Meskipun
bahasa yang saya mengerti terbatas, akan tetapi untuk menikmati musik, saya
tidak membatasi musik dari segi bahasa. Seperti lagu-lagu berbahasa Jepang,
meskpun saya benar-benar tidak mengerti bahasa Jepang, saya toh menikmati
musiknya Yui, Utada Hikaru dll. Bukankah musik adalah bahasa universal? Sama
seperti lagu berbahasa Perancis. Sudah lama sekali setelah album ECHOS diluncurkan oleh sang diva ANGGUN
C. SASMI, saya sangat suka lagu JE
PARTIRAI yang jika di terjemahkan dalam bahasa inggris melalui bantuan on line translator artinya adalah I leave, atau saya pergi. Sebelum saya
mencari arti judul lagu ini, mood lagu telah bisa dirasakan melalui bagaimana
sang diva menyanyi juga melodi musknya. Ada kesedihan disana. Subyektif sekali
memang. Secara tidak langsung, lagu ini membuat saya melamun melalu gitar yang
di petik dan instrument lain yang ada di keseluruhan lagu ini. Seperti arus
sungai, saya terbawa didalamnya. Disampng sebuah kesedihan, ada harapan baru,
harapan ini bisa diketahu lewat lirik saya pergi untuk menemui kembali. Ya,
sebuah perpisahan misalnya adalah sebuah pertemuan baru dan ini adalah ungkapan
klasik. Sangat klasik hingga bosan untuk disimak. Meninggalkan sesuatu
sebenarnya juga untuk menemukan sesuatu yang lain. Semuanya sangat relatif. Ketika
manusia berpisah dengan teman-teman lamanya dia sebenarnya berada dalam sebuah
titik dimana dia akan menemukan orang lain tanpa harus melupakan yang lama.
Proses hidup datang dan pergi. Tak ada yang benar-benar pergi. Pergi adalah
kedatangan untuk yang lain. Datang adalah kepergian untuk yang lainya juga.
Sepertinya hidup adalah rangkaian Fisika yang telah dirumuskan oleh Albert
Enstein.
Jika
dilihat video klip lagu ini yang dambil di Thailand yang eksotis dan Paris. Di
akhir dia meninggalkan Thailand setelah beberapa hari di Negara tropis ke
Perancis yang dingin. Tapi apakah dia pergi bukan untuk sesuatu, dia pergi
untuk menemui kembali apa yang ia punya di negaranya, di rumahnya, di Paris.
Menemui kembali yang dicintai dan dirindukan. Pergi dalam konteks ini tidak lagi
mencari sesuatu yang baru, tapi seperti dalam lagu ini, untuk pergi untuk menemui
kembali. Jika dihubungkan dengan konteks yang lebih luas, dulu Nabi Muhammad
melakukan hijrah, meninggalkan Mekkah ke Madinah. Meskipun berat meninggalkan
sesuatu yang dicintai tapi itu harus dilakukan. Tak bisa disangkal lagi bahwa
dalam titik tertentu dimana zona aman telah begitu menjerat kita harus
meninggalkanya. Dan sebagai pelaku, memang konsekuensinya harus ditanggung. Sudah melenceng dari topic lagu ini.
Tapi meskipun konteks lagu ini mungkin hanya terbatas dalam hal tertentu saja,
tapi topik pergi dan meninggalkan itu sangat menarik. Bahkan filsuf Plato pun
pernah mengatakan bahwa aka nada sebuah masa di mana seorang manusia akan
mengelami sebuah masa di mana ia berada dalam sebuah kenyamanan dan kemapanan
yang membuat mereka terbuai dalam kesenangan hingga mereka takut keluar dari
“gua” tersebut. Tapi Plato juga menggaris bawahi bahwa senang di sini sifatnya
semu, akan ada kekosongan hakiki yang dibalut kesenangan. Dan ini sangat
membahayakan karena pada titik ini, kita bahkan lupa akan mimpi-mimpi. Jadi
sepertinya lirik je partirai, revisited itu
harus dilakukan. Untuk mimpi-mimpi agung. Untuk mencari hal-hal baru di luar
sana yang bahkan belum sempat terbayangkan. Tapi ini memang butuh kekuatan
untuk move on. Dalam artian,
kesenangan-kesenangan yang di miliki dalam zona aman itu harus di tepis
jauh-jauh karena bayang-bayangnya pasti akan selalu terlintas.
Lagu
ini sebenarnya cukup membuai, meskipun ada mood gloomy, tapi enak sekali di dengar pada malam hari sebelum tidur
dan ketika patah hati. Yang ini sangat personal dan subyektif memang. Bahkan
saya membayangkan berada di pedang rumput hijau dimana ada gunung-gunung
berkabut dan sungai yang jernih dan saya berjalan-jalan sendiri diantaranya.
Lagu ini tidak dinyanyikan bak diva
dengan suara yang melengking-lengking seperti dalam Mimpi, I’ll be alright atau Saviour.
Lagu ini dinyanyikan secara sederhana yang justru membuat keseluruhan feel lagu ini begitu mengena. Dan
seperti lagu ini, saya pergi untuk kembali. Mencari yang pergi.
Yogyakarta, 2nd
May 2013

Tidak ada komentar:
Posting Komentar