
Setelah turun dari Gunung Prau, saya dan rekan saya
memutuskan untuk keliling Dieng seharian sebelum kembali ke Jogja. Malam
sebelumnya kami menginap di rumah salah satu pengurus Basecamp Gunung Prau. Ini
seperti cerita Cinderella yang berakhir bahagia dimana kami tak lagi menginap
di kebun kentang. Kami tidur dikasur yang empuk dan selimut yang hangat. Hmmmmm……
it’s a happy ending and I love it. Dari situ kami mengetahui beberapa fakta
tentang Dieng yang salah satunya adalah fenomena rambut Gimbal, fakta tentang
kawah Timbang yang beberapa waktu yang lalu sempat membuat geger media
elektronik dan media cetak. Ia bercerita seperti pengantar tidur bahwa apa yang
diberitakan media tak seperti apa yang sesungguhnya terjadi, media
kadang-kadang terlalu melebih-lebihkan dan itulah yang terjadi ketika kejadian
Kawah Timbang hingga ada kejadian salah satu warga dikeroyok masa atas berita
yang telah tersebar. Dieng saat itu katanya baik-baik saja. lokasi kawah
Timbang terpaut jauh dengan Dieng. Tapi, pemberitaan demi pemberitaan membuat
pariwisata dieng mati sejenak. Siapa yang tidak kesal dengan hal demikian
padahal selain sector pertanian, wisata juga merupakan salah satu sector utama
disana.
Ia juga seorang petualang, katanya ia akan menikah setelah
berhasil menaklukan Puncak Rinjani. Saya mengamini nya. Saya suka sudut
pandangnya yang tidak mengutamakan menikah tapi tidak menentang pernikahan. Hanya
menundanya saja.
Paginya, meskipun mendung, one day trip nya tetap menjadi
misi utama. Siapa tahu matahari muncul setelah jam 09.00. siapa tahu ketemu
jodoh di kompleks candi arjuna, siapa tahu nemu harta karun di kawah Sikidang. And
then here we are… beberapa lokasi yang akan dikunjungi. Memang termasuk tujuan
mainstream turis-turis yang berkunjung ke dieng. Selain kawah Sikidang dan
kompleks Candi Arjuna, kami mengunjungi telaga warna tentu saja, telaga cebong
di lembah bukit sikunir, gardu pandang dan kawasan Agrowisata kebun the Tambi. Sayangnya
kami tak ke kawah Candradimuka dimana Sang Gatotkaca mencelupkan diri menjadi
sakti mandraguna. Siapa tahu ketika saya kesana dan mencemplungkan diri ke
kawahnya saya juga bisa berotot kawat balung besi dan berparas arjuna. Well,
that’s just a silly imagination. Karena, ketika ke kawah sikidang pun bau
belerang membuat pusing apalagi mencelupkan diri. Bisa-bisa jadi opor manusia. Memakai
masker sangat disarankan disana agar bisa menikmati pemdandangan kawah Sikidang
dan sekitarnya lebih lama. Really, it’s worthed. Karena tak memakai masker dan
tak bisa berlama-lama di Kawah Sikidang, takut ada dorongan niat untuk melompat
ke pusat kepulan asap itu, saya dan rekan saya menghabiskan waktu di kompleks
candi Arjuna. Sebenarnya nama kompleks candinya harusnya kompleks candi
pandawa, masalahnya candi-candi disana bernama ksatria-ksatria pandawa dan
Semar. Atau mungkin nama diambil karena Arjuna konon katanya adalah ksatria
yang paling tampan.
Sekedar informasi saja, kompleks candi tersebut masih
dignakan untuk sembahyang jadi kurangi perilaku-perilaku yang kurang baik. Candi
adalah tempat ibadah yang tak beda seperti Masjid bagi orang muslim atau Gereja
bagi orang Kristen/Katolik. Fungsinya Tak berbeda dengan candi-candi lain
sebenarnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan meskipun kompleks candi
ini jah lebih kecil. Akan tetapi aura magis di kompleks candi ini tak sepekat
seperti di kawasan Telaga Warna. Di telaga warna ada beberapa Guan yang masih
dijaga oleh juru kunci. Apalagi saat itu mendung dan kabut menyelimuti permukaan
telaga. Hmmmm… tapi jangan khawatir,
kawasan telaga warna tidak menjual aura magis tapi menjual keindahan. Tentu saja
karena ini kawasan wisata, gua-gua yang ada di sekitar telaga bisa dimasuki
tetapi dengan ijin sang Juru Kunci dan dengan guidance dari Juru Kunci. Jadi kalau
masuk ke Gua-gua tertentu tidak ngeloyor sendirian. Bisa-bisa nyasar nggak
balik. Tapi alasan lain mungkin untuk menjaga kesakralan beberapa gua tersebut.
Dan sebagai turis yang baik hendaknya tak perlu berfikir yang aneh-aneh. Cukup menikmati
alam, jeprat jepret narsis, jangan buang sampah sembarangan, dan tak perlu
menceburkan diri ke telaga. Bukan apa-apa. Udaranya saja sudah dingin bagaimana
airnya.
Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke gardu pandang. Well,
ternyata kabutnya belum hilang juga ditambah angin. Wew! Enaknya meneruput kopi
panas atau teh panas dan makan gorengan yang banyak tersaji di dekat gardu
pandang. Ada menu lain selain gorengan, kopi, dan, teh yaitu tak lain dan tak
bukan adalah kentang goreng. Harganya juga murah mulai dari 2000. Dingin diluar
tapi hangat di dalam. Sekedar info, meskipun ada gorengan, kopi, dan teh tetap disarankan untuk memakai pakaian yang
bisa menghangatkan badan. Ketika itu saya terpaksa memakai celana pendek dan
kaos oblong pendek dengan dilapisi rompi karena hanya itu yang tersisa. Bagaimana
rasanya? Luar biasa. Luar biasa beku.
Perjalanan sayang sekali harus disudahi setelah agrowisata
Tambi. Sebuah pemandangan hijau daun teh di lereng gunung.
Arca di kawasan Telaga Warna Dieng
Telaga Warna, Dieng
Si Kurir
Kawasan Argowisata Tambi
Kompleks Candi Arjuna, Dieng
Pemandangan sekitar kompleks Candi Arjuna, Dieng
Pemandangan sekitar kompleks Candi Arjuna, Dieng
Desa Sambungan, desa tertinggi di Pulau Jawa, Dieng
Desa Sambungan, desa tertinggi di Pulau Jawa, Dieng
Telaga Cebong, Dieng
Sikunir, Dieng
Kawah Sikidang, Dieng
Kompleks Candi Arjuna, Dieng
Kawah Sikidang, Dieng