Banyak hal
yang tak terduga bisa terjadi ketika naik gunung. Singkatnya, tidak boleh
meremehkan gunung apa pun dengan jarak tempuh dan medan seperti apa pun. Bahkan
yang dianggap mudah sekalipun. Persiapan mendaki gunung itu perlu , tidak
pandang mau ke Mahameru atau Gunung Prau. Kadang ada ego yang pada akhirnya
berimbas pada sikap yang menyepelakan. “ah Gunung Prau ini, Cuma 3 jam sampai
puncak”, ungkapan seperti ini adalah awal mula kecerobohan yang akan berimbas
pada sesuatu yang tak terpikirkan. Salah satunya tersesat. Sialnya, ego ini
muncul menjadi sebuah kesombongan bahwa untuk mencapai ke puncak adalah hal
yang mudah, terutama bagi yang pernah sampai puncak Mahameru atau Rinjani.
Gunung Prau munggkin dianggap sebelah mata. Sama seperti saya dan rekan saya
saat itu. kami menggampangkan dan kami cukup percaya diri untuk sampai puncak
meskipun mulai pendakian jam 17.30.
Ada beberapa
gunung yang mendapat peta rute pendakian, saat itu atau memang belum, pendaki
tak mendapat peta pendakian. Peta pendakian didapat dari penjaga basecamp
melalui penjelasan lisan yang secara singkat mengatakan bahwa setelah ada tugu
beton yang tak lebih dari 1 meter kami harus belok kiri. Tugu itu adalah
kuncinya. Pokoknya kalau belum melihat tugu itu jangan belok-belok. Inilah awal
mula cerita, saya dan rekan saya yakin bahwa kami terlalu jauh dari yang
seharusnya berdasarkan penjelasan penjaga basecamp, tapi kami belum menjumpai
tugu beton tersebut. Karena kami pendaki yang baik maka kami terus saja tanpa
belok-belok sebelum menemui tugu tersebut. Lama-lama keluguan kami pun teruji,
terlalu banyak pertigaan-pertigaan jalan setapak disana saat itu berhubung yang
kami lewati adalah perkebunan. Mula-mula kami lurus, habis itu mulai ada
diskusi kecil untuk lurus atau belok kiri. Lurus masih menjadi pilihan. Habis
diskusi kecil itu, kami mulai serius menimbang-nimbang jalur ketika ada
pertigaan lagi. Sepakatlah kami belok kiri lagipula kalau jalan yang ditempuh
adalah jalan buntu, kami bisa kembali lagi. Dari belokan tadi, ternyata ada
jalan yang bercabang lagi dan lagi dan lagi. Kami bingung, tapi masih santai.
Saat itu baru jam 20.00 ketika saya melirik jam. Padahal seharusnya hamper
sampai puncak dan kami masih saja berkutat dengan cabang-cabang jalan setapak
yang tidak ada habisnya. Kadang-kadang jalan yang dilewati jalan buntu dan
kami harus kembali lagi ke jalur
sebelumnya. Yang paling berkesan adalah ketika kami memaksa untuk menerobos
semak-semak yang begitu lebat yang secara logika tak dilewati orang. Saat
itulah saya menyimpulkan bahwa kami sudah mulai putus asa. Hujan juga menambah
drama dengan beban yang ada di punggung. Di bawah pohon cemara kami berteduh
seklaigus makan roti dan mengumpulkan akal sehat dan logika yang mulai gelap.
Akhirnya, kami memutuskan untuk turun lagi dan mencoba jalur lain. Entah kami
lupa atau bagaimana, tapi ketika kami turun jalur yang kami lewati berbeda.
Alhasil semak-semak dan perdu kami terobos saja yang sialnya kadang-kadang
semak-semak itu menyamarkan tebing yang curam. Ya, semakin gelap, jadi ketika
kami tak lagi di jalan setapak
perkebunan, jalur yang kami lewati semakin samar-samar. Kami pun memutuskan
untuk tak memedulikan jalur yang penting pada akhirnya kembali ke perkebunan.
Bagi saya saat itu perkebunan adalah titik terang dimana kami masih bisa
melihat kehidupan. Hari juga semakin gelap yang pada akhirnya memaksa saya
untuk mengatakan bahwa kami tak perlu terobsesi sampai puncak. Bahkan untuk
kembali ke perkebunan kentang pun saya merasa kesulitan. Head lamp saya
setengah sekarat karena dingin. Saya juga telah mengabaikan gerimis saat itu
demi sampai dijalur perkebunan yang tadi kami lewati. Cara pertama adalah
mengikuti selang-selang pengairan yang membawa kami beerapa kali ke jalan buntu
tapi tak masalah kami sampai di kebun kentang. Itulah titik terangnya, meskipun
kami tak melewati jalan setapak, kami melanjutkan perjalanan melalui teras-teras
perkebunan.
Saya kembali
melawan ego saya dan mengatakan pada rekan saya untuk bermalam di keun kentang
saja lalu paginya melanjutkan perjalanan. Lantas kami menemukan sebuah gubuk.
Diskusi sebentar dan kami memutuskan untuk bermalam disitu. Lumayan, ada tempat
berteduh. Percayalah suhu benar-benar dingin apalagi baju kami telah basah.
Angin membawa kabut dan menjadikan suhu lebih dingin lagi. Well, mungkin kami
memang harus belajar bertahan hidup, gubuk yang ada di kebun kentang itu
terkunci, maka tak ada pilihan lain selain berada diluar gubuk tersebut.
Setelah menghangatkan badan dengan merebus mie saya mencoba tidur dengan
balutan mantel. Brrrrrrr… mantelnya tak cukup menghangatkan badan. Lantas saya
mencoba membungkus kaki dan tangan saya dengan plastik. Lumayan. Kesalahan saya
adalah saya tidak membawa sleeping bag. Jadi tak bisa seperti teman saya yang
terbungkus diam di sleeping bag meskipun tampaknya masih kedinginan juga. Jadi
bisa dibayangkan bagaimana kondisi saya bukan?
Saya tak
bisa berharap apa pun kecuali melihat pagi dengan matahari yang hangat. Jam 03.00 saya terbangun. Dinginya sudah
tidak bisa tahan lagi. Sialnya, spritus untuk menyalakan api tak bisa
diandalkan. Api hanya bertahan sebentar dan kemudian hilang. Parahnya lagi,
tangan saya mati rasa untuk menyalakan korek api.
Sehabis itu
saya tak tidur lagi dan tersadar bahwa sudah jam 05.00, rasanya lama sekali
menunggu pagi. Itu seperti pagi terbaik saya karena saya benar-benar bahagia
masih bisa melihat pagi setelah semalam yang begitu menakjubkan. Kami merebus
air untuk menyeduh kopi dan merebus mie. Yang dibutuhkan adalah menghangatkan
badan dan menghangatkan bdan, dan menghangatkan badan.
Jam 06.00
kehidupan telah berjalan. Petani-petani mulai berangkat kerja. Dari seorang
bapak petani yang saya tidak tahu namanya itulah kami tahu kami tersesat
terlalu jauh. Pagi itu sebelum melanjutkan pendakian kami mengira-ira jalur yang
kemarin dilalui. Melalui bapak petani itulah kami akhirnya menemukan POST 2
jalur pendakian gunung Prau. Kemudian dengan senang dan haru kami melanjutkan
pendakian. Diam-diam saya berujar syukur. J
NB: sebaiknya persiapan gear, logistik harus telah diperhitungkan sebelum mendaki. jam keberangkatan mendaki pun sebaiknya tak terlalu malam terutama jika pendaki belum familiar dengan jalur pendakian, atau pertama kali mendaki gunung tersebut.




