Banyak
definisi dan pengertian mengenai masa remaja. Masa pencarian jati diri. Masa
pengukuhan eksistensi. Rumit. Sebagian memiliki masa yang menyenangkan dengan
banyak teman disekeliling mereka. Sebagian biasa saja tak ada yang istimewa.
Tapi satu hal yang sangat penting dalam masa ini, teman. Teman yang pada
akhirnya bisa menjelaskan kedudukanya. Teman yang mampu memperkukuh
eksistensinya dalam hidup. Teman yang bisa menjadi tempat berbagi, tidak hanya
tawa tapi juga luka. Teman yang ada dimana ia membutuhkan.
Pertanyaan
yang muncul adalah bagaimana jika tak ada teman? Atau seseorang yang telah
menjadi sahabat Karib tiba-tiba pergi padahal ada pengalaman masa lalu yang
begitu pahit dan sering kali menghantui dan teman begitu dibutuhkan sekedar
untuk mengurangi beban.
Adalah
Charlie (Logan Lerman), setiap hari ia menghitung mundur sisa waktu yang akan
dilalui hingga ia lulus dari SMA. Baginya masa SMA adalah omong kosong, sama
saja dengan masa SMP. Ia telah begitu banyak melihat kesenjangan dan perlakuan
buruk dari senior-senior terhadap yunior seperti dia.seseorang yang tidak
popular dan tidak dianggap keren. Hari-hari berlalu dengan membosankan, tak ada
kesan. Satu hal yang pasti sebagaimana remaja pada umumnya, ia butuh teman.
Sepertinya teman adalah sesuatu yang begitu penting meskipun Cuma satu. Ada
beberapa harapan sebenarnya untuknya berteman dan dekat dengan orang: temanya
di SMP, seorang gadis berambut coklat yang dulu sering bersamanya. Akan tetapi
ketika ia mencoba menyapa, gadis itu hanya berpaling. Kedua adalah kakaknya
yang juga berada di SMA yang sama. Ia berusaha bergabung dengan kakaknya tapi
kakaknya mengacuhkanya karena ia seorang junior.
Begitulah
hari-harinya. Perlahan-lahan, plot cerita tak hanya menunjukan kesulitanya
bersosialisasi. Ia juga menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang menjadi misteri
hingga akhir cerita. Ketika trauma itu tiba-tiba menyerangnya, ada satu orang
yang ia harapkan datang meskipun itu mustahil, Bibi Helena. Baginya, wanita
lembut yang di sia-siakan suaminya itu adalah penolongnya. Akan tetapi, tak ada
Bibi Helena lagi. Ia harus berjuang sendiri dengan menulis sebuah surat yang
ditujukan kepada entah siapa. Yang jelas dalam film ini ia menyebutkan “entah
siapa pun kamu”. Ia rutin menulis setelah dalam satu suratnya ia mengatakan
“maaf sudah lama aku tak menulis”.
Di
sebuah pertandingan American Football, Charlie berkenalan dengan dua siswa yang
akhirnya menjadi sahabatnya, Sam (Emma Watson) dan Pattrick (Ezra Miller).
Sahabat yang menerima dia sebagaimana ia apa adanya. Mereka tak menuntut
Charlie sebagai siswa yang popular. Persahabatan yang tidak menuntut.
Persahabatan yang tanpa maksud. Tapi dua orang ini juga tak sempurna adanya.
Mereka bukan manusia tanpa masalah sebagaimana Charlie. Sam, gadis cantik yang
berkali-kali berhubungan dengan pria yang kurang baik. Ia merasa waktunya telah
ia sia-siakan sehingga diakhir tahun sekolahnya bahkan nilainya tidak mencukupi
untuk masuk perguruan tinggi. Pattrick, kakak tiri Sam, siapa yang tahu dibalik keunikan dan
kecuekanya dia, dia adalah seorang gay yang backstreet dengan pacarnya hanya
karena ia takut pacarnya yang popular itu diketahui gay oleh teman-temanya dan
ayahnya. Ia menyimpan luka sebenarnya. Tapi ia menerima meskipun berat. Ketiga
remaja ini, dengan kompleksitasnya sebagai manusia menjadi sahabat yang saling
menerima. Tidak susah bagi Charlie menerima bahwa Pattrick adalah seorang gay.
Bakan ia adalah orang yang paling marah ketika Pacarnya tak berbuat apa-apa
disaat Pattrick direndahkan begitu rupa. Mengenai Sam, meskipun ia memiliki
masa lalu yang tidak baik tapi Charlie dengan tegas mengatakan, “semua orang
punya masa lalu, tapi yang lebih penting adalah bagaimana dia sekarang”. Jadi,
bagi Sam, masa lalu tidaklah begitu penting, setiap orang punya kesempatan
kedua. Saya pikir persahabatan mereka terjalin bukan karena maksud dan
persahabatan seperti itulah persahabatan yang indah dan menyenangkan. Mengenai
hal ini, seoarnag novelis Indonesia mengatakan tidak ada yang lebih
menyenangkan menjalin pertemanan selain pertemanan yang tanpa maksud.
Banyak
hal yang bisa dipelajari dari film ini, perhatian sekecil apa pun yang
diberikan ternyata memiliki dampak yang sangat besar. Dan teman, sebarapa pun
sedikit teman yang dimiliki juga memiliki kontribusi secara psikologis yang
sangat besar.
Tapi
bersama seringnya tak bisa berjalan selamanya. Ada perpisahan. Charlie adalah
junior Sam dan Pattrick. Mereka berdua lulus dari sekolah dan melanjutkan ke
universitas. Rasa kehilangan selalu ada di setiap perpisahan yang menyisakan
ketakutan. Ketakutan itu muncul dalam berbagai bentuk, takut dilupakan, takut
sendiri, dan takut untuk menghadapi hari-hari tanpa orang yang selama ini telah
bersama dengan berbagai cerita. Lantas kemudia baying-bayang masa lalu yang
semakin lama semakin terang muncul menyerang Charlie.dan Bibi Helena yang
begitu dirindukanya menjadi sebuah penyesalan. Charlie begitu menyayanginya
hingga ia yakin ialah penyebab kematianya yang membuat ia begitu sedih. Akan
tetapi, ia menyimpan rahasia terdalam juga, rahasia yang hanya mereka berdua
yang tahu. Rahasia yang pada akhirnya membuat Ibunya menangis.
Di
awal perpisahan dengan dua sahabatnya itu, Charlie rajin menulis seperti
janjinya pada Sam yang sebenarnya ia sayangi. Tak ada belum tentu hilang. Tak
selayaknya juga cinta menahan langkah. Jauh bukan berarti pergi. Sam dan
Pattrick tetap menjadi sahabat Sam meskipun mereka telah jauh. Ada mimpi yang
harus dikejar meskipun ada cinta yang enggan ditinggalkan. Dan mimpi itu
menumbuhkan sebuah esadaran bahwa kebersamaan fisik tak selamanya terjalin
setiap saat. Akan tetapi bukan juga tak ada sama sekali. Ada masa kebersamaan
terjalin lagi. Ada waktu yang begitu berharga untuk dilewatkan jika meraka ada
dekat sekadar menghabiskan waktu bersama.
