Selasa, 22 Juli 2014

Mendaki Gunung Sumbing

Dia tahu, dia rasa, Maka tersenyumlah kasih
Tetap langkah jangan henti, cinta ini milik kita

Mendaki Gunung Sumbing diawali dengan doa dan sebuah alunan lagu romatis dari seoarng penyeru kritik, Iwan Fals. Romantis dengan cita rasa yang tentu saja berbeda. Saya mendaki gunung ini, kurang lebih setahun setelah saya mendaki saudara kembarnya, Gunung Sindoro. Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3371 mdpl, lebih tinggi dibandingkan dengan gunung Sindoro. Yang saya suka dari keduanya adalah bahwa mereka begitu presisi dan konsisten dilihat dari seluruh penjuru mata angin meskipun Gunung Sindoro tampak lebih ideal jika kita kembalikan ke gambar-gambar gunung sewaktu kita duduk dibangku TK maupun SD.
Dari beberapa milis backpacker banyak yang merekomendasikan pendakian Sumbing lewat Jalur Garung, maka, jam enam pagi saya dan teman pendaki setia saya pun berangkat dari Jogja menuju Wonosobo setelah kami menghangatkan badan dengan susu coklat panas dan jeruk anget di burjo dekat kos-kosan teman saya itu. Perut saya masih cukup mengantuk untuk sarapan jam enam pagi, setelah membayar, kami mengecek perlengkapan,meregangkan tubuh, menstarter motor, tancap gas dan go... kami menyusuri jalanan yang belum terlalu padat. Bersama-sama dengan anak-anak sekolah baik putih biru maupun abu-abu motor kami melaju dengan begitu ceria lalala yeyeye.
Dari kejauhan, Gunung Sumbing bak seorang resi; tenang dan tampak begitu anggun. Biru yang tak melulu sedih tapi indah dan damai. Ia disana tak terusik. Seperti Budha dalam meditasi yang dalam. Saya memang buta warna, tapi saya masih bisa melihat warna biru dengan guratan-guratan di bagian punggungnya. Siapa yang tahu bahwa dari kejauhan yang nampak tenang dan penuh wibawa, ia menyimpan belantara, padang sabana, medan terjal berbatu dan mitos-mitos yang tak lekang. Diluar itu, tentu saja ia adalah rumah bagi ribuan petani yang hidup damai berdampingan dengannya. Kelak begitu kamu dekat, kamu akan melihat bidang-bidang lahan dimana benih disemaikan, bibit-bibit ditanam dalam barisan yang rapi setelah sebelumnya diberi pupuk, disiram, diobati ketika ada hama; bukankah ini serupa orang tua merawat anaknya, dan begitulah bagaimana petani mengasihi wortel-wortelnya, kol, cabai rawit, cabai keriting, atau bahkan tembakau sekalipun yang mana akan ditemui di perjalanan menuju pos I Gunung Sumbing.
Ditempat seperti ini pula akan ditemui petani-petani yang kuat dan bagaimana kesetaraan gender berlaku tanpa digembar-gemborkan dalam beberapa hal; seorang Ibu mungkin usia 40an membawa seikat besar kayu bakar. Dibelakangnya, seorang lelaki yang mungkin suaminya juga memikul kayu bakar. Jangan bandingkan dengan tas carrier bawaan saya yang Cuma 50 liter. Mereka menuruni jalanan berbatu yang telah ditata begitu rapi dan begitu telaten. Satu hal, saya pikir ibu-ibu yang berpapasan dengan saya di lereng Gunung Sumbing dan menyapa saya tak tahu itu apa kesetaraan gender, tapi toh ia mau keluar rumah dan melakukan apa yang suaminya lakukan. Mungkin juga ia seperti ibu saya, tetap bekerja di sawah seperti suaminya tapi tetap menghawatirkan anak perempuanya jika tak kunjung menikah. Dan sama seperti Ibu saya, mungkin setelah menggendong kayu bakar yang sampai terbungkuk-bungkuk di punggungnya itu, ia harus memasak untuk anak dan suaminya. Betapa perkasa perempuan-perempuan ini, di saat lelaki mungkin istirahat, ia masih perlu memikirkan perut orang diluar dirinya. Mereka wanita-wanita yang mengerjakan beberapa pekerjaan laki-laki tapi tak perlu menjadi laki-laki. Dan ngomong-ngomong, di tempat tinggal saya, ada juga lho perempuan yang mencangkul sawahnya sendiri karena tak punya suami.
Meskipun mereka bersusah payah naik turun gunung dengan beban di punggung maupun di pundak, mereka makan dari peluh mereka sendiri. Saya bisa bertaruh, mereka tak melakukan money laundry apalagi mobil mercy. Uang tabungan mereka mungkin tak seberapa. Tapi, mereka tetap bisa ketawa.
Saat saya mendaki Gunung Sumbing, kebanyakan tanaman baru tumbuh menjadi remaja yang hijau atau bahkan baru saja di cocok kecuali tanaman cabai dibeberapa bidang lahan yang saat itu tengah di panen. Tanaman tembakau yang hampir ada di setiap lahan yang membujur dari lembah hingga perbukitan pun bahkan ada yang baru ditanam. Hanya beberapa yang hampir di panen. Jalur yang kami lalui terus mendaki, dari tempat dimana saya berdiri saat itu, yang nampak adalah bidang-bidang tanah yang dibagi-bagi membentang dari ujung kaki saya hingga ujung pandang yang terhalangi bukit kemudian masuk perkampungan-perkampungan untuk kemudian perkebunan lagi ke utara terus naik hingga kita bisa melihat pucuk Gunung Sindoro dari kaki Gunung Sumbing ini.
Perjalanan akan terus naik dengan sedikit sekali jalur landai dan akan membawa kita meninggalkan perkebunan menuju hutan cemara yang sesekali berbisik karena terusik angin. Jalur pun menyempit dan mengantarkan kita pada semak belukar yang lebat dan tinggi, deru kendaraan semakin lirih terdengar hingga pada akhirnya semakin menanjak dan kita akan sampai di sebuah padang sabana yang berbukit-bukit hijau di bagian kanan maupun kiri. Padang sabana itu terhubung sekaligus dipisahkan oleh ceruk-ceruk lembah yang cukup terjal. Jika ditarik lebih jauh baik ke timur maupun ke barat, maka mata kita akan menemukan langit yang tak lain adalah biru sejauh yang mata kita mampu jangkau. Dalam keadaan seperti ini, apa lagi yang lebih baik daripada merebahkan tubuh sejenak diatas rerumputan dan menikmati langit yang hampir senja. Ini adalah kemewahan yang langka, yang tak bisa dinikmati di hingar bingar kehidupan kota. Saat itu, Gunung Sumbing terasa begitu romantis ditambah sebuah lagu yang mengalun indah dari Sang Legenda, Iwan Fals Buku Ini Aku Pinjam. Sempurna, lagu cinta ditengah sabana. Sesaat kemudian, saya merasa berada diatas awan ketika bergumpal-gumpal awan putih muncul menyeruak menutupi Gunung Sindoro dengan seluruh dari bawah padang hijau ini. Beruntung sekali dewa dewi yang tinggal di langit, bisa setiap hari melayang-layang  dan menapaki awan putih dan memandang senja maupun pagi. Kita manusia tempatnya di bumi, tempatnya realita yang bising.
Oh, saya bukanlah orang yang religius. Tapi, ditempat seperti inilah saya merasa dekat dengan Tuhan, Tuhan yang indah,  dengan cara yang romantis. Lihatlah bagaimana Ia menciptakan gumpalan-gumpalan awan putih  yang bergumul diterpa matahari dengan sinar lembut keemasan. Rasa dekat ini mungkin karena hening, saya bisa lebih melihat,lebih mendengar, dan lebih merasa dengan hati yang tidak tercemar bising dan deru yang membuat telinga pekak. Di tempat yang tinggi ini pula, saya bisa rehat dari hingar bingar rusuh tentang siapa yang lolos menjadi anggota DPR, siapa bakal capres dan cawapres. Saya juga tak perlu miris setiap kali membuka portal berita on line yang memuat polemic perbedaan keyakinan atau kasus korupsi yang tak ada ujungnya. “tanyakan pada rumput yang bergoyang”, disini saya merasa utuh dalam kedamaian yang tak perlu dibahasakan. Mungkin saya egois dan apatis tapi untuk sejenak saja, saya perlu mengganti gambaran tentang Indonesia yang tak melulu hitam. Saya ingin tahu, ada di suatu sudut, kawan, dimana kamu tak perlu mengeluh akan kasur yang kurang empuk, akan pendingin yang rusak, atau selimut yang kurang hangat. Di sini kawan, Tuhan terasa begitu nyata karena saya bisa bersyukur meskipun satu cangkir kopi buat berdua.
Lantas untuk apa terburu-buru, esok kita akan kembali lagi kepada jalanan yang penuh jelaga dan debu. Untuk saat ini, biarlah sejenak larut dalam hening yang tak berbahasa.
Jika diperhatikan lebih seksama, hamparan padang sabana yang berbukit bukit ternyata adalah bukit batu. Ada celah-celah yang tidak ditumbuhi rumput di sana. Batu-batu itulah yang kelak akan menjadi jalur ke puncak dan menyusun puncak Gunung Sumbing. Awalnya nanti disebuah tempat bernama Pasar Watu, kemudian jalur akan menurun sebentar karena habis itu akan  mendaki lagi, disanalah ada sebuah batu besar  lebih besar dari kamar kos saya tentunya, bahkan lebih besar dari outleat-outleat Indomaret. Batu itu disebut Watu Kotak, tempat bagi para pendaki untuk membangun tenda jika masih tersedia tempatnya. Setelah Watu Kotak ini, jalur Pendakian Gunung Sumbing hampir semuanya berbatu. Kelak sebelum puncak, jalur berbatu ini akan semakin curam. Dan kelak saya harus merelakan tenda yang telah disewa seharga 25 ribu perhari tidak terpakai karena kami tak menemukan tempat untuk mendirikan tenda. Ketika itulah saya juga akan tahu bahwa teman pendaki saya phobia ketinggian. Tahukah bahwa ia begitu ingin terjun setiap kali melihat jurang atau tebing yang terjal. Tapi ia tentu saja tak menyerahkan diri pada tebing-tebing curam berbatu itu. Ia bersama saya dipuncak dengan haru biru menunggu terbitnya matahari seperti mertua menunggu cucu pertamanya lahir. Begitu antusias. Makin lama langit makin cerah dengan garis lurus warna orange yang lembut membentuk gradasi bertumpuk tumpuk dengan warna biru muda kemudian menjadi tua begitu menjauh dengan calon matahari.
Kabut pagi membuat Gunung Merapi dan Merbabu melayang di atas awan di sebelah timur. Makin lama, gradasi warna orange tumpah, semakin ke inti semakin kuat warnanya yang perlahan mengabur menjadi biru ketika semakin jauh dari inti itu. Biru itu semakin melebur dengan kuning dan orange yang membuncah dari sebuah inti detik demi detik. Kali ini inti yang dimaksud lebih kuning daripada orange, inti yang tidak hanya membuuat kulit saya menjadi hangat, tapi juga riuh sorak dan luapan bahagia. Inti itu satu yang disebut dengan matahari. Mendaki Gunung Sumbing pun lunas sudah.