Oh my God! Ungkap saya
ketika itu secara spontan setelah sampai di sebuah batu besar. Teman saya
mengira saya melihat hantu. Memang keadaan sudah gelap dan dibelakang kami
adalah pohon-pohon yang lumayan rapat dimana kami tadi baru saja melaluinya.
Berbeda dengan apa yang kami lihat di depan mata kami; pemandangan lampu-lampu
jogja yang membentuk sebuah kumpulan cahaya seperti kumpulan gemintang di
langit.
Teman saya mengira kami sudah sampai di puncak
karena kebetulan baru saya yang pernah ke Gunung Purba. Sayangnya kami belum
sampai di puncaknya, tapi saya biarkan mereka menikmati apa yang bisa dinikmati
sambil meluruskan kaki dan melepas penat sejenak. Sebetulnya saya agak
kebingungan karena jalur yang kami lalui mengantarkan kami pada batu besar
tersebut. Meskipun demikian, buat saya malam itu adalah malam minggu terindah
karena saya bisa duduk santai melepas penat, bercengkerama dengan
sahabat-sahabat sambil menikmati jogja yang menjelma menjadi ribuan cahaya.
Sayup-sayup kami juga mendengar suara gamelan yang berasal dari entah. Anggap
saja itu berasal dari desa di kaki Gunung Purba ini. Saya tidak mau
menebak-nebak kemungkinan-kemungkinan lain yang mungkin berujung pada misteri. Bukannya
saya tidak suka akan misteri, tapi ada kalanya misteri tetap menarik dibiarkan
menjadi misteri. Dan misteri ini menjadi semakin menarik karena ia berupa tabuh
gamelan yang menjadi latar kami bercengkerama.
Tapi ada misteri lain
yang membuat saya mengernyitkan dahi begitu sampai di puncak batu itu. Saya biarkan
diri saya tenang untuk mencari jalan keluar akan masalah yang awalnya Cuma saya
yang tahu. Ya, meskipun kami nampak dipuncak tapi batu besar tempat kami
istirahat bukanlah puncak. Masalahnya adalah sehabis batu itu tak ada lagi
jalur untuk ke puncak yang saya tahu dibawahnya terdapat camping ground yang
luas. Misteri yang lain adalah jalur yang kami lalui sebelum sampai di puncak
batu tersebut bukanlah jalur yang pernah saya lalui. Jalur yang pernah saya
lalui dulu terhitung mudah dengan banyak bantuan plang-plang penunjuk arah dan
informasi yang sangat membantu. Sedangkan yang kami lewati adalah jalan setapak
yang kanan kirinya ditumbuhi pohon yang lebat. Kadang-kadang pohon-pohon itu
menutupi jalan sehingga perlu disibak terlebih dahulu. Bahkan ada juga pohon
berduri yang sempat melukai kaki saya dan jari tangan teman saya. Untuk hal
ini, saya salut dengan kegigihan teman-teman saya, terutama yang perempuan
karena mereka tetap gigih dan tangguh meskipun harus meraba-raba jalan ditengah
gelap dengan medan yang cukup menanjak. Bahkan mereka tetap ceria dan memberi warna
pada pendakian kala itu. Sesekali salah satu teman saya bercanda konyol
sesekali berujar alay, dan sesekali tertawa terbahak-bahak yang memecah
keheningan dengan suara cemprengnya. Sedangkan teman saya yang satunya yang
saya tidak sangka-sangka telah mendaki merbabu dua kali terlihat baik-baik saja
dengan semangat terukir di wajah dan cahaya matanya di dalam diamnya. Sedangakan
teman saya yang satunya tak perlu dipertanyakan lagi, dia senior saya dalam
kaitanya dengan hal semacam ini. Tapi yang mengejutkan adalah ternyata dia
termasuk orang yang bisa banyak bicara sekedar mengenyahkan keheningan. Selama ini,
sebelum ke Gunung Purba, yang saya tahu dia termasuk pendiam dan pendek kata. Ini
adalah misteri yang terungkap yang bisa jadi mengambang menjadi tanya sebelum
kami mendaki gunung yang tersusun dari batu-batu raksasa itu. Meskipun demikian
mereka tetap menarik, saya yakin banyak misteri yang tetap harus tersimpan
menjadi rahasia dalam masing-masing individu. Pada akhirnya tanpa diminta
misteri itu akan terkupas dengan sendirinya tanpa perlu dipaksa dan
dimata-matai.
Jalur ini kami lewati
sehabis istirahat di Gardu Pandang 2 dimana setelah itu saya dan teman-teman
tidak melihat satu pun plang penunjuk. Memang saya akui jalur yang kami lewati
lebih menarik, tidak monoton, dan lebih membutuhkan lebih banyak perjuangan
dibandingkan jalur yang sebenarnya, tapi tetap saja menyisakan tanya. Tanya yang
menyimpan misteri dan tetap menarik dibiarkan menjadi misteri meskipun rasa
penasaran membuat kami mencoba mencari tahu hingga esok hari.
Ketiga, adalah
bagaimana kami harus berjalan agar sampai di tempat kemah. Disekitar tempat
kami duduk adalah hutan yang cukup lebat seperti yang telah saya terangkan. Mendirikan
tenda diatas batu juga agak berbahaya.
Keempat dan seterusnya
adalah kenapa kami bisa sampai ditempat buntu itu; bukan puncak Gunung Purba
tetapi tak ada lagi jalur untuk kami naik. Dimanakah awalnya?
Ketika itulah saya
merasa mendapat keberruntungan. Ya, beruntung karena malam itu malam minggu
yang kata Bapak penjual cilok yang saya temui di kaki Gunung Purba ini
mengatakan bahwa malam minggu biasanya ramai oleh pengunjung. Tidak lama
setelah kami mencoba mencari jalur untuk kepuncak saya melihat sorot lampu. Tidak
menunggu lama, saya dan teman-teman mencoba mengejar mereka. Kami turun kembali
dan sungguh terkejut ketika kami menjumpai gazebo yang bertuliskan Gardu
Pandang 4 beserta petunjuk arah ke puncak. Tanda Tanya besar melayang-layang
dan mengembung diatas kepala, dimanakah Gardu Pandang 3? Tapi pertanyaan ini
kemudian tertutup oleh kelegaan dan keriangan bahwa pada akhirnya kita berada
di jalur yang benar tanpa menafikan bahwa yang kami lalui sungguh menarik. Tengoklah
bagaimana kami berbagi lampu penerangan karena kami Cuma bawa satu dan sisanya
adalah dua senter HP yang redup. Ketika itu karena gelap oleh malam dan
pepohonan rimbun sedangkan jalur cukup terjal, kami harus bergantian berjalan;
satu jalan dulu di depan kemudian menerangi yang dibelakang. Begitu seterusnya
dan seterusnya untuk saling menunggu, menerangi, dan saling menyemangati.
Setelah itu kami
mendaki jalur yang sebenarnya. Memang lebih mudah tanpa mencoba meremehkanya
jika dibandingkan dengan apa yang telah kami lewati. Tidak lebih dari 10 menit
kami di sambut keramaian. Ada yang menyanyi dengan gitar akustiknya, ada yang
tertawa terbahak. Segala riuh itu berpadu menjadi satu ditengah langit malam
berbintang dan api-api unggun kecil yang mencoba merebak malam. KAMI SAMPAI DI
TEMPAT KEMAH.







