| Puncak Semeru |
Ada kegamangan
untuk percaya bahwa setelah jerih payah yang tak terhitung lagi letihnya, saya
bisa menggapai puncak yang menjulang di timur pulau jawa: Gunung Semeru. Kau
tahu, seperti tentara yang tak percaya bahwa perang telah usai dan mereka
tiba-tiba hanyut dalam peluk dan haru. Sebuah kemenangan yang membikin hati
berucap “masa iya?” atau “benarkah?” tapi kau tahu itu nyata meski sulit
dipercaya. Dan pada akhirnya, cerita yang terangkum bukan melulu puncak yang
ditaklukan untuk diri merasa gagah. Kadang, terbelesit juga dalam hati setelah
kemenangan itu sebuah ungkapan seperti “owh begini rasanya?!” ungkapan yang
mewakili bahwa sesungguhnya apa yang dialami dalam sebuah perjalanan itu lebih
terkenang sebagaimana peluh yang menjadi jejak. Seperti cerita seorang
mahasiswa yang diwisuda, kau tahu betapa kata itu sebenarnya bagai hantu yang
merayap dan membuat bulu roma meremang. Terutama bagi mahasiswa seperti saya. Siapa
yang tak ingin lulus? Lebih-lebih membayangkan sekaligus melakukan jerih
payahnya mengerjakan tugas akhir yang penuh liku. Maka wisuda adalah akhir yang
begitu didamba sambil tertatih dengan optimism; akhir yang bahagia seperti
Cinderella maupun Putri Tidur. Tapi, beberapa fakta yang saya temukan, ketika
diwisuda mahasiswa-mahasiswa yang aku kenal itu berujar “Cuma begini”. Lantas
ia berujar bahwa cerita menarik yang tak akan pernah dilupakan adalah upaya
ketika bergumul dengan tugas akhir itu. Bagaimana mungkin bisa dilupakan ketika
kau menunggu dari pagi, siangnya ketika jam makan siang dosen itu tak bisa
disela, dan beberapa jam kemudian ketika telah jam 4 sore dosen itu berkata,
“maaf mbak saya punya rumah. Saya mau pulang.” Dan kemudian kamu pulang
bersungut-sungut sambil bertanya kenapa dan kenapa. Atau dikesempatan lain, apa
yang kamu lakukan dibenarkan tapi di lain kesempatan lagi apa yang telah
dibenarkan itu dicerca. Dan bagaimana ketika paginya kamu telah membikin janji
kemudian kamu pergi dengan begitu berseri setelah berdandan seperti mau menemui
pacar, kamu menunggu sampai tak hanya bokongmu yang pegal oleh kursi yang keras
tapi hati kamu juga, yang kamu tunggu tak datang. Ah, masih banyak lagi cerita
tentang tugas akhir yang sungguh berkesan. Sungguh menarik. Sungguh membikn
hati kaku sekaligus kelu. Tapi, bukankah wisuda yang menjadi puncak itu tetap
harus digapai meskipun tak begitu berkesan. Maka, berbahagialah yang wisuda.
Berbahagialah kalian yang tak lagi bersungut-sungut menghitung detik demi detik
seperti tahanan menunggu hukum gantung. Juga, berbahagialah yang menggapai
puncak. Seperti apa pun puncak itu. Banyak yang tak sampai puncak dan mendamba
dalam ilusi bagaimana rasanya dipuncak. Dan kau tahu, apa yang ada dalam ilusi
kadang memabukan. Bukankah lebih baik sampai tujuan bagaimana pun keadaanya
daripada terperangkap dalam angan-angan karena kau tak sanggup menggapainya.
Setidaknya kau telah penuh. Kau boleh bergembira karena kau telah menang.
Bagaimana pun puncak tetap saja menyenangkan. Dan di puncak ini saya memang
tidak berujar “owh begini saja”. Segala pengorbanan yang lalu memang untuk ini.
Sama
seperti menggapai Semeru atau gunung-gunung lain. Kau tahu, perjalanan untuk
sampai kepuncak mungkin membutuhkan waktu paling sedikit 3 jam. 3 jam ini
notabene adalah gunung yang tak terlalu tinggi. Dan kau tahu berapa lama para
pendaki itu dipuncak; tak sampai satu jam kadang-kadang. Habis itu turun lagi.
Puncak adalah satu bab singkat dari bab-bab lain. Ini harus diterima. Mau bagaimana
lagi.
D
an disinilah saya pada akhirnya, disebuah puncak tertinggi di pulau jawa. Betapa gagahnya. Betapa tingginya. Ada sebuah kesan yang begitu sentimentil bagi saya ketika berada dipuncak: keinginan untuk memeluk gunung itu. keinginan untuk mendekapnya. Ah, betapa naïf. Bukankah itu mustahil. Lagipula perasaan saya telah memeluknya bukan hanya kabut puncak saja yang memiliki hak memeluk. Oh iya, saya belum bercerita mengenai kabut, angin dan puncak secara detail. Jadi begini:
an disinilah saya pada akhirnya, disebuah puncak tertinggi di pulau jawa. Betapa gagahnya. Betapa tingginya. Ada sebuah kesan yang begitu sentimentil bagi saya ketika berada dipuncak: keinginan untuk memeluk gunung itu. keinginan untuk mendekapnya. Ah, betapa naïf. Bukankah itu mustahil. Lagipula perasaan saya telah memeluknya bukan hanya kabut puncak saja yang memiliki hak memeluk. Oh iya, saya belum bercerita mengenai kabut, angin dan puncak secara detail. Jadi begini:
Kurang
lebih jam 5 pagi saya dan beberapa rekan saya, kala itu berjumlah 8 orang,
berhasil sampai puncak Semeru. Di puncak, banyak pendaki telah sampai lebih
awal. Ada yang sampai jam 4 bahkan, untuk apalagi kalau bukan demi matahari
terbit yang hingga jam 5 ini tak muncul juga. Kabut menjadikanya seperti
panggung pertunjukan yang tertutup tirai. Sebagai penonton, saya tak tahu pasti
kapan tirai kelabu itu akan tersibak dan menampilkan pertunjukan utama: sebuah
pemandangan matahari terbit diatas lautan awan yang seperti kapas itu.
Entahlah, angin berkabut ini terjadi sejak pagi tadi sehingga sempat terjadi
penumpukan di jalur pendakian. Tidak menumpuk dalam arti harfiah. Maksudnya
para pendaki harus bersabar sejenak dan menunggu untuk bisa benar-benar menghirup
udara di puncak. Lagipula kami menunggu dengan duduk, ada yang berdiri, ada
yang jongkok, ada juga yang telentang. Tak ada yang tumpang tindih. Ah, itu
jadi ambigu. Jadi kenapa para pendaki harus menunggu? Cuaca dipuncak agak
ekstrim. Angin kencang dan membawa kabut. Beberapa porter makanya menghimbau agar para
pendaki tak masuk ke puncak terlebih dahulu. Suhu begitu dingin. Begitu
katanya. Bahkan porter sendiri tak berani. Bahkan porter-porter itu mengatakan
dingin. Ini tentu tak biasa. Dingin yang saya maksud dan dingin para porter
tentu saja berbeda. Bisa dibayangkan bahwa porter saja bilang begitu. Kau
mungkin perlu tahu bahwa porter itu menurut saya adalah orang sakti, ia memikul
beban para pendaki yang menyewanya. Beban itu tidak ringan tentu. Ia mendaki
kadang tanpa alas kaki, tanpa jaket. Ia lebih sering bermodal sarung sebagai
penghangat dengan memakai pakaian ala kadarnya. Maksud saya, porter-porter itu
bisa saja hanya memakai kaos dan celana pendek. Lihat, saktikan dia. Bandingkan
dengan saya: baju lapis tiga dengan rompi plastic di lapisan paling dalam,
celana panjang, kaos kaki yang saya dobeli dengan pelastik juga, pun masih
kedinginan. Ya, saya memakai rompi
plastic yang saya bikin dari tas plastic besar juga kaos kaki yang saya lapisi
plastic. Gunanya adalah untuk menahan panas dari tubuh saya agar suhu badan
saya tetap terjaga. Saya cukup hangat meskipun masih menggigil juga. Ah, porter
itu memang sakti. Selain tahan dingin, ia juga memikul beban yang tak sedikit
menyusuri tanjakan dan turunan yang berliku-liku.
Porter
yang saya anggap sakti itu menghimbau para pendaki untuk menunggu sejenak, baru
setelah jam 5 porter itu menyilakan para pendaki untuk masuk di area puncak.
Beberapa rekan saya langsung menggelepar begitu saja, melentangkan tubuhnya
menghadap langit yang kelabu sambil meluapkan emosinya. Saya termasuk yang
seperti itu. tak perlu lama-lama. Dingin bisa membuatmu lupa dan kehilangan
kehangatan. Dingin dipuncak Semeru sepertinya sanggup membikin hipotermia. Saya
masih ingat embun-embun yang membeku di rumput liar kecil ketika di Ranu
Kumbolo. Tiba-tiba saya berdoa agar kabut itu terbuka dan menunjukan keajaiban.
Benar saja, sebuah keindahan tersibak. Sekilas saja. sekilas yang membuat mulut
saya menganga. Dan saya dapati, banyak pendaki menggumam dalam takjub serupa
kor. Apa itu: lautan awan yang begitu putih dengan bias biru langit yang begitu
bersih. Awan itu tampak solid. Seperti bisa menopang tubuh untuk merebahkan
diri, begitu empuk, begitu lezat seperti buih cappuccino. Atau seperti harum
manis yang bisa disobek dan dilumerkan dimulut. Momen yang sekilas itu membuat
beberapa orang kalap untuk mengabadikan diri dengan narsis, tentu saja saya
satu dari mereka. Belum genap gumaman itu berakhir, kabut mengunci pertunjukan
itu lagi. Berulang-ulang. Lagi dan lagi. Sepertinya, puncak semeru tak
menginginkan dinikmati dengan rakus. Ia juga tak ingin membuat kecewa. Ia hanya
ingin dinikmati dengan bersahaja. itu saja.
Dalam
momen sakral itu, salah satu rekan pendaki saya, sebut saja Ambon berujar pada
saya, “sekarang kamu telah teruji sebagai pendaki pemula. Hebat, kamu mampu
sampai puncak.” Ya, dia yang menantang saya kala pendakian dimulai. Ketika itu
kami baru saja mau beranjak dari Ranu Pane. Ranu berarti danau. Jadi jangan
heran banyak sekali istilah ranu disini. Seperti Gili untuk pulau di Nusa
Tenggara Timur. Jadi banyak sekali gili. Saya pendaki pemula. Saya bergidik
kala ia memberi tantangan itu. apakah ini akan begitu sulit? Saya tak pernah
meremahkan. Bahkan saya selalu demam panggung ketika mau naik gunung hingga
akhirnya saya selalu berusaha menikmati apa yang tersaji dalam perjalanan agar
saya bisa melupakan takut saya. Saya pasrah. Saya tak obsesif. Jujur, tantangan
itu malah membuat saya tambah takut. Tapi aku terima saja tantangan itu tanpa
mengiyakan. Biar saja. saya kesini bukan untuk sebuah taruhan. Saya kesini buat
liburan. Alasan yang lebih keren sebenarnya mengikuti Jejak (alm) Soe Hok Gie.
Beliau adalah pendiri Mapala UI. Beliau pernah ke gunung ini. tapi siapa yang
mengira, ditempat tertinggi inilah beliau wafat. Katanya, ia wafat di pangkuan
Herman Lantang yang hingga kini masih aktif menyusuri rimba. Menurut saya
beliau luar biasa. Berani menantang dan memberontak. Saya masih ingat salah
satu adegan dalam film itu yang kurang lebih begini: Bung Karno, Bung Hatta,
mereka berani memberontak. Kalau tidak begitu kita tidak akan merdeka.
Ia
mengatakan demikian karena ia sehabis dapat hukuman dari sekolah gara-gara
berdebat dengan guru sekolahnya. Seoarang teman menyuruhnya untuk nurut saja.
Tapi ia punya pendirian sendiri. Bukankah itu menakjubkan untuk anak seusianya.
Kembali
lagi ke Ambon. ia mungkin tak tahu masa kecil saya yang dipenuhi
petualangan-petualangan kecil menyusuri sungai-sungai berbatu, bukit-bukit
perdu sampai pernah hampir tersesat di hutan bambu yang saya pikir didiami oleh
Dewi Kwan Im seperti dalam serial TV Kera Sakti, tapi kata penduduk desa hutan
bambu itu didiami ular raksasa yang mendesis-desis lapar. Kadang saya dan
beberapa teman hanya iseng saja berjalan menelusuri alam dekat desa saya tanpa
menentukan mau kemana, kadang juga untuk main ketapel, pernah juga sebuah
petualangan dimulai karena saya harus membikin sapu lidi: sebuah tugas dari
sekolah pada saat ujian semester, saat itu masih catur wulan. Kala itu seingat
saya, saya belum genap 10 tahun. Saya paling kecil, paling kurus seperti anak
cacingan, tapi saya sekaligus yang paling naïf. Mungkin efek ibu saya yang
ketika mengandung saya maunya makan singkong mentah yang diparut. Ya, singkong
mentah. Ini bisa dipercaya bisa juga tidak. Saya enggan percaya karena saya mau
menampik kenyataan bahwa ketika dirahim saya dijejali singkong mentah. Kau tahu
rasanya seperti apa? Ia akan membuat perutmu bega dan selalu ingin kentut. Lagi,
kentut itu akan bau. Tapi begitulah, orang hamil punya kuasa yang disebut
ngidam dan harus dipenuhi. Katanya begitu. Mungkin karena singkong itu saya
tumbuh dengan sangat lambat. Tubuh saya kurus. Tapi seperti singkong, saya
tahan banting karena singkong tanpa dipupuk pun akan tumbuh dan umbi maupun
daunya bisa dinikmati. Rekan saya juga lupa saya adalah anak gunung yang setiap
harinya sebelum merantau ke jogja kerjaanya adalah naik turun bukit mencari
rumput pakan kambing.
Ia
memuji saya. Ada sebersit bahagia memang. Tapi sekali lagi, ini bukan hanya
puncak. Karena dipuncak tak lebih dari 1 jam dan kamu harus menyusuri medan
berpasir yang curam selama kurang lebih 4-5 jam. Kau tempuh dari jam 1 malam
jika kau kemah di Archopodo. Sedangkan jika kau kemah di Kalimati, kau harus
berangkat lebih awal, jam 11 paling tidak untuk menikmati matahari pagi yang
lahir. Dan pendakian dijalur berpasir itu, kawan, begitu mengharu biru. Kadang,
Kau juga perlu merayap untuk melewatinya. Mungkin kau pernah nonton film 5cm
itu? film yang membuat gunung ini berubah dan lebih komersil: dulu, kata rekan
pendaki saya yang tahun lalu ke gunung ini, para pendaki tidak perlu menghitung
bawa kamera berapa, tenda berapa, berapa potong baju, dan para pendaki juga tak
perlu membayar beberapa item itu. tapi, jika dana yang terkumpul untuk
menghijaukan Gunung Semeru, kenapa tidak. Ya kan?
Ya,
memang jalur pendakian berpasir seperti itu, bahkan lebih. Hanya saja, di film
itu settinganya terang dan seolah-olah yang mendaki Cuma 5 orang. Kau akan
takjub akan banyaknya pendaki yang merayap rayap seperti tahanan dalam hukuman
ketika malam begitu pekat dan lampu senter menjadi satu-satunya cahaya yang
menerangi jalan. Belum lagi teriakan “batu… batu… batu…” dalam pekat yang
menuntut kita waspada. Ingat, dalam pekat ini apa pun bisa terjadi karena
disamping medan berpasir ada jurang yang curam dan batu yang menggelinding yang
bisa saja menimpamu. Kalau kamu lengah kamu akan seperti batu itu,
menggelinding. Karena memang, ada dua
pendaki wanita yang cedera dalam perjalanan turun dari puncak. Kala itu saya
kurang tahu persis kapan mereka cedera; pas mendaki kah atau pas turun. Tapi
dua perempuan itu memang cedera. Mereka
harus digendong. Ya digendong. Bahkan sebenarnya membawa beban sendiri pun
telah susah. Satunya hanya terkilir biasa jadi kadang hanya dipapah, satunya
lagi agak parah karena saya mendengar rintihanya. Disinilah saya merasakan
solidaritas yang tak dapat terkatakan. Buanglah siapa kamu, darimana asalamu,
apa agamu, dan apa status sosialmu. Disini semua sama. Maka ada pendaki yang
menjulurkan tali untuk kita berpegangan ketika medan berpasir itu kian menanjak.
Saya berpegangan pada tali itu ketika jalur begitu menanjak. Siapakah gerangan
si pembawa tali itu? tapi begitulah. Itu membuat saya terharu. Ada baik yang
memang baik, tidak tersamar. Maka, ada juga yang menggendong rekannya, meskipun
membawa diri sendiri juga telah penat. Ah, itu sungguh manis. Kebaikan yang
manis. Dan saya perlu mendaki gunung untuk melihat kebaikan-kebaikan semacam
itu.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar