Kamis, 28 November 2013

DIENG: GOT LOST IN MOUNT PRAU

Banyak hal yang tak terduga bisa terjadi ketika naik gunung. Singkatnya, tidak boleh meremehkan gunung apa pun dengan jarak tempuh dan medan seperti apa pun. Bahkan yang dianggap mudah sekalipun. Persiapan mendaki gunung itu perlu , tidak pandang mau ke Mahameru atau Gunung Prau. Kadang ada ego yang pada akhirnya berimbas pada sikap yang menyepelakan. “ah Gunung Prau ini, Cuma 3 jam sampai puncak”, ungkapan seperti ini adalah awal mula kecerobohan yang akan berimbas pada sesuatu yang tak terpikirkan. Salah satunya tersesat. Sialnya, ego ini muncul menjadi sebuah kesombongan bahwa untuk mencapai ke puncak adalah hal yang mudah, terutama bagi yang pernah sampai puncak Mahameru atau Rinjani. Gunung Prau munggkin dianggap sebelah mata. Sama seperti saya dan rekan saya saat itu. kami menggampangkan dan kami cukup percaya diri untuk sampai puncak meskipun mulai pendakian jam 17.30.
Ada beberapa gunung yang mendapat peta rute pendakian, saat itu atau memang belum, pendaki tak mendapat peta pendakian. Peta pendakian didapat dari penjaga basecamp melalui penjelasan lisan yang secara singkat mengatakan bahwa setelah ada tugu beton yang tak lebih dari 1 meter kami harus belok kiri. Tugu itu adalah kuncinya. Pokoknya kalau belum melihat tugu itu jangan belok-belok. Inilah awal mula cerita, saya dan rekan saya yakin bahwa kami terlalu jauh dari yang seharusnya berdasarkan penjelasan penjaga basecamp, tapi kami belum menjumpai tugu beton tersebut. Karena kami pendaki yang baik maka kami terus saja tanpa belok-belok sebelum menemui tugu tersebut. Lama-lama keluguan kami pun teruji, terlalu banyak pertigaan-pertigaan jalan setapak disana saat itu berhubung yang kami lewati adalah perkebunan. Mula-mula kami lurus, habis itu mulai ada diskusi kecil untuk lurus atau belok kiri. Lurus masih menjadi pilihan. Habis diskusi kecil itu, kami mulai serius menimbang-nimbang jalur ketika ada pertigaan lagi. Sepakatlah kami belok kiri lagipula kalau jalan yang ditempuh adalah jalan buntu, kami bisa kembali lagi. Dari belokan tadi, ternyata ada jalan yang bercabang lagi dan lagi dan lagi. Kami bingung, tapi masih santai. Saat itu baru jam 20.00 ketika saya melirik jam. Padahal seharusnya hamper sampai puncak dan kami masih saja berkutat dengan cabang-cabang jalan setapak yang tidak ada habisnya. Kadang-kadang jalan yang dilewati jalan buntu dan kami  harus kembali lagi ke jalur sebelumnya. Yang paling berkesan adalah ketika kami memaksa untuk menerobos semak-semak yang begitu lebat yang secara logika tak dilewati orang. Saat itulah saya menyimpulkan bahwa kami sudah mulai putus asa. Hujan juga menambah drama dengan beban yang ada di punggung. Di bawah pohon cemara kami berteduh seklaigus makan roti dan mengumpulkan akal sehat dan logika yang mulai gelap. Akhirnya, kami memutuskan untuk turun lagi dan mencoba jalur lain. Entah kami lupa atau bagaimana, tapi ketika kami turun jalur yang kami lewati berbeda. Alhasil semak-semak dan perdu kami terobos saja yang sialnya kadang-kadang semak-semak itu menyamarkan tebing yang curam. Ya, semakin gelap, jadi ketika kami tak lagi di  jalan setapak perkebunan, jalur yang kami lewati semakin samar-samar. Kami pun memutuskan untuk tak memedulikan jalur yang penting pada akhirnya kembali ke perkebunan. Bagi saya saat itu perkebunan adalah titik terang dimana kami masih bisa melihat kehidupan. Hari juga semakin gelap yang pada akhirnya memaksa saya untuk mengatakan bahwa kami tak perlu terobsesi sampai puncak. Bahkan untuk kembali ke perkebunan kentang pun saya merasa kesulitan. Head lamp saya setengah sekarat karena dingin. Saya juga telah mengabaikan gerimis saat itu demi sampai dijalur perkebunan yang tadi kami lewati. Cara pertama adalah mengikuti selang-selang pengairan yang membawa kami beerapa kali ke jalan buntu tapi tak masalah kami sampai di kebun kentang. Itulah titik terangnya, meskipun kami tak melewati jalan setapak, kami melanjutkan perjalanan melalui teras-teras perkebunan.
Saya kembali melawan ego saya dan mengatakan pada rekan saya untuk bermalam di keun kentang saja lalu paginya melanjutkan perjalanan. Lantas kami menemukan sebuah gubuk. Diskusi sebentar dan kami memutuskan untuk bermalam disitu. Lumayan, ada tempat berteduh. Percayalah suhu benar-benar dingin apalagi baju kami telah basah. Angin membawa kabut dan menjadikan suhu lebih dingin lagi. Well, mungkin kami memang harus belajar bertahan hidup, gubuk yang ada di kebun kentang itu terkunci, maka tak ada pilihan lain selain berada diluar gubuk tersebut. Setelah menghangatkan badan dengan merebus mie saya mencoba tidur dengan balutan mantel. Brrrrrrr… mantelnya tak cukup menghangatkan badan. Lantas saya mencoba membungkus kaki dan tangan saya dengan plastik. Lumayan. Kesalahan saya adalah saya tidak membawa sleeping bag. Jadi tak bisa seperti teman saya yang terbungkus diam di sleeping bag meskipun tampaknya masih kedinginan juga. Jadi bisa dibayangkan bagaimana kondisi saya bukan?
Saya tak bisa berharap apa pun kecuali melihat pagi dengan matahari yang hangat.  Jam 03.00 saya terbangun. Dinginya sudah tidak bisa tahan lagi. Sialnya, spritus untuk menyalakan api tak bisa diandalkan. Api hanya bertahan sebentar dan kemudian hilang. Parahnya lagi, tangan saya mati rasa untuk menyalakan korek api.
Sehabis itu saya tak tidur lagi dan tersadar bahwa sudah jam 05.00, rasanya lama sekali menunggu pagi. Itu seperti pagi terbaik saya karena saya benar-benar bahagia masih bisa melihat pagi setelah semalam yang begitu menakjubkan. Kami merebus air untuk menyeduh kopi dan merebus mie. Yang dibutuhkan adalah menghangatkan badan dan menghangatkan bdan, dan menghangatkan badan.
Jam 06.00 kehidupan telah berjalan. Petani-petani mulai berangkat kerja. Dari seorang bapak petani yang saya tidak tahu namanya itulah kami tahu kami tersesat terlalu jauh. Pagi itu sebelum melanjutkan pendakian kami mengira-ira jalur yang kemarin dilalui. Melalui bapak petani itulah kami akhirnya menemukan POST 2 jalur pendakian gunung Prau. Kemudian dengan senang dan haru kami melanjutkan pendakian. Diam-diam saya berujar syukur. J

NB: sebaiknya persiapan gear, logistik harus telah diperhitungkan sebelum mendaki. jam keberangkatan mendaki pun sebaiknya tak terlalu malam terutama jika pendaki belum familiar dengan jalur pendakian, atau pertama kali mendaki gunung tersebut. 










Selasa, 26 November 2013

DREAM FOR A REASON

I’m not experienced in teaching children actually. The First time I taught children was when I joined a kind of English course near my boarding house. I learnt many things in terms of teaching methods and teaching activities from my friend. She is a genius in teaching whether she realized it or not. Here, I felt that teaching children could be very interesting. Sure, it was very subjective but truly when I saw my little children vigorously attended my class it felt like everything and it could make my day just fine.
Yeah, not all students were nice at least nice in my expectation. They were unique in their on way. Some were quiet and some were just very talkative. On the other words, some were very cooperative in the class and some were a bit disruptive. It was normal cases and I thought that it happened in almost all classes. Sometimes, I got stuck with the disruptive students in my class. Frankly, it was frustrating for me. Then, I realized that they were just a child. From that case, I learnt how to be interactive. I learnt to listen before I asked them to listen to me. There had to be taking turn. The students had their own time to speak as well as I did.
Not only I learnt about teaching method and how to manage my class, but I also learnt something very precious from my little students. i remember asking them about their dream since i was going to teach a material related to occupation. therefore, as a warming up, i stimulated my students by asking kind of occupations and also what they were going to be. 
It was surprising. They all had dream when I asked them what their dream was. They answered my questions convincingly, without a doubt. 
“I want to be a doctor sir”
“I  want to be a soldier”
“I want to be a carrier woman”
It was great. They all had their big dream. They were not afraid of something going on tomorrow. All they did was enjoying their present moment.
One more thing, they had at least a reason why they dreamt to be something. They dreamt not for nothing. 



Minggu, 24 November 2013

MOCCA


Mocca memang tidak popular tapi mocca adalah ice cream yang paling aku suka di sebuah tempat bernama Coklat. Ia adalah coklat dan kopi sekaligus dalam satu gigitan. Tapi ia bukan kopi, ia pun bukan coklat. Ia memiliki kelamin baru. Ia androgyny. Coklat tak boleh mengalahkan kopi, kopi pun tak boleh mengalahkan coklat. Mereka harus padu. Mereka harus satu. Tak ada yang saling menguasai untuk menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang bernama Mocca. 
Aku pernah mencoba ice cream strawberry dalam sebuah menu bernama Sunday Rainbow. Hmm tentu saja penuh warna-warna terang nan menggiurkan. Tapi lidahku tak cocok dengan manisnya. Bagi orang lain menu tersebut mungkin enak. Tapi bagi yang lain mungkin biasa. Dan bagi sebagian yang lain mungkin akan memilih Sundae Moluccas perpaduan ice cream mocca dan coklat. Dan kamu bisa melupakan coklat jika tak menghendaki coklat ada di sana. Pasalnya, mocca sendiri telah coklat dan kopi. Tentu saja bagi yang mengerti. 
Kenapa aku suka mocca? Biar aku pikir sebentar. Jawabanya akan sedikit filosofis dan memang begitu. Mocca sendiri yang bilang bahwa hidup itu tak sepenuhnya manis ada sisi pahit yang harus diterima dan kalau bisa dinikmati. Itulah esensinya mocca. Kopi yang pahit bisa dinikmati dengan nikmat. Lantas aku bertanya, mungkinkah pahitnya dunia bisa dinikmati? Tentu saja Mocca menjawab bisa. Kenapa takut menangis? Kenapa takut gelap? Kenapa takut jatuh? Mocca melanjutkan, bukankah kesemuanya itu telah Tuhan gariskan. 
Aku masih berbincang dengan Mocca pada suatu hari yang cukup syahdu dimana langit tak begitu terik tapi juga tak begitu mendung. Begitu saja ia datang. Tiba-tiba. . Ditempat yang sama dengan menu yang sama. Pertama kalinya mengejutkan. Tapi habis itu ia selalu aku nanti. Dan hanya ditempat inilah aku bisa berbincang denganya. Hanya ditempat inilah aku bisa bertemu denganya. Makanya ketika aku ingin sekali bertemu denganya. Aku ke tempat ini. Sekadar mendengarkan ia berbicara apa pun dan tak pernah membosankan. Sebuah lagu tahun 90an sedang terdengar di caf← ini. Sebuah lagu dari Robby William, A Better Man. Aku suka lagu itu. 
Tentu saja kau suka. Kata Mocca mengejutkanku. Kamu mendengarkan hampir setiap pagi sebelum mandi dan sarapan. Aku terkekeh. 
Darimana kamu tahu?
Apa yang tak aku ketahui tentang kamu? Yang kamu tahu aku juga tahu. 
Tampak tak adil. Yang kamu tahu belum tentu aku tahu.
Tidak begitu. Mungkin kamu kurang peka dan melihat. Itu saja.
Kali ini ia datang dengan begitu ceria. Benar-benar ceria. Tanpa dibuat-buat seperti ceria biar aku terhibur. Ia jujur dengan perasaanya. Pernah ia datang dengan wajah yang lusuh. Saat itulah aku melihat air matanya. Ia sedih. Benar-benar sedih. Bukan pura-pura sedih. Bukan menyedih-nyedihkan sesuatu. Ia terduduk begitu saja di depanku. Ia tak mau menjawab pertanyaanku mengenai hal yang membuatnya begitu rupa. Ia memuaskan tangisnya. Aku lupa mungkin 15 menit. Tentu saja beberapa customer caf← ini memandangi kami. Sehabis 15 menit itu ia perlahan-lahan pulih. Lalu ia mulai mengatakan alasan yang klise mengenai tangisnya itu dengan lugas. "aku habis putus dengan pacarku". Sudah begitu saja. habis itu jarang kulihat dia menangis lagi. Sesekali memang ia termenung. Ketika kutanya ada apa ia menjawab "aku keingat dia". Tapi habis itu sudah. Begitulah tentangnya. Lugas dan jujur.
Suatu hari aku mengatakan bahwa aku ingin seperti Mocca yang bisa memperlakukan dua hal dengan setara tanpa saling mengalahkan atau saling menguasai. Aku ingin seperti Mocca yang bisa memperlakukan air mata dan tawa dengan adil. 
Ia hanya tertawa setiap kali aku bertanya demikian. 
Kamu kopi yang membenci kopi. Katanya padaku. Jawaban itu tidak membuatku senang maupun sedih. Karena faktanya aku suka minum kopi. Kopi hitam bukan cappuccino atau latte. Aku memandanginya karena ia terdiam serius memandang ku.
Kenapa? Ada apa?
Aku tahu kamu suka kopi. Dan harusnya kamu bisa juga menyeruput kopi yang sesungguhnya yang tanpa gula. Yang ada bahkan ketika kamu tak menghendakinya sama sekali. 
Tapi meskipun demikian tidak selalu ia tertawa bahagia. Seperti yang aku katakana tadi, pernah aku melihat air matanya, bukan hanya setitik atau dua. Air mata itu serupa hujan deras bulan November. Ia menangis tanpa tanpa berusaha menghentikan air matanya. Ia menangis begitu saja seperti ketika ia tertawa. Ketika ia harus meraung karena pedihnya maka ia meraung dengan air mata hingga kepalanya nyeri. 
Aku tak tahu sama sekali, ia seperti seorang psycho. Kadang hanya 10 menit ia menangis. Kadang juga 15 menit. Tapi ia pernah menangis selama 1 jam. Meskipun Cuma 10 menit, 15 menit atau bahkan hingga berjam-jam, ketika ia menangis, ia biarkan air matanya ia biarkan tangis itu. ia biarkan tangis itu menikmatinya hingga aku bertanya dan merasa bahwa tangis dan Mocca saling menikmati. Habis itu ia telah seperti biasa. Kamu tahu, seperti langit cerah sehabis gerimis. Habis itu ia telah bisa lagi tertawa, tawa yang riang. Dan ia juga tak menerima tawa itu dengan tangan terbuka. Demikian juga ketika tawa itu pergi dan ia harus menyambut air mata, ia pun menyambut dengan tangan terbuka. 
Lagu ini membuatku menikmati kesedihan. Ungkapnya. Sebuah lagu telah diputar di ruangan dimana kita tengah asik berbincang. Bedshapped dari Keane. 
Don't laugh at me
Don't look away
You'll follow me back with sun in your eyes 
And on your own bedshapped and legs of stone
You'll knock on my door
end up we'll go
In white light
I don't think soナ.

ia menyanyi menirukan dengan suara lirih.
Aku menikmati momen itu, momen ketika ia terhanyut dalam emosi lagi. Momen ketika ia memalingkan wajahnya ke jendela dan memandangi lalu lalang jalan raya. Sesaat kemudian ia berpaling kearah ku dan tersenyum. Kemudian ia menjelaskan betapa lagu tadi begitu mengena dihatinya. Aku tak pernah bosan mendengarnya bercerita sama seperti aku tak pernah bosan denggan mocca. Ceritanya selalu menarik meskipun kadang-kadang aku tak memahaminya.
Aku mencintaimu? Ungkapku padanya seketika. Aku rasa aku tak bisa lagi memainkan bahasa dihadapanya. Aku hanya bisa lugas saja. dan itu adalah yang keluar dari mulutku. matanya mengerling. Ia Nampak terkejut. Ia diam sebentar lalu menatapku dalam. Ia tak mengatakan terimakasih. Ia juga tak mengatakan minta maaf tidak bisa. Ia masih diam. Ia mencoba meyakinkanku dalam bahasa non verbalnya. Ia berusaha membangunkan aku. 
Tak apa-apa jika kamu tak mencintaiku. Kita bisa berteman saja bukan? Aku tak mempersoalkanya.
Ia kemudian menggenggam tanganku masih dengan tatapan dalamnya. 
Tentu saja kamu harus mencintaiku. Tapi tentu saja aku tak bisa menjadi kekasihmu.
Kenapa? 
Tanpa menjawab sosoknya telah menghilang. Tak ada siapa-siapa lagi kecuali gelas ice cream yang telah kosong. Seperti biasanya aku meminta bill, pria ikal berkaca mata itu yang lagi-lagi mengantarkan bill-nya. 




Selasa, 19 November 2013

PLAYING SNAKES AND LADDERS


Well, it’s very applicable and fun in teaching English especially those for children. The main device is of course the DICE. Make sure to make a big dice. When I applied this activity I prepared a 10 cm3 dice. Why? Because I applied this game on the floor in which the floor itself became a board for playing and the students just actively moved after rolling the dice. So, how to play? Well, it’s the same as an ordinary playing dice but instead of using paper as a board we use floor. Therefore, firstly, my students and I usually drew snakes and ladders. The students usually liked this process and they just enthusiastically asked me “where I should draw the ladder, or could I draw a long snake over here.”
Alright then, the board was ready. Now, it’s time to decide who went first. To decide which students went first and so forth. I usually decided by asking question related to subject that they had learnt during my class instead of rock scissor paper game. The student who answered firstly, he/she went first and so on.
The next step was similar as the ordinary snakes and ladders game. The student who got turn to roll the dice got the dice and rolled it. Then, he/ she just, moved based on the number on the dice. Well, when I applied this game I was teaching the students about vocabulary. In this game, the students did not only memorize the vocabulary I gave but they also should produce meaningful language like “this is a tomato, I like eating tomato, etc”. The student who cannot say a word got little punishment by steeping backward.
The teacher could participate in this game while he/ she monitored the game.


Senin, 18 November 2013

PENDAKIAN MERAPI

Pendakian Merapi tak bisa dipungkiri merupakan sebuah tantangan. Tantangan ini bukan disebabkan karena jalur pendakianya, bukan juga karena saya sedang sakit. Saya saat itu dalam keadaan fit dan katanya medan Merapi juga tidak terlalu sulit. Lantas apa tantanganya? Jangan tertawa dulu membaca tulisan saya. Saya besar dengan menonton sinetron Misteri Guning Merapi dimana disana ada Mak Lampir, Grandong, dan lain-lain yang menjadi mitos tersendiri dan sepertinya telah mengakar secara tak sadar. Jadi, ketika saya mendengar kata Merapi yang terlintas adalah hal-hal mistis. Memang tidak logis tapi sayangnya saya sebagai orang yang lahir di Jawa dan besar di Jawa tak bisa mengelak dari mitos ini. Dan saya tahu, untuk orang jogja, Gunung Merapi bukan sekedar gunung.  Seperti Laut Selatan ada kegiatan seremonial yang ditujukan untuk Gunung Merapi setiap tahunya. Sebelum saya menekuni hobi mendaki, ada sebuah film tentang Merapi yang saya tonton, sebuah film Indonesia yang mungkin taka sing, Keramat. Dari film ini lah saya mengetahui beberapa hal tentang Merapi terutama tentang hutan-hutanya yang tak kalah mistis. Tak berhenti disitu, saya kemudia cross check mengenai film Keramat dengan beberapa teman saya yang berasal dari jogja dan mereka menjelaskan memang hutan Merapi memiliki beberapa mitos yang hamper sama dengan yang ada di Film Keramat. Well, kadang-kadang memang lebih baik kita tak mengetahui beberapa hal untuk menikmati hal yang kita lakukan. tapi merupakan sebuah tantangan juga untuk menikmati hal yang kita lakukan ketika mengetahui bahwa yang kita lakukan memiliki misteri.
Bukan berarti dengan mitos dan misteri yang saya ketahuidan saya tulis menghalangi saya untuk menikmati keindahan gunung Merapi. Tak hanya dalam pendakian merapi, setiap kali mendaki gunung teman saya selalu mengajarkan saya untuk istilahnya meluruskan niat. Saya rasa itu penting meskipun terdengar konyol. niatlah bahwa mendaki gunung untuk menikmati keindahan alam sekitar. Begitu yang diajarkan partner mendaki saya. Jangan tertawa. Berdasarkan pengalaman saya dan hasil ngobrol dengan beberapa pendaki, ada beberapa kejadian yang tidak menyenangkan  terjadi ketika mendaki gunung karena niat yang tidak baik juga. Selain niat tentu saja beberapa perlengkapan pendakian yang memadai perlu dibawa. Juga, yang tak kalah penting, mematuhi jalur pendakian yang telah disediakan. Ini sebuah keharusan. Tersesat dan hilang salah satunya disebabkan karena pendakian sering kali tidak menggunakan jalur yang telah ditetapkan.
Kabar baiknya jalur mendaki bukanlah mengikuti jalur melati seperti dalam film Keramat. Hehehehe. Jangan tertawa, ini melegakan buat saya. Apalagi ketika sampai di Basecamp Merapi, ternyata banyak juga pendaki yang mau naik tidak terkecuali anak SMP dan SMA. Bahkan ketika turun gunung, ada 4 anak SD yang melakukan Pendakian Merapi tanpa alas kaki dan Cuma bawa tas backpack kecil. Sumpah itu anak-anak SD. Saya tidak mengigau. Kabar baik yang lain adalah, gunung ini tak hanya menarik perhatian pendaki local, tapi juga pendaki mancanegara. Di puncak saya bertemu dengan pendaki asal Jerman. Ini luar biasa.
Ada satu hal yang saya sesalkan di basecamp pendakian. Penjagaan tempat registrasi pendakian tidak disiplin, sering ditinggal pergi. Oleh karena itu saya dan rekan mendaki saya mendaki tanpa mendaftar. Jangan salah sangka dulu, bukan Cuma kami yang melakukanya. Beberapa pendaki lain juga mendaki tanpa mendaftar karena alasan yang sama, basecamp tempat registrasi tak ada yang menjaga, dan setelah ditunggu cukup lama tidak ada petugas kebanyakan pendaki yang kesal meninggalkan basecamp. Ini mungkin perlu diperhatikan. Masalahnya pendakian Merapi cukup popular. Gunung merbabu saja di Basecamp selo memiliki dua basecamp dan dua-duanya rajin melayani registrasi. Jangan sampai para pendaki naik dengan keadaan kesel.
Disamping mitos-mitos Merapi, ada hal yang lebih mengena ketika mendaki. Hal yang membuat saya menikmati pendakian. Benar-benar menikmati. Ini adalah hadiah alam yang begitu indah diatas gumpalan awan yang seperti kapas. Matahari terbenam. Saat itu saya dan rekan saya belum sampai di tempat dimana kami harus berkemah. Ketika senja datang dan matahari begitu lembut keemasan di atas samudera awan, kami masih kurang 1 jam menuju tempat kami berencana kemah di Pasar Gubrah. Tapi siapa peduli tempat kemah masih 1 jam, matahari terbenam itu tak terjadi setiap jam kan? Dan keindahan alam layak untuk dinikmati. Lihatlah awan yang seperti kumpulan kapas itu. jujur saja saya ingin merebahkan badan saya disana. Wait, tapi itu awan, jika saya lupa diri dan terjun maka yang saya anggap kasur adalah jurang. Diarah yang berlawanan dengan senja adalah tebing-tebing yang berwarna hijau lumut. Ini sangat kontras dengan tempat kami kemah yang hanya ditumbuhi bebatuan dan pasir hasil letusan Gunung Merapi beberapa tahun yang lalu. Di arah utara, ada gunung Merbabu yang terlihat lebih hijau dari Merapi, gunung itu berdiri tenang diatas awan. Lalu dilereng merbabu, kita bisa melihat pedesaan yang damai. He.
Kami harus meninggalkan senja. Dan ketika matahari telah berada di sisi lain dari Bumi, kami sampai di tempat kemah. Jangan lupa bawa tali yang memadai karena di tempat camp, pasak tidak bisa digunakan. Jadi tali akan sangat membantu dalam proses pendirian tenda. Sejauh ini semua berjalan luar biasa. Saya suka mendaki gunung ketika cuaca cerah. Dan bulan oktober adalah salah satu bulan terbaik untuk mendaki. Untuk mendapatkan pemandangan sunset, mungkin perlu diperhatikan jam pendakian. Tak perlu terlalu pagi. Jam 13.00 atau jam 14.00 cukup ideal untuk mendapatkan sunset. Dan saat melihat sunset yang lembut itu, buktikanlah bahwa penat itu terbayar.
Paginya, sekitar jam 04.30 saya dan rekan mendaki saya keluar dari tenda dan naik ke puncak. Diluar telah ada lebih banyak tenda disbanding ketika kami sampai. Di jalur pendakian ke puncak lampu-lampu senter menunjukan bahwa telah banyak pendaki yang muncak juga. Jangan Tanya lagi. Tentu saja masih dingin. Dingin-dingin begini ada yang sekedar tidur pakai Sleeping Bag diluar. Tergeletak begitu saja seperti ikan asin. Hehehehe. True survival. Apakah saya akan melakukanya. Mungkin belum saatnya. Oke jadi pendakian puncak merapi kali ini akan melewati medan berpasir. Yap, pasir dan batu. Tak ada tumbuhan sama sekali. Medan berpasir ini mirip dengan puncak Mahameru tapi untungnya medan berpasir di Merapi tak memakan waktu lebih dari 1 jam sedangkan untuk menuju puncak Mahameru butuh kira-kira 4-5 jam dan paling tidak berangkat jam 1 malam jika kemah di Archopodo untuk menikmati matahari terbit. Begitulah. Matahari terbit seperti emas bagi para pendaki, di cari dan dikejar.
Dan inilah puncak Gunung Merapi yang selama kurang lebih 5 tahun aku pandangi keagunganya dari Jogja: sebuah tebing terjal berwarna keabu-abuan. Dibawah tebing adalah kawah merapi yang aktif dan selalu menjadi paling aktif. Diameter kawah tersebut sekarang sangat luas. Di dalam lingkaran kawah yang luas itu terlihat lingkaran kecil yang menyala-nyala seperti bara api. Jangan bayangkan kamu jatuh ya. No way.
Sebagian besar relief puncak Merapi adalah batuan. Tak heran ketika terjadi lahar dingin banyak batu yang ikut arus. Dari puncak terjal ini pendaki bisa melihat pemandangan berbagai puncak di jawa tengah sebut saya Gunung Slamet, Sumbing Sindoro, dan tentu saja Gunung Merbabu. Gunung Lawu juga kelihatan. Ada satu hal yang begitu khas dari Merapi sebenarnya jika dilihat dari puncak gunung lain; kawahnya. Ketika pagi ia menguap paling banyak. Mungkin karena keunikan ini, banyak pendaki mancanegara yang datang ke Merapi. Dan ternyata, pendaki mancanegara tidak kalah narsis juga. Pada saat muncak, saya mendapati seorang wanita Luar Negeri tengah asik jeprat jepret di depan kamera. Well, tak cukup satu baju saja, ia berganti baju 3 kali untuk 3 kali jepretan. Ada juga warga jerman mungkin berusia 40 an yang saya temui disamping anak-anak muda yang berada di puncak. Meskipun mereka juga sama narsisnya, tapi saat itu saya pikir kebanyakan dari mereka tengah melakukan riset. Sayangnya saya tak menanyakan hal tersebut.

Saya selalu berusaha berlama-lama dipuncak. Hanya ingin menikmati pemandangan dari atas. Entahlah, disana ada perasaan takjub yang mendebarkan yang kelak akan dirindukan ketika kamu tengah menapaki penatnya lalu lintas jalanan yang penuh caci maki. Karena, di gunung, keramah tamahan itu masih ada tak peduli kamu siapa, dari mana, agamamu apa. Tapi, berapapun lamanya dipuncak tetap harus turun juga dan esoknya ketika aku bangun aku sadar badanku akan terasa remuk redam. Pendakian Merapi seperti pendakian lainya tetap menyisakan nyeri dan ngilu disamping semua keindahan, tapi tetap saja tak menjemukan. 

NB: Thanks to partner pendakian Merapi yang sabar
juga thanks to Gunung Merapi sendiri yang telah memberi ijin untuk didaki. 

para pendaki

 Puncak Merapi
 Sunrise
 Moment of Truth: Puncak Merapi


 Sunset

 Gunung Merbabu


Sabtu, 09 November 2013

Merbabu Files

well, setelah posting tentang beberapa film yang aku tonton mungkin sekarang saatnya menulis tentang jalan-jalan. sebenarnya bukan jalan-jalan yang mudah. yap, mendaki gunung. belum lama ini saya menyukai hiking, tepatnya bulan Mei 2013 saya mulai petualangan. memang belum banyak gunung yang saya taklukan. tapi meskipun demikian, banyak hal menarik yang saya temukan. beberapa diantaranya adalah bagaimana menyaksikan matahari terbit, bagaimana padang savana yang luas menghijau, dan tak lupa juga bagaimana letihnya untuk sampai dipuncak. percayalah, lelah ketika mendaki akan terbayar ketika puncak telah ditaklukan. ada rasa bangga yang bukan hanya sanggup menuju puncaknya, tapi bagaimana kita menaklukan diri sendiri untuk bisa sampai puncaknya. pada akhirnya, ini bukan tentang menaklukan gunung, tapi bagaimana menaklukan diri sendiri.
gunung Merbabu adalah gunung ke empat yang aku daki. meskipun demikian aku tulis pertama kali. kenapa? tak ada alasan, hanya setelah membuka beberapa file foto tiba-tiba tergerak untuk menulis. 
ada yang belum tahu dimana lokasi Merbabu? seperti beberapa gunung, untuk mendaki gunung ini ada 3 basecamp yang bisa ditempuh sebagai langkah awal, salah satunya melewati kecamatan Selo kabupaten Boyolali. konon, pemandangan yang didapat dengan melewati jalur ini merupakan yang terbagus. dan untuk mencapai selo juga bisa ditempuh melalui berbagai rute. bisa melalui solo-boyolali-selo atau lewat muntilan-selo. jika menggunakan sepeda motor lebih baik lewat muntilan. tapi jika seperti saya yang pakai bis enaknya lewat solo (starting point dari jogja). kenapa? karena pernah saya lewat muntilan dan ternyata kendaraan umum dari muntilan tak ada yang benar-benar sampai selo. kendaraan umum hanya sampai di kawasan wisata Ketep. alhasil saya harus ngojek dari muntilan sampai ke Selo dan harus merogoh kocek sebesar 60.000. untuk backpacker jumlah segitu lumayan mahal. tapi, berhubung keadaan darurat dan tidak memungkinkan saya kembali ke jogja kemudian menempuh jurusan solo, jadi saya pun menggunakan jasa ojek. 
well, setelah menunggu rekan-rekan pendaki lain di basecamp, pendakian dimulai kira-kira pukul 14.00. seperti sebelum-sebelumnya saya selalu grogi mengetahui betapa pendakian akan memakan waktu yang lama dengan medan yang belum saya ketahui. tapi daripada perhatian terpusat pada puncak dan letih, lebih baik menikmati keindahan jengkal demi jengkal Merbabu yang hijau. ya, kata teman saya Merbabu adalah miniatur gunung Rinjani dalam hal padang savananya. hijau. seperti bukit teletubies. dan saya pun berpikir bahwa tak perlu keluar negeri untuk mendapatkan pemandangan seperti itu. 
di Merbabu sendiri terdapat banyak spot padang savana yang menakjubkan, seperti di Afrika yang sering di pertontonkan di channel TV National Geography. 
untuk mencapai puncak kurang lebih butuh waktu 6-7 jam dari basecamp. akan tetapi berhubung hari telah cukup malam saya dan rekan-rekan memutuskan untuk mendirikan tenda di padang Savana 2 yang telah dekat dengan puncak hanya butuh kurang dari 1 jam untuk menuju puncak Kenteng Songo. paginya sebelum jam 5 pagi kami sepakat untuk menuju puncak. well, udara masih sangat dingin. dalam pendakian ke puncak kita akan melewati padang edelweiss yang luas. saat itu tengah berbunga. saya masih begitu excited melihat bagaimana pohon edelweiss itu tinggi-tinggi. begitu purba. maklum pendaki pemula, masih gampang terpukau. masalahnya ketika mendaki gunung sindoro, edelweiss nya tak begitu tinggi dan saat itu juga bunga edelweiss gunung Sindoro belum musimnya berbunga. bagi yang pernah ke gunung Gedhe mungkin edelweiss gunung Merbabu tidak ada apa-apanya. but for me, it's still something. 
semakin tinggi pemandangan semakin indah, bukan hanya edelweiss tapi juga padang savana yang terlihat dari ketinggian. dan satu hal yang ditunggu, matahari terbit. sebelum sampai puncak, matahari telah menampakan tanda-tandanya untuk lahir. ini adalah momen favorit saya. melihat gradasi warna di ufuk timur dan garis  lurus berwarna kuning oranye yang lembut. sempurna. 
di puncak gunung Merbabu, beberapa gunung di Jawa Tengah terlihat, seperti gunung Sumbing, Sindoro, Merapi, dan Lawu yang terlihat di atas awan. ini adalah momen lain yang saya suka, melihat keindahan dari ketinggian. hanya ada satu yang kurang, kopi. sebenarnya dari tempat camp, saya dan rekan-rekan telah berencana membuat kopi di puncak, tapi angin begitu kencang. tapi bukan berarti kami tidak minum sama sekali, kami telah membawa teh hangat di termos kecil. teh hangat dan puncak gunung, sebuah romansa sederhana yang hangat bukan? 
tidak sampai satu jam kami di Puncak. setelah jeprat jepret, kami pun kembali ke camp kami. semesta sedang mendukung, hari itu begitu cerah dan biru. 



sunrise view on the track of mount peak 

well, this is the mounttain peak. great isn't it??? 

another mountain top view where the sun is rising

The great mount merapi from its sister, Mount Merbabu.