Kamis, 28 November 2013

DIENG: GOT LOST IN MOUNT PRAU

Banyak hal yang tak terduga bisa terjadi ketika naik gunung. Singkatnya, tidak boleh meremehkan gunung apa pun dengan jarak tempuh dan medan seperti apa pun. Bahkan yang dianggap mudah sekalipun. Persiapan mendaki gunung itu perlu , tidak pandang mau ke Mahameru atau Gunung Prau. Kadang ada ego yang pada akhirnya berimbas pada sikap yang menyepelakan. “ah Gunung Prau ini, Cuma 3 jam sampai puncak”, ungkapan seperti ini adalah awal mula kecerobohan yang akan berimbas pada sesuatu yang tak terpikirkan. Salah satunya tersesat. Sialnya, ego ini muncul menjadi sebuah kesombongan bahwa untuk mencapai ke puncak adalah hal yang mudah, terutama bagi yang pernah sampai puncak Mahameru atau Rinjani. Gunung Prau munggkin dianggap sebelah mata. Sama seperti saya dan rekan saya saat itu. kami menggampangkan dan kami cukup percaya diri untuk sampai puncak meskipun mulai pendakian jam 17.30.
Ada beberapa gunung yang mendapat peta rute pendakian, saat itu atau memang belum, pendaki tak mendapat peta pendakian. Peta pendakian didapat dari penjaga basecamp melalui penjelasan lisan yang secara singkat mengatakan bahwa setelah ada tugu beton yang tak lebih dari 1 meter kami harus belok kiri. Tugu itu adalah kuncinya. Pokoknya kalau belum melihat tugu itu jangan belok-belok. Inilah awal mula cerita, saya dan rekan saya yakin bahwa kami terlalu jauh dari yang seharusnya berdasarkan penjelasan penjaga basecamp, tapi kami belum menjumpai tugu beton tersebut. Karena kami pendaki yang baik maka kami terus saja tanpa belok-belok sebelum menemui tugu tersebut. Lama-lama keluguan kami pun teruji, terlalu banyak pertigaan-pertigaan jalan setapak disana saat itu berhubung yang kami lewati adalah perkebunan. Mula-mula kami lurus, habis itu mulai ada diskusi kecil untuk lurus atau belok kiri. Lurus masih menjadi pilihan. Habis diskusi kecil itu, kami mulai serius menimbang-nimbang jalur ketika ada pertigaan lagi. Sepakatlah kami belok kiri lagipula kalau jalan yang ditempuh adalah jalan buntu, kami bisa kembali lagi. Dari belokan tadi, ternyata ada jalan yang bercabang lagi dan lagi dan lagi. Kami bingung, tapi masih santai. Saat itu baru jam 20.00 ketika saya melirik jam. Padahal seharusnya hamper sampai puncak dan kami masih saja berkutat dengan cabang-cabang jalan setapak yang tidak ada habisnya. Kadang-kadang jalan yang dilewati jalan buntu dan kami  harus kembali lagi ke jalur sebelumnya. Yang paling berkesan adalah ketika kami memaksa untuk menerobos semak-semak yang begitu lebat yang secara logika tak dilewati orang. Saat itulah saya menyimpulkan bahwa kami sudah mulai putus asa. Hujan juga menambah drama dengan beban yang ada di punggung. Di bawah pohon cemara kami berteduh seklaigus makan roti dan mengumpulkan akal sehat dan logika yang mulai gelap. Akhirnya, kami memutuskan untuk turun lagi dan mencoba jalur lain. Entah kami lupa atau bagaimana, tapi ketika kami turun jalur yang kami lewati berbeda. Alhasil semak-semak dan perdu kami terobos saja yang sialnya kadang-kadang semak-semak itu menyamarkan tebing yang curam. Ya, semakin gelap, jadi ketika kami tak lagi di  jalan setapak perkebunan, jalur yang kami lewati semakin samar-samar. Kami pun memutuskan untuk tak memedulikan jalur yang penting pada akhirnya kembali ke perkebunan. Bagi saya saat itu perkebunan adalah titik terang dimana kami masih bisa melihat kehidupan. Hari juga semakin gelap yang pada akhirnya memaksa saya untuk mengatakan bahwa kami tak perlu terobsesi sampai puncak. Bahkan untuk kembali ke perkebunan kentang pun saya merasa kesulitan. Head lamp saya setengah sekarat karena dingin. Saya juga telah mengabaikan gerimis saat itu demi sampai dijalur perkebunan yang tadi kami lewati. Cara pertama adalah mengikuti selang-selang pengairan yang membawa kami beerapa kali ke jalan buntu tapi tak masalah kami sampai di kebun kentang. Itulah titik terangnya, meskipun kami tak melewati jalan setapak, kami melanjutkan perjalanan melalui teras-teras perkebunan.
Saya kembali melawan ego saya dan mengatakan pada rekan saya untuk bermalam di keun kentang saja lalu paginya melanjutkan perjalanan. Lantas kami menemukan sebuah gubuk. Diskusi sebentar dan kami memutuskan untuk bermalam disitu. Lumayan, ada tempat berteduh. Percayalah suhu benar-benar dingin apalagi baju kami telah basah. Angin membawa kabut dan menjadikan suhu lebih dingin lagi. Well, mungkin kami memang harus belajar bertahan hidup, gubuk yang ada di kebun kentang itu terkunci, maka tak ada pilihan lain selain berada diluar gubuk tersebut. Setelah menghangatkan badan dengan merebus mie saya mencoba tidur dengan balutan mantel. Brrrrrrr… mantelnya tak cukup menghangatkan badan. Lantas saya mencoba membungkus kaki dan tangan saya dengan plastik. Lumayan. Kesalahan saya adalah saya tidak membawa sleeping bag. Jadi tak bisa seperti teman saya yang terbungkus diam di sleeping bag meskipun tampaknya masih kedinginan juga. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi saya bukan?
Saya tak bisa berharap apa pun kecuali melihat pagi dengan matahari yang hangat.  Jam 03.00 saya terbangun. Dinginya sudah tidak bisa tahan lagi. Sialnya, spritus untuk menyalakan api tak bisa diandalkan. Api hanya bertahan sebentar dan kemudian hilang. Parahnya lagi, tangan saya mati rasa untuk menyalakan korek api.
Sehabis itu saya tak tidur lagi dan tersadar bahwa sudah jam 05.00, rasanya lama sekali menunggu pagi. Itu seperti pagi terbaik saya karena saya benar-benar bahagia masih bisa melihat pagi setelah semalam yang begitu menakjubkan. Kami merebus air untuk menyeduh kopi dan merebus mie. Yang dibutuhkan adalah menghangatkan badan dan menghangatkan bdan, dan menghangatkan badan.
Jam 06.00 kehidupan telah berjalan. Petani-petani mulai berangkat kerja. Dari seorang bapak petani yang saya tidak tahu namanya itulah kami tahu kami tersesat terlalu jauh. Pagi itu sebelum melanjutkan pendakian kami mengira-ira jalur yang kemarin dilalui. Melalui bapak petani itulah kami akhirnya menemukan POST 2 jalur pendakian gunung Prau. Kemudian dengan senang dan haru kami melanjutkan pendakian. Diam-diam saya berujar syukur. J

NB: sebaiknya persiapan gear, logistik harus telah diperhitungkan sebelum mendaki. jam keberangkatan mendaki pun sebaiknya tak terlalu malam terutama jika pendaki belum familiar dengan jalur pendakian, atau pertama kali mendaki gunung tersebut. 










Tidak ada komentar:

Posting Komentar