Sabtu, 15 Februari 2014

SEMERU

Puncak Semeru
Ada kegamangan untuk percaya bahwa setelah jerih payah yang tak terhitung lagi letihnya, saya bisa menggapai puncak yang menjulang di timur pulau jawa: Gunung Semeru. Kau tahu, seperti tentara yang tak percaya bahwa perang telah usai dan mereka tiba-tiba hanyut dalam peluk dan haru. Sebuah kemenangan yang membikin hati berucap “masa iya?” atau “benarkah?” tapi kau tahu itu nyata meski sulit dipercaya. Dan pada akhirnya, cerita yang terangkum bukan melulu puncak yang ditaklukan untuk diri merasa gagah. Kadang, terbelesit juga dalam hati setelah kemenangan itu sebuah ungkapan seperti “owh begini rasanya?!” ungkapan yang mewakili bahwa sesungguhnya apa yang dialami dalam sebuah perjalanan itu lebih terkenang sebagaimana peluh yang menjadi jejak. Seperti cerita seorang mahasiswa yang diwisuda, kau tahu betapa kata itu sebenarnya bagai hantu yang merayap dan membuat bulu roma meremang. Terutama bagi mahasiswa seperti saya. Siapa yang tak ingin lulus? Lebih-lebih membayangkan sekaligus melakukan jerih payahnya mengerjakan tugas akhir yang penuh liku. Maka wisuda adalah akhir yang begitu didamba sambil tertatih dengan optimism; akhir yang bahagia seperti Cinderella maupun Putri Tidur. Tapi, beberapa fakta yang saya temukan, ketika diwisuda mahasiswa-mahasiswa yang aku kenal itu berujar “Cuma begini”. Lantas ia berujar bahwa cerita menarik yang tak akan pernah dilupakan adalah upaya ketika bergumul dengan tugas akhir itu. Bagaimana mungkin bisa dilupakan ketika kau menunggu dari pagi, siangnya ketika jam makan siang dosen itu tak bisa disela, dan beberapa jam kemudian ketika telah jam 4 sore dosen itu berkata, “maaf mbak saya punya rumah. Saya mau pulang.” Dan kemudian kamu pulang bersungut-sungut sambil bertanya kenapa dan kenapa. Atau dikesempatan lain, apa yang kamu lakukan dibenarkan tapi di lain kesempatan lagi apa yang telah dibenarkan itu dicerca. Dan bagaimana ketika paginya kamu telah membikin janji kemudian kamu pergi dengan begitu berseri setelah berdandan seperti mau menemui pacar, kamu menunggu sampai tak hanya bokongmu yang pegal oleh kursi yang keras tapi hati kamu juga, yang kamu tunggu tak datang. Ah, masih banyak lagi cerita tentang tugas akhir yang sungguh berkesan. Sungguh menarik. Sungguh membikn hati kaku sekaligus kelu. Tapi, bukankah wisuda yang menjadi puncak itu tetap harus digapai meskipun tak begitu berkesan. Maka, berbahagialah yang wisuda. Berbahagialah kalian yang tak lagi bersungut-sungut menghitung detik demi detik seperti tahanan menunggu hukum gantung. Juga, berbahagialah yang menggapai puncak. Seperti apa pun puncak itu. Banyak yang tak sampai puncak dan mendamba dalam ilusi bagaimana rasanya dipuncak. Dan kau tahu, apa yang ada dalam ilusi kadang memabukan. Bukankah lebih baik sampai tujuan bagaimana pun keadaanya daripada terperangkap dalam angan-angan karena kau tak sanggup menggapainya. Setidaknya kau telah penuh. Kau boleh bergembira karena kau telah menang. Bagaimana pun puncak tetap saja menyenangkan. Dan di puncak ini saya memang tidak berujar “owh begini saja”. Segala pengorbanan yang lalu memang untuk ini.
Sama seperti menggapai Semeru atau gunung-gunung lain. Kau tahu, perjalanan untuk sampai kepuncak mungkin membutuhkan waktu paling sedikit 3 jam. 3 jam ini notabene adalah gunung yang tak terlalu tinggi. Dan kau tahu berapa lama para pendaki itu dipuncak; tak sampai satu jam kadang-kadang. Habis itu turun lagi. Puncak adalah satu bab singkat dari bab-bab lain. Ini harus diterima. Mau bagaimana lagi.
D
an disinilah saya pada akhirnya, disebuah puncak tertinggi di pulau jawa. Betapa gagahnya. Betapa tingginya. Ada sebuah kesan yang begitu sentimentil bagi saya ketika berada dipuncak: keinginan untuk memeluk gunung itu. keinginan untuk mendekapnya. Ah, betapa naïf. Bukankah itu mustahil. Lagipula perasaan saya telah memeluknya bukan hanya kabut puncak saja yang memiliki hak memeluk. Oh iya, saya belum bercerita mengenai kabut, angin dan puncak secara detail. Jadi begini:
Kurang lebih jam 5 pagi saya dan beberapa rekan saya, kala itu berjumlah 8 orang, berhasil sampai puncak Semeru. Di puncak, banyak pendaki telah sampai lebih awal. Ada yang sampai jam 4 bahkan, untuk apalagi kalau bukan demi matahari terbit yang hingga jam 5 ini tak muncul juga. Kabut menjadikanya seperti panggung pertunjukan yang tertutup tirai. Sebagai penonton, saya tak tahu pasti kapan tirai kelabu itu akan tersibak dan menampilkan pertunjukan utama: sebuah pemandangan matahari terbit diatas lautan awan yang seperti kapas itu. Entahlah, angin berkabut ini terjadi sejak pagi tadi sehingga sempat terjadi penumpukan di jalur pendakian. Tidak menumpuk dalam arti harfiah. Maksudnya para pendaki harus bersabar sejenak dan menunggu untuk bisa benar-benar menghirup udara di puncak. Lagipula kami menunggu dengan duduk, ada yang berdiri, ada yang jongkok, ada juga yang telentang. Tak ada yang tumpang tindih. Ah, itu jadi ambigu. Jadi kenapa para pendaki harus menunggu? Cuaca dipuncak agak ekstrim. Angin kencang dan membawa kabut.  Beberapa porter makanya menghimbau agar para pendaki tak masuk ke puncak terlebih dahulu. Suhu begitu dingin. Begitu katanya. Bahkan porter sendiri tak berani. Bahkan porter-porter itu mengatakan dingin. Ini tentu tak biasa. Dingin yang saya maksud dan dingin para porter tentu saja berbeda. Bisa dibayangkan bahwa porter saja bilang begitu. Kau mungkin perlu tahu bahwa porter itu menurut saya adalah orang sakti, ia memikul beban para pendaki yang menyewanya. Beban itu tidak ringan tentu. Ia mendaki kadang tanpa alas kaki, tanpa jaket. Ia lebih sering bermodal sarung sebagai penghangat dengan memakai pakaian ala kadarnya. Maksud saya, porter-porter itu bisa saja hanya memakai kaos dan celana pendek. Lihat, saktikan dia. Bandingkan dengan saya: baju lapis tiga dengan rompi plastic di lapisan paling dalam, celana panjang, kaos kaki yang saya dobeli dengan pelastik juga, pun masih kedinginan.  Ya, saya memakai rompi plastic yang saya bikin dari tas plastic besar juga kaos kaki yang saya lapisi plastic. Gunanya adalah untuk menahan panas dari tubuh saya agar suhu badan saya tetap terjaga. Saya cukup hangat meskipun masih menggigil juga. Ah, porter itu memang sakti. Selain tahan dingin, ia juga memikul beban yang tak sedikit menyusuri tanjakan dan turunan yang berliku-liku.
Porter yang saya anggap sakti itu menghimbau para pendaki untuk menunggu sejenak, baru setelah jam 5 porter itu menyilakan para pendaki untuk masuk di area puncak. Beberapa rekan saya langsung menggelepar begitu saja, melentangkan tubuhnya menghadap langit yang kelabu sambil meluapkan emosinya. Saya termasuk yang seperti itu. tak perlu lama-lama. Dingin bisa membuatmu lupa dan kehilangan kehangatan. Dingin dipuncak Semeru sepertinya sanggup membikin hipotermia. Saya masih ingat embun-embun yang membeku di rumput liar kecil ketika di Ranu Kumbolo. Tiba-tiba saya berdoa agar kabut itu terbuka dan menunjukan keajaiban. Benar saja, sebuah keindahan tersibak. Sekilas saja. sekilas yang membuat mulut saya menganga. Dan saya dapati, banyak pendaki menggumam dalam takjub serupa kor. Apa itu: lautan awan yang begitu putih dengan bias biru langit yang begitu bersih. Awan itu tampak solid. Seperti bisa menopang tubuh untuk merebahkan diri, begitu empuk, begitu lezat seperti buih cappuccino. Atau seperti harum manis yang bisa disobek dan dilumerkan dimulut. Momen yang sekilas itu membuat beberapa orang kalap untuk mengabadikan diri dengan narsis, tentu saja saya satu dari mereka. Belum genap gumaman itu berakhir, kabut mengunci pertunjukan itu lagi. Berulang-ulang. Lagi dan lagi. Sepertinya, puncak semeru tak menginginkan dinikmati dengan rakus. Ia juga tak ingin membuat kecewa. Ia hanya ingin dinikmati dengan bersahaja. itu saja.
Dalam momen sakral itu, salah satu rekan pendaki saya, sebut saja Ambon berujar pada saya, “sekarang kamu telah teruji sebagai pendaki pemula. Hebat, kamu mampu sampai puncak.” Ya, dia yang menantang saya kala pendakian dimulai. Ketika itu kami baru saja mau beranjak dari Ranu Pane. Ranu berarti danau. Jadi jangan heran banyak sekali istilah ranu disini. Seperti Gili untuk pulau di Nusa Tenggara Timur. Jadi banyak sekali gili. Saya pendaki pemula. Saya bergidik kala ia memberi tantangan itu. apakah ini akan begitu sulit? Saya tak pernah meremahkan. Bahkan saya selalu demam panggung ketika mau naik gunung hingga akhirnya saya selalu berusaha menikmati apa yang tersaji dalam perjalanan agar saya bisa melupakan takut saya. Saya pasrah. Saya tak obsesif. Jujur, tantangan itu malah membuat saya tambah takut. Tapi aku terima saja tantangan itu tanpa mengiyakan. Biar saja. saya kesini bukan untuk sebuah taruhan. Saya kesini buat liburan. Alasan yang lebih keren sebenarnya mengikuti Jejak (alm) Soe Hok Gie. Beliau adalah pendiri Mapala UI. Beliau pernah ke gunung ini. tapi siapa yang mengira, ditempat tertinggi inilah beliau wafat. Katanya, ia wafat di pangkuan Herman Lantang yang hingga kini masih aktif menyusuri rimba. Menurut saya beliau luar biasa. Berani menantang dan memberontak. Saya masih ingat salah satu adegan dalam film itu yang kurang lebih begini: Bung Karno, Bung Hatta, mereka berani memberontak. Kalau tidak begitu kita tidak akan merdeka.
Ia mengatakan demikian karena ia sehabis dapat hukuman dari sekolah gara-gara berdebat dengan guru sekolahnya. Seoarang teman menyuruhnya untuk nurut saja. Tapi ia punya pendirian sendiri. Bukankah itu menakjubkan untuk anak seusianya.
Kembali lagi ke Ambon. ia mungkin tak tahu masa kecil saya yang dipenuhi petualangan-petualangan kecil menyusuri sungai-sungai berbatu, bukit-bukit perdu sampai pernah hampir tersesat di hutan bambu yang saya pikir didiami oleh Dewi Kwan Im seperti dalam serial TV Kera Sakti, tapi kata penduduk desa hutan bambu itu didiami ular raksasa yang mendesis-desis lapar. Kadang saya dan beberapa teman hanya iseng saja berjalan menelusuri alam dekat desa saya tanpa menentukan mau kemana, kadang juga untuk main ketapel, pernah juga sebuah petualangan dimulai karena saya harus membikin sapu lidi: sebuah tugas dari sekolah pada saat ujian semester, saat itu masih catur wulan. Kala itu seingat saya, saya belum genap 10 tahun. Saya paling kecil, paling kurus seperti anak cacingan, tapi saya sekaligus yang paling naïf. Mungkin efek ibu saya yang ketika mengandung saya maunya makan singkong mentah yang diparut. Ya, singkong mentah. Ini bisa dipercaya bisa juga tidak. Saya enggan percaya karena saya mau menampik kenyataan bahwa ketika dirahim saya dijejali singkong mentah. Kau tahu rasanya seperti apa? Ia akan membuat perutmu bega dan selalu ingin kentut. Lagi, kentut itu akan bau. Tapi begitulah, orang hamil punya kuasa yang disebut ngidam dan harus dipenuhi. Katanya begitu. Mungkin karena singkong itu saya tumbuh dengan sangat lambat. Tubuh saya kurus. Tapi seperti singkong, saya tahan banting karena singkong tanpa dipupuk pun akan tumbuh dan umbi maupun daunya bisa dinikmati. Rekan saya juga lupa saya adalah anak gunung yang setiap harinya sebelum merantau ke jogja kerjaanya adalah naik turun bukit mencari rumput pakan kambing.
Ia memuji saya. Ada sebersit bahagia memang. Tapi sekali lagi, ini bukan hanya puncak. Karena dipuncak tak lebih dari 1 jam dan kamu harus menyusuri medan berpasir yang curam selama kurang lebih 4-5 jam. Kau tempuh dari jam 1 malam jika kau kemah di Archopodo. Sedangkan jika kau kemah di Kalimati, kau harus berangkat lebih awal, jam 11 paling tidak untuk menikmati matahari pagi yang lahir. Dan pendakian dijalur berpasir itu, kawan, begitu mengharu biru. Kadang, Kau juga perlu merayap untuk melewatinya. Mungkin kau pernah nonton film 5cm itu? film yang membuat gunung ini berubah dan lebih komersil: dulu, kata rekan pendaki saya yang tahun lalu ke gunung ini, para pendaki tidak perlu menghitung bawa kamera berapa, tenda berapa, berapa potong baju, dan para pendaki juga tak perlu membayar beberapa item itu. tapi, jika dana yang terkumpul untuk menghijaukan Gunung Semeru, kenapa tidak. Ya kan?
Ya, memang jalur pendakian berpasir seperti itu, bahkan lebih. Hanya saja, di film itu settinganya terang dan seolah-olah yang mendaki Cuma 5 orang. Kau akan takjub akan banyaknya pendaki yang merayap rayap seperti tahanan dalam hukuman ketika malam begitu pekat dan lampu senter menjadi satu-satunya cahaya yang menerangi jalan. Belum lagi teriakan “batu… batu… batu…” dalam pekat yang menuntut kita waspada. Ingat, dalam pekat ini apa pun bisa terjadi karena disamping medan berpasir ada jurang yang curam dan batu yang menggelinding yang bisa saja menimpamu. Kalau kamu lengah kamu akan seperti batu itu, menggelinding.  Karena memang, ada dua pendaki wanita yang cedera dalam perjalanan turun dari puncak. Kala itu saya kurang tahu persis kapan mereka cedera; pas mendaki kah atau pas turun. Tapi dua perempuan itu  memang cedera. Mereka harus digendong. Ya digendong. Bahkan sebenarnya membawa beban sendiri pun telah susah. Satunya hanya terkilir biasa jadi kadang hanya dipapah, satunya lagi agak parah karena saya mendengar rintihanya. Disinilah saya merasakan solidaritas yang tak dapat terkatakan. Buanglah siapa kamu, darimana asalamu, apa agamu, dan apa status sosialmu. Disini semua sama. Maka ada pendaki yang menjulurkan tali untuk kita berpegangan ketika medan berpasir itu kian menanjak. Saya berpegangan pada tali itu ketika jalur begitu menanjak. Siapakah gerangan si pembawa tali itu? tapi begitulah. Itu membuat saya terharu. Ada baik yang memang baik, tidak tersamar. Maka, ada juga yang menggendong rekannya, meskipun membawa diri sendiri juga telah penat. Ah, itu sungguh manis. Kebaikan yang manis. Dan saya perlu mendaki gunung untuk melihat kebaikan-kebaikan semacam itu.