Selasa, 03 Desember 2013

Makanan Terenak dan Terunik di Gunung


Entah karena desakan atau bisa jadi juga karena sebuah kesajaiban dimana gunung secara magis menaburkan bumbu-bumbu gaib, semua makanan jadi enak dinikmati. Apapun kemungkinan-kemungkinan itu, pasti salah satu bisa menjelaskan sebab makanan menjadi begitu gurih dan nikmat. Ini memang sangat subjektif, yang saya rasakan belum tentu dirasakan juga oleh orang lain.
Pengalaman pertama saya mendaki gunung dimulai Bulan Mei 2013. Tanggal saya lupa. Saat itu saya menikmati makanan sederhana yang begitu gurih. Bukan kadal goreng. Bukan masakan ala chef juga. Makanan itu adalah tempe goreng. Tempe goreng tanpa tepung yang digoreng di dalam tenda dimana diluar begitu dingin dan gerimis. Air sampai masuk kedalamnya hingga saya merasa berada di kumpulan lele yang lapar. Tak ada bumbu istimewa yang membuat tempe goreng it begitu luar biasa enak sealin royco. Jadi saya harus berterimakasih pada penggorengnya yang pertama dan yang kedua pada Royco yang membuat tempe goreng begitu nikmat. Seolah-olah tempe goreng pada saat itu adalah makanan terlezat di dunia. Pada saat itu. pada saat lain tempe goreng tetap tempe goreng mungkin.
Saya mencoba mencari tahu sebab lain selain Royco  yang membuat tempe goreng begitu enak. Alasan pertama mungkin karena saya kelaparan dan butuh banyak energy setelah berjalan hampir 8 jam menyusuri medan pendakian Gunung Sindoro. Alasan kedua mungkin karena tak ada pilihan lain. Tapi saya ingat saat itu teman-teman juga memasak nugget. Ada beberapa pilihan. Alasan ini lemah. Alasan berikutnya mungkin karena saya berada di gunung yang cukup tinggi dimana suhunya sangat dingin dan saat itu juga gerimis. Kondisi semacam ini tentu saja merangsang nafsu makan dan tak menampik kenyataan bahwa semua makanan akan menjadi enak. Apalagi tempat dan suasananya juga berbeda. Biasanya makan dikos yang sumpek sendirian atau di warung warung. Pada saat itu rame-rame mengeroyok makanan. Ada keseruan dari kebersamaan yang mungkin menjadi alasan membuat tempe goreng menjadi begitu luaar biasa. Alasan lain adalah tidak ada warung di sana saat itu bahkan sampai saat ini dan saat yang tidak bisa ditentukan. Apa pun alasanya, saya tahu satu hal bahwa gunung mengajarkan kesederhanaan yang menjadikan sesuatu begitu mewah. Dan saat itu saya tahu nikmatnya bersyukur.

Bahwa gunung menyadarkan saya untuk tidak menyia-nyiakan apa pun yang ada yang saya punya. Contoh sederhananya adalah dari makanan. Dalam kehidupan yang biasa dengan rutinitas biasa berapa kali seseorang membuang makanan dengan alasan kenyang atau tidak enak? Banyak. Beda ceritanya dengan kehiduupan digunung. Ada beberapa cerita yang membuat saya tersenyum haru. Misalnya beberapa teman pendaki yang saya kenal mencari sisa-sisa logistic yang ditinggalkan oleh para pendaki lain yang telah turun ketika mereka di Gunung Rinjani. Cerita lain adalah ketika saya dan beberaoa rekan di Ranu Kumbolo setelah turun dari puncak Mahameru. Saat itu logistic nyaris habis. Yang tersisa adalah beberapa bungkus mie instan, kerupuk, beberapa bungkus kopi, teh, dan kalau tidak salah biscuit. Mungkin tidak akan jadi masalah jika saat itu kami tak harus kemah semalam lagi. Maka setelah beberapa mie tersebut dimasak, salah satu rekan mendaki saya membuat menu yang luar biasa kreatif karena minyak dan margarine yang tersedia telah habis sedangkan persediaan air begitu melimpah dan tiak akan habis bahkan untuk diminum kami semua yang terdiri dari 8 orang ia mengusulkan untuk merebus kerupuk kering itu. well, tentu saja ini ide gila, tapi dengan percaya diri ia mendidihkan air dan memulai eksekusi menu. Hasilnya? Lumayan juga. Unik jika bukan aneh. Tapi tetap saja itu dimakan. Pertanyaannya adalah, akankah makanan super kreatif ini akan dilirik ketika berada di rumah. Saya bisa meyakinkan jawabanya adalah tidak. Kerupuk rebus unik itu benar-benar membuktikan bahwa kehidupan gunung tak mengenal kata gengsi. Dan saya berterima kasih untuk chef yang memiliki ide super canggih tersebut. 
NB: persediaan logistik sebaiknya diperhitungkan dengan matang sebelum memulai pendakian. tapi seru juga ketika logistik tak begitu berlimpah. 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar