Untuk yang memanggilku honey
Hanya beberapa helai
benang saja yang menutupi badanku. Bisa dibilang aku telah telanjang di
matanya. Ia tak mempermasalahkan borok yang ada. ia menerimaku sebagai sesuatu
yang utuh. Tak banyak yang bisa begitu. Memang sering ada yang bilang, aku akan menerimamu apa adanya.
Setelahnya mereka bergunjing tentang borok yang telah aku tunjukan. Mereka
menertawai. Mereka menghujat. Mereka memaki. Kemudian mereka pergi. Begitu
saja.
Sehelai demi sehelai aku
lepas. Aku mengurai benang yang tersulam itu. masih terlihat bagus pada
awalnya. Pakaian memang menutupi apa yang sepatutnya tak terlihat. Ia akan
mengaburkan cacat disana-sini. Ia bisa membuat pemakainya lebih baik. Bukan
berarti telanjang tak menarik meskipun tak selalu menarik. Seorang Megan Fox
berani foto bugil karena orang menilainya sexy. Ryan Reynold mau berani tampil
topless karena ia six packs. Bagaimana
kalau mereka memiliki tubuh kerempeng seperti ku. Apa yang perlu dipamerkan.
Baju adalah solusinya. Ia membuatku lebih baik. Tapi dimatanya aku telah
telanjang dengan pakaian yang menutupi.
Aku habiskan waktu
berjam-jam hanya untuk makin telanjang dimatanya. Kamu berbincang masalah
sepele sambil minum kopi. Mungkin masalah film terbaru. Mungkin masalah music.
Kami juga menggunjing artis yang kawin cerai dengan alasan yang artis terbuat
utarakan pada media se nusantara, kita
sudah tidak cocok lagi. yang paling menggelikan adalah ketika suatu sore
kami tengah duduk dengan coffeemix mengepul,
sepasang artis memutuskan bercerai
kemudian mereka bilang kami telah sepakat
bercerai. Kami membayangkan sebelum mereka mengadakan konfrensi pers yang
diliput media se nusantara mereka berbincang santai dengan pasanganya sambil
minum teh. Mungkin di sofa sambil nonton tv dan makan cemilan lalu keluarlah
ide cerai tersebut dan salah satu pasangan memulainya.
“udah 2 tahun kita
menikah. Sepertinya waktunya bercerai. Kita cerai aja yuk?”
“iya juga sih. Ide
bagus itu. aku juga udah mulai bosan”
“makanya kita cerai
aja, kita butuh pasangan baru.”
“oke. Sepakat. Kita
cerai. Bagaimana kita bilang sama media”
“bilang aja alasanya
tak bisa disebut. Itu privacy apa
yang bisa mereka perbuat dengan alasan semacam itu.”
“bener juga”
Hari berikutnya sepasang
artis itu mungkin memanggil teman wartawan dan mengumumkan masalah perceraian
itu.
Kami tak peduli dengan
spekulasi-spekulasi yang muncul. Kami menenggak kopi. Aku demikian juga dengan
dia sama-sama tak mengerti. Ia mengganti chanel untuk menghindari group vocal
yang disebut boyband. Tak ada cerita bagus. ia mematikan TV lalu memutar lagu
dari laptopnya. Lagu pertama don’t speak dari
no doubt.aku akui ia memiliki selera
yang bagus. tak hanya musik. Ia juga konsultan fashion yang handal. Aku mengaguminya. Aku menyukainya.
Matanya agak sipit. Ia
jawa tulen berwajah oriental. Karena wajahnya ia dikira beragama Katolik.
Percayalah, ia memiliki hati seluas samudera kalau kamu tak pernah
menyakitinya. Percayalah, jika kamu pernah menyakitinyasengaja atau tidak,
jangan mengharapkan hatinya. Percayalah ia berhati lembut. Tapi orang berhati
lembut juga memiliki sisi keras. Ia keras pada orang yang layak mendapatkanya.
Ah, dia mirip sekali dengan Ayahku. Aku terpesona. Mungkin karena Ayahku aku
menyukainya. karena aku tampak begitu
telanjang sehingga ia tahu hampir semuanya, aku menyisakan helaian benang ini.
ia tak tahu aku menyukainya. ia tak tahu karena tak kuberitahu. Aku tak tahu
jika kemudian aku berfikir seharusnya aku memberitahunya bahwa aku menyukainya
sehingga ia tahu.
Aku berfikir untuk
membuka benang yang satu itu. ketika itu Jam 00.00, saat itu bulan juli ada
sebuah pesan pendek yang masuk ke ponsel ku, “Happy Birthday hany”. Demikian
ditulisnya beserta harapan-harapan yang aku amini dalam hati dan kubalas dengan
singkat, “thank you hany”. Ia
memanggilku honey. Aku memanggilnya honey. kami sama-sama menggunakan
istilah honey untuk memanggil. Entah
bagaimana awalnya ia memanggilku dengan ungkapan tersebut. Tak perlu aku
jelaskan karena aku pun tak tahu sejarahnya. Yang aku tahu aku telah terbiasa
dengan istilah itu dan aku menggunakannya.
Kemudian malam itu aku
membuka lagi satu benangku. Aku memberitahu yang ia tak tahu. Kemudian akhirnya
ia tahu yang seharusnya ia tahu. Ia tahu meski ragu. Lalu? Sudah itu saja. Aku
hanya memberitahunya karena aku perlu memberitahu yang perlu ia tahu. Ada
tindak lanjut? Tidak. Kenapa? Sudah kubilang aku telah terlalu telanjang. Hanya
beberapa benang yang tersisa. Ada semacam borok yang orang lain bilang sebagai
penyakit fatal hinggap ditubuhku. Aku cukup tahu diri. Jahat sekali
menjadikanya experiment. Bagaimana mungkin aku menuntut lebih. Minum kopi
sambil membaca buku menjelang senja merupakan anugerah terindah saat-saat
menghabiskan waktu denganya. Apalagi yang lebih sempurna. Aku mendapatkan apa
yang seharusnya aku dapat. Apakah aku bahagia? Tidak. Aku sangat bahagia. Dan
kemudia di waktu-waktu tertentu setelah senja usai ia akan pergi dengan
pecarnya. Aku pergi juga. Mungkin menghabiskan waktu di toko buku untuk beca
gratis atau pergi ke tempat dimana aku bisa makan dan browsing.
Kini ia seperti kakak
sekaligus adik. Kami bertukar peran. Tapi seringnya ia yang menjadi kakak. Aku
menangis dipundaknya. Ia belum pernah menangis dipundaku, sesekali ia mengeluh
memang. tapi tak secara langsung menangis. Lagipula aku selalu terlihat bodoh
menghadapi orang menangis.
Ia memanggilku honey. aku memanggilnya honey. tapi ia bukan pacarku. Hanya dua
orang yang saling menyayangi tanpa ikatan kecuali pertemanan. Bukan karena cinta
kami terlarang. Tapi karena aku telah begitu telanjang. Kemudian aku tahu ia
putus dengan pacarnya. Ada pihak yang menyebut bahwa aku adalah angin yang
memisahkan daun dari pohonya. Aku menyayanginya. Ia menyayangiku. Tapi kami
hanya dua orang yang saling menyayangi tanpa ikatan kecuali pertemanan.
Waktu berselang, ia pun
menemukan kembali pendampingnya. Aku takut disangka angin yang akan merontokan
daun dari pohonya lalu aku pun mulai menjaga jarak. Tapi aku percaya aku
diciptakan untuk melengkapinya dan ia pun demikian. Kami diciptakan untuk
saling melengkapi tanpa ikatan kecuali pertemanan. Karena alasan itu aku
mengambil hp dan mengetik pesan pendek, kamu
dikos? Ngopi yuk?
Ayo.
Balasnya. Secangkir kopi hitam dan secangkir coffeemix tersaji kembali menemani
kami berbincang ringan. Lantas ia berkata bahwa kopi itu adalah kopi pertamanya
sejak pagi. Ia sungguh penggila kopi. ia menyeruput coffeemix sambil mengagumi
seseorang bernama Paul Walker. Ia
mengagumi perutnya yang six packs, matanya
yang seperti mata elang. Laki-laki itu memang sexy. Tak ada yang menyangkal.
Mungkin ia terobesi dengan laki-laki itu. di laptopnya ada folder khusus yang
menyimpan gambar-gambar Paul Walker. Bagiku Collin Firth masih lebih sexy. Sexy
dalam takaranku. Ia seperti Ayahku. Aku menyukai orang yang mirip dengan ayahku
dan mengingatkanku kepada Ayahku. Paul Walker tak seperti Ayahku. Jadi aku tak
menyukainya. meskipun tak membenci.
Kisah-kisah tentangnya
mengalir bersama tegukan secangkir kopi hitam. Ia ada ketika aku meneguk kopi
meskipun ia tak tengah bersama ku meminum kopi. ada kalanya aku meminum kopi
sendiri sambil membaca buku di sore hari. Tapi ia ada meskipun tak berwujud.
Kenangan juga merupakan wujud meskipun bukan materi. Kenangan itu mewakili
wujud nyata. Pada secangkir kopi itu tak hanya ada cerita, tapi juga cinta. Ia
tak hanya cairan hitam yang pahit dan manis. Tapi keberadaanya merupakan
perantara yang bagi aku dan dia Cuma kopi yang bisa menghubungkan. Kopi tak
sekedar penghilang dahaga. Ia tak tergantikan dengan secangkir teh. Kopi
menjadi penyatu. Disini aku tak menuhankan kopi yang seolah-olah alasan dan
karenanya semua terjadi. Anggap saja Tuhan menciptakan kopi agar aku
menemukannya. Dan karena Tuhan menciptakan kopi aku menjadi dekat denganya. Dan
karena Tuhan menciptakan kopi aku bisa mendengarnya menyanyi. Dan karena Tuhan
menciptakan kopi, meskipun aku memiliki semacam penyakit fatal ia tak peduli.
Aku harap kelak ia akan
membangun rumah impianya yang memiliki banyak kaca dimana ia bisa melihat
bintang-bintang saat malam. Ia akan membangun rumah model minimalis modern. Ia
sendiri yang akan mendesign akan seperti apakah rumah itu. meskipun ia lihai
mendesign ia tak masuk jurusan arsitektur. Itu sebabnya aku percaya kami
diciptakan untuk saling melengkapi meskipun tanpa ikatan kecuali ikatan
pertemanan karena pada akhirnya Tuhan menunjukan jalan baginya memilih jurusan
Pendidikan Bahasa Inggris.
Suatu hari aku akan
merindukan kebersamaan secangkir kopi. Bagaimana pun kelak ia akan menikah
meskipun bukan dalam waktu dekat. Tapi seperti yang aku katakan ia akan hadir
sebagai kenangan meskipun ia tak hadir secara riil. Suatu hari, aku akan
menikmati secangkir kopi dan kenangan tentangnya. Mungkin di depan perapian.
Mungkin di atas sofa sambil membaca buku. Mungkin sambil menulis. Dan di tempat
lain ia akan menikmati kopi dengan kekasihnya. Mungkin mereka memandangi
bintang bersama. Mungkin mereka tengah berdiskusi tentang design interior. Mungkin ia telah punya anak yang seindah
dirinya. Indah sekali bukan, sebuah keluarga.
Hari itu hampir
terjadi. Cangkir cangkir makin terkikis. Hanya beberapa yang tertinggal. Lantas
sebelum hari itu datang dan aku menikmati kopi sendiri dengan sisa-sisa benang
yang bergelayut ditubuhku. Aku ingin minum kopi. kopi hitam saja. Bukan
cappuccino, mocacino, atau coffee late. Kopi hitam saja. Akan aku hirup aromanya dan aku ingat apa
yang terjadi ketika aku menikmati tegukan demi tegukan. Akan aku simpan cerita
demi cerita. Kelak ketika suatu sore aku menikmati kopi sendiri akan aku
munculkan kenangan itu.
Ia memanggilku honey. aku memanggilnya honey. kami tak terikat apapun kecuali
ikatan pertemanan. aku percaya kami diciptakan untuk saling melengkapi. Tuhan
mengirimnya padaku untuk melengkapi lembar-lembar yang harus diisi. Tapi karena
satu hal yang orang bilang sebagai penyakit fatal menjangkitku, aku tak bisa
selalu denganya. Tapi ia menerimaku meskipun aku mempunyai tak sekedar borok
tapi juga apa yang orang lain sebagai penyakit fatal. Suatu hari dimana sudah
dekat sekali aku akan merindukannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar