Cerita, Cinta, Kopi, dan Puisi

Untuk yang memanggilku honey

Hanya beberapa helai benang saja yang menutupi badanku. Bisa dibilang aku telah telanjang di matanya. Ia tak mempermasalahkan borok yang ada. ia menerimaku sebagai sesuatu yang utuh. Tak banyak yang bisa begitu. Memang sering ada yang bilang, aku akan menerimamu apa adanya. Setelahnya mereka bergunjing tentang borok yang telah aku tunjukan. Mereka menertawai. Mereka menghujat. Mereka memaki. Kemudian mereka pergi. Begitu saja.
Sehelai demi sehelai aku lepas. Aku mengurai benang yang tersulam itu. masih terlihat bagus pada awalnya. Pakaian memang menutupi apa yang sepatutnya tak terlihat. Ia akan mengaburkan cacat disana-sini. Ia bisa membuat pemakainya lebih baik. Bukan berarti telanjang tak menarik meskipun tak selalu menarik. Seorang Megan Fox berani foto bugil karena orang menilainya sexy. Ryan Reynold mau berani tampil topless karena ia six packs. Bagaimana kalau mereka memiliki tubuh kerempeng seperti ku. Apa yang perlu dipamerkan. Baju adalah solusinya. Ia membuatku lebih baik. Tapi dimatanya aku telah telanjang dengan pakaian yang menutupi.
Aku habiskan waktu berjam-jam hanya untuk makin telanjang dimatanya. Kamu berbincang masalah sepele sambil minum kopi. Mungkin masalah film terbaru. Mungkin masalah music. Kami juga menggunjing artis yang kawin cerai dengan alasan yang artis terbuat utarakan pada media se nusantara, kita sudah tidak cocok lagi. yang paling menggelikan adalah ketika suatu sore kami tengah duduk dengan coffeemix mengepul, sepasang artis  memutuskan bercerai kemudian mereka bilang kami telah sepakat bercerai. Kami membayangkan sebelum mereka mengadakan konfrensi pers yang diliput media se nusantara mereka berbincang santai dengan pasanganya sambil minum teh. Mungkin di sofa sambil nonton tv dan makan cemilan lalu keluarlah ide cerai tersebut dan salah satu pasangan memulainya.
“udah 2 tahun kita menikah. Sepertinya waktunya bercerai. Kita cerai aja yuk?”
“iya juga sih. Ide bagus itu. aku juga udah mulai bosan”
“makanya kita cerai aja, kita butuh pasangan baru.”
“oke. Sepakat. Kita cerai. Bagaimana kita bilang sama media”
“bilang aja alasanya tak bisa disebut. Itu privacy apa yang bisa mereka perbuat dengan alasan semacam itu.”
“bener juga”
Hari berikutnya sepasang artis itu mungkin memanggil teman wartawan dan mengumumkan masalah perceraian itu.
Kami tak peduli dengan spekulasi-spekulasi yang muncul. Kami menenggak kopi. Aku demikian juga dengan dia sama-sama tak mengerti. Ia mengganti chanel untuk menghindari group vocal yang disebut boyband. Tak ada cerita bagus. ia mematikan TV lalu memutar lagu dari laptopnya. Lagu pertama don’t speak dari no doubt.aku akui ia memiliki selera yang bagus. tak hanya musik. Ia juga konsultan fashion yang handal. Aku mengaguminya. Aku menyukainya.
Matanya agak sipit. Ia jawa tulen berwajah oriental. Karena wajahnya ia dikira beragama Katolik. Percayalah, ia memiliki hati seluas samudera kalau kamu tak pernah menyakitinya. Percayalah, jika kamu pernah menyakitinyasengaja atau tidak, jangan mengharapkan hatinya. Percayalah ia berhati lembut. Tapi orang berhati lembut juga memiliki sisi keras. Ia keras pada orang yang layak mendapatkanya. Ah, dia mirip sekali dengan Ayahku. Aku terpesona. Mungkin karena Ayahku aku menyukainya.  karena aku tampak begitu telanjang sehingga ia tahu hampir semuanya, aku menyisakan helaian benang ini. ia tak tahu aku menyukainya. ia tak tahu karena tak kuberitahu. Aku tak tahu jika kemudian aku berfikir seharusnya aku memberitahunya bahwa aku menyukainya sehingga ia tahu.
Aku berfikir untuk membuka benang yang satu itu. ketika itu Jam 00.00, saat itu bulan juli ada sebuah pesan pendek yang masuk ke ponsel ku, “Happy Birthday hany”. Demikian ditulisnya beserta harapan-harapan yang aku amini dalam hati dan kubalas dengan singkat, “thank you hany”.  Ia memanggilku honey. Aku memanggilnya honey. kami sama-sama menggunakan istilah honey untuk memanggil. Entah bagaimana awalnya ia memanggilku dengan ungkapan tersebut. Tak perlu aku jelaskan karena aku pun tak tahu sejarahnya. Yang aku tahu aku telah terbiasa dengan istilah itu dan aku menggunakannya.
Kemudian malam itu aku membuka lagi satu benangku. Aku memberitahu yang ia tak tahu. Kemudian akhirnya ia tahu yang seharusnya ia tahu. Ia tahu meski ragu. Lalu? Sudah itu saja. Aku hanya memberitahunya karena aku perlu memberitahu yang perlu ia tahu. Ada tindak lanjut? Tidak. Kenapa? Sudah kubilang aku telah terlalu telanjang. Hanya beberapa benang yang tersisa. Ada semacam borok yang orang lain bilang sebagai penyakit fatal hinggap ditubuhku. Aku cukup tahu diri. Jahat sekali menjadikanya experiment. Bagaimana mungkin aku menuntut lebih. Minum kopi sambil membaca buku menjelang senja merupakan anugerah terindah saat-saat menghabiskan waktu denganya. Apalagi yang lebih sempurna. Aku mendapatkan apa yang seharusnya aku dapat. Apakah aku bahagia? Tidak. Aku sangat bahagia. Dan kemudia di waktu-waktu tertentu setelah senja usai ia akan pergi dengan pecarnya. Aku pergi juga. Mungkin menghabiskan waktu di toko buku untuk beca gratis atau pergi ke tempat dimana aku bisa makan dan browsing.
Kini ia seperti kakak sekaligus adik. Kami bertukar peran. Tapi seringnya ia yang menjadi kakak. Aku menangis dipundaknya. Ia belum pernah menangis dipundaku, sesekali ia mengeluh memang. tapi tak secara langsung menangis. Lagipula aku selalu terlihat bodoh menghadapi orang menangis.
Ia memanggilku honey. aku memanggilnya honey. tapi ia bukan pacarku. Hanya dua orang yang saling menyayangi tanpa ikatan kecuali pertemanan. Bukan karena cinta kami terlarang. Tapi karena aku telah begitu telanjang. Kemudian aku tahu ia putus dengan pacarnya. Ada pihak yang menyebut bahwa aku adalah angin yang memisahkan daun dari pohonya. Aku menyayanginya. Ia menyayangiku. Tapi kami hanya dua orang yang saling menyayangi tanpa ikatan kecuali pertemanan.
Waktu berselang, ia pun menemukan kembali pendampingnya. Aku takut disangka angin yang akan merontokan daun dari pohonya lalu aku pun mulai menjaga jarak. Tapi aku percaya aku diciptakan untuk melengkapinya dan ia pun demikian. Kami diciptakan untuk saling melengkapi tanpa ikatan kecuali pertemanan. Karena alasan itu aku mengambil hp dan mengetik pesan pendek, kamu dikos? Ngopi yuk?
Ayo. Balasnya. Secangkir kopi hitam dan secangkir coffeemix tersaji kembali menemani kami berbincang ringan. Lantas ia berkata bahwa kopi itu adalah kopi pertamanya sejak pagi. Ia sungguh penggila kopi. ia menyeruput coffeemix sambil mengagumi seseorang bernama Paul Walker. Ia mengagumi perutnya yang six packs, matanya yang seperti mata elang. Laki-laki itu memang sexy. Tak ada yang menyangkal. Mungkin ia terobesi dengan laki-laki itu. di laptopnya ada folder khusus yang menyimpan gambar-gambar Paul Walker. Bagiku Collin Firth masih lebih sexy. Sexy dalam takaranku. Ia seperti Ayahku. Aku menyukai orang yang mirip dengan ayahku dan mengingatkanku kepada Ayahku. Paul Walker tak seperti Ayahku. Jadi aku tak menyukainya. meskipun tak membenci.
Kisah-kisah tentangnya mengalir bersama tegukan secangkir kopi hitam. Ia ada ketika aku meneguk kopi meskipun ia tak tengah bersama ku meminum kopi. ada kalanya aku meminum kopi sendiri sambil membaca buku di sore hari. Tapi ia ada meskipun tak berwujud. Kenangan juga merupakan wujud meskipun bukan materi. Kenangan itu mewakili wujud nyata. Pada secangkir kopi itu tak hanya ada cerita, tapi juga cinta. Ia tak hanya cairan hitam yang pahit dan manis. Tapi keberadaanya merupakan perantara yang bagi aku dan dia Cuma kopi yang bisa menghubungkan. Kopi tak sekedar penghilang dahaga. Ia tak tergantikan dengan secangkir teh. Kopi menjadi penyatu. Disini aku tak menuhankan kopi yang seolah-olah alasan dan karenanya semua terjadi. Anggap saja Tuhan menciptakan kopi agar aku menemukannya. Dan karena Tuhan menciptakan kopi aku menjadi dekat denganya. Dan karena Tuhan menciptakan kopi aku bisa mendengarnya menyanyi. Dan karena Tuhan menciptakan kopi, meskipun aku memiliki semacam penyakit fatal ia tak peduli.
Aku harap kelak ia akan membangun rumah impianya yang memiliki banyak kaca dimana ia bisa melihat bintang-bintang saat malam. Ia akan membangun rumah model minimalis modern. Ia sendiri yang akan mendesign akan seperti apakah rumah itu. meskipun ia lihai mendesign ia tak masuk jurusan arsitektur. Itu sebabnya aku percaya kami diciptakan untuk saling melengkapi meskipun tanpa ikatan kecuali ikatan pertemanan karena pada akhirnya Tuhan menunjukan jalan baginya memilih jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Suatu hari aku akan merindukan kebersamaan secangkir kopi. Bagaimana pun kelak ia akan menikah meskipun bukan dalam waktu dekat. Tapi seperti yang aku katakan ia akan hadir sebagai kenangan meskipun ia tak hadir secara riil. Suatu hari, aku akan menikmati secangkir kopi dan kenangan tentangnya. Mungkin di depan perapian. Mungkin di atas sofa sambil membaca buku. Mungkin sambil menulis. Dan di tempat lain ia akan menikmati kopi dengan kekasihnya. Mungkin mereka memandangi bintang bersama. Mungkin mereka tengah berdiskusi tentang design interior.  Mungkin ia telah punya anak yang seindah dirinya. Indah sekali bukan, sebuah keluarga.  
Hari itu hampir terjadi. Cangkir cangkir makin terkikis. Hanya beberapa yang tertinggal. Lantas sebelum hari itu datang dan aku menikmati kopi sendiri dengan sisa-sisa benang yang bergelayut ditubuhku. Aku ingin minum kopi. kopi hitam saja. Bukan cappuccino, mocacino, atau coffee late. Kopi hitam saja.  Akan aku hirup aromanya dan aku ingat apa yang terjadi ketika aku menikmati tegukan demi tegukan. Akan aku simpan cerita demi cerita. Kelak ketika suatu sore aku menikmati kopi sendiri akan aku munculkan kenangan itu.
Ia memanggilku honey. aku memanggilnya honey. kami tak terikat apapun kecuali ikatan pertemanan. aku percaya kami diciptakan untuk saling melengkapi. Tuhan mengirimnya padaku untuk melengkapi lembar-lembar yang harus diisi. Tapi karena satu hal yang orang bilang sebagai penyakit fatal menjangkitku, aku tak bisa selalu denganya. Tapi ia menerimaku meskipun aku mempunyai tak sekedar borok tapi juga apa yang orang lain sebagai penyakit fatal. Suatu hari dimana sudah dekat sekali aku akan merindukannya.  



Tidak ada komentar:

Posting Komentar