Sabtu, 26 April 2014

Every Trail Stars Here: Pendakian Gunung Lawu

Ada dua hal setidaknya kenapa pada akhirnya saya  naik gunung. Pertama adalah karena sebuah kerinduan. Entahlah, kerinduan ini sulit saya terjemahkan dalam kata-kata tapi ini bukan candu. Jika saya perlu menganalogikan kerinduan saya ini, mungkin seperti rindu saya pada rumah, pada ayah dan ibu saya, kekasih saya, dan orang-orang yang mencintai saya siapa pun mereka. Sejauh dan selama apa pun kita pergi dari mereka pada akhirnya kita ingin menjumpai mereka. Yang kedua adalah keinginan untuk dekat dengan sesuatu yang selama ini hanya bisa terlihat dari jauh. Mendaki seperti memahami dan mengenal lebih dekat karakter dan lekuk yang selama ini masih asing dan menyisakan tanya dan penasaran. Saya tidak menganggap pendakian adalah penaklukan sebuah gunung. Saya menganggap pendakian adalah penaklukan terhadap diri saya sendiri. Gunung bukan sesuatu yang perlu ditaklukan tapi dinikmati setiap jengkalnya. Bukankah terdengar intim dan sensual?
Karena kerinduan dan ingin mengenal yang selama ini kemegahanya hanya bisa saya intip dari balik jendela bus, saya memutuskan untuk mendaki Gunung Lawu setelah kurang lebih tiga bulan saya tidak mendaki gunung. Selama itu, saya hanya melihat gunung-gunung dari jauh.Mengagumi mereka dengan sebunyi-sembunyi. Seperti cinta platonic saja. Makin lama, godaan itu semakin besar. Saya harus mengumpulkan alasan bahwa saya ke gunung lawu untuk rehat dari kewajiban-kewajiban yang harus saya tunaikan. Saya butuh refreshing meskipun sebenarnya pernah saya berkomitmen sebelum saya lulus saya tidak akan naik gunung.
Berangkat dari jogja dengan menggunakan pramex ke solo saya ditemani satu kawan saya yang langsung mengiyakan ketika saya ajak mendaki Gunung Lawu. Masing-masing dari kami belum pernah ke Gunung Lawu. Tapi saya meyakinkan diri dan meyakinkan kawan saya tersebut untuk tidak takut sendiri, akan ada banyak kawan pendaki kelak setelah kita sampai di basecamp. Ini akan menjadi petualangan yang mendebarkan. Dengan membawa tas carrier yang selalu membuat saya merasa bebas dan keren, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus jurusan Tawangmangu dari Solo untuk kemudian dilanjutkan ke Cemoro Sewu. Ya, kami memutuskan pendakian lewat Cemoro Sewu karena pendakian lebih dekat meskipun dari beberapa milis pendakian, jalur yang akan dilalui akan lebih menanjak dibandingkan dengan basecamp Cemoro Kandang yang lebih landai.
Seperti halnya Dieng, perjalanan menuju Cemoro Kandang melewati jalur yang berliku-liku dan menanjak dengan pemandangan lahan pertanian yang sulit saya lewatkan. Yang paling saya suka adalah pemandangan pematang sawang yang hijau dengan teras siring yang curam. Sangat memikat mata saya. Pemandangan ini tak kalah dengan yang pernah saya jumpai di Ubud, Bali. Tak heran banyak sekali home stay yang tersedia di daerah Tawangmangu.
Menghabiskan kurang lebih 2 jam, angkot berhenti di Cemoro Sewu. “Sudah sampai mas” kata pak sopir. Cemoro Sewu terletak tidak lebih dari 1 km dari Cemoro Kandang. Jika perjalanan dimulai dari Solo, kita akan melewati basecamp Cemoro Kandang sebelum sampai di Basecamp Cemoro Sewu. Selain medannya yang berbeda, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu berbeda secara geografis, Cemoro Kandang terletak di Provinsi Jawa Tengah sedangkan Cemoro Sewu terletak di Provinsi Jawa Timur. Maka disinilah kami, dua anak manusia yang akan menjelajah belantara asing. Di tempat ini pula pendakian dan petualangan akan dimulai. Sebagaimana sebuah adegan film, jantung saya gemuruh seperti dentuman musik yang mengiringi adegan paling dramatis dan menegangkan. Tapi saya merasa bahagia, saya merasa menemukan orang-orang dengan passion yang sama. Saya tidak bisa menyembunyikan senyum saya sembari menghirup udara kebebasan. Benar saja, kami tidak sendiri. di Basecamp ini, para pendaki berkumpul. Sebagian ada yang mau memulai pendakian, sebagian lainnya baru saja turun gunung. Saya merasa hidup.
Mungkin sebuah kebetulan atau takdir, kawan pendaki saya bertemu dengan kawannya yang juga mau mendaki. Mereka menjadi teman karena sama-sama mengidolakan salah satu team sepak bola di Indonesia. temannya itu satu team dengan Mapala salah satu perguruan tinggi di Solo, jumlahnya 9 orang. Tidak butuh waktu lama untuk akrab dengan mereka. Tidak butuh waktu lama untuk menjadi team yang seru. Sudah saya bilang, tak perlu takut sendiri karena kita tak sendiri ketika mendaki.  Dari yang cuma berdua, kini menjadi bersebelas. Tak perlu hal yang besar untuk menyatukan kami. Hanya butuh hal-hal sederhana seperti air minum dan gorengan untuk kami menjadi rekat. Bisa dibayangkan jika ini tak hanya terjadi ribuan meter di atas permukaan laut. Indonesia tak perlu mengalami seteru hanya karena berbeda. Indah bukan?
Untuk mencapai puncak setinggi 3265 mdpl, kira-kira dibutuhkan waktu 8 jam pendakian. Ada 5 pos sebelum sampai dipuncak dengan medan terjal yang tersusun dari batu-batu. Kenapa saya bilang tersusun, karena, jalan setapak dari pos satu ke pos lain seperti telah ditata oleh manusia dengan batu-batu yang membentuk jalan setapak. Rapi. Ini memudahkan pendakian meskipun medannya memang terbilang terjal. apalagi dari pos 2 menuju pos 3 dan 4, medannya berbatu dan berundak-undak seperti tangga. Ini sungguh menguji kesabaran saya karena sebentar sebentar kaki saya terutama bagian lutut terasa pegal. Dalam perjalanan ke pos 4 langkah saya makin payah. Saat itu mungkin jam7. Di medan inilah istirahat paling sering terjadi. Mungkin tak sampai 15 undakan, saya memutuskan untuk istirahat. Itu terjadi lagi dan lagi. Tempat camping apalagi puncak masih terasa jauh sekali. Di atas bebatuan yang basah dengan sisa –sisa air hujan yang menitik dari dedaunan keyakinan untuk sampai di puncak tetap ada tapi saya tak memaksa. Ia tetap akan disana, diketinggian 3265 mdpl. Ia tidak akan kemana-mana. Meskipun masih lama, puncak tak akan meninggalkan saya. “mari nikmati perjalanan ini saja. tak perlu berfikir tentang puncak” ucapku pada kawan saya sambil menikmati biscuit dan meneguk air mineral. Kadang kami menyulut rokok sebagai dopping. Proses adalah hal yang paling harus dinikmati.
Sebelum sampai di pos 4, kami memutuskan untuk istirahat cukup lama, sekadar merebus air untuk menyeduh kopi dan memasak mie instan. Suhu makin dingin. Angin makin kencang. Tapi tak sampai memasak mie instan, perjalanan harus dilanjutkan karena angin semakin kencang dan tempat istirahat kami berada di jalur angin. Ya sudahlah, yang penting kami berhasil menyeduh kopi untuk menghangatkan badan.
Meskipun Lawu bukanlah termasuk list dari gunung-gunung yang ekstrim. Tapi, jujur saja, saya perlu susah payah untuk menapaki medan dengan langkah yang makin lama makin berat. Mungkin perlu dimaklumi, saya termasuk pendaki amatir yang baru satu setengah tahun ini menemukan asyiknya mendaki. Karena itulah, kaki saya begitu bahagia ketika mendapati medan yang landai. Dan puncaknya adalah ketika pada akhirnya kami sampai di basecamp Sendang Drajat untuk mendirikan tenda. Ini akhir yang bahagia sebelum awal yang baru esok hari mengejar matahari terbit. “kita bisa kawan” ungkapku. Kami bersalaman dengan haru. Kami menjadi dua pria yang mendadak begitu sentimentil dalam luapan bahagia dan tak tahu harus bagaimana meluapkanya.
Tempat dimana kami berkemah terdapat sebuah sendang yang disebut Sendang Drajat makanya disebut Basecamp Sendang Drajat. Ini adalah sumber air yang biasanya digunakan oleh para pendaki untuk minum maupun memasak. Disebelahnya sendang derajat terdapat sebuah pendopo kecil mirip dengan tempat persembahan orang Hindu. Hampir selalu ada dupa disini. Selain Sendang Drajat, ada juga tempat yang diyakini mistis yaitu Sumur Jalatunda. Lokasinya terletak sebelum basecamp Hargo Dalem. Konon tempat ini juga tempat pemujaan.
Selain tempat pemujaan dan nuansa mistis, Di Gunung Lawu juga terdapat warung makan. Ya warung makan. Ada satu di dekat Sendang Drajat dan satunya di Hargo Dalem. Warung makan ini menawarkan Nasi Pecel, Soto, Mie Instan, dan beberapa snack. Jadi, kl mau ke Gunung tanpa susah-susah bawa logistic, maka Gunung Lawu adalah pilihan yang paling baik.
Pendakian dimulai lagi, jam04.30 kami memutuskan keluar dari tenda setelah minum kopi dan makan mie. Untuk mencapai puncak kata beberapa pendaki tak memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Semangat kami berganda, samar-samar di perjalanan menuju puncak yang disebut Puncak Hargo Dumilah, langit telah mengguratkan cahaya orange. Tandanya sebentar lagi matahari benar-benar akan terbit.
Dan decak kagum pun mengalir begitu saja. Disinilah pada akhirnya. Lawu mengijinkan kami untuk sampai di puncaknya. Kembali lagi, saya terpaku dalam haru akan keindahan Sang Pencipta. Saya layangkan pandang ke seluruh penjuru yang cerah. Ada pemandangan hijau hutan pinus serupa hutan paku Amerika Utara yang begitu Luas dari arah Utara. Sebagian lembahnya tertutupi lautan awan. Tampak begitu empuk. Begitu putih. Disebelah timur, matahari perlahan-lahan menampakan wujudnya dan menjadikan gradasi warna langit, orange, jingga, biru muda, dan biru tua dibagian yang paling jauh dengan matahari. Gunung-gunung dan perbukitan disebelah timur menjadi sekumpulan siluet. Dari puncak ini juga, kita bisa melihat Waduk Gajah Mungkur yang terletak di Kabupaten Wonogiri. Di sebelah barat, kita bisa melihat Gunung Merapi dan Merbabu.
Setelah itu, saya diam terpaku menunggu saat-saat matahari benar-benar muncul.


 
Puncak Lawu

Puncak Lawu: Kawan Pendakian

Puncak Lawu: Saya dan Indonesia

Salah Satu Flora Lawu

Salah Satu Flora Lawu

Team 11-1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar