Kamis, 02 Mei 2013

JE PARTIRAI: TAK ADA YANG BENAR-BENAR PERGI



Meskipun bahasa yang saya mengerti terbatas, akan tetapi untuk menikmati musik, saya tidak membatasi musik dari segi bahasa. Seperti lagu-lagu berbahasa Jepang, meskpun saya benar-benar tidak mengerti bahasa Jepang, saya toh menikmati musiknya Yui, Utada Hikaru dll. Bukankah musik adalah bahasa universal? Sama seperti lagu berbahasa Perancis. Sudah lama sekali setelah album ECHOS diluncurkan oleh sang diva ANGGUN C. SASMI, saya sangat suka lagu JE PARTIRAI yang jika di terjemahkan dalam bahasa inggris melalui bantuan on line translator artinya adalah I leave, atau saya pergi. Sebelum saya mencari arti judul lagu ini, mood lagu telah bisa dirasakan melalui bagaimana sang diva menyanyi juga melodi musknya. Ada kesedihan disana. Subyektif sekali memang. Secara tidak langsung, lagu ini membuat saya melamun melalu gitar yang di petik dan instrument lain yang ada di keseluruhan lagu ini. Seperti arus sungai, saya terbawa didalamnya. Disampng sebuah kesedihan, ada harapan baru, harapan ini bisa diketahu lewat lirik saya pergi untuk menemui kembali. Ya, sebuah perpisahan misalnya adalah sebuah pertemuan baru dan ini adalah ungkapan klasik. Sangat klasik hingga bosan untuk disimak. Meninggalkan sesuatu sebenarnya juga untuk menemukan sesuatu yang lain. Semuanya sangat relatif. Ketika manusia berpisah dengan teman-teman lamanya dia sebenarnya berada dalam sebuah titik dimana dia akan menemukan orang lain tanpa harus melupakan yang lama. Proses hidup datang dan pergi. Tak ada yang benar-benar pergi. Pergi adalah kedatangan untuk yang lain. Datang adalah kepergian untuk yang lainya juga. Sepertinya hidup adalah rangkaian Fisika yang telah dirumuskan oleh Albert Enstein.
Jika dilihat video klip lagu ini yang dambil di Thailand yang eksotis dan Paris. Di akhir dia meninggalkan Thailand setelah beberapa hari di Negara tropis ke Perancis yang dingin. Tapi apakah dia pergi bukan untuk sesuatu, dia pergi untuk menemui kembali apa yang ia punya di negaranya, di rumahnya, di Paris. Menemui kembali yang dicintai dan dirindukan. Pergi dalam konteks ini tidak lagi mencari sesuatu yang baru, tapi seperti dalam lagu ini, untuk pergi untuk menemui kembali. Jika dihubungkan dengan konteks yang lebih luas, dulu Nabi Muhammad melakukan hijrah, meninggalkan Mekkah ke Madinah. Meskipun berat meninggalkan sesuatu yang dicintai tapi itu harus dilakukan. Tak bisa disangkal lagi bahwa dalam titik tertentu dimana zona aman telah begitu menjerat kita harus meninggalkanya. Dan sebagai pelaku, memang konsekuensinya harus ditanggung. Sudah melenceng dari topic lagu ini. Tapi meskipun konteks lagu ini mungkin hanya terbatas dalam hal tertentu saja, tapi topik pergi dan meninggalkan itu sangat menarik. Bahkan filsuf Plato pun pernah mengatakan bahwa aka nada sebuah masa di mana seorang manusia akan mengelami sebuah masa di mana ia berada dalam sebuah kenyamanan dan kemapanan yang membuat mereka terbuai dalam kesenangan hingga mereka takut keluar dari “gua” tersebut. Tapi Plato juga menggaris bawahi bahwa senang di sini sifatnya semu, akan ada kekosongan hakiki yang dibalut kesenangan. Dan ini sangat membahayakan karena pada titik ini, kita bahkan lupa akan mimpi-mimpi. Jadi sepertinya lirik je partirai, revisited itu harus dilakukan. Untuk mimpi-mimpi agung. Untuk mencari hal-hal baru di luar sana yang bahkan belum sempat terbayangkan. Tapi ini memang butuh kekuatan untuk move on. Dalam artian, kesenangan-kesenangan yang di miliki dalam zona aman itu harus di tepis jauh-jauh karena bayang-bayangnya pasti akan selalu terlintas.
Lagu ini sebenarnya cukup membuai, meskipun ada mood gloomy, tapi enak sekali di dengar pada malam hari sebelum tidur dan ketika patah hati. Yang ini sangat personal dan subyektif memang. Bahkan saya membayangkan berada di pedang rumput hijau dimana ada gunung-gunung berkabut dan sungai yang jernih dan saya berjalan-jalan sendiri diantaranya. Lagu  ini tidak dinyanyikan bak diva dengan suara yang melengking-lengking seperti dalam Mimpi, I’ll be alright atau Saviour. Lagu ini dinyanyikan secara sederhana yang justru membuat keseluruhan feel lagu ini begitu mengena. Dan seperti lagu ini, saya pergi untuk kembali. Mencari yang pergi.

Yogyakarta, 2nd May 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar