Jumat, 17 Mei 2013



UP IN THE AIR
Up in the air menceritakan seorang pria lajang yang memiliki profesi sebagai pemecat orang. Kenapa judulnya seperti itu? Apa hubunganya dengan pria lajang berprofesi sebagai pemecat orang? jadi, alkisah di Amerika perusahaan-perusahaan di Amerika memiliki kesulitan ketika perusahaan tersebut harus mengurangi tenaga kerja yang disebabkan oleh banyak factor. Factor tersebut mungkin perusahaan yang mengalami kerugian sehingga harus mengurangi jumlah tenaga kerja. Bisa jadi, SDM nya sendiri yang dinilai kurang kompeten, dll. Pemecatan adalah hal yang menyakitkan dan membutuhkan cara agar yang dipecat tidak membuat reaksi yang belebihan meskipun pada kenyataanya reaksi berlebihan menjadi sangat biasa. Disinilah peranan George Clooney. Ia dikirim ke berbagai perusahaan di berbagai Negara bagian untuk memecat pegawai-pegawai yang telah ditentukan. Baginya reaksi apa pun sudah biasa dan dia bisa begitu tenang seolah-olah tidak punya perasaan ketika ada seorang ibu yang mengaku akan bunuh diri, atau ketika mendengar seorang pria paruh baya yang mengungkapkan bahwa pekerjaan yang dimiliki sekarang adalah pekerjaan satu-satunya guna menghidupi keluarganya. Ada juga yang merasa telah mengabdi begitu lama sehingga pemecatan adalah sebuah kesalahan, lagipula siapa George Clooney sehingga ia mempunyai wewenang untuk memecat? Beberapa hal tadi hanyalah sekelumit pengalaman dari apa yang telah ia alami.
Karena pekerjaanya menuntut dia untuk pergi ke satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang berdekatan maka sebagian hidupnya ia habiskan di dalam pesawat. Sedangkan sebagian lainya ada di bumi dimana ia memijakan kaki secara nyata. Up in the air seperti sebuah cerminan hidup yang tidak biasa. Hidup yang berbeda dari orang pada umumnya. Ia memutuskan untuk lajang,. Ia nyaman hidup tanpa ikatan. Ia menyukai hidupnya yang ia anggap sempurna karena ia bebas kemana pun tanpa ada yang menyetir. Ia pergi karena ia ingin pergi tanpa ada yang membatasi. Usianya memang tak lagi muda tapi siapa peduli, itu hidup yang ia pilih. Lagipula ia memiliki pekerjaan yang membuatnya bisa bepergian ke sana kemari dan melihat hal-hal baru.  
Bagi orang lain mungkin hidup yang dipilih adalah hidup yang menyedihkan. Hidup yang sendiri. Hidup yang sepi. Tapi ia memiliki perspektif lain ketika ia tak terikat dengan apa pun dan tanpa membawa beban apa pun berarti ia bebas menentukan apa pun. Beban itu bisa jadi ditimbulkan karena ikatan atau apa pun yang menyebabkan seseorang enggan beranjak.. dan ransel kosong dalam seminarnya menunjukan bahwa ia tak membawa apa pun dan tak membutuhkan apa pun kecuali dia sendiri dalam perjalanan. Sebuah perjalanan yang jika di tarik ke sebuah lingkup yang lebih luas adalah kehidupan itu sendiri. Ia hanya butuh dirinya sendiri untuk hidup, untuk bahagia, dan untuk semuanya. Dan memang begitulah ia. Maka up in the air seperti sebuah prinsip yang begitu tidak membumi karena bagaimana hidup tanpa orang lain. Idealismenya memang tidak bisa diterima oleh semua orang bahkan keluarganya sendiri. Akan tetapi ia tidak membutuhkan pengakuan dan penerimaan orang lain untuk seperti itu. Dan ia juga tidak berusaha mempengaruhi orang untuk seperti itu kecuali dalam seminar Ransel Kosong yang memang menunjuk ia sebagai pembicara. Saya pribadi memiliki simpati terhadap tokoh yang diperankan oleh George Clooney dengan sangat baik ini. Harus menjadi sangat kuat untuk bisa seperti itu. Tidak semuanya saya setuju, tapi memang ada kalanya dan ada baiknya tidak merasa memiliki sesuatu kecuali kita sendiri. Bahkan dalam hubungan sekalipun tak perlu ada rasa memiliki yang posesif karena rasa memiliki itu pada akhirnya akan membuat luka. Membuang semua yang ada dalam ransel seperti membuat jarak dengan apa pun yang merasa manusia miliki. Merasa tidak memiliki apa-apa dalam satu sudut pandang adalah merupakan sebuah kebebasan.
Akan tetapi pada akhirnya ia adalah manusia biasa yang pada suatu titik kalah atau pun tersadar akan realita. Pada sebuah titik ia merasa harus kembali membumi dan menanggalkan idealism dan prinsipnya itu. Ia merasa sudah saatnya mendarat ke bumi dan hidup sebagaimana manusia pada umumnya seperti yang dikehendaki keluarganya. Ada banyak pertimbangan ketika ia harus menerima realita. Di titik ini ia meninggalkan kehidupan awang-awang yang telah di lakoninya. Ia memberikan hadiah yang ia dapat dari jasa penerbangan karena telah bepergian sepanjang 1000 mil kepada adiknya yang baru saja menikah. Maka bisa ditebak keluarganya pun menyambut ia yang berubah, yang menjadi manusia normal dalam tataran manusia pada umunya. Di segmen terakhir dalam Up in the Air kita menyaksikan runtuhnya idealisme yang telah ia bangun selama hidupnya untuk menjemput yang ia anggap berharga dalam ranselnya dengan begitu optimis.
Akan tetapi realita tak seindah drama komedi romantis. Bukan berarti juga keputusanya salah meskipun ia harus kecewa. Tidak mendapatkan apa yang diinginkan bukan berarti salah karena hidup juga memiliki rumus sendiri yang tidak bisa ditebak akan seperti apa. Optimismenya runtuh di Chicago. Apakah ia terpuruk? Tidak. Itu hanya fase lain yang mengantarkanya pada tingkatan lain. Bukankah sebelumnya ia telah terlalu nyaman dengan kehidupan awang-awangnya. Saya mengagumi keputusan besarnya untuk meninggalkan kebahagiaan yang telah ia miliki untuk sebuah kebahagiaan yang ia harapkan. Ia berani meninggalkan comfort zone nya untuk sebuah kebahagiaan lain meskipun ternyata ia tak mendapatkan apa yang ia harapkan itu.  Up in the Air menunjukan bahwa kita tak selalu harus mendapatkan apa yang diinginkan atau pun yang diharapkan karena realitanya yang diharapkan itu adalah milik dari orang lain yang juga bisa berkeputusan.

Kamis, 16 Mei 2013

500 Days of Summer



500 Days of Summer
500 days of summer adalah salah satu film yang disebut sebagai film komedi romantic. Akan tetapi, jangan mengharapkan cerita seperti yang terdapat dalam Leap Year, The Ugly Truth, atau The Proposal. Sebelum menonton film ini buang jauh-jauh stereotype mengenai film komedi romantic jika kalian sudah tahu dari synopsis bahwa film ini ber genre komedi romantis. Bukan berarti film ini tidak bagus? Bukan. Bukan itu. Film ini bagus karena banyak realita tentang hidup dan cinta yang terpapar di dalamnya.
Realita adalah sebuah hal yang memang kadang pahit meskipun tak selamanya realita itu pahit. Kebahagiaan yang disambut dengan tawa sebenarnya di satu sisi melenakan kita terhadap realita yang sesungguhnya. Kita terlalu senang menyambut bahagia dengan tangan terbuka. Tanpa tanda Tanya. Tanpa curiga. Kita menyambutnya tanpa jarak atau tanpa pemikiran bahwa kelak ada yang lain setelah tawa itu. Adalah cinta yang membuat Tom (Joseph Gordon Levitt) bahagia. Ia tumbuh dengan kepercayaan bahwa cinta sejati memang ada dan pasti suatu ketika ia menemukan cintanya itu. Tom bertemu Summer (Zooey Deschannel) gadis cantik bergaya vintage yang digandrungi banyak laki-laki dan selalu membuat keuntungan di setiap perusahaan dimana ia bekerja. Tom bertemu summer yang sebenarnya tak percaya cinta sejati. Baginya hubungan dua orang laki-laki dan perempuan bukanlah yang harsu melibatkan hati. Dalam 500 Days of Summer inilah dua sosok yang berasal dari kutub berbeda bertemu. Mereka bersama. Mereka bercinta hingga Tom benar-benar percaya bahwa Summerlah cintanya. Ia bahagia tanpa bertanya. Ia bahagia tanpa curiga. Ia bahagia tanpa menjaga jarak dengan kebahagiaan itu. Realita menjadi sesuatu yang tak penting lagi. Baginya ia bahagia. Bahkan realita bahwa Summer mungkin tak berfikir bahwa diantara mereka ada cinta pun tak terfikirkan. Tom mabuk. Segala yang ada pada diri Summer adalah sebuah keindahan: senyumnya, rambutnya, dan bahkan benjolan di lututnya. Tom mabuk dalam genangan asmara. Itulah fase pertama. Fase jatuh cinta yang digambarkan sebagaimana yang terjadi di dalam hidup sehari-hari. Semuanya indah. Pagi adalah alunan music yang menghentak penuh semangat.
Akan tetapi dalam hidup, kebahagiaan adalah satu hal saja. Masih ada hal lain yang sering dilupakan. Hal lain itu bisa saja cemburu. Hal lain itu adalah patah hati dalam setiap hubungan. Tak muungkin dalam sebuah hubungan segalanya berjalan baik-baik saja. Dunia butuh cerita yang tak hanya menghibur tapi juga cerita tragis yang menguras air mata. Inilah fase putus. Sangat menyakitkan sebenarnya di tinggalkan ketika cinta itu tengah berada di titik puncak. Tapi realita ini sering tertutup oleh kebahagiaan yang di sambut dengan kalung bunga, music dan tari-tari. Fase ini digambarkan 500 days of summer dengan real. Yang tadinya indah menjadi sampah. Yang tadinya penuh pesona  menjadi biasa saja. Tawa menjadi air mata: sebuah realita yang sulit diterima tapi itulah yang terjadi. Siapa yang menerima air mata kecuali orang-orang yang benar-benar realistis dan mampu sembuh dari mabuknya. Summer mengendalikan Tom dengan sangat baik. wanita yang mampu menaklukan pria hingga hampir menghabisinya. Mungkin ada yang berspekulasi bahwa ada yang salah dengan wanita manis bergaya vintage ini. Ia seperti wanita yang tidak punya hati. Tapi apa setiap hubungan harus melibatkan hati dengan sangat intens tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi esok? Cinta memang membutakan dalam satu sisi, tapi haruskah cinta itu membutakan mata terhada realita yang sesungguhnya. Summer wanita yang hebat. Ia mampu mengendalikan permainan dengan baik. sebaliknya, Tom adalah pria yang lemah, yang tidak bisa melihat realita dengan mata terbuka. Ia mabuk, tenggelam bersama perasaanya yang dangkal.
Lihat apa yang sebenarnya kita lakukan Tom? Summer mempertanyakan itu. Tentu saja Tom tercengang. Bukankah hari-hari yang mereka lewati adalah hari yang penuh cinta? Seketika itu juga Tom yang melayang tinggi terjatuh. Dan dengan intonasi yang begitu tenang tanpa beban Summer berkata bahwa mereka harusnta tak perlu bertemy lagi meskipun pada akhirnya Summer menemui Tom lagi. Bukan untuk kembali seperti yyang diharapkan Tom. 500 Days of Summer memang ber genre komedi romantis, ada romansa, ada kekonyolan, ada cinta, tetapi jangan mengharapkan film ini adalah film biasa karena film ini adalah film tentang realita. 

Shape of My Heart



Shape of my heart is a ballad song composed and sung by the great singer, Sting. It is a very calm and peaceful song that very good for soothing our heart. The sound of the guitar and the saxophone somehow melt the heart combined with the voice of the singer. For  the music critic, this song is a reflection of sting idealism in music.
In this song, he describes the cards games in which there are hearts, clubs, diamonds, and spades. He describes how the players play the game. He also describes the meaning of each card in shape of my heart by singing:
//I know that the spades are the swords of the soldiers/
I know that the clubs are weapons of war/
I know that diamond means money for this heart/
But, that’s not the shape of my heart//

In general I myself cannot conclude what topic he wrote for this song. It is a bit complicated. However, there is love parts in the lyrics of this song. The love itself cannot be specified as love between men and women or the love here is the universal love. Love in this song is somehow cruel when he sings // when I told you that I love you/ I know you think there is something wrong/ the mask I wear is one//. Probably, it is a one-sided love. However, it is very shallow just to describe this song as a love song. I think there something more about this precious song. In fact, the love lyrics are interesting. It is very hurtful to love somebody but we cannot have the love back from someone we love. Yet, it is very normal even though the one we love thinks that there is something wrong with our love. The lyrics “I am not a man of too many faces/ the mask I wear is one” is also interesting. The mask that just one is probably the reflection of not being able to lie, hiding , nor not being able to be someone else. Shape of my heart is a complex song; love is just a case or a topic of this song.
Listening to this song is not only letting our heart melt, but it also suggests that we have to think. This song is not only good to listen before sleeping or after getting problem. Shape of my heart is more than that as a genuine work.

Selasa, 07 Mei 2013

HERE’S TO NEVER GROWING UP: MENOLAK TUA



Hore, Avril Lavigne akhirnya merilis single. Ya, setelah lama tak terdengar suaranya dalam lagu baru, akhirnya april lalu, pop rock princess ini resmi mengeluarkan single sebagai teaser album barunya yang rumornya juga akan di release tahun ini. Yang menarik bagi saya bukan hanya musiknya yang catchy dan easy lestening tapi juga judulnya, here’s to never growing up. Bagi saya judul itu memiliki filosofi yang sangat personal. Kalau boleh menggunakan bahasa yang agak lebay, lagu ini gue banget deh.
Begitu masuk bagian awal lagu kita akan dibawa ke mood yang sangat menyenangkan. Begitu seterusnya hingga bagian chorus dimana backing vocalnya membuat lagu ini semakin kuat dan cheerful dalam kur. Sedikit banyak memang lagu ini memiliki mood yang hampir sama dengan lagu di album sebelumnya What the Hell dengan sedikit sentuhan Complicated. Lagu ini menguatkan ia sebagai sosok wanita yang cuek, meskipun cantik, tapi juga tak terlalu peduli. Ia adalah rocker yang membedakanya dengan Britney Spears, Beyonce, Christina Aguilera yang menonjolkan sisi sexy. Sebaliknya Avril Lavigne lebih menonjolkan sisi cuek, casual, bahkan dinamis. Ketika penyanyi wanita lain memakai bikini ia memakai kaos T-shirt, jelana jeans dan dasi.
Lagu ini sangat personal sekali buat saya, Here’s to Never Growing Up. Dengan ceria, tanpa beban, ia bernyanyi bahwa ia tak kan menjadi tua. Ia tetap akan menjadi muda dan bebas.
We don’t ever stop
And we never gonna change
Say, what we say forever stay
We can stay forever hey
We can stay forever young

 Menarik sekali bukan. Ini menjadi personal karena di usia saya yang menurut sebagian orang tidak lagi muda, tapi saya masih cuek saja ketika sisi kanak-kanak saya masih mendominasi. Ini menjadi personal karena saya jengah dengan pertanyaan tentang umur dan setelah itu mereka akan berkata di usiamu yang sekarang kamu harusnya bla Bla bla. Saya memang mendekati 27, ada masalah kah dengan itu. Apakah salah menikmati hidup diusia 27 dengan sisi kanak-kanak yang mudah excited dan menampakan ke-excited-an nya dengan jelas. saya menolak menjadi tua. Saya akan selalu muda. Itulah spirit dalam lagu ini yang sangat kuat. Muda yang ceria. Dan yang paling penting muda yang kaya imajinasi, muda yang kaya warna dan mimpi-mimpi tanpa terpaut usia dan keadaan yang sering kali membuat kebanyakan orang dewasa mentok. Apalagi ketika telah terpaut pernikahan dengan satu atau dua anak. Tanggung jawab sering kali membuat individu mengalami batas dalam bermimpi. Bukan berarti saya menentang pernikahan, bukan itu intinya. Baru kemarin saya bertanya pada salah seorang teman, ia seumuran tapi telah menikah dan punya satu anak yang masih lucu sekali. Ia bahagia dengan keluarganya. Dan saya salut dengan dia karena ia telah mampu bertanggung jawab dalam sebuah ikatan pernikahan dan keluarga. Saya bertanya bagaimana rasanya di usianya ia telah menikah dan punya anak. Ia mengatakan dengan jujur bahwa ada senangnya dan ada tidaknya. Sangat wajar sekali. Tapi yang paling membekas dalam benak saya adalah ia menyarankan saya untuk membujang dulu. Hore. Membujang itu bagi saya sangat berarti dan teman saya sangat mendukung here’s to never growing up. Dan secara mengejutkan ibu saya pun tidak seperti ibu-ibu yang lain yang menuntut saya harus menikah setelah lulus. Saya mengatakan masih banyak sekali yang ingin saya raih sebelum saya terikat pernikahan. saya tidak mau semua yang saya cita-citakan terpentok oleh rumah tangga.

Baru-baru ini saya dengar dari seorang teman, “usia saya meamang baru 20 tapi yang penting saya dewasa”. Begitu ia selesai bicara seperti itu, saya langsung menyanggah, usia saya boleh tua tapi jiwa saya tetap muda. Kenapa harus begitu serius teman. Apa menghadapi hidup harus serius dan serius agar dianggap dewasa. Saya ingin tetap “muda” memang tidak mungkin seperti Peterpan dalam dunia dongeng karena ini dunia nyata, minimal seperti lagunya Wiz Khalifa, Bruno Mars ft Snoop Dog, Young Wild and Free
So what we get drunk
So what we smoke
We just having fun
We don’t care who see
So what we go out
That’s how I supposed to be
We are young and wild and free

Saya menolak tua jika itu alasan untuk mengubur mimpi. saya menolak tua untuk terus bermimpi dan menjalani hidup dalam warna-warna yang indah. :) :) 



Sabtu, 04 Mei 2013

Sebuah Pertanyaan Tentang Cinta



Malam ini playlistnya adalah tentang cinta. Bukan tanpa alasan saya memutar lagu-lagu cinta. Ada yang tengah risau dan galau tentang cinta. Maka saya pun jadi penasaran. Saya pikir jawaban atas pertanyaan mengenai cintai akan bermacam-macam jawabanya. Tidak pasti. Setiap individu akan memiliki sudut pandangnya sendiri. Maka lagu pertama yang mengalun menemani saya menulis adalah lagu berjudul What is Love? yang dipopulerkan oleh Duncan Sheik dalam albumnya Cover 80’s.
I love you whether or not you love me/
I love you whether you think that I don’t/
Sometimes I find you doubt my love/
But I don’t mind/ why should I mind/
Why should I mind//”.
Pernah saya mendiskusikan lirik lagu ini pada teman saya yang juga tengah galau akan cinta. Dia tidak setuju pada lirik I love you whether or not you love me. Ya, pada saat seorang individu mencintai individu lain. Secara manusiawi ia juga ingin mendapat cinta itu. Ada hubungan timbal balik. Tidak searah. Bukankah sulit sekali mencintai dalam satu pihak saja. Sebentar, disini saya membatasi cinta dalam arti yang sempit : antara pria dan wanita, pria dan pria, maupun wanita dan wanita, bukan cinta dari orang tua ke anak atau pun sebaliknya. Cinta yang biasa di sebut-sebut.
Jika menjawab apa itu cinta dari penggalan lirik lagu tersebut cinta adalah sesuatu yang tidak memedulikan lagi apakah yang dicintai akan mencintai. Masa bodoh. Who the hell cares about it. Si penyanyi bilang I don’t mind. Tidak keberatan meskipun cinta itu hanya sepihak. Istilah klise nya cinta tak mengharapkan balasan. Berdasarkan lirik tersebut, si Aku yang mencintai orang lain tidak peduli jika si Kamu tidak mencintai si aku. Bahkan si Aku juga tidak peduli jika si Kamu meragukan cintanya. Yang penting si Aku mencintai si Kamu. Lantas, manusia macam apa yang mampu melakukan itu. Ada memang, tapi ia harus benar-benar tulus, atau jika meminjam istilah bahasa jawa, dia harus legawa. Masih merujuk pada lagu tersebut, menurutnya cinta juga tak mempermasalahkan apakah yang dicintai akan meragukan cintanya atau tidak. Benar-benar cinta yang keras kepala. Jika mencermati lirik tersebut, pada akhirnya jawaban atas cinta adalah sakit yang harus ditanggung tanpa harus mengeluh. Sebuah konsekuensi yang berat jika karena suatu keadaan cinta itu diragukan bahkan seperti lirik-lirik awal you don’t love me.
Tapi meskipun berat, ada ungkapan klasik yang mengatakan “kamu tidak akan mengerti cinta itu apa sebelum kamu merasakan sakit”. Seperti kata Incubus dalam lagunya Love Hurts:
Love hurts
But sometimes it’s a good hurt
And it feels like I am alive
Love sings
When it transcends a bad thing
Have a heart and try me
Cause without love I won’t survive
Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah: apakah manusia bisa mencintai orang lain ketika mereka telah memiliki pasangan. Teman saya itu bertanya dalam perjalanan pulang dimana kami melewati tanjakan yang ia namai bukit korea. Jawaban egois saya adalah bisa, Itu mengapa ada putus dan perceraian. Itu mengapa ada jadian dan pernikahan lagi dan lagi. Kadang saya berpendapat bahwa cinta itu sebenarnya sangat rapuh dalam beberapa sisi meskipun ia juga bisa menjadi  alasan yang sangat kuat. Rapuhnya adalah karena hati manusia itu senantiasa berubah sewaktu-waktu dan itu tak bisa dihindari atau bisa dikendalikan.
Bahkan pahitnya, sewaktu kuliah dosen saya pernah mengutip seorang filsuf yang saya lupa darimana asal filsuf tersebut, ungkapan ini juga pernah dikemukan oleh sahabatnya Soe Hok Gie. Meskipun berbeda zaman mereka berdua sepakat untuk tidak menikahi orang yang mereka cintai. Alasanya mereka tidak mau mengotori cinta mereka dengan  nafsu. Ah, itu cinta tingkat tinggi, cinta Bahkan, dosen saya juga menambahkan bahwa cinta sejati itu adalah cinta yang digambarkan melalui Romeo and Julie, Titanic, A Walk to Remember dimana kebanyakan orang mungkin tahu  bahwa kisah cinta mereka adalah kisah cinta yang tragis. Cerita mereka tidak berakhir bahagia karena pada akhirnya mereka dipisahkan oleh kematian. Tapi katanya justru itu lah real love.
Rumit, bahkan the Foreigner masih saja menyanyikan I Want to Know What Love is. Maka jawaban saya adalah tak ada jawaban yang pasti. Jawabanya ada di masing – masing hati individu. Jawabanya adalah rumit. Akan tetapi Duncan Sheik memiliki jawabanya sendiri:
Love is probably letting people just what they wannabe/
The door always must be left unlocked//
Jadi cinta menurutnya adalah sesuatu yang seharusnya membebaskan bukan mengekang.
 Sepertinya saya sudah harus mengakhiri. Untuk menyegarkan pikiran saya putar Good Charlotte: The River. Yang dilanjutkan dengan lagu barunya Avril Lavigne Here’s to Never Growing Up, karena saya ingin selalu muda dan karena saya sepertinya insomnia lagi. J J

Kamis, 02 Mei 2013

JE PARTIRAI: TAK ADA YANG BENAR-BENAR PERGI



Meskipun bahasa yang saya mengerti terbatas, akan tetapi untuk menikmati musik, saya tidak membatasi musik dari segi bahasa. Seperti lagu-lagu berbahasa Jepang, meskpun saya benar-benar tidak mengerti bahasa Jepang, saya toh menikmati musiknya Yui, Utada Hikaru dll. Bukankah musik adalah bahasa universal? Sama seperti lagu berbahasa Perancis. Sudah lama sekali setelah album ECHOS diluncurkan oleh sang diva ANGGUN C. SASMI, saya sangat suka lagu JE PARTIRAI yang jika di terjemahkan dalam bahasa inggris melalui bantuan on line translator artinya adalah I leave, atau saya pergi. Sebelum saya mencari arti judul lagu ini, mood lagu telah bisa dirasakan melalui bagaimana sang diva menyanyi juga melodi musknya. Ada kesedihan disana. Subyektif sekali memang. Secara tidak langsung, lagu ini membuat saya melamun melalu gitar yang di petik dan instrument lain yang ada di keseluruhan lagu ini. Seperti arus sungai, saya terbawa didalamnya. Disampng sebuah kesedihan, ada harapan baru, harapan ini bisa diketahu lewat lirik saya pergi untuk menemui kembali. Ya, sebuah perpisahan misalnya adalah sebuah pertemuan baru dan ini adalah ungkapan klasik. Sangat klasik hingga bosan untuk disimak. Meninggalkan sesuatu sebenarnya juga untuk menemukan sesuatu yang lain. Semuanya sangat relatif. Ketika manusia berpisah dengan teman-teman lamanya dia sebenarnya berada dalam sebuah titik dimana dia akan menemukan orang lain tanpa harus melupakan yang lama. Proses hidup datang dan pergi. Tak ada yang benar-benar pergi. Pergi adalah kedatangan untuk yang lain. Datang adalah kepergian untuk yang lainya juga. Sepertinya hidup adalah rangkaian Fisika yang telah dirumuskan oleh Albert Enstein.
Jika dilihat video klip lagu ini yang dambil di Thailand yang eksotis dan Paris. Di akhir dia meninggalkan Thailand setelah beberapa hari di Negara tropis ke Perancis yang dingin. Tapi apakah dia pergi bukan untuk sesuatu, dia pergi untuk menemui kembali apa yang ia punya di negaranya, di rumahnya, di Paris. Menemui kembali yang dicintai dan dirindukan. Pergi dalam konteks ini tidak lagi mencari sesuatu yang baru, tapi seperti dalam lagu ini, untuk pergi untuk menemui kembali. Jika dihubungkan dengan konteks yang lebih luas, dulu Nabi Muhammad melakukan hijrah, meninggalkan Mekkah ke Madinah. Meskipun berat meninggalkan sesuatu yang dicintai tapi itu harus dilakukan. Tak bisa disangkal lagi bahwa dalam titik tertentu dimana zona aman telah begitu menjerat kita harus meninggalkanya. Dan sebagai pelaku, memang konsekuensinya harus ditanggung. Sudah melenceng dari topic lagu ini. Tapi meskipun konteks lagu ini mungkin hanya terbatas dalam hal tertentu saja, tapi topik pergi dan meninggalkan itu sangat menarik. Bahkan filsuf Plato pun pernah mengatakan bahwa aka nada sebuah masa di mana seorang manusia akan mengelami sebuah masa di mana ia berada dalam sebuah kenyamanan dan kemapanan yang membuat mereka terbuai dalam kesenangan hingga mereka takut keluar dari “gua” tersebut. Tapi Plato juga menggaris bawahi bahwa senang di sini sifatnya semu, akan ada kekosongan hakiki yang dibalut kesenangan. Dan ini sangat membahayakan karena pada titik ini, kita bahkan lupa akan mimpi-mimpi. Jadi sepertinya lirik je partirai, revisited itu harus dilakukan. Untuk mimpi-mimpi agung. Untuk mencari hal-hal baru di luar sana yang bahkan belum sempat terbayangkan. Tapi ini memang butuh kekuatan untuk move on. Dalam artian, kesenangan-kesenangan yang di miliki dalam zona aman itu harus di tepis jauh-jauh karena bayang-bayangnya pasti akan selalu terlintas.
Lagu ini sebenarnya cukup membuai, meskipun ada mood gloomy, tapi enak sekali di dengar pada malam hari sebelum tidur dan ketika patah hati. Yang ini sangat personal dan subyektif memang. Bahkan saya membayangkan berada di pedang rumput hijau dimana ada gunung-gunung berkabut dan sungai yang jernih dan saya berjalan-jalan sendiri diantaranya. Lagu  ini tidak dinyanyikan bak diva dengan suara yang melengking-lengking seperti dalam Mimpi, I’ll be alright atau Saviour. Lagu ini dinyanyikan secara sederhana yang justru membuat keseluruhan feel lagu ini begitu mengena. Dan seperti lagu ini, saya pergi untuk kembali. Mencari yang pergi.

Yogyakarta, 2nd May 2013