Sumbing

Pos Pestan (Peken Setan), Jalur Pendakian Gunung Sumbing

Pos Pestan (Peken Setan), Jalur Pendakian Gunung Sumbing

Rabu, 30 April 2014

BELAJAR DARI FILM: MENJADI GURU YANG EKSENTRIK

Dinamika Pendidikan: Taken From kampusnews.com

Tadi siang saya menonton film bagus, atau saya katakan film yang menyentuh saja karena bagus memiliki penilaian yang agak rumit dan saya pun tak begitu tahu secara teoritis mengenai film. Saya hanya orang yang suka nonton film. Film ini diputar di saluran TV berlangganan yang memang memutar film-film lama, judul film tersebut adalah Dangerous Mind. Saya terkesan dengan sosok guru perempuan di film ini, seorang guru baru yang dihadapkan pada satu kelas yang bahkan tak tahu itu apa kata kerja, seorang guru baru yang dihadapkan pada kelas mayoritas kulit hitam  yang tak tahu untuk apa sekolah itu, seorang guru yang dihadapkan pada siswa-siswa yang bahkan tak menganggap kehadirannya ada dan diperlukan. Sejauh ini saya teringat dengan film The Freedom Writers yang mengangkat tema hampir sama: murid urakan, tidak punya motivasi, dan yang paling memprihatinkan terlibat dalam gank yang bisa mengantarkan mereka pada kematian kapan pun dan dimana pun mungkin dengan peluru di pelipis, di dada, di jalan raya, di jalan sempit, bahkan di keramaian. Ada salah satu ungkapan yang masih saya ingat dalam film yang dibintangi Hillary Swank ini, salah satu muridnya berkata; akan sangat beruntung sekali bila usia saya sampai 18. Bagaimana kita tidak tercengang mendengar ungkapan seperti itu yang jelas-jelas datang dari orang yang sehat tanpa penyakit kronis sekalipun. Lantas ada pertanyaan, sebegitu gelapnyakah kehidupan disana?
Saya rasa kasus-kasus tersebut ada beberapa yang relevan dengan kondisi kita di Indonesia. Hanya saja sepertinya tak banyak guru yang paham bagaimana cara menangani murid semacam itu kecuali dikeluarkan dari depan kelas atau menulis kata-kata yang sama sebanyak 100 kali untuk menimbulkan efek jera. Berhasilkah? Saya rasa tidak.  
Saya bahkan masih ingat ketika itu saya masih berseragam putih abu-abu, seorang guru membanting pintu dan keluar dari kelasnya karena murid di kelas tersebut gaduh dan tak mau diatur. Sebelumnya mungkin dia memarahi kelas tersebut. Kita memang tak bisa menyalahkan sepenuhnya tindakan guru tersebut, tapi juga sekaligus tak bisa membenarkan tindakannya. Mungkin dia sebenarnya sangat peduli dengan murid-muridnya tapi dengan cara yang keliru karena di sisi lain ada guru yang tak acuh semisal mengantuk dikelas atau pergi kekantin ketika murid-muridnya mengerjakan tugas.
Kembali lagi pada guru yang membanting pintu dan keluar kelas lagi. mungkin dalam benaknya, semua murid harus duduk manis di bangku masing-masing dan mematuhi semua apa yang dikatakan guru. Akan tetapi, ia menemukan kenyataan yang berbeda. Saya pikir ia lupa akan fungsi pengajaran dan pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa pengajaran harusnya memerdekakan kemiskinan dan kebodohan, dan pendidikan harusnya menjadi sarana bagi murid-murid agar memiliki otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik.
Selaras dengan Ki Hadjar Dewantara, dalam Undang-Undang disebut juga tujuan pendidikan yang tertera dalam UUD dasar 45 pasal 31 ayat 3 yang berbunyi Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Dalam pasal 5  juga menjelaskan tentang tujuan pendidikan yang berbunyi : Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.  Masih searah dengan pernyataan ki hadjar dewantara, dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003 disebutkan bahwa Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan watak peserta didik agar menjadi peserta didik yang cerdas. Lebih lanjut lagi, UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni: (1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Dimana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ.
Jadi bisa disimpulan secara gamblang sebetulnya bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk mencerdaskan peserta didik agar menjadi manusia yang lebih baik tidak hanya secara intelektual tapi juga emosional dan spiritual. Maka dari beberapa uraian tersebut, ada pertanyaan yang muncul dalam benak saya, bisakah tindakan guru yang marah-marah kemudian pergi dengan membanting pintu berhasil memerdekakan murid-murid dari kebodohan dan membangun otonomi berfikir mereka? Saya rasa jawabannya tidak. Alih-alih mencerdaskan ia bisa saja abai terhadap profesinya sebagai seorang pendidik.
Tindakan guru yang tak acuh dalam film Dangerous Mind atau dalam kehidupan nyata bisa jadi hasil dari sebuah kepasrahan bahwa toh pada akhirnya murid lah yang membutuhkan pendidikan, guru atau pengajar hanyalah fasilitator. Dalam hal ini jangan lupa bahwa dalam sistem pendidikan ada paedagogi dan ada juga andragogi.  Paedagogi adalah sistem pendidikan dimana guru bertanggung jawab terhadap apa yang akan diajarkan. Guru adalah senter dari kegiatan belajar mengajar. Ia menjadi controller yang sekaligus menentukan kegiatan apa yang akan diterapkan di kelas. Berbeda dengan paedagogi, andragogi bersifat students center, guru hanya fasilitator. Dimana peserta didik bisa menentukan sendiri pencapaian apa yang ingin diraih. Cuma penerapan andragogy adalah untuk orang dewasa dan/atau dengan pemikiran dewasa juga. Akan kurang relevan jika hal ini secara gamblang dipraktekan pada anak-anak yang bahkan sangat membutuhkan bimbingan maupun arahan seperti yang terjadi pada film Dangerous Mind ataupun The Freedom Writers. Jika boleh saya menilai, kedua tokoh dalam film tersebut berhasil mencerdaskan anak didiknya meskipun mereka harus keluar dari sistem. Selain pendekatan personal yang banyak aral, kedua guru ini juga menggunakan media sastra dan tulisan untuk melatih pola pikir anak-anak.
Tapi seperti yang saya katakan tadi, perjuangan mereka tidak mudah, dan sama seperti yang terjadi dalam The Freedom Writer, sang guru dalam Dangerous Mind juga mengalami kesulitan dengan birokrasi di sana, bahkan dia dipanggil kepala sekolah untuk mengajar mengikuti kurikulum. Ini masalah klasik sepertinya, ada beberapa pihak yang merasa tahu semuanya dan bahwa kamu harus mengajar itu setelah ini dan meskipun mereka belum tahu sepenuhnya tentang A tapi kurikulum mengatakan kamu harus mengajar B. Tentu saja pihak yang konservatif itu tak mau tahu alasan si Guru dengan alasan “yang penting”. Dalam kasus seperti ini, seringnya, siswa yang dianggap nakal di kelas dan yang dianggap bodoh oleh beberapa pihak diabaikan begitu saja. Guru pun mengajar seperti mesin, tak ada personal engagement. “mau bagaimana juga tetap nggak bisa” ungkapan macam apa ini?  Makanya film ini istimewa buat saya sama seperti ketika nonton The Freedom Writers karena si guru tak menyerah pada keadaan. Ia percaya ada celah untuk bisa menarik perhatian siswa-siswa. Ia tak menjadikan dirinya mesin yang tak mempunya hati dikelas meskipun ada perlawanan tak hanya dari murid tapi juga dari guru lain maupun kepala sekolah. Ia manggunakan pendekatan personal kepada siswa-siswa yang dianggap paling bermasalah langsung ke rumah masing-masing. Mereka juga manusia. Mereka juga anak anak yang masih memerlukan perhatian lebih. Dan ini berhasil meskipun belum semua. Masalah begitu banyak. Tapi satu hal, ia tidak menyerah. Dalam kasus ini saya juga teringat Laskar Pelangi meskipun yang dihadapi dalam laskar pelangi tak sekompleks dan sepelik yang ada dikedua film ini. Tapi, paling tidak mereka tak menyerah dalam keadaan.
Dan pada akhirnya meskipun harus berpeluh darah terlebih dahulu, guru-guru perempuan itu membuktikan bahwa dengan hati yang tulus, hati-hati yang lain akan terketuk dan luluh dalam ketulusan yang di suatu ujung waktu membawa rindu. Ini adalah hal yang sangat indah dan beruntunglah bagi mereka yang dirindukan dan keberadaanya memberi arti. Memang, memberi arti yang sejati tak hanya butuh satu hari tapi berhari-hari hingga setiap hati memaknainya.
Saya percaya, di sini, di Negara saya Indonesia ada sosok-sosok seperti mereka meskipun belum tersorot kamera. Mungkin kita bisa menengok pengajar dalam Sakola Rimba yang telah memberi inspirasi juga buat saya secara pribadi. Lagi-lagi guru yang saya temukan adalah guru perempuan. Memang konteksnya beda, sangat beda, tapi ada kemiripan bahwa mereka sama-sama gigih dalam menjalankan panggilan hatinya. Dan saya pikir, kita, Indonesia perlu guru-guru seperti mereka yang tidak menjadi setengah mesin tapi masih menaruh hati untuk memandang bahwa murid-murid adalah manusia yang perlu juga diperlakukan sebagai manusia. Perlu guru yang eksentrik yang berani keluar dari kotak dengan satu tujuan; menjadikan anak didik lebih baik dengan menggunakan akal dan hatinya.



Sabtu, 26 April 2014

Every Trail Stars Here: Pendakian Gunung Lawu

Ada dua hal setidaknya kenapa pada akhirnya saya  naik gunung. Pertama adalah karena sebuah kerinduan. Entahlah, kerinduan ini sulit saya terjemahkan dalam kata-kata tapi ini bukan candu. Jika saya perlu menganalogikan kerinduan saya ini, mungkin seperti rindu saya pada rumah, pada ayah dan ibu saya, kekasih saya, dan orang-orang yang mencintai saya siapa pun mereka. Sejauh dan selama apa pun kita pergi dari mereka pada akhirnya kita ingin menjumpai mereka. Yang kedua adalah keinginan untuk dekat dengan sesuatu yang selama ini hanya bisa terlihat dari jauh. Mendaki seperti memahami dan mengenal lebih dekat karakter dan lekuk yang selama ini masih asing dan menyisakan tanya dan penasaran. Saya tidak menganggap pendakian adalah penaklukan sebuah gunung. Saya menganggap pendakian adalah penaklukan terhadap diri saya sendiri. Gunung bukan sesuatu yang perlu ditaklukan tapi dinikmati setiap jengkalnya. Bukankah terdengar intim dan sensual?
Karena kerinduan dan ingin mengenal yang selama ini kemegahanya hanya bisa saya intip dari balik jendela bus, saya memutuskan untuk mendaki Gunung Lawu setelah kurang lebih tiga bulan saya tidak mendaki gunung. Selama itu, saya hanya melihat gunung-gunung dari jauh.Mengagumi mereka dengan sebunyi-sembunyi. Seperti cinta platonic saja. Makin lama, godaan itu semakin besar. Saya harus mengumpulkan alasan bahwa saya ke gunung lawu untuk rehat dari kewajiban-kewajiban yang harus saya tunaikan. Saya butuh refreshing meskipun sebenarnya pernah saya berkomitmen sebelum saya lulus saya tidak akan naik gunung.
Berangkat dari jogja dengan menggunakan pramex ke solo saya ditemani satu kawan saya yang langsung mengiyakan ketika saya ajak mendaki Gunung Lawu. Masing-masing dari kami belum pernah ke Gunung Lawu. Tapi saya meyakinkan diri dan meyakinkan kawan saya tersebut untuk tidak takut sendiri, akan ada banyak kawan pendaki kelak setelah kita sampai di basecamp. Ini akan menjadi petualangan yang mendebarkan. Dengan membawa tas carrier yang selalu membuat saya merasa bebas dan keren, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus jurusan Tawangmangu dari Solo untuk kemudian dilanjutkan ke Cemoro Sewu. Ya, kami memutuskan pendakian lewat Cemoro Sewu karena pendakian lebih dekat meskipun dari beberapa milis pendakian, jalur yang akan dilalui akan lebih menanjak dibandingkan dengan basecamp Cemoro Kandang yang lebih landai.
Seperti halnya Dieng, perjalanan menuju Cemoro Kandang melewati jalur yang berliku-liku dan menanjak dengan pemandangan lahan pertanian yang sulit saya lewatkan. Yang paling saya suka adalah pemandangan pematang sawang yang hijau dengan teras siring yang curam. Sangat memikat mata saya. Pemandangan ini tak kalah dengan yang pernah saya jumpai di Ubud, Bali. Tak heran banyak sekali home stay yang tersedia di daerah Tawangmangu.
Menghabiskan kurang lebih 2 jam, angkot berhenti di Cemoro Sewu. “Sudah sampai mas” kata pak sopir. Cemoro Sewu terletak tidak lebih dari 1 km dari Cemoro Kandang. Jika perjalanan dimulai dari Solo, kita akan melewati basecamp Cemoro Kandang sebelum sampai di Basecamp Cemoro Sewu. Selain medannya yang berbeda, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu berbeda secara geografis, Cemoro Kandang terletak di Provinsi Jawa Tengah sedangkan Cemoro Sewu terletak di Provinsi Jawa Timur. Maka disinilah kami, dua anak manusia yang akan menjelajah belantara asing. Di tempat ini pula pendakian dan petualangan akan dimulai. Sebagaimana sebuah adegan film, jantung saya gemuruh seperti dentuman musik yang mengiringi adegan paling dramatis dan menegangkan. Tapi saya merasa bahagia, saya merasa menemukan orang-orang dengan passion yang sama. Saya tidak bisa menyembunyikan senyum saya sembari menghirup udara kebebasan. Benar saja, kami tidak sendiri. di Basecamp ini, para pendaki berkumpul. Sebagian ada yang mau memulai pendakian, sebagian lainnya baru saja turun gunung. Saya merasa hidup.
Mungkin sebuah kebetulan atau takdir, kawan pendaki saya bertemu dengan kawannya yang juga mau mendaki. Mereka menjadi teman karena sama-sama mengidolakan salah satu team sepak bola di Indonesia. temannya itu satu team dengan Mapala salah satu perguruan tinggi di Solo, jumlahnya 9 orang. Tidak butuh waktu lama untuk akrab dengan mereka. Tidak butuh waktu lama untuk menjadi team yang seru. Sudah saya bilang, tak perlu takut sendiri karena kita tak sendiri ketika mendaki.  Dari yang cuma berdua, kini menjadi bersebelas. Tak perlu hal yang besar untuk menyatukan kami. Hanya butuh hal-hal sederhana seperti air minum dan gorengan untuk kami menjadi rekat. Bisa dibayangkan jika ini tak hanya terjadi ribuan meter di atas permukaan laut. Indonesia tak perlu mengalami seteru hanya karena berbeda. Indah bukan?
Untuk mencapai puncak setinggi 3265 mdpl, kira-kira dibutuhkan waktu 8 jam pendakian. Ada 5 pos sebelum sampai dipuncak dengan medan terjal yang tersusun dari batu-batu. Kenapa saya bilang tersusun, karena, jalan setapak dari pos satu ke pos lain seperti telah ditata oleh manusia dengan batu-batu yang membentuk jalan setapak. Rapi. Ini memudahkan pendakian meskipun medannya memang terbilang terjal. apalagi dari pos 2 menuju pos 3 dan 4, medannya berbatu dan berundak-undak seperti tangga. Ini sungguh menguji kesabaran saya karena sebentar sebentar kaki saya terutama bagian lutut terasa pegal. Dalam perjalanan ke pos 4 langkah saya makin payah. Saat itu mungkin jam7. Di medan inilah istirahat paling sering terjadi. Mungkin tak sampai 15 undakan, saya memutuskan untuk istirahat. Itu terjadi lagi dan lagi. Tempat camping apalagi puncak masih terasa jauh sekali. Di atas bebatuan yang basah dengan sisa –sisa air hujan yang menitik dari dedaunan keyakinan untuk sampai di puncak tetap ada tapi saya tak memaksa. Ia tetap akan disana, diketinggian 3265 mdpl. Ia tidak akan kemana-mana. Meskipun masih lama, puncak tak akan meninggalkan saya. “mari nikmati perjalanan ini saja. tak perlu berfikir tentang puncak” ucapku pada kawan saya sambil menikmati biscuit dan meneguk air mineral. Kadang kami menyulut rokok sebagai dopping. Proses adalah hal yang paling harus dinikmati.
Sebelum sampai di pos 4, kami memutuskan untuk istirahat cukup lama, sekadar merebus air untuk menyeduh kopi dan memasak mie instan. Suhu makin dingin. Angin makin kencang. Tapi tak sampai memasak mie instan, perjalanan harus dilanjutkan karena angin semakin kencang dan tempat istirahat kami berada di jalur angin. Ya sudahlah, yang penting kami berhasil menyeduh kopi untuk menghangatkan badan.
Meskipun Lawu bukanlah termasuk list dari gunung-gunung yang ekstrim. Tapi, jujur saja, saya perlu susah payah untuk menapaki medan dengan langkah yang makin lama makin berat. Mungkin perlu dimaklumi, saya termasuk pendaki amatir yang baru satu setengah tahun ini menemukan asyiknya mendaki. Karena itulah, kaki saya begitu bahagia ketika mendapati medan yang landai. Dan puncaknya adalah ketika pada akhirnya kami sampai di basecamp Sendang Drajat untuk mendirikan tenda. Ini akhir yang bahagia sebelum awal yang baru esok hari mengejar matahari terbit. “kita bisa kawan” ungkapku. Kami bersalaman dengan haru. Kami menjadi dua pria yang mendadak begitu sentimentil dalam luapan bahagia dan tak tahu harus bagaimana meluapkanya.
Tempat dimana kami berkemah terdapat sebuah sendang yang disebut Sendang Drajat makanya disebut Basecamp Sendang Drajat. Ini adalah sumber air yang biasanya digunakan oleh para pendaki untuk minum maupun memasak. Disebelahnya sendang derajat terdapat sebuah pendopo kecil mirip dengan tempat persembahan orang Hindu. Hampir selalu ada dupa disini. Selain Sendang Drajat, ada juga tempat yang diyakini mistis yaitu Sumur Jalatunda. Lokasinya terletak sebelum basecamp Hargo Dalem. Konon tempat ini juga tempat pemujaan.
Selain tempat pemujaan dan nuansa mistis, Di Gunung Lawu juga terdapat warung makan. Ya warung makan. Ada satu di dekat Sendang Drajat dan satunya di Hargo Dalem. Warung makan ini menawarkan Nasi Pecel, Soto, Mie Instan, dan beberapa snack. Jadi, kl mau ke Gunung tanpa susah-susah bawa logistic, maka Gunung Lawu adalah pilihan yang paling baik.
Pendakian dimulai lagi, jam04.30 kami memutuskan keluar dari tenda setelah minum kopi dan makan mie. Untuk mencapai puncak kata beberapa pendaki tak memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Semangat kami berganda, samar-samar di perjalanan menuju puncak yang disebut Puncak Hargo Dumilah, langit telah mengguratkan cahaya orange. Tandanya sebentar lagi matahari benar-benar akan terbit.
Dan decak kagum pun mengalir begitu saja. Disinilah pada akhirnya. Lawu mengijinkan kami untuk sampai di puncaknya. Kembali lagi, saya terpaku dalam haru akan keindahan Sang Pencipta. Saya layangkan pandang ke seluruh penjuru yang cerah. Ada pemandangan hijau hutan pinus serupa hutan paku Amerika Utara yang begitu Luas dari arah Utara. Sebagian lembahnya tertutupi lautan awan. Tampak begitu empuk. Begitu putih. Disebelah timur, matahari perlahan-lahan menampakan wujudnya dan menjadikan gradasi warna langit, orange, jingga, biru muda, dan biru tua dibagian yang paling jauh dengan matahari. Gunung-gunung dan perbukitan disebelah timur menjadi sekumpulan siluet. Dari puncak ini juga, kita bisa melihat Waduk Gajah Mungkur yang terletak di Kabupaten Wonogiri. Di sebelah barat, kita bisa melihat Gunung Merapi dan Merbabu.
Setelah itu, saya diam terpaku menunggu saat-saat matahari benar-benar muncul.


 
Puncak Lawu

Puncak Lawu: Kawan Pendakian

Puncak Lawu: Saya dan Indonesia

Salah Satu Flora Lawu

Salah Satu Flora Lawu

Team 11-1

Sabtu, 15 Februari 2014

SEMERU

Puncak Semeru
Ada kegamangan untuk percaya bahwa setelah jerih payah yang tak terhitung lagi letihnya, saya bisa menggapai puncak yang menjulang di timur pulau jawa: Gunung Semeru. Kau tahu, seperti tentara yang tak percaya bahwa perang telah usai dan mereka tiba-tiba hanyut dalam peluk dan haru. Sebuah kemenangan yang membikin hati berucap “masa iya?” atau “benarkah?” tapi kau tahu itu nyata meski sulit dipercaya. Dan pada akhirnya, cerita yang terangkum bukan melulu puncak yang ditaklukan untuk diri merasa gagah. Kadang, terbelesit juga dalam hati setelah kemenangan itu sebuah ungkapan seperti “owh begini rasanya?!” ungkapan yang mewakili bahwa sesungguhnya apa yang dialami dalam sebuah perjalanan itu lebih terkenang sebagaimana peluh yang menjadi jejak. Seperti cerita seorang mahasiswa yang diwisuda, kau tahu betapa kata itu sebenarnya bagai hantu yang merayap dan membuat bulu roma meremang. Terutama bagi mahasiswa seperti saya. Siapa yang tak ingin lulus? Lebih-lebih membayangkan sekaligus melakukan jerih payahnya mengerjakan tugas akhir yang penuh liku. Maka wisuda adalah akhir yang begitu didamba sambil tertatih dengan optimism; akhir yang bahagia seperti Cinderella maupun Putri Tidur. Tapi, beberapa fakta yang saya temukan, ketika diwisuda mahasiswa-mahasiswa yang aku kenal itu berujar “Cuma begini”. Lantas ia berujar bahwa cerita menarik yang tak akan pernah dilupakan adalah upaya ketika bergumul dengan tugas akhir itu. Bagaimana mungkin bisa dilupakan ketika kau menunggu dari pagi, siangnya ketika jam makan siang dosen itu tak bisa disela, dan beberapa jam kemudian ketika telah jam 4 sore dosen itu berkata, “maaf mbak saya punya rumah. Saya mau pulang.” Dan kemudian kamu pulang bersungut-sungut sambil bertanya kenapa dan kenapa. Atau dikesempatan lain, apa yang kamu lakukan dibenarkan tapi di lain kesempatan lagi apa yang telah dibenarkan itu dicerca. Dan bagaimana ketika paginya kamu telah membikin janji kemudian kamu pergi dengan begitu berseri setelah berdandan seperti mau menemui pacar, kamu menunggu sampai tak hanya bokongmu yang pegal oleh kursi yang keras tapi hati kamu juga, yang kamu tunggu tak datang. Ah, masih banyak lagi cerita tentang tugas akhir yang sungguh berkesan. Sungguh menarik. Sungguh membikn hati kaku sekaligus kelu. Tapi, bukankah wisuda yang menjadi puncak itu tetap harus digapai meskipun tak begitu berkesan. Maka, berbahagialah yang wisuda. Berbahagialah kalian yang tak lagi bersungut-sungut menghitung detik demi detik seperti tahanan menunggu hukum gantung. Juga, berbahagialah yang menggapai puncak. Seperti apa pun puncak itu. Banyak yang tak sampai puncak dan mendamba dalam ilusi bagaimana rasanya dipuncak. Dan kau tahu, apa yang ada dalam ilusi kadang memabukan. Bukankah lebih baik sampai tujuan bagaimana pun keadaanya daripada terperangkap dalam angan-angan karena kau tak sanggup menggapainya. Setidaknya kau telah penuh. Kau boleh bergembira karena kau telah menang. Bagaimana pun puncak tetap saja menyenangkan. Dan di puncak ini saya memang tidak berujar “owh begini saja”. Segala pengorbanan yang lalu memang untuk ini.
Sama seperti menggapai Semeru atau gunung-gunung lain. Kau tahu, perjalanan untuk sampai kepuncak mungkin membutuhkan waktu paling sedikit 3 jam. 3 jam ini notabene adalah gunung yang tak terlalu tinggi. Dan kau tahu berapa lama para pendaki itu dipuncak; tak sampai satu jam kadang-kadang. Habis itu turun lagi. Puncak adalah satu bab singkat dari bab-bab lain. Ini harus diterima. Mau bagaimana lagi.
D
an disinilah saya pada akhirnya, disebuah puncak tertinggi di pulau jawa. Betapa gagahnya. Betapa tingginya. Ada sebuah kesan yang begitu sentimentil bagi saya ketika berada dipuncak: keinginan untuk memeluk gunung itu. keinginan untuk mendekapnya. Ah, betapa naïf. Bukankah itu mustahil. Lagipula perasaan saya telah memeluknya bukan hanya kabut puncak saja yang memiliki hak memeluk. Oh iya, saya belum bercerita mengenai kabut, angin dan puncak secara detail. Jadi begini:
Kurang lebih jam 5 pagi saya dan beberapa rekan saya, kala itu berjumlah 8 orang, berhasil sampai puncak Semeru. Di puncak, banyak pendaki telah sampai lebih awal. Ada yang sampai jam 4 bahkan, untuk apalagi kalau bukan demi matahari terbit yang hingga jam 5 ini tak muncul juga. Kabut menjadikanya seperti panggung pertunjukan yang tertutup tirai. Sebagai penonton, saya tak tahu pasti kapan tirai kelabu itu akan tersibak dan menampilkan pertunjukan utama: sebuah pemandangan matahari terbit diatas lautan awan yang seperti kapas itu. Entahlah, angin berkabut ini terjadi sejak pagi tadi sehingga sempat terjadi penumpukan di jalur pendakian. Tidak menumpuk dalam arti harfiah. Maksudnya para pendaki harus bersabar sejenak dan menunggu untuk bisa benar-benar menghirup udara di puncak. Lagipula kami menunggu dengan duduk, ada yang berdiri, ada yang jongkok, ada juga yang telentang. Tak ada yang tumpang tindih. Ah, itu jadi ambigu. Jadi kenapa para pendaki harus menunggu? Cuaca dipuncak agak ekstrim. Angin kencang dan membawa kabut.  Beberapa porter makanya menghimbau agar para pendaki tak masuk ke puncak terlebih dahulu. Suhu begitu dingin. Begitu katanya. Bahkan porter sendiri tak berani. Bahkan porter-porter itu mengatakan dingin. Ini tentu tak biasa. Dingin yang saya maksud dan dingin para porter tentu saja berbeda. Bisa dibayangkan bahwa porter saja bilang begitu. Kau mungkin perlu tahu bahwa porter itu menurut saya adalah orang sakti, ia memikul beban para pendaki yang menyewanya. Beban itu tidak ringan tentu. Ia mendaki kadang tanpa alas kaki, tanpa jaket. Ia lebih sering bermodal sarung sebagai penghangat dengan memakai pakaian ala kadarnya. Maksud saya, porter-porter itu bisa saja hanya memakai kaos dan celana pendek. Lihat, saktikan dia. Bandingkan dengan saya: baju lapis tiga dengan rompi plastic di lapisan paling dalam, celana panjang, kaos kaki yang saya dobeli dengan pelastik juga, pun masih kedinginan.  Ya, saya memakai rompi plastic yang saya bikin dari tas plastic besar juga kaos kaki yang saya lapisi plastic. Gunanya adalah untuk menahan panas dari tubuh saya agar suhu badan saya tetap terjaga. Saya cukup hangat meskipun masih menggigil juga. Ah, porter itu memang sakti. Selain tahan dingin, ia juga memikul beban yang tak sedikit menyusuri tanjakan dan turunan yang berliku-liku.
Porter yang saya anggap sakti itu menghimbau para pendaki untuk menunggu sejenak, baru setelah jam 5 porter itu menyilakan para pendaki untuk masuk di area puncak. Beberapa rekan saya langsung menggelepar begitu saja, melentangkan tubuhnya menghadap langit yang kelabu sambil meluapkan emosinya. Saya termasuk yang seperti itu. tak perlu lama-lama. Dingin bisa membuatmu lupa dan kehilangan kehangatan. Dingin dipuncak Semeru sepertinya sanggup membikin hipotermia. Saya masih ingat embun-embun yang membeku di rumput liar kecil ketika di Ranu Kumbolo. Tiba-tiba saya berdoa agar kabut itu terbuka dan menunjukan keajaiban. Benar saja, sebuah keindahan tersibak. Sekilas saja. sekilas yang membuat mulut saya menganga. Dan saya dapati, banyak pendaki menggumam dalam takjub serupa kor. Apa itu: lautan awan yang begitu putih dengan bias biru langit yang begitu bersih. Awan itu tampak solid. Seperti bisa menopang tubuh untuk merebahkan diri, begitu empuk, begitu lezat seperti buih cappuccino. Atau seperti harum manis yang bisa disobek dan dilumerkan dimulut. Momen yang sekilas itu membuat beberapa orang kalap untuk mengabadikan diri dengan narsis, tentu saja saya satu dari mereka. Belum genap gumaman itu berakhir, kabut mengunci pertunjukan itu lagi. Berulang-ulang. Lagi dan lagi. Sepertinya, puncak semeru tak menginginkan dinikmati dengan rakus. Ia juga tak ingin membuat kecewa. Ia hanya ingin dinikmati dengan bersahaja. itu saja.
Dalam momen sakral itu, salah satu rekan pendaki saya, sebut saja Ambon berujar pada saya, “sekarang kamu telah teruji sebagai pendaki pemula. Hebat, kamu mampu sampai puncak.” Ya, dia yang menantang saya kala pendakian dimulai. Ketika itu kami baru saja mau beranjak dari Ranu Pane. Ranu berarti danau. Jadi jangan heran banyak sekali istilah ranu disini. Seperti Gili untuk pulau di Nusa Tenggara Timur. Jadi banyak sekali gili. Saya pendaki pemula. Saya bergidik kala ia memberi tantangan itu. apakah ini akan begitu sulit? Saya tak pernah meremahkan. Bahkan saya selalu demam panggung ketika mau naik gunung hingga akhirnya saya selalu berusaha menikmati apa yang tersaji dalam perjalanan agar saya bisa melupakan takut saya. Saya pasrah. Saya tak obsesif. Jujur, tantangan itu malah membuat saya tambah takut. Tapi aku terima saja tantangan itu tanpa mengiyakan. Biar saja. saya kesini bukan untuk sebuah taruhan. Saya kesini buat liburan. Alasan yang lebih keren sebenarnya mengikuti Jejak (alm) Soe Hok Gie. Beliau adalah pendiri Mapala UI. Beliau pernah ke gunung ini. tapi siapa yang mengira, ditempat tertinggi inilah beliau wafat. Katanya, ia wafat di pangkuan Herman Lantang yang hingga kini masih aktif menyusuri rimba. Menurut saya beliau luar biasa. Berani menantang dan memberontak. Saya masih ingat salah satu adegan dalam film itu yang kurang lebih begini: Bung Karno, Bung Hatta, mereka berani memberontak. Kalau tidak begitu kita tidak akan merdeka.
Ia mengatakan demikian karena ia sehabis dapat hukuman dari sekolah gara-gara berdebat dengan guru sekolahnya. Seoarang teman menyuruhnya untuk nurut saja. Tapi ia punya pendirian sendiri. Bukankah itu menakjubkan untuk anak seusianya.
Kembali lagi ke Ambon. ia mungkin tak tahu masa kecil saya yang dipenuhi petualangan-petualangan kecil menyusuri sungai-sungai berbatu, bukit-bukit perdu sampai pernah hampir tersesat di hutan bambu yang saya pikir didiami oleh Dewi Kwan Im seperti dalam serial TV Kera Sakti, tapi kata penduduk desa hutan bambu itu didiami ular raksasa yang mendesis-desis lapar. Kadang saya dan beberapa teman hanya iseng saja berjalan menelusuri alam dekat desa saya tanpa menentukan mau kemana, kadang juga untuk main ketapel, pernah juga sebuah petualangan dimulai karena saya harus membikin sapu lidi: sebuah tugas dari sekolah pada saat ujian semester, saat itu masih catur wulan. Kala itu seingat saya, saya belum genap 10 tahun. Saya paling kecil, paling kurus seperti anak cacingan, tapi saya sekaligus yang paling naïf. Mungkin efek ibu saya yang ketika mengandung saya maunya makan singkong mentah yang diparut. Ya, singkong mentah. Ini bisa dipercaya bisa juga tidak. Saya enggan percaya karena saya mau menampik kenyataan bahwa ketika dirahim saya dijejali singkong mentah. Kau tahu rasanya seperti apa? Ia akan membuat perutmu bega dan selalu ingin kentut. Lagi, kentut itu akan bau. Tapi begitulah, orang hamil punya kuasa yang disebut ngidam dan harus dipenuhi. Katanya begitu. Mungkin karena singkong itu saya tumbuh dengan sangat lambat. Tubuh saya kurus. Tapi seperti singkong, saya tahan banting karena singkong tanpa dipupuk pun akan tumbuh dan umbi maupun daunya bisa dinikmati. Rekan saya juga lupa saya adalah anak gunung yang setiap harinya sebelum merantau ke jogja kerjaanya adalah naik turun bukit mencari rumput pakan kambing.
Ia memuji saya. Ada sebersit bahagia memang. Tapi sekali lagi, ini bukan hanya puncak. Karena dipuncak tak lebih dari 1 jam dan kamu harus menyusuri medan berpasir yang curam selama kurang lebih 4-5 jam. Kau tempuh dari jam 1 malam jika kau kemah di Archopodo. Sedangkan jika kau kemah di Kalimati, kau harus berangkat lebih awal, jam 11 paling tidak untuk menikmati matahari pagi yang lahir. Dan pendakian dijalur berpasir itu, kawan, begitu mengharu biru. Kadang, Kau juga perlu merayap untuk melewatinya. Mungkin kau pernah nonton film 5cm itu? film yang membuat gunung ini berubah dan lebih komersil: dulu, kata rekan pendaki saya yang tahun lalu ke gunung ini, para pendaki tidak perlu menghitung bawa kamera berapa, tenda berapa, berapa potong baju, dan para pendaki juga tak perlu membayar beberapa item itu. tapi, jika dana yang terkumpul untuk menghijaukan Gunung Semeru, kenapa tidak. Ya kan?
Ya, memang jalur pendakian berpasir seperti itu, bahkan lebih. Hanya saja, di film itu settinganya terang dan seolah-olah yang mendaki Cuma 5 orang. Kau akan takjub akan banyaknya pendaki yang merayap rayap seperti tahanan dalam hukuman ketika malam begitu pekat dan lampu senter menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi jalan. Belum lagi teriakan “batu… batu… batu…” dalam pekat yang menuntut kita waspada. Ingat, dalam pekat ini apa pun bisa terjadi karena disamping medan berpasir ada jurang yang curam dan batu yang menggelinding yang bisa saja menimpamu. Kalau kamu lengah kamu akan seperti batu itu, menggelinding.  Karena memang, ada dua pendaki wanita yang cedera dalam perjalanan turun dari puncak. Kala itu saya kurang tahu persis kapan mereka cedera; pas mendaki kah atau pas turun. Tapi dua perempuan itu  memang cedera. Mereka harus digendong. Ya digendong. Bahkan sebenarnya membawa beban sendiri pun telah susah. Satunya hanya terkilir biasa jadi kadang hanya dipapah, satunya lagi agak parah karena saya mendengar rintihanya. Disinilah saya merasakan solidaritas yang tak dapat terkatakan. Buanglah siapa kamu, darimana asalamu, apa agamu, dan apa status sosialmu. Disini semua sama. Maka ada pendaki yang menjulurkan tali untuk kita berpegangan ketika medan berpasir itu kian menanjak. Saya berpegangan pada tali itu ketika jalur begitu menanjak. Siapakah gerangan si pembawa tali itu? tapi begitulah. Itu membuat saya terharu. Ada baik yang memang baik, tidak tersamar. Maka, ada juga yang menggendong rekannya, meskipun membawa diri sendiri juga telah penat. Ah, itu sungguh manis. Kebaikan yang manis. Dan saya perlu mendaki gunung untuk melihat kebaikan-kebaikan semacam itu.