Mocca memang tidak popular tapi mocca adalah ice cream yang paling aku suka di sebuah tempat bernama Coklat. Ia adalah coklat dan kopi sekaligus dalam satu gigitan. Tapi ia bukan kopi, ia pun bukan coklat. Ia memiliki kelamin baru. Ia androgyny. Coklat tak boleh mengalahkan kopi, kopi pun tak boleh mengalahkan coklat. Mereka harus padu. Mereka harus satu. Tak ada yang saling menguasai untuk menjadi sesuatu yang baru, sesuatu yang bernama Mocca.
Aku pernah mencoba ice cream strawberry dalam sebuah menu bernama Sunday Rainbow. Hmm tentu saja penuh warna-warna terang nan menggiurkan. Tapi lidahku tak cocok dengan manisnya. Bagi orang lain menu tersebut mungkin enak. Tapi bagi yang lain mungkin biasa. Dan bagi sebagian yang lain mungkin akan memilih Sundae Moluccas perpaduan ice cream mocca dan coklat. Dan kamu bisa melupakan coklat jika tak menghendaki coklat ada di sana. Pasalnya, mocca sendiri telah coklat dan kopi. Tentu saja bagi yang mengerti.
Kenapa aku suka mocca? Biar aku pikir sebentar. Jawabanya akan sedikit filosofis dan memang begitu. Mocca sendiri yang bilang bahwa hidup itu tak sepenuhnya manis ada sisi pahit yang harus diterima dan kalau bisa dinikmati. Itulah esensinya mocca. Kopi yang pahit bisa dinikmati dengan nikmat. Lantas aku bertanya, mungkinkah pahitnya dunia bisa dinikmati? Tentu saja Mocca menjawab bisa. Kenapa takut menangis? Kenapa takut gelap? Kenapa takut jatuh? Mocca melanjutkan, bukankah kesemuanya itu telah Tuhan gariskan.
Aku masih berbincang dengan Mocca pada suatu hari yang cukup syahdu dimana langit tak begitu terik tapi juga tak begitu mendung. Begitu saja ia datang. Tiba-tiba. . Ditempat yang sama dengan menu yang sama. Pertama kalinya mengejutkan. Tapi habis itu ia selalu aku nanti. Dan hanya ditempat inilah aku bisa berbincang denganya. Hanya ditempat inilah aku bisa bertemu denganya. Makanya ketika aku ingin sekali bertemu denganya. Aku ke tempat ini. Sekadar mendengarkan ia berbicara apa pun dan tak pernah membosankan. Sebuah lagu tahun 90an sedang terdengar di caf← ini. Sebuah lagu dari Robby William, A Better Man. Aku suka lagu itu.
Tentu saja kau suka. Kata Mocca mengejutkanku. Kamu mendengarkan hampir setiap pagi sebelum mandi dan sarapan. Aku terkekeh.
Darimana kamu tahu?
Apa yang tak aku ketahui tentang kamu? Yang kamu tahu aku juga tahu.
Tampak tak adil. Yang kamu tahu belum tentu aku tahu.
Tidak begitu. Mungkin kamu kurang peka dan melihat. Itu saja.
Kali ini ia datang dengan begitu ceria. Benar-benar ceria. Tanpa dibuat-buat seperti ceria biar aku terhibur. Ia jujur dengan perasaanya. Pernah ia datang dengan wajah yang lusuh. Saat itulah aku melihat air matanya. Ia sedih. Benar-benar sedih. Bukan pura-pura sedih. Bukan menyedih-nyedihkan sesuatu. Ia terduduk begitu saja di depanku. Ia tak mau menjawab pertanyaanku mengenai hal yang membuatnya begitu rupa. Ia memuaskan tangisnya. Aku lupa mungkin 15 menit. Tentu saja beberapa customer caf← ini memandangi kami. Sehabis 15 menit itu ia perlahan-lahan pulih. Lalu ia mulai mengatakan alasan yang klise mengenai tangisnya itu dengan lugas. "aku habis putus dengan pacarku". Sudah begitu saja. habis itu jarang kulihat dia menangis lagi. Sesekali memang ia termenung. Ketika kutanya ada apa ia menjawab "aku keingat dia". Tapi habis itu sudah. Begitulah tentangnya. Lugas dan jujur.
Suatu hari aku mengatakan bahwa aku ingin seperti Mocca yang bisa memperlakukan dua hal dengan setara tanpa saling mengalahkan atau saling menguasai. Aku ingin seperti Mocca yang bisa memperlakukan air mata dan tawa dengan adil.
Ia hanya tertawa setiap kali aku bertanya demikian.
Kamu kopi yang membenci kopi. Katanya padaku. Jawaban itu tidak membuatku senang maupun sedih. Karena faktanya aku suka minum kopi. Kopi hitam bukan cappuccino atau latte. Aku memandanginya karena ia terdiam serius memandang ku.
Kenapa? Ada apa?
Aku tahu kamu suka kopi. Dan harusnya kamu bisa juga menyeruput kopi yang sesungguhnya yang tanpa gula. Yang ada bahkan ketika kamu tak menghendakinya sama sekali.
Tapi meskipun demikian tidak selalu ia tertawa bahagia. Seperti yang aku katakana tadi, pernah aku melihat air matanya, bukan hanya setitik atau dua. Air mata itu serupa hujan deras bulan November. Ia menangis tanpa tanpa berusaha menghentikan air matanya. Ia menangis begitu saja seperti ketika ia tertawa. Ketika ia harus meraung karena pedihnya maka ia meraung dengan air mata hingga kepalanya nyeri.
Aku tak tahu sama sekali, ia seperti seorang psycho. Kadang hanya 10 menit ia menangis. Kadang juga 15 menit. Tapi ia pernah menangis selama 1 jam. Meskipun Cuma 10 menit, 15 menit atau bahkan hingga berjam-jam, ketika ia menangis, ia biarkan air matanya ia biarkan tangis itu. ia biarkan tangis itu menikmatinya hingga aku bertanya dan merasa bahwa tangis dan Mocca saling menikmati. Habis itu ia telah seperti biasa. Kamu tahu, seperti langit cerah sehabis gerimis. Habis itu ia telah bisa lagi tertawa, tawa yang riang. Dan ia juga tak menerima tawa itu dengan tangan terbuka. Demikian juga ketika tawa itu pergi dan ia harus menyambut air mata, ia pun menyambut dengan tangan terbuka.
Lagu ini membuatku menikmati kesedihan. Ungkapnya. Sebuah lagu telah diputar di ruangan dimana kita tengah asik berbincang. Bedshapped dari Keane.
Don't laugh at me
Don't look away
You'll follow me back with sun in your eyes
And on your own bedshapped and legs of stone
You'll knock on my door
end up we'll go
In white light
I don't think soナ.
ia menyanyi menirukan dengan suara lirih.
Aku menikmati momen itu, momen ketika ia terhanyut dalam emosi lagi. Momen ketika ia memalingkan wajahnya ke jendela dan memandangi lalu lalang jalan raya. Sesaat kemudian ia berpaling kearah ku dan tersenyum. Kemudian ia menjelaskan betapa lagu tadi begitu mengena dihatinya. Aku tak pernah bosan mendengarnya bercerita sama seperti aku tak pernah bosan denggan mocca. Ceritanya selalu menarik meskipun kadang-kadang aku tak memahaminya.
Aku mencintaimu? Ungkapku padanya seketika. Aku rasa aku tak bisa lagi memainkan bahasa dihadapanya. Aku hanya bisa lugas saja. dan itu adalah yang keluar dari mulutku. matanya mengerling. Ia Nampak terkejut. Ia diam sebentar lalu menatapku dalam. Ia tak mengatakan terimakasih. Ia juga tak mengatakan minta maaf tidak bisa. Ia masih diam. Ia mencoba meyakinkanku dalam bahasa non verbalnya. Ia berusaha membangunkan aku.
Tak apa-apa jika kamu tak mencintaiku. Kita bisa berteman saja bukan? Aku tak mempersoalkanya.
Ia kemudian menggenggam tanganku masih dengan tatapan dalamnya.
Tentu saja kamu harus mencintaiku. Tapi tentu saja aku tak bisa menjadi kekasihmu.
Kenapa?
Tanpa menjawab sosoknya telah menghilang. Tak ada siapa-siapa lagi kecuali gelas ice cream yang telah kosong. Seperti biasanya aku meminta bill, pria ikal berkaca mata itu yang lagi-lagi mengantarkan bill-nya.