Sabtu, 04 Mei 2013

Sebuah Pertanyaan Tentang Cinta



Malam ini playlistnya adalah tentang cinta. Bukan tanpa alasan saya memutar lagu-lagu cinta. Ada yang tengah risau dan galau tentang cinta. Maka saya pun jadi penasaran. Saya pikir jawaban atas pertanyaan mengenai cintai akan bermacam-macam jawabanya. Tidak pasti. Setiap individu akan memiliki sudut pandangnya sendiri. Maka lagu pertama yang mengalun menemani saya menulis adalah lagu berjudul What is Love? yang dipopulerkan oleh Duncan Sheik dalam albumnya Cover 80’s.
I love you whether or not you love me/
I love you whether you think that I don’t/
Sometimes I find you doubt my love/
But I don’t mind/ why should I mind/
Why should I mind//”.
Pernah saya mendiskusikan lirik lagu ini pada teman saya yang juga tengah galau akan cinta. Dia tidak setuju pada lirik I love you whether or not you love me. Ya, pada saat seorang individu mencintai individu lain. Secara manusiawi ia juga ingin mendapat cinta itu. Ada hubungan timbal balik. Tidak searah. Bukankah sulit sekali mencintai dalam satu pihak saja. Sebentar, disini saya membatasi cinta dalam arti yang sempit : antara pria dan wanita, pria dan pria, maupun wanita dan wanita, bukan cinta dari orang tua ke anak atau pun sebaliknya. Cinta yang biasa di sebut-sebut.
Jika menjawab apa itu cinta dari penggalan lirik lagu tersebut cinta adalah sesuatu yang tidak memedulikan lagi apakah yang dicintai akan mencintai. Masa bodoh. Who the hell cares about it. Si penyanyi bilang I don’t mind. Tidak keberatan meskipun cinta itu hanya sepihak. Istilah klise nya cinta tak mengharapkan balasan. Berdasarkan lirik tersebut, si Aku yang mencintai orang lain tidak peduli jika si Kamu tidak mencintai si aku. Bahkan si Aku juga tidak peduli jika si Kamu meragukan cintanya. Yang penting si Aku mencintai si Kamu. Lantas, manusia macam apa yang mampu melakukan itu. Ada memang, tapi ia harus benar-benar tulus, atau jika meminjam istilah bahasa jawa, dia harus legawa. Masih merujuk pada lagu tersebut, menurutnya cinta juga tak mempermasalahkan apakah yang dicintai akan meragukan cintanya atau tidak. Benar-benar cinta yang keras kepala. Jika mencermati lirik tersebut, pada akhirnya jawaban atas cinta adalah sakit yang harus ditanggung tanpa harus mengeluh. Sebuah konsekuensi yang berat jika karena suatu keadaan cinta itu diragukan bahkan seperti lirik-lirik awal you don’t love me.
Tapi meskipun berat, ada ungkapan klasik yang mengatakan “kamu tidak akan mengerti cinta itu apa sebelum kamu merasakan sakit”. Seperti kata Incubus dalam lagunya Love Hurts:
Love hurts
But sometimes it’s a good hurt
And it feels like I am alive
Love sings
When it transcends a bad thing
Have a heart and try me
Cause without love I won’t survive
Pertanyaan selanjutnya yang muncul adalah: apakah manusia bisa mencintai orang lain ketika mereka telah memiliki pasangan. Teman saya itu bertanya dalam perjalanan pulang dimana kami melewati tanjakan yang ia namai bukit korea. Jawaban egois saya adalah bisa, Itu mengapa ada putus dan perceraian. Itu mengapa ada jadian dan pernikahan lagi dan lagi. Kadang saya berpendapat bahwa cinta itu sebenarnya sangat rapuh dalam beberapa sisi meskipun ia juga bisa menjadi  alasan yang sangat kuat. Rapuhnya adalah karena hati manusia itu senantiasa berubah sewaktu-waktu dan itu tak bisa dihindari atau bisa dikendalikan.
Bahkan pahitnya, sewaktu kuliah dosen saya pernah mengutip seorang filsuf yang saya lupa darimana asal filsuf tersebut, ungkapan ini juga pernah dikemukan oleh sahabatnya Soe Hok Gie. Meskipun berbeda zaman mereka berdua sepakat untuk tidak menikahi orang yang mereka cintai. Alasanya mereka tidak mau mengotori cinta mereka dengan  nafsu. Ah, itu cinta tingkat tinggi, cinta Bahkan, dosen saya juga menambahkan bahwa cinta sejati itu adalah cinta yang digambarkan melalui Romeo and Julie, Titanic, A Walk to Remember dimana kebanyakan orang mungkin tahu  bahwa kisah cinta mereka adalah kisah cinta yang tragis. Cerita mereka tidak berakhir bahagia karena pada akhirnya mereka dipisahkan oleh kematian. Tapi katanya justru itu lah real love.
Rumit, bahkan the Foreigner masih saja menyanyikan I Want to Know What Love is. Maka jawaban saya adalah tak ada jawaban yang pasti. Jawabanya ada di masing – masing hati individu. Jawabanya adalah rumit. Akan tetapi Duncan Sheik memiliki jawabanya sendiri:
Love is probably letting people just what they wannabe/
The door always must be left unlocked//
Jadi cinta menurutnya adalah sesuatu yang seharusnya membebaskan bukan mengekang.
 Sepertinya saya sudah harus mengakhiri. Untuk menyegarkan pikiran saya putar Good Charlotte: The River. Yang dilanjutkan dengan lagu barunya Avril Lavigne Here’s to Never Growing Up, karena saya ingin selalu muda dan karena saya sepertinya insomnia lagi. J J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar