Senin, 18 November 2013

PENDAKIAN MERAPI

Pendakian Merapi tak bisa dipungkiri merupakan sebuah tantangan. Tantangan ini bukan disebabkan karena jalur pendakianya, bukan juga karena saya sedang sakit. Saya saat itu dalam keadaan fit dan katanya medan Merapi juga tidak terlalu sulit. Lantas apa tantanganya? Jangan tertawa dulu membaca tulisan saya. Saya besar dengan menonton sinetron Misteri Guning Merapi dimana disana ada Mak Lampir, Grandong, dan lain-lain yang menjadi mitos tersendiri dan sepertinya telah mengakar secara tak sadar. Jadi, ketika saya mendengar kata Merapi yang terlintas adalah hal-hal mistis. Memang tidak logis tapi sayangnya saya sebagai orang yang lahir di Jawa dan besar di Jawa tak bisa mengelak dari mitos ini. Dan saya tahu, untuk orang jogja, Gunung Merapi bukan sekedar gunung.  Seperti Laut Selatan ada kegiatan seremonial yang ditujukan untuk Gunung Merapi setiap tahunya. Sebelum saya menekuni hobi mendaki, ada sebuah film tentang Merapi yang saya tonton, sebuah film Indonesia yang mungkin taka sing, Keramat. Dari film ini lah saya mengetahui beberapa hal tentang Merapi terutama tentang hutan-hutanya yang tak kalah mistis. Tak berhenti disitu, saya kemudia cross check mengenai film Keramat dengan beberapa teman saya yang berasal dari jogja dan mereka menjelaskan memang hutan Merapi memiliki beberapa mitos yang hamper sama dengan yang ada di Film Keramat. Well, kadang-kadang memang lebih baik kita tak mengetahui beberapa hal untuk menikmati hal yang kita lakukan. tapi merupakan sebuah tantangan juga untuk menikmati hal yang kita lakukan ketika mengetahui bahwa yang kita lakukan memiliki misteri.
Bukan berarti dengan mitos dan misteri yang saya ketahuidan saya tulis menghalangi saya untuk menikmati keindahan gunung Merapi. Tak hanya dalam pendakian merapi, setiap kali mendaki gunung teman saya selalu mengajarkan saya untuk istilahnya meluruskan niat. Saya rasa itu penting meskipun terdengar konyol. niatlah bahwa mendaki gunung untuk menikmati keindahan alam sekitar. Begitu yang diajarkan partner mendaki saya. Jangan tertawa. Berdasarkan pengalaman saya dan hasil ngobrol dengan beberapa pendaki, ada beberapa kejadian yang tidak menyenangkan  terjadi ketika mendaki gunung karena niat yang tidak baik juga. Selain niat tentu saja beberapa perlengkapan pendakian yang memadai perlu dibawa. Juga, yang tak kalah penting, mematuhi jalur pendakian yang telah disediakan. Ini sebuah keharusan. Tersesat dan hilang salah satunya disebabkan karena pendakian sering kali tidak menggunakan jalur yang telah ditetapkan.
Kabar baiknya jalur mendaki bukanlah mengikuti jalur melati seperti dalam film Keramat. Hehehehe. Jangan tertawa, ini melegakan buat saya. Apalagi ketika sampai di Basecamp Merapi, ternyata banyak juga pendaki yang mau naik tidak terkecuali anak SMP dan SMA. Bahkan ketika turun gunung, ada 4 anak SD yang melakukan Pendakian Merapi tanpa alas kaki dan Cuma bawa tas backpack kecil. Sumpah itu anak-anak SD. Saya tidak mengigau. Kabar baik yang lain adalah, gunung ini tak hanya menarik perhatian pendaki local, tapi juga pendaki mancanegara. Di puncak saya bertemu dengan pendaki asal Jerman. Ini luar biasa.
Ada satu hal yang saya sesalkan di basecamp pendakian. Penjagaan tempat registrasi pendakian tidak disiplin, sering ditinggal pergi. Oleh karena itu saya dan rekan mendaki saya mendaki tanpa mendaftar. Jangan salah sangka dulu, bukan Cuma kami yang melakukanya. Beberapa pendaki lain juga mendaki tanpa mendaftar karena alasan yang sama, basecamp tempat registrasi tak ada yang menjaga, dan setelah ditunggu cukup lama tidak ada petugas kebanyakan pendaki yang kesal meninggalkan basecamp. Ini mungkin perlu diperhatikan. Masalahnya pendakian Merapi cukup popular. Gunung merbabu saja di Basecamp selo memiliki dua basecamp dan dua-duanya rajin melayani registrasi. Jangan sampai para pendaki naik dengan keadaan kesel.
Disamping mitos-mitos Merapi, ada hal yang lebih mengena ketika mendaki. Hal yang membuat saya menikmati pendakian. Benar-benar menikmati. Ini adalah hadiah alam yang begitu indah diatas gumpalan awan yang seperti kapas. Matahari terbenam. Saat itu saya dan rekan saya belum sampai di tempat dimana kami harus berkemah. Ketika senja datang dan matahari begitu lembut keemasan di atas samudera awan, kami masih kurang 1 jam menuju tempat kami berencana kemah di Pasar Gubrah. Tapi siapa peduli tempat kemah masih 1 jam, matahari terbenam itu tak terjadi setiap jam kan? Dan keindahan alam layak untuk dinikmati. Lihatlah awan yang seperti kumpulan kapas itu. jujur saja saya ingin merebahkan badan saya disana. Wait, tapi itu awan, jika saya lupa diri dan terjun maka yang saya anggap kasur adalah jurang. Diarah yang berlawanan dengan senja adalah tebing-tebing yang berwarna hijau lumut. Ini sangat kontras dengan tempat kami kemah yang hanya ditumbuhi bebatuan dan pasir hasil letusan Gunung Merapi beberapa tahun yang lalu. Di arah utara, ada gunung Merbabu yang terlihat lebih hijau dari Merapi, gunung itu berdiri tenang diatas awan. Lalu dilereng merbabu, kita bisa melihat pedesaan yang damai. He.
Kami harus meninggalkan senja. Dan ketika matahari telah berada di sisi lain dari Bumi, kami sampai di tempat kemah. Jangan lupa bawa tali yang memadai karena di tempat camp, pasak tidak bisa digunakan. Jadi tali akan sangat membantu dalam proses pendirian tenda. Sejauh ini semua berjalan luar biasa. Saya suka mendaki gunung ketika cuaca cerah. Dan bulan oktober adalah salah satu bulan terbaik untuk mendaki. Untuk mendapatkan pemandangan sunset, mungkin perlu diperhatikan jam pendakian. Tak perlu terlalu pagi. Jam 13.00 atau jam 14.00 cukup ideal untuk mendapatkan sunset. Dan saat melihat sunset yang lembut itu, buktikanlah bahwa penat itu terbayar.
Paginya, sekitar jam 04.30 saya dan rekan mendaki saya keluar dari tenda dan naik ke puncak. Diluar telah ada lebih banyak tenda disbanding ketika kami sampai. Di jalur pendakian ke puncak lampu-lampu senter menunjukan bahwa telah banyak pendaki yang muncak juga. Jangan Tanya lagi. Tentu saja masih dingin. Dingin-dingin begini ada yang sekedar tidur pakai Sleeping Bag diluar. Tergeletak begitu saja seperti ikan asin. Hehehehe. True survival. Apakah saya akan melakukanya. Mungkin belum saatnya. Oke jadi pendakian puncak merapi kali ini akan melewati medan berpasir. Yap, pasir dan batu. Tak ada tumbuhan sama sekali. Medan berpasir ini mirip dengan puncak Mahameru tapi untungnya medan berpasir di Merapi tak memakan waktu lebih dari 1 jam sedangkan untuk menuju puncak Mahameru butuh kira-kira 4-5 jam dan paling tidak berangkat jam 1 malam jika kemah di Archopodo untuk menikmati matahari terbit. Begitulah. Matahari terbit seperti emas bagi para pendaki, di cari dan dikejar.
Dan inilah puncak Gunung Merapi yang selama kurang lebih 5 tahun aku pandangi keagunganya dari Jogja: sebuah tebing terjal berwarna keabu-abuan. Dibawah tebing adalah kawah merapi yang aktif dan selalu menjadi paling aktif. Diameter kawah tersebut sekarang sangat luas. Di dalam lingkaran kawah yang luas itu terlihat lingkaran kecil yang menyala-nyala seperti bara api. Jangan bayangkan kamu jatuh ya. No way.
Sebagian besar relief puncak Merapi adalah batuan. Tak heran ketika terjadi lahar dingin banyak batu yang ikut arus. Dari puncak terjal ini pendaki bisa melihat pemandangan berbagai puncak di jawa tengah sebut saya Gunung Slamet, Sumbing Sindoro, dan tentu saja Gunung Merbabu. Gunung Lawu juga kelihatan. Ada satu hal yang begitu khas dari Merapi sebenarnya jika dilihat dari puncak gunung lain; kawahnya. Ketika pagi ia menguap paling banyak. Mungkin karena keunikan ini, banyak pendaki mancanegara yang datang ke Merapi. Dan ternyata, pendaki mancanegara tidak kalah narsis juga. Pada saat muncak, saya mendapati seorang wanita Luar Negeri tengah asik jeprat jepret di depan kamera. Well, tak cukup satu baju saja, ia berganti baju 3 kali untuk 3 kali jepretan. Ada juga warga jerman mungkin berusia 40 an yang saya temui disamping anak-anak muda yang berada di puncak. Meskipun mereka juga sama narsisnya, tapi saat itu saya pikir kebanyakan dari mereka tengah melakukan riset. Sayangnya saya tak menanyakan hal tersebut.

Saya selalu berusaha berlama-lama dipuncak. Hanya ingin menikmati pemandangan dari atas. Entahlah, disana ada perasaan takjub yang mendebarkan yang kelak akan dirindukan ketika kamu tengah menapaki penatnya lalu lintas jalanan yang penuh caci maki. Karena, di gunung, keramah tamahan itu masih ada tak peduli kamu siapa, dari mana, agamamu apa. Tapi, berapapun lamanya dipuncak tetap harus turun juga dan esoknya ketika aku bangun aku sadar badanku akan terasa remuk redam. Pendakian Merapi seperti pendakian lainya tetap menyisakan nyeri dan ngilu disamping semua keindahan, tapi tetap saja tak menjemukan. 

NB: Thanks to partner pendakian Merapi yang sabar
juga thanks to Gunung Merapi sendiri yang telah memberi ijin untuk didaki. 

para pendaki

 Puncak Merapi
 Sunrise
 Moment of Truth: Puncak Merapi


 Sunset

 Gunung Merbabu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar