Entah karena
desakan atau bisa jadi juga karena sebuah kesajaiban dimana gunung secara magis
menaburkan bumbu-bumbu gaib, semua makanan jadi enak dinikmati. Apapun
kemungkinan-kemungkinan itu, pasti salah satu bisa menjelaskan sebab makanan
menjadi begitu gurih dan nikmat. Ini memang sangat subjektif, yang
saya rasakan belum tentu dirasakan juga oleh orang lain.
Pengalaman
pertama saya mendaki gunung dimulai Bulan Mei 2013. Tanggal saya lupa. Saat itu
saya menikmati makanan sederhana yang begitu gurih. Bukan kadal goreng. Bukan
masakan ala chef juga. Makanan itu adalah tempe goreng. Tempe goreng tanpa
tepung yang digoreng di dalam tenda dimana diluar begitu dingin dan gerimis.
Air sampai masuk kedalamnya hingga saya merasa berada di kumpulan lele yang
lapar. Tak ada bumbu istimewa yang membuat tempe goreng it begitu luar biasa
enak sealin royco. Jadi saya harus berterimakasih pada penggorengnya yang
pertama dan yang kedua pada Royco yang membuat tempe goreng begitu nikmat. Seolah-olah
tempe goreng pada saat itu adalah makanan terlezat di dunia. Pada saat itu.
pada saat lain tempe goreng tetap tempe goreng mungkin.
Saya mencoba
mencari tahu sebab lain selain Royco
yang membuat tempe goreng begitu enak. Alasan pertama mungkin karena saya kelaparan dan
butuh banyak energy setelah berjalan hampir 8 jam menyusuri medan pendakian
Gunung Sindoro. Alasan kedua mungkin karena tak ada pilihan lain. Tapi saya
ingat saat itu teman-teman juga memasak nugget. Ada beberapa pilihan. Alasan
ini lemah. Alasan berikutnya mungkin karena saya berada di gunung yang cukup
tinggi dimana suhunya sangat dingin dan saat itu juga gerimis. Kondisi semacam
ini tentu saja merangsang nafsu makan dan tak menampik kenyataan bahwa semua
makanan akan menjadi enak. Apalagi tempat dan suasananya juga berbeda. Biasanya
makan dikos yang sumpek sendirian atau di warung warung. Pada saat itu
rame-rame mengeroyok makanan. Ada keseruan dari kebersamaan yang mungkin
menjadi alasan membuat tempe goreng menjadi begitu luaar biasa. Alasan lain
adalah tidak ada warung di sana saat itu bahkan sampai saat ini dan saat yang
tidak bisa ditentukan. Apa pun alasanya, saya tahu satu hal bahwa gunung
mengajarkan kesederhanaan yang menjadikan sesuatu begitu mewah. Dan saat itu
saya tahu nikmatnya bersyukur.
Bahwa gunung
menyadarkan saya untuk tidak menyia-nyiakan apa pun yang ada yang saya punya.
Contoh sederhananya adalah dari makanan. Dalam kehidupan yang biasa dengan
rutinitas biasa berapa kali seseorang membuang makanan dengan alasan kenyang
atau tidak enak? Banyak. Beda ceritanya dengan kehiduupan digunung. Ada
beberapa cerita yang membuat saya tersenyum haru. Misalnya beberapa teman
pendaki yang saya kenal mencari sisa-sisa logistic yang ditinggalkan oleh para
pendaki lain yang telah turun ketika mereka di Gunung Rinjani. Cerita lain adalah
ketika saya dan beberaoa rekan di Ranu Kumbolo setelah turun dari puncak
Mahameru. Saat itu logistic nyaris habis. Yang tersisa adalah beberapa bungkus
mie instan, kerupuk, beberapa bungkus kopi, teh, dan kalau tidak salah biscuit.
Mungkin tidak akan jadi masalah jika saat itu kami tak harus kemah semalam
lagi. Maka setelah beberapa mie tersebut dimasak, salah satu rekan mendaki saya
membuat menu yang luar biasa kreatif karena minyak dan margarine yang tersedia
telah habis sedangkan persediaan air begitu melimpah dan tiak akan habis bahkan
untuk diminum kami semua yang terdiri dari 8 orang ia mengusulkan untuk merebus
kerupuk kering itu. well, tentu saja ini ide gila, tapi dengan percaya diri ia
mendidihkan air dan memulai eksekusi menu. Hasilnya? Lumayan juga. Unik jika
bukan aneh. Tapi tetap saja itu dimakan. Pertanyaannya adalah, akankah makanan
super kreatif ini akan dilirik ketika berada di rumah. Saya bisa meyakinkan
jawabanya adalah tidak. Kerupuk rebus unik itu benar-benar membuktikan bahwa
kehidupan gunung tak mengenal kata gengsi. Dan saya berterima kasih untuk chef
yang memiliki ide super canggih tersebut.
NB: persediaan logistik sebaiknya diperhitungkan dengan matang sebelum memulai pendakian. tapi seru juga ketika logistik tak begitu berlimpah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar