UP
IN THE AIR
Up
in the air menceritakan seorang pria lajang yang memiliki profesi sebagai
pemecat orang. Kenapa judulnya seperti itu? Apa hubunganya dengan pria lajang
berprofesi sebagai pemecat orang? jadi, alkisah di Amerika
perusahaan-perusahaan di Amerika memiliki kesulitan ketika perusahaan tersebut
harus mengurangi tenaga kerja yang disebabkan oleh banyak factor. Factor
tersebut mungkin perusahaan yang mengalami kerugian sehingga harus mengurangi
jumlah tenaga kerja. Bisa jadi, SDM nya sendiri yang dinilai kurang kompeten,
dll. Pemecatan adalah hal yang menyakitkan dan membutuhkan cara agar yang
dipecat tidak membuat reaksi yang belebihan meskipun pada kenyataanya reaksi
berlebihan menjadi sangat biasa. Disinilah peranan George Clooney. Ia dikirim
ke berbagai perusahaan di berbagai Negara bagian untuk memecat pegawai-pegawai
yang telah ditentukan. Baginya reaksi apa pun sudah biasa dan dia bisa begitu
tenang seolah-olah tidak punya perasaan ketika ada seorang ibu yang mengaku
akan bunuh diri, atau ketika mendengar seorang pria paruh baya yang
mengungkapkan bahwa pekerjaan yang dimiliki sekarang adalah pekerjaan
satu-satunya guna menghidupi keluarganya. Ada juga yang merasa telah mengabdi
begitu lama sehingga pemecatan adalah sebuah kesalahan, lagipula siapa George
Clooney sehingga ia mempunyai wewenang untuk memecat? Beberapa hal tadi
hanyalah sekelumit pengalaman dari apa yang telah ia alami.
Karena pekerjaanya menuntut dia untuk pergi
ke satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang berdekatan maka sebagian
hidupnya ia habiskan di dalam pesawat. Sedangkan sebagian lainya ada di bumi
dimana ia memijakan kaki secara nyata. Up in the air seperti sebuah cerminan hidup
yang tidak biasa. Hidup yang berbeda dari orang pada umumnya. Ia memutuskan
untuk lajang,. Ia nyaman hidup tanpa ikatan. Ia menyukai hidupnya yang ia
anggap sempurna karena ia bebas kemana pun tanpa ada yang menyetir. Ia pergi karena
ia ingin pergi tanpa ada yang membatasi. Usianya memang tak lagi muda tapi
siapa peduli, itu hidup yang ia pilih. Lagipula ia memiliki pekerjaan yang
membuatnya bisa bepergian ke sana kemari dan melihat hal-hal baru.
Bagi orang lain mungkin hidup yang dipilih
adalah hidup yang menyedihkan. Hidup yang sendiri. Hidup yang sepi. Tapi ia
memiliki perspektif lain ketika ia tak terikat dengan apa pun dan tanpa membawa
beban apa pun berarti ia bebas menentukan apa pun. Beban itu bisa jadi
ditimbulkan karena ikatan atau apa pun yang menyebabkan seseorang enggan
beranjak.. dan ransel kosong dalam seminarnya menunjukan bahwa ia tak membawa
apa pun dan tak membutuhkan apa pun kecuali dia sendiri dalam perjalanan.
Sebuah perjalanan yang jika di tarik ke sebuah lingkup yang lebih luas adalah
kehidupan itu sendiri. Ia hanya butuh dirinya sendiri untuk hidup, untuk
bahagia, dan untuk semuanya. Dan memang begitulah ia. Maka up in the air seperti sebuah prinsip yang begitu tidak membumi
karena bagaimana hidup tanpa orang lain. Idealismenya memang tidak bisa
diterima oleh semua orang bahkan keluarganya sendiri. Akan tetapi ia tidak
membutuhkan pengakuan dan penerimaan orang lain untuk seperti itu. Dan ia juga
tidak berusaha mempengaruhi orang untuk seperti itu kecuali dalam seminar
Ransel Kosong yang memang menunjuk ia sebagai pembicara. Saya pribadi memiliki
simpati terhadap tokoh yang diperankan oleh George Clooney dengan sangat baik
ini. Harus menjadi sangat kuat untuk bisa seperti itu. Tidak semuanya saya
setuju, tapi memang ada kalanya dan ada baiknya tidak merasa memiliki sesuatu
kecuali kita sendiri. Bahkan dalam hubungan sekalipun tak perlu ada rasa
memiliki yang posesif karena rasa memiliki itu pada akhirnya akan membuat luka.
Membuang semua yang ada dalam ransel seperti membuat jarak dengan apa pun yang
merasa manusia miliki. Merasa tidak memiliki apa-apa dalam satu sudut pandang
adalah merupakan sebuah kebebasan.
Akan tetapi pada akhirnya ia adalah manusia
biasa yang pada suatu titik kalah atau pun tersadar akan realita. Pada sebuah
titik ia merasa harus kembali membumi dan menanggalkan idealism dan prinsipnya
itu. Ia merasa sudah saatnya mendarat ke bumi dan hidup sebagaimana manusia
pada umumnya seperti yang dikehendaki keluarganya. Ada banyak pertimbangan ketika
ia harus menerima realita. Di titik ini ia meninggalkan kehidupan awang-awang
yang telah di lakoninya. Ia memberikan hadiah yang ia dapat dari jasa
penerbangan karena telah bepergian sepanjang 1000 mil kepada adiknya yang baru
saja menikah. Maka bisa ditebak keluarganya pun menyambut ia yang berubah, yang
menjadi manusia normal dalam tataran manusia pada umunya. Di segmen terakhir
dalam Up in the Air kita menyaksikan
runtuhnya idealisme yang telah ia bangun selama hidupnya untuk menjemput yang
ia anggap berharga dalam ranselnya dengan begitu optimis.
Akan tetapi realita tak seindah drama komedi
romantis. Bukan berarti juga keputusanya salah meskipun ia harus kecewa. Tidak
mendapatkan apa yang diinginkan bukan berarti salah karena hidup juga memiliki
rumus sendiri yang tidak bisa ditebak akan seperti apa. Optimismenya runtuh di
Chicago. Apakah ia terpuruk? Tidak. Itu hanya fase lain yang mengantarkanya
pada tingkatan lain. Bukankah sebelumnya ia telah terlalu nyaman dengan
kehidupan awang-awangnya. Saya mengagumi keputusan besarnya untuk meninggalkan
kebahagiaan yang telah ia miliki untuk sebuah kebahagiaan yang ia harapkan. Ia
berani meninggalkan comfort zone nya untuk sebuah kebahagiaan lain meskipun
ternyata ia tak mendapatkan apa yang ia harapkan itu. Up in the Air
menunjukan bahwa kita tak selalu harus mendapatkan apa yang diinginkan atau pun
yang diharapkan karena realitanya yang diharapkan itu adalah milik dari orang
lain yang juga bisa berkeputusan.






