Pendakian Merapi tak bisa dipungkiri
merupakan sebuah tantangan. Tantangan ini bukan disebabkan karena jalur
pendakianya, bukan juga karena saya sedang sakit. Saya saat itu dalam keadaan
fit dan katanya medan Merapi juga tidak terlalu sulit. Lantas apa tantanganya?
Jangan tertawa dulu membaca tulisan saya. Saya besar dengan menonton sinetron
Misteri Guning Merapi dimana disana ada Mak Lampir, Grandong, dan lain-lain
yang menjadi mitos tersendiri dan sepertinya telah mengakar secara tak sadar.
Jadi, ketika saya mendengar kata Merapi yang terlintas adalah hal-hal mistis.
Memang tidak logis tapi sayangnya saya sebagai orang yang lahir di Jawa dan
besar di Jawa tak bisa mengelak dari mitos ini. Dan saya tahu, untuk orang
jogja, Gunung Merapi bukan sekedar gunung.
Seperti Laut Selatan ada kegiatan seremonial yang ditujukan untuk Gunung
Merapi setiap tahunya. Sebelum saya menekuni hobi mendaki, ada sebuah film
tentang Merapi yang saya tonton, sebuah film Indonesia yang mungkin taka sing,
Keramat. Dari film ini lah saya mengetahui beberapa hal tentang Merapi terutama
tentang hutan-hutanya yang tak kalah mistis. Tak berhenti disitu, saya kemudia
cross check mengenai film Keramat dengan beberapa teman saya yang berasal dari
jogja dan mereka menjelaskan memang hutan Merapi memiliki beberapa mitos yang
hamper sama dengan yang ada di Film Keramat. Well, kadang-kadang memang lebih
baik kita tak mengetahui beberapa hal untuk menikmati hal yang kita lakukan.
tapi merupakan sebuah tantangan juga untuk menikmati hal yang kita lakukan
ketika mengetahui bahwa yang kita lakukan memiliki misteri.
Bukan berarti dengan mitos dan misteri yang
saya ketahuidan saya tulis menghalangi saya untuk menikmati keindahan gunung
Merapi. Tak hanya dalam pendakian merapi, setiap kali mendaki gunung teman saya
selalu mengajarkan saya untuk istilahnya meluruskan niat. Saya rasa itu penting
meskipun terdengar konyol. niatlah bahwa mendaki gunung untuk menikmati
keindahan alam sekitar. Begitu yang diajarkan partner mendaki saya. Jangan
tertawa. Berdasarkan pengalaman saya dan hasil ngobrol dengan beberapa pendaki,
ada beberapa kejadian yang tidak menyenangkan
terjadi ketika mendaki gunung karena niat yang tidak baik juga. Selain
niat tentu saja beberapa perlengkapan pendakian yang memadai perlu dibawa.
Juga, yang tak kalah penting, mematuhi jalur pendakian yang telah disediakan.
Ini sebuah keharusan. Tersesat dan hilang salah satunya disebabkan karena
pendakian sering kali tidak menggunakan jalur yang telah ditetapkan.
Kabar baiknya jalur mendaki bukanlah
mengikuti jalur melati seperti dalam film Keramat. Hehehehe. Jangan tertawa,
ini melegakan buat saya. Apalagi ketika sampai di Basecamp Merapi, ternyata
banyak juga pendaki yang mau naik tidak terkecuali anak SMP dan SMA. Bahkan
ketika turun gunung, ada 4 anak SD yang melakukan Pendakian Merapi tanpa alas
kaki dan Cuma bawa tas backpack kecil. Sumpah itu anak-anak SD. Saya tidak
mengigau. Kabar baik yang lain adalah, gunung ini tak hanya menarik perhatian pendaki
local, tapi juga pendaki mancanegara. Di puncak saya bertemu dengan pendaki
asal Jerman. Ini luar biasa.
Ada satu hal yang saya sesalkan di basecamp
pendakian. Penjagaan tempat registrasi pendakian tidak disiplin, sering
ditinggal pergi. Oleh karena itu saya dan rekan mendaki saya mendaki tanpa
mendaftar. Jangan salah sangka dulu, bukan Cuma kami yang melakukanya. Beberapa
pendaki lain juga mendaki tanpa mendaftar karena alasan yang sama, basecamp
tempat registrasi tak ada yang menjaga, dan setelah ditunggu cukup lama tidak
ada petugas kebanyakan pendaki yang kesal meninggalkan basecamp. Ini mungkin
perlu diperhatikan. Masalahnya pendakian Merapi cukup popular. Gunung merbabu
saja di Basecamp selo memiliki dua basecamp dan dua-duanya rajin melayani registrasi.
Jangan sampai para pendaki naik dengan keadaan kesel.
Disamping mitos-mitos Merapi, ada hal yang
lebih mengena ketika mendaki. Hal yang membuat saya menikmati pendakian.
Benar-benar menikmati. Ini adalah hadiah alam yang begitu indah diatas gumpalan
awan yang seperti kapas. Matahari terbenam. Saat itu saya dan rekan saya belum
sampai di tempat dimana kami harus berkemah. Ketika senja datang dan matahari
begitu lembut keemasan di atas samudera awan, kami masih kurang 1 jam menuju
tempat kami berencana kemah di Pasar Gubrah. Tapi siapa peduli tempat kemah
masih 1 jam, matahari terbenam itu tak terjadi setiap jam kan? Dan keindahan
alam layak untuk dinikmati. Lihatlah awan yang seperti kumpulan kapas itu.
jujur saja saya ingin merebahkan badan saya disana. Wait, tapi itu awan, jika
saya lupa diri dan terjun maka yang saya anggap kasur adalah jurang. Diarah
yang berlawanan dengan senja adalah tebing-tebing yang berwarna hijau lumut.
Ini sangat kontras dengan tempat kami kemah yang hanya ditumbuhi bebatuan dan
pasir hasil letusan Gunung Merapi beberapa tahun yang lalu. Di arah utara, ada
gunung Merbabu yang terlihat lebih hijau dari Merapi, gunung itu berdiri tenang
diatas awan. Lalu dilereng merbabu, kita bisa melihat pedesaan yang damai. He.
Kami harus meninggalkan senja. Dan ketika
matahari telah berada di sisi lain dari Bumi, kami sampai di tempat kemah.
Jangan lupa bawa tali yang memadai karena di tempat camp, pasak tidak bisa
digunakan. Jadi tali akan sangat membantu dalam proses pendirian tenda. Sejauh
ini semua berjalan luar biasa. Saya suka mendaki gunung ketika cuaca cerah. Dan
bulan oktober adalah salah satu bulan terbaik untuk mendaki. Untuk mendapatkan
pemandangan sunset, mungkin perlu diperhatikan jam pendakian. Tak perlu terlalu
pagi. Jam 13.00 atau jam 14.00 cukup ideal untuk mendapatkan sunset. Dan saat
melihat sunset yang lembut itu, buktikanlah bahwa penat itu terbayar.
Paginya, sekitar jam 04.30 saya dan rekan
mendaki saya keluar dari tenda dan naik ke puncak. Diluar telah ada lebih banyak
tenda disbanding ketika kami sampai. Di jalur pendakian ke puncak lampu-lampu
senter menunjukan bahwa telah banyak pendaki yang muncak juga. Jangan Tanya
lagi. Tentu saja masih dingin. Dingin-dingin begini ada yang sekedar tidur
pakai Sleeping Bag diluar. Tergeletak begitu saja seperti ikan asin. Hehehehe.
True survival. Apakah saya akan melakukanya. Mungkin belum saatnya. Oke jadi
pendakian puncak merapi kali ini akan melewati medan berpasir. Yap, pasir dan
batu. Tak ada tumbuhan sama sekali. Medan berpasir ini mirip dengan puncak
Mahameru tapi untungnya medan berpasir di Merapi tak memakan waktu lebih dari 1
jam sedangkan untuk menuju puncak Mahameru butuh kira-kira 4-5 jam dan paling
tidak berangkat jam 1 malam jika kemah di Archopodo untuk menikmati matahari
terbit. Begitulah. Matahari terbit seperti emas bagi para pendaki, di cari dan
dikejar.
Dan inilah puncak Gunung Merapi yang selama
kurang lebih 5 tahun aku pandangi keagunganya dari Jogja: sebuah tebing terjal
berwarna keabu-abuan. Dibawah tebing adalah kawah merapi yang aktif dan selalu
menjadi paling aktif. Diameter kawah tersebut sekarang sangat luas. Di dalam
lingkaran kawah yang luas itu terlihat lingkaran kecil yang menyala-nyala
seperti bara api. Jangan bayangkan kamu jatuh ya. No way.
Sebagian besar relief puncak Merapi adalah
batuan. Tak heran ketika terjadi lahar dingin banyak batu yang ikut arus. Dari
puncak terjal ini pendaki bisa melihat pemandangan berbagai puncak di jawa
tengah sebut saya Gunung Slamet, Sumbing Sindoro, dan tentu saja Gunung
Merbabu. Gunung Lawu juga kelihatan. Ada satu hal yang begitu khas dari Merapi
sebenarnya jika dilihat dari puncak gunung lain; kawahnya. Ketika pagi ia
menguap paling banyak. Mungkin karena keunikan ini, banyak pendaki mancanegara
yang datang ke Merapi. Dan ternyata, pendaki mancanegara tidak kalah narsis
juga. Pada saat muncak, saya mendapati seorang wanita Luar Negeri tengah asik
jeprat jepret di depan kamera. Well, tak cukup satu baju saja, ia berganti baju
3 kali untuk 3 kali jepretan. Ada juga warga jerman mungkin berusia 40 an yang
saya temui disamping anak-anak muda yang berada di puncak. Meskipun mereka juga
sama narsisnya, tapi saat itu saya pikir kebanyakan dari mereka tengah
melakukan riset. Sayangnya saya tak menanyakan hal tersebut.
Saya selalu berusaha berlama-lama dipuncak.
Hanya ingin menikmati pemandangan dari atas. Entahlah, disana ada perasaan
takjub yang mendebarkan yang kelak akan dirindukan ketika kamu tengah menapaki
penatnya lalu lintas jalanan yang penuh caci maki. Karena, di gunung, keramah
tamahan itu masih ada tak peduli kamu siapa, dari mana, agamamu apa. Tapi,
berapapun lamanya dipuncak tetap harus turun juga dan esoknya ketika aku bangun
aku sadar badanku akan terasa remuk redam. Pendakian Merapi seperti pendakian
lainya tetap menyisakan nyeri dan ngilu disamping semua keindahan, tapi tetap
saja tak menjemukan.
NB: Thanks to partner pendakian Merapi yang sabar
juga thanks to Gunung Merapi sendiri yang telah memberi ijin untuk didaki.
| para pendaki |
Puncak Merapi
Sunrise
Moment of Truth: Puncak Merapi
Sunset
Gunung Merbabu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar