Ada dua hal setidaknya kenapa pada akhirnya
saya naik gunung. Pertama adalah karena
sebuah kerinduan. Entahlah, kerinduan ini sulit saya terjemahkan dalam
kata-kata tapi ini bukan candu. Jika saya perlu menganalogikan kerinduan saya
ini, mungkin seperti rindu saya pada rumah, pada ayah dan ibu saya, kekasih
saya, dan orang-orang yang mencintai saya siapa pun mereka. Sejauh dan selama
apa pun kita pergi dari mereka pada akhirnya kita ingin menjumpai mereka. Yang kedua
adalah keinginan untuk dekat dengan sesuatu yang selama ini hanya bisa terlihat
dari jauh. Mendaki seperti memahami dan mengenal lebih dekat karakter dan lekuk
yang selama ini masih asing dan menyisakan tanya dan penasaran. Saya tidak
menganggap pendakian adalah penaklukan sebuah gunung. Saya menganggap pendakian
adalah penaklukan terhadap diri saya sendiri. Gunung bukan sesuatu yang perlu
ditaklukan tapi dinikmati setiap jengkalnya. Bukankah terdengar intim dan
sensual?
Karena kerinduan dan ingin mengenal yang
selama ini kemegahanya hanya bisa saya intip dari balik jendela bus, saya
memutuskan untuk mendaki Gunung Lawu setelah kurang lebih tiga bulan saya tidak
mendaki gunung. Selama itu, saya hanya melihat gunung-gunung dari jauh.Mengagumi
mereka dengan sebunyi-sembunyi. Seperti cinta platonic saja. Makin lama, godaan
itu semakin besar. Saya harus mengumpulkan alasan bahwa saya ke gunung lawu
untuk rehat dari kewajiban-kewajiban yang harus saya tunaikan. Saya butuh
refreshing meskipun sebenarnya pernah saya berkomitmen sebelum saya lulus saya
tidak akan naik gunung.
Berangkat dari jogja dengan menggunakan
pramex ke solo saya ditemani satu kawan saya yang langsung mengiyakan ketika
saya ajak mendaki Gunung Lawu. Masing-masing dari kami belum pernah ke Gunung
Lawu. Tapi saya meyakinkan diri dan meyakinkan kawan saya tersebut untuk tidak
takut sendiri, akan ada banyak kawan pendaki kelak setelah kita sampai di
basecamp. Ini akan menjadi petualangan yang mendebarkan. Dengan membawa tas
carrier yang selalu membuat saya merasa bebas dan keren, perjalanan dilanjutkan
dengan menggunakan bus jurusan Tawangmangu dari Solo untuk kemudian dilanjutkan
ke Cemoro Sewu. Ya, kami memutuskan pendakian lewat Cemoro Sewu karena
pendakian lebih dekat meskipun dari beberapa milis pendakian, jalur yang akan
dilalui akan lebih menanjak dibandingkan dengan basecamp Cemoro Kandang yang
lebih landai.
Seperti halnya Dieng, perjalanan menuju
Cemoro Kandang melewati jalur yang berliku-liku dan menanjak dengan pemandangan
lahan pertanian yang sulit saya lewatkan. Yang paling saya suka adalah
pemandangan pematang sawang yang hijau dengan teras siring yang curam. Sangat memikat
mata saya. Pemandangan ini tak kalah dengan yang pernah saya jumpai di Ubud,
Bali. Tak heran banyak sekali home stay yang tersedia di daerah Tawangmangu.
Menghabiskan kurang lebih 2 jam, angkot
berhenti di Cemoro Sewu. “Sudah sampai mas” kata pak sopir. Cemoro Sewu terletak
tidak lebih dari 1 km dari Cemoro Kandang. Jika perjalanan dimulai dari Solo, kita
akan melewati basecamp Cemoro Kandang sebelum sampai di Basecamp Cemoro Sewu. Selain
medannya yang berbeda, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu berbeda secara geografis,
Cemoro Kandang terletak di Provinsi Jawa Tengah sedangkan Cemoro Sewu terletak
di Provinsi Jawa Timur. Maka disinilah kami, dua anak manusia yang akan
menjelajah belantara asing. Di tempat ini pula pendakian dan petualangan akan
dimulai. Sebagaimana sebuah adegan film, jantung saya gemuruh seperti dentuman musik
yang mengiringi adegan paling dramatis dan menegangkan. Tapi saya merasa
bahagia, saya merasa menemukan orang-orang dengan passion yang sama. Saya tidak
bisa menyembunyikan senyum saya sembari menghirup udara kebebasan. Benar saja,
kami tidak sendiri. di Basecamp ini, para pendaki berkumpul. Sebagian ada yang
mau memulai pendakian, sebagian lainnya baru saja turun gunung. Saya merasa
hidup.
Mungkin sebuah kebetulan atau takdir, kawan
pendaki saya bertemu dengan kawannya yang juga mau mendaki. Mereka menjadi
teman karena sama-sama mengidolakan salah satu team sepak bola di Indonesia. temannya
itu satu team dengan Mapala salah satu perguruan tinggi di Solo, jumlahnya 9
orang. Tidak butuh waktu lama untuk akrab dengan mereka. Tidak butuh waktu lama
untuk menjadi team yang seru. Sudah saya bilang, tak perlu takut sendiri karena
kita tak sendiri ketika mendaki. Dari yang
cuma berdua, kini menjadi bersebelas. Tak perlu hal yang besar untuk menyatukan
kami. Hanya butuh hal-hal sederhana seperti air minum dan gorengan untuk kami
menjadi rekat. Bisa dibayangkan jika ini tak hanya terjadi ribuan meter di atas
permukaan laut. Indonesia tak perlu mengalami seteru hanya karena berbeda. Indah
bukan?
Untuk mencapai puncak setinggi 3265 mdpl,
kira-kira dibutuhkan waktu 8 jam pendakian. Ada 5 pos sebelum sampai dipuncak
dengan medan terjal yang tersusun dari batu-batu. Kenapa saya bilang tersusun,
karena, jalan setapak dari pos satu ke pos lain seperti telah ditata oleh
manusia dengan batu-batu yang membentuk jalan setapak. Rapi. Ini memudahkan
pendakian meskipun medannya memang terbilang terjal. apalagi dari pos 2 menuju
pos 3 dan 4, medannya berbatu dan berundak-undak seperti tangga. Ini sungguh
menguji kesabaran saya karena sebentar sebentar kaki saya terutama bagian lutut
terasa pegal. Dalam perjalanan ke pos 4 langkah saya makin payah. Saat itu
mungkin jam7. Di medan inilah istirahat paling sering terjadi. Mungkin tak
sampai 15 undakan, saya memutuskan untuk istirahat. Itu terjadi lagi dan lagi.
Tempat camping apalagi puncak masih terasa jauh sekali. Di atas bebatuan yang
basah dengan sisa –sisa air hujan yang menitik dari dedaunan keyakinan untuk
sampai di puncak tetap ada tapi saya tak memaksa. Ia tetap akan disana,
diketinggian 3265 mdpl. Ia tidak akan kemana-mana. Meskipun masih lama, puncak
tak akan meninggalkan saya. “mari nikmati perjalanan ini saja. tak perlu
berfikir tentang puncak” ucapku pada kawan saya sambil menikmati biscuit dan
meneguk air mineral. Kadang kami menyulut rokok sebagai dopping. Proses adalah
hal yang paling harus dinikmati.
Sebelum sampai di pos 4, kami memutuskan
untuk istirahat cukup lama, sekadar merebus air untuk menyeduh kopi dan memasak
mie instan. Suhu makin dingin. Angin makin kencang. Tapi tak sampai memasak mie
instan, perjalanan harus dilanjutkan karena angin semakin kencang dan tempat
istirahat kami berada di jalur angin. Ya sudahlah, yang penting kami berhasil
menyeduh kopi untuk menghangatkan badan.
Meskipun Lawu bukanlah termasuk list dari
gunung-gunung yang ekstrim. Tapi, jujur saja, saya perlu susah payah untuk
menapaki medan dengan langkah yang makin lama makin berat. Mungkin perlu
dimaklumi, saya termasuk pendaki amatir yang baru satu setengah tahun ini
menemukan asyiknya mendaki. Karena itulah, kaki saya begitu bahagia ketika
mendapati medan yang landai. Dan puncaknya adalah ketika pada akhirnya kami sampai
di basecamp Sendang Drajat untuk mendirikan tenda. Ini akhir yang bahagia sebelum
awal yang baru esok hari mengejar matahari terbit. “kita bisa kawan” ungkapku. Kami
bersalaman dengan haru. Kami menjadi dua pria yang mendadak begitu sentimentil
dalam luapan bahagia dan tak tahu harus bagaimana meluapkanya.
Tempat dimana kami berkemah terdapat sebuah
sendang yang disebut Sendang Drajat makanya disebut Basecamp Sendang Drajat. Ini
adalah sumber air yang biasanya digunakan oleh para pendaki untuk minum maupun
memasak. Disebelahnya sendang derajat terdapat sebuah pendopo kecil mirip
dengan tempat persembahan orang Hindu. Hampir selalu ada dupa disini. Selain Sendang
Drajat, ada juga tempat yang diyakini mistis yaitu Sumur Jalatunda. Lokasinya terletak
sebelum basecamp Hargo Dalem. Konon tempat ini juga tempat pemujaan.
Selain tempat pemujaan dan nuansa mistis, Di Gunung
Lawu juga terdapat warung makan. Ya warung makan. Ada satu di dekat Sendang
Drajat dan satunya di Hargo Dalem. Warung makan ini menawarkan Nasi Pecel,
Soto, Mie Instan, dan beberapa snack. Jadi, kl mau ke Gunung tanpa susah-susah
bawa logistic, maka Gunung Lawu adalah pilihan yang paling baik.
Pendakian dimulai lagi, jam04.30 kami
memutuskan keluar dari tenda setelah minum kopi dan makan mie. Untuk mencapai
puncak kata beberapa pendaki tak memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Semangat
kami berganda, samar-samar di perjalanan menuju puncak yang disebut Puncak
Hargo Dumilah, langit telah mengguratkan cahaya orange. Tandanya sebentar lagi
matahari benar-benar akan terbit.
Dan decak kagum pun mengalir begitu saja.
Disinilah pada akhirnya. Lawu mengijinkan kami untuk sampai di puncaknya. Kembali
lagi, saya terpaku dalam haru akan keindahan Sang Pencipta. Saya layangkan
pandang ke seluruh penjuru yang cerah. Ada pemandangan hijau hutan pinus serupa
hutan paku Amerika Utara yang begitu Luas dari arah Utara. Sebagian lembahnya
tertutupi lautan awan. Tampak begitu empuk. Begitu putih. Disebelah timur,
matahari perlahan-lahan menampakan wujudnya dan menjadikan gradasi warna
langit, orange, jingga, biru muda, dan biru tua dibagian yang paling jauh
dengan matahari. Gunung-gunung dan perbukitan disebelah timur menjadi sekumpulan
siluet. Dari puncak ini juga, kita bisa melihat Waduk Gajah Mungkur yang
terletak di Kabupaten Wonogiri. Di sebelah barat, kita bisa melihat Gunung
Merapi dan Merbabu.
Setelah itu, saya diam terpaku menunggu
saat-saat matahari benar-benar muncul.
| Puncak Lawu: Kawan Pendakian |
| Puncak Lawu: Saya dan Indonesia |
| Salah Satu Flora Lawu |
| Salah Satu Flora Lawu |
| Team 11-1 |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar