Dia tahu, dia
rasa, Maka tersenyumlah kasih
Tetap langkah
jangan henti, cinta ini milik kita
Mendaki
Gunung Sumbing diawali dengan doa dan sebuah alunan lagu romatis dari seoarng
penyeru kritik, Iwan Fals. Romantis dengan cita rasa yang tentu saja berbeda. Saya
mendaki gunung ini, kurang lebih setahun setelah saya mendaki saudara
kembarnya, Gunung Sindoro. Gunung Sumbing memiliki ketinggian 3371 mdpl, lebih
tinggi dibandingkan dengan gunung Sindoro. Yang saya suka dari keduanya adalah
bahwa mereka begitu presisi dan konsisten dilihat dari seluruh penjuru mata
angin meskipun Gunung Sindoro tampak lebih ideal jika kita kembalikan ke
gambar-gambar gunung sewaktu kita duduk dibangku TK maupun SD.
Dari beberapa milis
backpacker banyak yang merekomendasikan pendakian Sumbing lewat Jalur Garung,
maka, jam enam pagi saya dan teman pendaki setia saya pun berangkat dari Jogja menuju
Wonosobo setelah kami menghangatkan badan dengan susu coklat panas dan jeruk
anget di burjo dekat kos-kosan teman saya itu. Perut saya masih cukup mengantuk
untuk sarapan jam enam pagi, setelah membayar, kami mengecek
perlengkapan,meregangkan tubuh, menstarter motor, tancap gas dan go... kami
menyusuri jalanan yang belum terlalu padat. Bersama-sama dengan anak-anak
sekolah baik putih biru maupun abu-abu motor kami melaju dengan begitu ceria
lalala yeyeye.
Dari kejauhan, Gunung
Sumbing bak seorang resi; tenang dan tampak begitu anggun. Biru yang tak melulu
sedih tapi indah dan damai. Ia disana tak terusik. Seperti Budha dalam meditasi
yang dalam. Saya memang buta warna, tapi saya masih bisa melihat warna biru
dengan guratan-guratan di bagian punggungnya. Siapa yang tahu bahwa dari
kejauhan yang nampak tenang dan penuh wibawa, ia menyimpan belantara, padang
sabana, medan terjal berbatu dan mitos-mitos yang tak lekang. Diluar itu, tentu
saja ia adalah rumah bagi ribuan petani yang hidup damai berdampingan dengannya.
Kelak begitu kamu dekat, kamu akan melihat bidang-bidang lahan dimana benih
disemaikan, bibit-bibit ditanam dalam barisan yang rapi setelah sebelumnya
diberi pupuk, disiram, diobati ketika ada hama; bukankah ini serupa orang tua
merawat anaknya, dan begitulah bagaimana petani mengasihi wortel-wortelnya,
kol, cabai rawit, cabai keriting, atau bahkan tembakau sekalipun yang mana akan
ditemui di perjalanan menuju pos I Gunung Sumbing.
Ditempat seperti ini
pula akan ditemui petani-petani yang kuat dan bagaimana kesetaraan gender
berlaku tanpa digembar-gemborkan dalam beberapa hal; seorang Ibu mungkin usia
40an membawa seikat besar kayu bakar. Dibelakangnya, seorang lelaki yang
mungkin suaminya juga memikul kayu bakar. Jangan bandingkan dengan tas carrier
bawaan saya yang Cuma 50 liter. Mereka menuruni jalanan berbatu yang telah
ditata begitu rapi dan begitu telaten. Satu hal, saya pikir ibu-ibu yang
berpapasan dengan saya di lereng Gunung Sumbing dan menyapa saya tak tahu itu
apa kesetaraan gender, tapi toh ia mau keluar rumah dan melakukan apa yang
suaminya lakukan. Mungkin juga ia seperti ibu saya, tetap bekerja di sawah
seperti suaminya tapi tetap menghawatirkan anak perempuanya jika tak kunjung
menikah. Dan sama seperti Ibu saya, mungkin setelah menggendong kayu bakar yang
sampai terbungkuk-bungkuk di punggungnya itu, ia harus memasak untuk anak dan
suaminya. Betapa perkasa perempuan-perempuan ini, di saat lelaki mungkin
istirahat, ia masih perlu memikirkan perut orang diluar dirinya. Mereka wanita-wanita
yang mengerjakan beberapa pekerjaan laki-laki tapi tak perlu menjadi laki-laki.
Dan ngomong-ngomong, di tempat tinggal saya, ada juga lho perempuan yang
mencangkul sawahnya sendiri karena tak punya suami.
Meskipun mereka
bersusah payah naik turun gunung dengan beban di punggung maupun di pundak,
mereka makan dari peluh mereka sendiri. Saya bisa bertaruh, mereka tak
melakukan money laundry apalagi mobil mercy. Uang tabungan mereka mungkin tak
seberapa. Tapi, mereka tetap bisa ketawa.
Saat saya mendaki
Gunung Sumbing, kebanyakan tanaman baru tumbuh menjadi remaja yang hijau atau
bahkan baru saja di cocok kecuali tanaman cabai dibeberapa bidang lahan yang
saat itu tengah di panen. Tanaman tembakau yang hampir ada di setiap lahan yang
membujur dari lembah hingga perbukitan pun bahkan ada yang baru ditanam. Hanya
beberapa yang hampir di panen. Jalur yang kami lalui terus mendaki, dari tempat
dimana saya berdiri saat itu, yang nampak adalah bidang-bidang tanah yang
dibagi-bagi membentang dari ujung kaki saya hingga ujung pandang yang
terhalangi bukit kemudian masuk perkampungan-perkampungan untuk kemudian
perkebunan lagi ke utara terus naik hingga kita bisa melihat pucuk Gunung
Sindoro dari kaki Gunung Sumbing ini.
Perjalanan akan terus
naik dengan sedikit sekali jalur landai dan akan membawa kita meninggalkan
perkebunan menuju hutan cemara yang sesekali berbisik karena terusik angin.
Jalur pun menyempit dan mengantarkan kita pada semak belukar yang lebat dan
tinggi, deru kendaraan semakin lirih terdengar hingga pada akhirnya semakin
menanjak dan kita akan sampai di sebuah padang sabana yang berbukit-bukit hijau
di bagian kanan maupun kiri. Padang sabana itu terhubung sekaligus dipisahkan
oleh ceruk-ceruk lembah yang cukup terjal. Jika ditarik lebih jauh baik ke
timur maupun ke barat, maka mata kita akan menemukan langit yang tak lain
adalah biru sejauh yang mata kita mampu jangkau. Dalam keadaan seperti ini, apa
lagi yang lebih baik daripada merebahkan tubuh sejenak diatas rerumputan dan
menikmati langit yang hampir senja. Ini adalah kemewahan yang langka, yang tak bisa
dinikmati di hingar bingar kehidupan kota. Saat itu, Gunung Sumbing terasa
begitu romantis ditambah sebuah lagu yang mengalun indah dari Sang Legenda,
Iwan Fals Buku Ini Aku Pinjam. Sempurna, lagu cinta ditengah sabana. Sesaat
kemudian, saya merasa berada diatas awan ketika bergumpal-gumpal awan putih
muncul menyeruak menutupi Gunung Sindoro dengan seluruh dari bawah padang hijau
ini. Beruntung sekali dewa dewi yang tinggal di langit, bisa setiap hari
melayang-layang dan menapaki awan putih
dan memandang senja maupun pagi. Kita manusia tempatnya di bumi, tempatnya
realita yang bising.
Oh, saya bukanlah orang
yang religius. Tapi, ditempat seperti inilah saya merasa dekat dengan Tuhan,
Tuhan yang indah, dengan cara yang
romantis. Lihatlah bagaimana Ia menciptakan gumpalan-gumpalan awan putih yang bergumul diterpa matahari dengan sinar
lembut keemasan. Rasa dekat ini mungkin karena hening, saya bisa lebih
melihat,lebih mendengar, dan lebih merasa dengan hati yang tidak tercemar
bising dan deru yang membuat telinga pekak. Di tempat yang tinggi ini pula,
saya bisa rehat dari hingar bingar rusuh tentang siapa yang lolos menjadi
anggota DPR, siapa bakal capres dan cawapres. Saya juga tak perlu miris setiap
kali membuka portal berita on line yang memuat polemic perbedaan keyakinan atau
kasus korupsi yang tak ada ujungnya. “tanyakan pada rumput yang bergoyang”,
disini saya merasa utuh dalam kedamaian yang tak perlu dibahasakan. Mungkin
saya egois dan apatis tapi untuk sejenak saja, saya perlu mengganti gambaran
tentang Indonesia yang tak melulu hitam. Saya ingin tahu, ada di suatu sudut,
kawan, dimana kamu tak perlu mengeluh akan kasur yang kurang empuk, akan
pendingin yang rusak, atau selimut yang kurang hangat. Di sini kawan, Tuhan
terasa begitu nyata karena saya bisa bersyukur meskipun satu cangkir kopi buat
berdua.
Lantas untuk apa
terburu-buru, esok kita akan kembali lagi kepada jalanan yang penuh jelaga dan
debu. Untuk saat ini, biarlah sejenak larut dalam hening yang tak berbahasa.
Jika diperhatikan lebih
seksama, hamparan padang sabana yang berbukit bukit ternyata adalah bukit batu.
Ada celah-celah yang tidak ditumbuhi rumput di sana. Batu-batu itulah yang
kelak akan menjadi jalur ke puncak dan menyusun puncak Gunung Sumbing. Awalnya
nanti disebuah tempat bernama Pasar Watu, kemudian jalur akan menurun sebentar
karena habis itu akan mendaki lagi,
disanalah ada sebuah batu besar lebih
besar dari kamar kos saya tentunya, bahkan lebih besar dari outleat-outleat
Indomaret. Batu itu disebut Watu Kotak, tempat bagi para pendaki untuk
membangun tenda jika masih tersedia tempatnya. Setelah Watu Kotak ini, jalur
Pendakian Gunung Sumbing hampir semuanya berbatu. Kelak sebelum puncak, jalur
berbatu ini akan semakin curam. Dan kelak saya harus merelakan tenda yang telah
disewa seharga 25 ribu perhari tidak terpakai karena kami tak menemukan tempat
untuk mendirikan tenda. Ketika itulah saya juga akan tahu bahwa teman pendaki
saya phobia ketinggian. Tahukah bahwa ia begitu ingin terjun setiap kali
melihat jurang atau tebing yang terjal. Tapi ia tentu saja tak menyerahkan diri
pada tebing-tebing curam berbatu itu. Ia bersama saya dipuncak dengan haru biru
menunggu terbitnya matahari seperti mertua menunggu cucu pertamanya lahir.
Begitu antusias. Makin lama langit makin cerah dengan garis lurus warna orange
yang lembut membentuk gradasi bertumpuk tumpuk dengan warna biru muda kemudian
menjadi tua begitu menjauh dengan calon matahari.
Kabut pagi membuat
Gunung Merapi dan Merbabu melayang di atas awan di sebelah timur. Makin lama,
gradasi warna orange tumpah, semakin ke inti semakin kuat warnanya yang
perlahan mengabur menjadi biru ketika semakin jauh dari inti itu. Biru itu
semakin melebur dengan kuning dan orange yang membuncah dari sebuah inti detik
demi detik. Kali ini inti yang dimaksud lebih kuning daripada orange, inti yang
tidak hanya membuuat kulit saya menjadi hangat, tapi juga riuh sorak dan luapan
bahagia. Inti itu satu yang disebut dengan matahari. Mendaki Gunung Sumbing pun
lunas sudah.




