Selasa, 28 Januari 2014

ESPRESSO

Coffee by Mark Kazav

Sari kopi yang diekstrak, Cuma 30 ml saja. Tapi percayalah, yang 30 ml itu sanggup membuatmu terbangun karena pahit  yang tidak biasa. Apa enaknya; pahit dan sedikit, bukankah lebih baik memesan teh hangat atau cappuccino. Bisa jadi yang kedua tersebut harganya sama, bahkan lebih murah. Akan tetapi, yang pahit dan sedikit ini bisa jadi adalah media untuk membuka mata dan melihat dunia dengan lebih terbuka meskipun mendebarkan. Tak perlu menambahkan gula, berapa pun jumlah yang engkau tuangkan pahit itu tetap terasa. Mungkin kamu hanya akan mengaduk-aduk saja hingga lupa espresso itu menjadi dingin. Kamu pun akan lupa dan jika tidak lupa, kamu akan malas meminumnya. Langsung tenggak saja seperti meminum obat, boleh langsung atau sedikit demi sedikit sambil lidahmu mengecap rasa yang pahit itu menggerayangimu hingga kerongkongan. Rasakanlah jantung yang lebih cepat berdetak. Mungkin kulitmu akan meremang menahan getir yang hanya sementara. Sehabis itu, rasa itu akan enyah dan membuatmu lebih hidup. Kamu mungkin tak sadar, kamu tengah bercinta dengan cara yang berbeda. Tapi, sedikit saja yang bisa memahami.
Oh espresso, kau begitu mini tapi kau penuh kuasa. Namamu mungkin terlalu keren hingga banyak orang terperdaya dan pada akhirnya terperangah ketika kau disajikan diatas meja di depan mata manusia yang baru sekali itu mengenalmu. Kau sering dicampakan dan tetap menggenang dalam cangkir mini yang senantiasa memelukmu sebelum kamu masuk ke wastafel; saat dimana kau berpisah dengan wadah yang membuatmu berarti. Mungkin kamu tertawa dengan wajah-wajah yang nampak bodoh karena merasa tertipu. Kau pun mungkin menangis dan kehilangan kehangatan ketika diombang-ambingkan. Kau boleh mengumpat pada manusia semacam ini. Kau lebih hafal manusia jenis apa yang sanggup menerima ledakanmu hingga pembuluh arteri. Sisanya, mungkin hanya remaja yang tengah asyik mencoba dan belum pernah berkenalan dengan mu. Kamu tahu kan, dalam dunia manusia ada yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”. Akan tetapi, kami manusia memang terlahir untuk tidak menerima yang pahit, makanya kami menambahkan gula pada kopi. Padahal, tanpa gula kamu tak kan kehilangan esensimu. Ah, aku tahu kamu tak memusingkan hal ini. Lagipula, yang pahit itu justru bisa menjadi ladang untuk lebih mawas dan waspada. Sayangnya manusia kebanyakan tak siap dengan yang pahit, makanya banyak yang terkena gula darah karena mereka terlalu memuja sari tebu itu. Manis memang sering melenakan dan kau sering dikesampingkan meskipun sama-sama makhhluk ciptaan Tuhan.
Tak semua manusia seperti itu, kau pun tahu itu. Ada yang tidak suka, ada juga yang selalu rindu jika kau tak menyapa; rindu yang membuat kepala pening, rindu yang mencandu. Yang ini aku tak sepakat dengan kamu. Ada masa dimana kita harusnya berdiri sendiri tanpa perlu terikat bukan? Ada masa dimana kita boleh merindu tapi tetap merasakan keindahan, bukan luka atau pun nyeri. Kau membantu melihat dunia menjadi lebih terang, tapi pada akhirnya kau membuat mereka terbutakan tanpa kamu dan membiarkan cinta itu menjadi obsesif karena kamu posesif. Padahal kau tetap ada tanpa pemuja, tapi pemuja itu kau biarkan mengkerut tanpa kamu.
Ah, bukankah itu karena yang mencintaimu juga. Kau tak sepenuhnya salah. Tak ada yang benar-benar salah. Aku bicara demikian karena dalam beberapa hal kau sering menemaniku. Kita tak saling menguasai. Pada akhirnya, aku tak segan memanggilmu teman. Kau bilang bahwa aku juga sering membuatmu bahagia dengan mempertemukan kamu dengan air panas yang kau anggap hangat itu. Kau selalu suka yang hangat. Aku suka sekali menikmati kebersamaan kalian yang tak terpisahkan; kebersamaan yang menyatu, kebersamaan yang memberi arti satu dan lainnya. Lalu kalian menari bersama dalam penyatuan yang syahdu, saat itulah kalian mengijinkan aku melebur dalam sebuah cinta segitiga yang tak terobsesi untuk memiliki dia atau kamu. Nikmati saja apa yang ada, begitulah yang terjadi dan memang demikian; kita threesome.
Aku juga suka cemburu bagaimana kau yang selalu bisa membaur dengan apa dan siapa saja yang bersamamu. Kau membaur tanpa perlu jadi yang lain agar kau diterima, kau tetap jadi dirimu. Kau tak menyembunyikan pahitmu karena itu rasamu, karena itu kamu. Ah, bahkan kau hampir selalu membuat rasa yang lebih segar. Kau selalu terlihat tanpa berusaha mencolok. Aku ingin menjadi sepertimu yang tak gentar dan berani meskipun berbeda.
Aku ingin menenggakmu. Aku ingin menikmatimu. Aku ingin sepertimu. Tapi tunggu dulu, bukankah harusnya aku menunjukan rasa ku sendiri seperti kamu dengan rasa mu. Seperti yang selalu kamu bilang ketika kita tengah bersama “kamu tak perlu jadi A karena kamu B” .

Pagi ini, aku ingin bercinta denganmu dan dia. 

Kamis, 23 Januari 2014

DEWI YANG JATUH CINTA

Angel by Reneal
Sang Dewi jatuh cinta pada seorang pendaki yang liat itu. Awalnya sederhana saja, ketika pendaki tengah mendaki puncak semeru yang menjulang tinggi dan gagah tak tertandingi di seantero pulau Jawa itu, secara tak sengaja ia bertemu dengan seorang wanita yang tengah asik memetik bunga lavender. Pendaki itu mungkin tak tahu bahwa wanita itu adalah jelmaan sang dewi yang diutus Tuhan untuk memetik sari lavender. Semeru adalah surganya lavender di bulan Juni yang bunganya nampak seperti permadani yang berkibar kibar ungu dari kejauhan ketika dihembus angin bulan juni. Pendaki itu, yang telah malang melintang dalam pendakian, tahu kapan masa terbaik untuk menikmati semeru dititik terindah. Melihat perusakan itu, secara lugu dan lugas, si pendaki mengingatkan wanita yang tengah memetik lavender itu bahwa ia melanggar hukum. Hukum manusia yang dibuat oleh sebuah birokrasi, pemerintah. Ya, memang ada undang-undang yang melarang dengan jelas perusakan lingkungan termasuk pemetikan lavender atau edelweiss yang ada di gunung. Meskipun tak semua tahu tentang itu atau bisa jadi tahu tapi pura-pura tak tahu.
Tak semestinya pendaki mengambil apa pun yang ada di gunung kecuali gambar-gambar yang bisa diabadikan melalui sebuah alat bernama kamera. Sang dewi terkesiap. Ia gugup. Ia terpana dengan pernyataan tersebut. Maka dengan nada yang sopan sang dewi meminta maaf. Dan sebagaimana umumnya para pendaki, ia memulai bertanya darimana asalnya untuk basa basi. Lantas obrolan-obrolan seperti sudah berapa lama menekuni hobi pendakian, apa gunung yang ingin sekali didaki, dan pengalaman paling menarik selama mendaki mengalir begitu saja. Seperti angin yang menggelayut diantara rumput-rumput diapadang savanna. Memang, percakapan sesama pendaki kadang terjadi begitu saja. kekaraban kadang muncul begitu lugas. Mungkin karena merasa memiliki kesamaan.
Setelah itu sang dewi yang bersemayam tinggi di langit yang agung mulai mengawasi pendaki yang tak juga hengkang dari pikiranya. Ia jatuh cinta sepertinya. Tapi ia tak tahu istilah itu. hanya saja, keingintahuan tentang pendaki itu kian besar. Ia berdebar setiap kali matanya bertemu dengan mata pendaki dalam angan-anganya. Ia gusar dan hanya ingin bertemu dengan pendaki itu secepatnya, entah bagaimana pun caranya. Belum terpikir bagaimana jika Tuhan mengetahuinya yang pasti telah Ia ketahui. Lagipula, apa yang tidak Ia ketahui. Tapi begitulah, ada sisi cinta yang membutakan. Kebutaan yang nikmat. Kebutaan yang tak menyakiti. Atau belum??
Sang dewi terus mengamati, kapan si pendaki akan mendaki lagi dari kejauhan seperti mata-mata. Lalu ia tahu, lusa si pendaki akan menelusuri Gunung Lawu. Disana ada curug sewu yang gemericiknya mengeluarkan riak putih nan indah. Dengan menggunakan pelangi ia terbang dan menepi di bebatuan curug. Pelangi itu menarik perhatian sang Pendaki. Bagaimana tidak, pelangi memiliki pesona yang sulit untuk diabaikan. Pesona yang sulit dihindarkan. Dan diujung pesona itu, ada bintang utama bak diva dengan rambut terurai basah sampai punggungya. Sejenak sang pendaki tak berkedip. Sepertinya tak asing. Ia perlu meyakinkan bahwa yang dialami bukan déjà vu. Dibalik gemericik yang nyaris riuh, tubuh sang dewi terbias cahaya mentari yang keemasan dan mega yang jingga. Sang dewi termangu menikmati bias senja diujung pelangi yang warna-warnanya seperti selendang-selendang maha besar terbentang. Dengan gugup si pendaki menyapa. Singkat saja di curug itulah kedekatan mereka mulai menuju kearah keintiman. Seperti puncak gunung dan kawah yang kadang tak terpisahkan. Dan sebagai pendaki ia adalah pengembara yang lihai memainkan kata serupa pujangga yang sebenarnya tak perlu karena sang dewi telah jatuh hati. Bahkan, sebelum si pendaki berkata-kata sekalipun. Bahkan, tanpa si pendaki berkata apa-apa pun cinta itu telah ada sebagai kekaguman yang tak biasa. Kekaguman yang membuat hati sang dewi bergetar. Kekaguman yang diam-diam membuatnya ingin menjadi manusia yang utuh. Ia telah terbutakan kini. Kebutaan yang ia tak sadari. Tuhan tak berkata-kata sebagai ungkapan bahwa sebenarnya itu tak bisa. Sebuah hukum alam yang tak bisa lagi diperbarui hanya karena perasaan melankoli. Hukum alam yang telah tercipta demikian dan memang harus demikian. Jika tidak, keseimbangan akan goncang, alam akan berputar pada poros yang berbeda. Seperti matahari yang harus terbit dari timur. Karena jika di barat, kiamat akan hadir sebagai mimpi buruk yang bahkan tak bisa terbayangkan. Tatanan rusak. Sumbu-sumbu bergeser dari porosnya. Tuhan tak mau mengorbankan itu hanya untuk satu Dewi yang merajuk.
Sang dewi terus hadir dalam jelmaanya sebagai manusia. Ia menyebut dirinya Pelangi. Ia menjelma menjadi wanita yang jelita. Ia telah sempurna dalam takaran bahwa tak ada yang sempurna. Tampaknya si pendaki pun telah jatuh hati pada wanita jelmaan dewi yang tidak ia ketahui. Setelah senja di curug sewu, sang dewi lebih sering menjadi manusia yang kasmaran. Si pendaki juga tampaknya sama. Terbawa kidung kasih yang memabukan. Tapi tak ada yang tahu pasti kedalaman hati manusia. Suatu kali sang dewi akan tahu bahwa ada kekosongan di dalam hati si pendaki. Semacam lara yang melubangi hatinya. Yang tak kan terisi oleh apa pun. Tak tergantikan. Bahkan, sang dewi sekalipun. Kelak, sang dewi merasakan lara untuk pertama kalinya. Untuk saat ini, sang dewi hanya merasakan kehidupan lain. Ia lugu soal hati terdalam. Maka yang ia lakukan adalah menikmati yang kini dan dan disini.
Sang dewi tanpa disadarinya telah berubah menjadi anak yang berani kalau bukan nakal. Tuhan pun berfirman bahwa sang dewi harus menghentikanya. Ini tak mungkin. Tak bisa. Lebih rumit dari perbedaan keyakinan. Ah, perbedaan keyakinan masih bisa diupayakan. Bukankah sebenarnya esensi keyakinan adalah sama. Hanya saja keyakinan-keyakinan tersebut memberi nama Tuhan dengan berbeda-beda. Akan tetapi esensi tentang Ketuhanan sebagai Yang Maha Tinggi, Yang Maha Asih, Yang Maha Agung bukankah sama. Tapi, kadang manusia mengartikan lain. Arti yang membuat perselisihan. Arti yang membuat perpisahan. Biar bagaiman pun, manusia memang memiliki keterbatasan dalam mengartikan. Ada memang yang tetap bertahan. Ada memang yang acuh dengan perbedaan tersebut. Tapi ada juga yang memilih untuk menjadi rasional. Katanya ada hukum yang telah mengatur. Katanya cinta tak harus memiliki. Sang dewi adalah salah satu yang tak peduli. Tampaknya bara dalam hatinya begitu dahsyat. Bara yang tak kenal logika.
Tapi ada yang tidak disampaikan Tuhan dalam hal ini kepada Sang Dewi. Sesuatu yang sederhana saja sebenarnya. Sesuatu yang sangat welas yang mungkin akan ditolak oleh kebutaan cinta. Bukan karena Tuhan cemburu. Hanya saja, Tuhan terlalu sayang pada sang dewi dan tak tega melihat dewi yang tak mengenal sakit pada akhirnya mengerti tentang perasaan yang fana. Perasaan sakit. Perasaan dikhianati. Sang dewi tak tahu air mata kesedihan yang begitu pribadi.
Bukankah ketika Engkau menciptakan dunia, Engkau telah tahu bagaimana manusia. Kami meragukan. Tapi manusia bisa membuktikan untuk bisa menjaga bumi meskipun tak semua. Kenapa yang ini tak bisa. Bukankah cinta adalah ciptaanmu juga. Kenapa Engkau larang wahai Sang Pengasih. Sang dewi merajuk.
Cinta ini bukan hamba yang meminta. Bukan hamba yang mencari. Cinta ini telah tercipta. Bukankah Engkau yang Maha Pencipta.
Lantas, Tuhan tak bisa tidak kecuali membiarkanya. Waktu berselang. Sang dewi bahagia seperti berada di puncak-puncak tertinggi. Waktu berselang lagi. Mentari tak pernah berhenti menandai tanggal hari dan bulan dalam jejak-jejak pagi siang dan malam. Ia terus mengalir patuh sesuai kodratnya tanpa bertanya. Itu tugas yang diembanya.
Waktu itu juga yang menunjukan ada air mata. Air mata bukan untuk siapa-siapa seperti selama ini ia menangisi kesedihan yang terjadi di Bumi karena manusia yang saling bertikai pada kesalah pahaman. Air mata ini untuk dirinya sendiri. air mata ini karena ia melihat air mata sang pendaki. Ia mengamati dari jauh seperti mentari yang bersinar tanpa perlu menyentuh. Dari jauh itu ia menemukan sebuah kenyataan pahit. Sang pendaki menangisi seoarang wanita yang benar-benar manusia. Wanita yang pernah ada di hidupnya. Wanita yang ia kasihi hingga berurai air mata. Wanita yang telah pergi dan kelak ia tahu wanita itu akan berlabuh pada pengembara lain. Sang dewi menangis akan kenyataan bahwa ia tak ubahnya seperti purnama ditengah hari. Ada tapi apa daya tak ada sinar. Ia terabaikan sebelum malam tiba. Ia hanyalah bayangan yang memantulkan sosok lain. Ia semu. Ia tidak nyata. Seperti wayang pelipur lara. Tak kurang apalagi lebih.
Ia telah merasakan menjadi manusia. Sisi manusia yang tak mudah. Sisi manusia yang sakit. ia baru tahu arti sebuah realita. Ia ingin menjadi rimba kini karena menjadi wanita yang meninggalkan si pendaki adalah tidak mungkin. Ia tetap bukan seorang manusia. Mau seperti apa pun, ia tak mampu menjadi wanita yang telah membuat si pendaki penuh dengan lara. Lara yang membuat sang dewi merasa terkapar, bahkan terseok ketika ia berupaya melangkahkan kaki. Setidaknya jika memang ia tak bisa dan tak akan pernah bisa menjadi wanita itu ia bisa menjadi rimba. Rimba yang selau menjadi cinta pertamanya selain wanita yang juga telah merenggut hati si pendaki yang telah merenggut hatinya. Rimba yang selalu dirindu. Rimba yang selalu ia jelajahi. Rimba yang selalu dikagumi. Rimba yang bukan bayangan dari wanita itu. Tak peduli betapa pun susah payahnya untuk menggapai puncak rimba-rimba yang ia taklukan. Tak peduli memar, kram dan cedera, rimba selalu dijadikan temanya, rimba selalu menjadi cintanya meskipun rimba tak selalu manis padanya. Pendaki akan hadir karena rindunya. Meskipun rimba kadang emnyakiti sekali pun, si pendaki selalu memiliki waktu untuk bersua.
Pahit. Ia bukanlah rimba apalagi wanita itu. ia hanya bayangan. Pun, ia bukan belukar maupun rumput kerdil yang rapuh sekalipun. Ia bukan siapa-siapa. Ia mungkin hanya titik kecil yang dianggap singgah.
Air mata si pendaki menjadi air matanya. Bagaimana rasanya sebuah keberadaan menjadi sebuah omong kosong. Bagaimana tawa, kata-kata indah hanya sesuatu tanpa makna. Tiba-tiba sang dewi ingin sendiri.

Hujan pun turun begitu deras. 

Café: Kencan Buta

The Son of Man by Rene Magritte
Suatu siang yang panas. Meskipun ruangan yang digunakan menggunakan AC, tapi suhu saat itu luar biasa sadis. TV dan surat kabar mengabarkan jogja berada di titik panas terekstrim. AC  tak bisa melawan. Mungkin karena panas, banyak tamu café yang datang. Sekadar minum es dan menghindar dari terik dan polusi mungkin.
Dari berbagai tamu café saat itu, ada satu tamu yang menarik. Bukan karena saking cantiknya atau saking gantengnya. Ia bahkan biasa. Lelaki paruh baya. Disebut juga om om dengan kepala yang hampir botak dan perut buncit. Ia mungkin di pertengahan 30an.
Ketika ada server yang mengantarkan menu, dengan sopan ia mengatakan bahwa ia akan pesan setelah temanya datang. Ia menunggu temanya. Mungkin seorang wanita. Jadi ia menghabiskan waktu dengan membolak-balikan menu dengan sabar. Kadang ia melirik-lirik jam atau televisi. Kadang ia celingak celinguk untuk memastikan yang ditunggu mengenalinya. Atau sebaliknya.
Maka seperti adegan sinetron atau FTV, dimeja lain ada seorang wanita muda. Sepertinya berusia 20 sekian. Cantik. Rambutnya legam menjuntai sampai dadanya. Manis, dengan behel gigi yang tertancap digiginya. Ia memakai rok balon setinggi lutut dengan atasan bunga-bunga. Vintage. Klasik. Elegan.
Saya menunggu teman. Jawabnya. Maka, teman saya pun membiarkan wanita cantik itu dalam kesendirianya. Ada pertanyaan yang tersisa, apakah mereka adalah dua insan yang tengah menunggu tanpa pernah bertemu sebelumnya kecuali melalui jejaring sosial yang kadang menggunakan foto dan nama samaran? Tak bisa dipungkiri, teknologi mendekatkan yang jauh meskipun bisa juga menjauhkan yang dekat. Kalau benar, bisa dipastikan mereka tengah melakukan kencan buta. Ini menarik sekaligus menggelikan. Saya dengan brutal menjadi penonton yang bertaruh pada beberapa teman di situ akan beberapa kemungkinan-kemungkinan.
Layaknya sebuah siaran TV, kami menyaksikan pertunjukan tersebut dengan takjub. Spekulasi-spekulasi kami lancarkan bahwa laki-laki yang menunggu temannya dan wanita yang menunggu temannya sedang saling menunggu. Jika demikian, benar saja kalau demikian. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Ini kencan buta seperti yang saya perkirakan.  Kami hanya menunggu momen-momen kebenaran menampakan diri. Selang beberapa menit kemudian, momen kebenaran itu pun tersibak. Benar saja, mereka adalah dua anak adam yang tengah saling menunggu. Si lelaki tampaknya sumringah menemukan bidadarinya. Beda dengan si wanita itu, ada gurat ketidaksenangan. Tampaknya ia kecewa. Ini sebuah realita yang tak bisa dielakan. Tak ada salahnya melakukan blind date. Hanya saja sangat disayangkan jika ada ketidakjujuran. Maka beginilah, ada kekecewaan pada akhirnya. Tapi tampaknya, media sosial sangat mendukung ketidakjujuran itu. Dari jauh, kencan buta tersebut terlihat kaku. Sepertinya sang wanita menampik kehadiran lelaki itu. Wanita itu nampak tak senang. Ada yang salah mungkin. Saya pun tidak tahu jika ada yang keliru disitu. Posisi saya hanyalah penonton saja. Apa mungkin lelaki itu berbeda dari deskripsi yang ia ketahui sebelumnya yang tak setampan dan sekekar yang ada di foto jejaring sosial. Ini semacam penipuan. Aku yang takjub apa memang itu hal yang wajar bagi manusia dunia digital akan beberapa ketidakjujuran yang terjadi.
Lelaki itu, berbeda dengan si wanita, terlihat senang-senang saja. Tapi, air muka si wanita tak bisa terelakan di mata sang lelaki. Air muka itu tetap saja mengganggu. Si lelaki berusaha membuka pembicaraan. Tanggapan si wanita datar-datar saja bahkan cenderung dingin dilihat dari pantry dapur.Jika saya berada disana, ini seperti berada di neraka paling dingin meskipun udara sebetulnya panas. Aku ingin mengakhiri tontonan itu. Akhir cerita sudah bisa ditebak. Ini bukanlah cerita berakhir bahagia.
Pertemuan itu singkat saja. sebuah pertunjukan yang anti klimaks. Pangeran tak bisa menaklukan hati Cinderella nya. Tak sampai satu jam Cinderella pergi meninggalkan tempat mereka bertemu sebelum kopi dicangkirnya habis ia tenggak. Pangeran itu kini sendirian. Adakah yang salah dengan dia? Aku tak tahu. masih tak tahu sampai sekarang.
Beberapa hari setelah itu ia datang lagi. seperti kemarin, sebelum ia ditinggalkan ia hanya meningalkan sebuah pesan “nanti saja pesannya. Saya menunggu teman.”



Sabtu, 18 Januari 2014

HUJAN DAN KEBAHAGIAAN KECIL

Hujan. Agak deras mengusik siang yang harusnya ramai oleh rutinitas. Bukan karena malas. Tapi saya suka hujan yang menenangkan. Setidaknya siang tak kacau. Orang-orang memilih tenang dan diam berteduh meskipun banyak yang memaki karena hujan tak kunjung reda dan mereka harus segera sampai tempat tujuan karena ada deadline. Lucu juga. Salah siapa tak bawa mantel atau payung.
Saya berteduh dengan tenang sambil menikmati segelas kopi hitam di sebuah warung burjo. Saya tak terburu-buru. Tak ada yang memburu saya. Dulu waktu kecil saya suka sekali dengan hujan. Kadang ketika hujan saya hanya ingin bernostalgia meskipun tanpa bisa bermain-main ditengah hujan. Saya hanya bisa melempar kenangan ke masa kanak-kanak yang telah tergerus waktu. Tapi belum usang. Dan tak akan pernah usang. Ia seperti aroma kopi yang barus saja diseduh. Masih segar. Masih kuat. Tak pernah tua. Ketika itu tawa begitu ringan seperti langkah saya dan teman-teman meskipun didera hujan ketika kami bermain gobak sodor. Semakin deras bahkan semakin asik. dan ketika itu, saya seperti beberapa teman saya tak memedulikan peringatan dari orang tua. Kebahagiaan begitu sederhana dan bersahaja seperti tiga anak kecil yang tadi bermain-main di depan burjo ini. mereka bernyanyi sambil berjalan beriringan membentuk pola kereta api. Naik kereta api. Tut tut tut. Siapa hendak turun. Kebandung Surabaya.Mereka sama sekali tak menganggu saya meskipun mondar mandir di dalam burjo.keberadaan saya pun tampaknya tak mengganggu mereka. Kami tak saling mengganggu. Saya menikmati polah mereka meskipun mereka mungkin dan sudah bisa dipastikan tak menikmati keberadaan saya. Saya mungkin tidak ada bagi mereka. Bahkan warung burjo ini mungkin tidak ada. Mungkin warung ini berubah menjadi gerbong-gerbong yang penuh lalu lalang. Setidaknya saya pernah seperti mereka.
Meskipun saya pernah menjadi anak kecil seperti mereka tapi bayangan imajinasi ketika anak-anak telah tertutup halimun yang pekat. Terlalu detail untuk dibayangkan. Saya hanya bisa mereka-reka apa yang ada dibenak kepala 3 bocah itu. Memang mereka hanya terlihat berputar-putar ke dalam dan keluar warung burjo ini secara kasat mata. Tapi mungkin saja mereka tengah berada dalam kereta express yang mengantarkan mereka ke tempat yang mereka inginkan. Ke Bandung dan Surabaya. Atau ke tempat lain yang entah. Mereka saja yang tahu. Bahkan aku yakin ke tiga anak tadi memiliki tempat yang berbeda di benak mereka. Mereka bersama dalam perbedaan yang tak terkatakan. Tapi mereka tak peduli perbedaan dalam kebersamaan tersebut. Toh mereka bahagia. Aku iri sebenarnya untuk yang satu ini. Makin jauh keretanya menderu, sepertinya imajinasi semakin enggan menyapa. Imajinasi semakin tak ramah. Semakin jauh keretanya, semakin gersang. Perlu hujan untuk menjadikan gersang itu basah dan menumbuhkan rumput-rumput yang layu terkapar sia-sia. Kemudian saya sadar, kereta saya memang telah cukup jauh dimana kebahagiaan kadang menjadi begitu rumit, mahal, dan sombong.
Layaknya dewasa telah memandang sebelah mata kebahagiaan 3 bocah itu. dan, dewasa juga telah mengikis yang lainya. Bukan ingin kembali ke masa kanak. Tapi bisakah semuanya menjadi sederhana lagi. Adakah tawa yang datang dari sesuatu yang biasa-biasa saja seperti ketika berlarian saat hujan dan berjingkrak-jingkrak diatas tanah yang basah tanpa memikirkan kapan menikah, kerja apa, berapa penghasilanya. Saya pernah menulis disebuah sosial media bahwa tak peduli apa pendidikan seseorang, memiliki pasangan adalah masalah purba yang kadang membuat saya miris. Menikah seperti tujuan utama. Menikah seperti sumber kebahagiaan yang besar. Hujan yang bersahaja berperang dengan masalah-masalah rumit dewasa, ia bukan lagi suatu kebahagiaan. Ia bukan siapa-siapa ketika dewasa. Kadang ia dibenci. Kala itu hujan yang cemburu membuat saya demam maupun flu. Dewasa pun makin begitu acuh dengan hujan. Dewasa adalah kesombongan dengan kebahagiaan yang gemerlap berpendar-pendar. Kebahagiaan yang materi. Kebahagiaan yang obsesif. Aku ngeri.
Bukan apa-apa. Aku ngeri karena aku tersisih juga secara tidak langsung. Aku tersisih karena aku merasa tidak normal. Aku jengah dengan obrolan tentang pernikahan, anak, dan pekerjaan yang serasa begitu angkuh. Tapi disisi lain aku juga tidak bisa mengelak tentang itu. kata mereka sudah saatnya saya menikah punya anak. Kata mereka saya belum lengkap karena saya belum menikah dan belum punya anak. Kata mereka saya belum bahagia. Kata mereka saya menyedihkan. Kebahagiaan seperti sebuah terror. Kata mereka. Kata meraka. Kata mereka. Tak ada habisnya.
Menikah, punya anak seperti sebuah stigma mencekam tentang sebuah kebahagiaan.
Saya makin merasa tak normal. Tapi saya makin peduli. Saya makin menyisihkan diri dari hingar bingar. Alih-alih memikirkan tentang menikah kapan, dengan puteri dari mana, saya sibuk berbahagia dengan cara saya sendiri. saya sibuk mendaki gunung. Saya sibuk bersepeda dan mengeksplorasi yang belum saya ketahui. Saya sibuk memaknai apa yang sederhana kembali. Saya sibuk menikmati apa yang sederhana kembali. Hingga suatu kali saya dengar mereka mengatakan “dewasalah.”
Memang, takaran “bahagia” terlalu absurd. Tak perlu judgmental. Saya menghargai orang yang bahagia dalam keadaan single. Saya juga menghargai orang yang bahagia dengan pasangan mereka. Akan tetapi, Ada yang diskriminatif. Menganggap kebahagiaan seperti itu, kebahagiaan yang sendiri, adalah kebahagiaan yang klise, kebahagiaan yang palsu. Kebahagiaan yang terpaksa. Tapi sebenarnya tidak juga. Tidak semua kesendirian adalah sebuah kondisi yang terjadi begitu saja. kondisi yang membuat pelaku tak bisa memilih untuk berbuat lain. Kesendirian bisa jadi adalah sebuah pilihan. Saya pernah menulis bahwa sendiri adalah salah satu kebahagiaan ketika bersama adalah sebuah omong kosong. Salah satu kebahagiaan yang begitu personal. Yang tak terbagi. Seperti ketika menikmati hujan sendiri di tepi jendela sembari menikmati kopi. Ini momen kecil memang. Tak bisa dibagi. Kadang ambigu satu orang dengan orang lain. Tak terjemah kadang-kadang.
Saya mengatakan begini bukan karena saya tidak punya pasangan. Ada. Cuman, saya mengeluhkan ketika single menjadi sebuah masalah. Seolah-olah menjadi single adalah sebuah kutukan. Ah kasihan betul orang-orang yang seperti ini. padahal banyak yang bisa dinikmati ketika sendiri. ketika kebahagiaan ditentukan oleh ada tidaknya orang lain yang seolah-olah kebahagiaan ditentukan oleh orang lain. Bukan datang dari diri sendiri. ah, saya tak sejalan dengan dewasa yang rumit memang. Saya masih ingin bersahabat dengan hujan maupun gerimis yang tak membuat kepala saya sumeng.



Kamis, 16 Januari 2014

Cafe: Tentang Manusia

Satu sore yang cukup cerah. Seperti biasanya, café ini bertambah rame setelah jam 16.00. saya cukup lelah hari ini. Seperti biasa hari minggu selalu dibanjiri konsumen. Ada saja yang datang setelah ada yang pergi. Sepertinya banyak yang terburu-buru. Tak banyak yang nongkrong dan cas cis cus berlama-lama.
Kelelahan ini kadang membuat saya senang. Kadang juga cemberut dan menggerutu. Pekerjaan yang saya tekuni memungkinkan untuk berinteraksi dengan berbagai macam karakter. Dan manusia, adalah satu makhluk yang ceritanya tak akan pernah habis. Dari merekalah sejarah tetap mengalir. Dari merekalah gerutu, tawa, dan air mata ada. Dan dari pekerjaan ini, saya bisa berinteraksi dan mengamati orang-orang tersebut. Dari pekerjaan ini juga saya bisa bercerita.
Seperti yang saya bilang tadi, cerita-cerita yang tercerita tidak melulu cerita tawa. Ada juga yang lucu. Ada juga yang getir. Seperti selayaknya hidup, tempat kerja saya mewakili dunia kecil dari dunia yang luas ini.
Kembali ke hari minggu lagi. Saya baru ingat ini hari minggu terakhir libur panjang sekolah. Pantas saja, sedari tadi banyak tamu café dari luar kota. Dan pantas saja mereka tak perlu berlama-lama cas cis cus ngobrol di café. Kebanyakan dari mereka hanya ingin mencoba beberapa menu yang café ini miliki. Ada juga yang bernostalgia masa-masa menjadi mahasiswa yang beberapa telah bertransformasi menjadi om om gendut dan buncit dan menjadi tante-tante yang glamour. Memang tak semua. Ada juga yang masih rata perutnya.
Ada yang unik jika ada tamu yang datang dari luar kota. Tadi saja ada pelanggan yang memaksa untuk dibikinkan menu yang dulu mereka sering pesan. Katanya mereka jauh-jauh datang dari Kalimantan. Pernah juga ada pelanggan yang nyaris sama kasusnya. Bedanya pelanggan yang dulu dari Jakarta. Kadang tidak tega juga mengecewakan mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Menu yang dipesan habis. Ia seperti primadona beberapa minggu ini. tapi jujur saja saya juga jengah dengan pelanggan tersebut, masalahnya dia memaksa untuk meng-adakan menu itu, sebuah cake coklat yang didalamnya adalah coklat leleh, sering juga disebut lava cake. Seolah-olah menu tersebut bisa dibikin dengan sim salabim dan jadi. Seolah-olah menu tersebut bisa ada dengan satu kali tiupan. Seolah-olah asal pelanggan tersebut bisa menjadi excuse. Bukan tidak bisa dibikin. Bisa saja jika: satu, pelanggan tersebut mau menunggu sampai besok sore, kedua, chef nya tidak tengah libur. Jadi dengan berat hati karena saya juga bukan pesulap tidak bisa menghadirkan yang ia pesan dengan abracadabra.
Lagipula, habis adalah habis. Maksudnya ia tak terbatas ranah geography. Jika menu tersebut dinyatakan habis, maka berlaku bagi semua pelanggan, baik yang datang dari jogja maupun Sumatera sekalipun. Bukan berarti habis tersebut hanya untuk pelanggan yang dari jogja. lantas tiba-tiba akan ada jika ada palanggan dari Papua yang jauh. habis itu objektif bukan subjektif. Ketika kasus Kalimantan ini, saya sempat menggerutu di dapur. Saya tentu saja tak boleh menggerutu di depan pelanggan bukan. Meskipun saya adalah pekerja rendahan, tapi saya juga punya kode etik tak kalah dengan anggota DPR yang juga punya kode etik. saya cukup emosional saat itu. maksudnya, hello, nggak peduli darimana pun kamu, dari America sekalipun tak bisa menghadirkan yang tidak ada tiba-tiba ada. Bahkan dengan bayaran berapapun. Sadis memang.
Lantas aku dapati jam telah menunjukan jam 18.00. saya bergegas mengganti seragam saya. Saya merdeka lagi. Saya utuh lagi. 

Jumat, 10 Januari 2014

Sepeda Gembira: Indrayanti Tour Part I

Saya cukup beruntung punya partner perjalanan yang gila. Paham kan maksudnya? Bukan gila secara jiwa maupun psikologi. Gila dalam hal ini adalah melakukan beberapa hal yang belum tentu orang lain melakukanya. Kegilaan untuk melakukan hal-hal berani meskipun kegilaan itu kadang tipis sekali artinya dengan kebodohan. kenapa saya bilang kegilaan, karena ketika saya menceritakan pada orang lain, seolah - olah mereka merespon  sumpe lo??. dan mau bilang apalagi ketika itu adalah fakta yang terjadi. Saya terinspirasi oleh kata kata Ajahn Bram, manusia perlu melakukan hal-hal liar. Keluar dari kotak. Kadang, kebodohan untuk berani itu perlu. Maka, berangkatlah saya dan teman saya itu tadi ke sebuah pantai di Gunung Kidul. Indrayanti. Tak perlu berlama-lama melakukan negosiasi waktu. Tak perlu berlama-lama menentukan hari baik. Tak perlu cas cis cus tidak penting karena biasanya diskusi yang terlalu lama bahkan akan melahirkan omong kosong.
Kapan kamu punya waktu luang?
Lusa. Jawabnya.
Jalan-jalan yuk?
Oke.
Deal.
Deal.
Maka tak perlu menambah personel lagi. Kami pun berangkat jam 08.00 pagi menuju Pantai Indrayanti, sebuah pantai yang dijuluki the Kuta of Java. Tak ada yang istimewa kecuali kami menggunakan sepeda menuju pantai yang konon jauh di pesisir Gunung Kidul dengan medan naik turun. Yeah, it’s crazy. Saya suka membuat rencana dengan teman saya itu, karena ia tak memiliki keengganan untuk melakukan perjalanan yang seolah-olah soliter. Ia lebih berpengalaman memang. Pernah suatu kali ia pergi ke Bandung sendirian sehabis lulus SMA dengan modal  uang 10rb selama satu minggu. Bagaimana ia bisa bertahan? Semacam omong kosong. Tapi toh itu sudah terjadi. Ketika itu katanya ia bertemu dengan orang baik, penjual sayur atau semacamnya. Dari situlah ia bertahan hidup. ceritanya membuat saya berfikir bahwa ia adalah partner perjalanan yang pas. Berpengalaman. Berani. Dan tidak ribet. beberapa orang memiliki  keengganan melakukan perjalanan hanya dua orang atau seoarang saja. Mereka suka keriuhan. Mereka suka bergerombol. Tapi ia tidak demikian. Saya banyak belajar darinya.
Rintangan perjalan yang kami lakukan adalah jalan yang naik turun. Bukit pathuk menjadi kendala pertama. Berhubung sepeda kami adalah sepeda biasa, bukan sepeda gunung mahal, kami harus menuntun sepeda kami sampai daerah Bukit Bintang, tempat dimana ketika malam tiba orang-orang menikmati bintang yang lebih rendah lokasinya. Bintang yang terdiri dari lampu-lampu. Itu dilakukan setiap kali ada tanjakan yang tajam dan menukik ketika kaki kami tak mampu lagi diajak kompromi.
Ini adalah yang pertama. Kelak akan banyak lagi tanjakan-tanjakan yang harus kami lalui dengan peluh. Tak terhitung. Saya lupa tanjakan apa saja. ini seperti naik gunung sebenarnya, ada waktu berhenti untuk minum dan istirahat beberapa menit. Setidaknya peluh kami terkikis angin dan merasa segar untuk kemudian melanjutkan lagi. Momen-momen ini adalah salah satu momen terbaik, menikmati hutan hijau ketika beristirahat dengan udara yang segar. Kecuali ketika ada bus raksasa yang kentut dengan asap hitamnya. Wajar. Saat itu hari minggu dan banyak yang tengah liburan. Setiap kali bus paus itu melaju saya hanya mengumpat dalam hati “what the fuck man” bisakah kentutnya tak sehitam itu. tahu sendiri, bagaimana campuran panas matahari, keringat, debu, ditambah asap hitam itu. it’s not so good. Tapi paling tidak hutan yang hijau cukup menghibur. Mungkin sedikit berlebihan, tapi ketika mengayuh sepeda di jalan-jalan yang dikelilingi hutan, saya seperti tengah bersepeda di Eropa. Belum lagi ketika telah mendekati wilayah pantai. Disana banyak sekali batu-batu karang yang seperti candi. Tak Cuma satu. Batu-batu karang itu kebetulan tengah menghijau dengan pohon-pohon jati yang tengah bersemi. Seperti candi Borobudur dengan pepohonan diatasnya. Atau seperti taman bergantung babylonia itu. menakjubkan. Banyak detail-detail yang terlewatkan ketika menggunakan motor atau mobil. Banyak detail kecil yang kelewat dinikmati. Kadang-kadang ini digunakan untuk menghibur diri sembari bernyanyi lalalala yeyeye untuk melupakan lelah. Dan ketika melewati jalan yang menurun seperti roller coaster maka saya berteriak sepuasnya meskipun saya takut melewati jalan yang terlalu menurun apalagi dengan tikungan diakhirnya.
Perjalanan sampai di pantai idaman menghabiskan waktu 7,5 jam. Selama itu saya baru sadar kulit saya berubah seperti zebra cross. Mungkin saya hanya perlu melentangkan tubuh saya di jalanan untuk menjadi fasilitas penyebrangan. Pada awalnya saya tak peduli tapi ini berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Bukan hitamnya yang saya khawatirkan, tapi iritasinya yang membuat kulit saya gatal dan mengelupas seperti kulit ular. Maka jangan remehkan sun block. Bukan menjadi centil. Itu diperlukan untuk melindungi kulit. Jaket juga diperlukan kecuali kamu merasa gerah seperti saya yang akhirnya hanya menggunakan kaos karena tak tahan keringat.
7,5 jam itu harusnya tak diperlukan jika kami tak nyasar sampai Pantai Siung yang jauh dijung timur. Tapi karena tujuan kami adalah Indrayanti, maka kami putar balik setelah bertanya pada beberapa anak kecil yang tengah bermain dan menyapa kami seperti turis. Oh my God, saya baru ingat sebelum menjumpai anak-anak itu kami begitu berbahagia dalam euphoria karena menikmati turunan yang begitu panjang yang artinya kami harus kembali dan menuntun sepeda sejauh kami turun. Sekali lagi, saya menghibur diri dalam lagu. Dan sekali lagi, saya seperti terdampar di sebuah negeri coboy yang tandus dengan batu karang batu karang bak tembok tembok raksasa yang siap menahan gempuran-gempuran Tsunami. Seperti di gurun yang ada di film-film Amerika itu kecuali di gurun tak ada batu karang serupa candi-candi yang eksotis. Dan saya pikir Gunung Kidul sangat cocok untuk membuat film kolosal semacam lord of the Ring. Beberapa area disana masih begitu lugu, begitu perawan, begitu magis, begitu sepi, dan begitu luar biasa yang pasti sekali lagi akan terlewat jika menggunakan motor maupun mobil. Jadi meskipun kami tak mampir ke banyak lokasi wisata, tapi saya secara pribadi menikmati panorama yang menakjubkan. Setidaknya saat itu masih musim hukan sehingga pohon-pohon jati belum meranggas.
Lantas, Pantai Indrayati pun menyapa kami setelah 7,5 jam perjalanan. Dibandingkan dengan pertama kali saya ke pantai itu, mungkin 2 tahun yang lalu, pantai itu sama sekali berubah. Pantai itu seperti primadona sekarang. Apalagi saat itu hari minggu dan secara tidak langsung saya membenci hari minggu yang membuat orang membanjiri pantai itu. entah berapa bus dan entah berapa kota yang tumpah disana untuk menikmati Indrayanti dari dekat. Disana, saya hanya jadi penonton para pengunjung yang bersenda gurau dengan teman-teman maupun keluarga di bawah payung-payung raksasa. Saya hanya bisa ngiler ketika mereka berfoto-foto ria sedangkan saya dan teman saya tak membawa kamera. Maka kenangan ini memang kenangan yang egois. Kenangan yang aku saja yang menikmati.
Bagusnya pantai Indrayanti adalah ia bersih. Ada peraturan yang memberikan denda bagi yang buang sampah sembarangan. Bukan hanya peraturan yang ada di papan semata. Jika memang pantai ini dijuluki kutanya jogja maka  bolehlah. Meskipun pengunjung tak bisa berselancar. Hanya bisa berenang maupun melakukan volley pantai. Selain itu, ada life guard yang menjaga pantai dan pengunjung. Ini adalah kelebihan lain yang seharusnya pantai-pantai lain miliki juaga. Parang tritis misalnya. Sehingga jika ada pengunjung yang bermain diluar garis aman, life guard bisa mengingatkan. Tahu sendiri di pantai selatan sering ada korban.
Untuk sejenak saya menikmati pasir putihnya, air yang cukup jernih, dan batu karang yang menjadi tembok pantai ini. Meskipun saya tak begitu menyukai kerumunan yang begitu gerah, saya masih bisa menikmati pantai itu dengan surya yang hampir mengantuk.
Perjalanan ini seprti mendaki gunung ketika sampai puncak. Tapi ,memang banyak hal yang lebih menarik, seperti ketika saya ngobrol di angkringan dengan pemilik angkringan  di jalan Baron. Saya merasa begitu akrab dan akhirnya ditawari mampir menginap ketika pulang nanti. Meskipun bapak itu tak mengenal kami, ia begitu baik, begitu ramah. Sungguh-sungguh cerminan Indonesia kalau saya bilang. Indonesia yang masih ramah dan bersahaja.
Beberapa kali saya melakukan perjalanan, beberapa kali juga saya menemukan kebaikan-kebaikan yang kadang terfikir makin langka. Saya cukup bersyukur bahwa kebaikan-kebaikan itu masih ada. Intinya masih ada orang baik dan itu cukup membuat saya bahagia. Seperti ketika awal-awal saya suka mendaki gunung misalnya. Selain pemandangan sunset dan pemandangan alam yang menakubkan, satu hal yang membuat saya jatuh cinta dengan gunung adalah orang-orangnya yang peduli satu sama lain. Kita saling menyapa meskipun tak tahu darimana kami berasal. Kita saling bertanya, kita saling peduli tanpa memperdebatkan ras dan agama. Semacam cerminan Indonesia yang klasik. Beda ketika jalan-jalan di Mall. Semuanya egois bukan? Saya masih ingat waktu pertama kali mendaki, saat itu saya dan beberapa partner tengah istirahat turun gunung. Ketika itu saya berbincang-bincang dengan seoarng pendaki dari Semarang. Keakraban terjadi begitu saja hanya karena kami sama-sama pendaki. Jadi, mungkin ketika semua orang berfikir bahwa kita adalah Indonesia secara umum dan menjiwainya, mungkin tak perlu ada kekerasan yang berkedok ras dan agama. Rasa solidaritas sesame pendaki itu memang begitu kental, dijalan kadang-kadang ada yang menawari minum ketika pendaki yang turun masih membawa bekal yang lebih. Ini menakjubkan dan romantic menurut saya.

Sama halnya ketika saya bersepeda kala itu. ada pemilik mobil pick up yang begitu baik. Selain memberi  tumpangan karena hari telah begitu gelap dan kami masih saja berkutat di Hutan Bunder  yang tanpa cahaya kecuali ada mobil maupun motor yang lewat, pemilik mobil tersebut member kami beberapa cemilan dan air mineral. Padahal, siapa kami, toh mereka tak kenal siapa kami. Siapa tahu kami orang jahat yang pura-pura menumpang kemudian merampok mereka. Hari itu gerimis juga. Kami sangat bersyukur dan menertawai kenekatan kami ketika tengah menikmati happy ending diatas mobil pick up dengan gerimis yang tidak saya pedulikan lagi. Kadang kebaikan yang saya pikir telah hilang, lenyap begitu saja. ada semacam kepercayaan bahwa masih banyak kebaikan-kebaikan yang belum saya jumpai dan ada disuatu tempat. Masalahnya adalah, siap tidak saya menjumpai kebaikan itu dan belajar menjadi orang baik demi orang-orang baik?

Rabu, 08 Januari 2014

Mengejar Matahari


Kilas balik beberapa waktu yang lampau, ketika usia saya masih dalam satuan, belum puluhan, matahari pagi yang seperti koin berwarna kuning lembut adalah momen yang paling saya sukai. Saya benar-benar bisa melihat matahari dengan mata telanjang. Ini momen yang jarang terjadi karena saya tinggal di daerah pegunungan yang sering kali berkabut. Adakalanya saya bersama Ibu saya pergi ke pasar.jalan kaki dengan membawa hasil sayuran yang kami tanam di kebun hendak dijual. Berangkat setelah subuh sekitar jam 04.30. jarak desa kami ke pasar cukup jauh dengan jalan kaki, sehingga harus pagi-pagi benar berangkatnya untuk mendapatkan tempat dipasar. Ditengah perjalanan itu, saya juga seringkali mendapatkan pemandangan matahari terbit dimana dua Gunung berapi Sumbing dan Sindoro berada jauh di timur sana. Saat itu saya belum tahu lokasi kedua gunung cantik tersebut. Ingatan tentang matahari terbit kala itu hanya saya simpan di memori saya. Belum ada kamera saat itu. toh, saya masih mampu mengingat detail keindahanya sampai sekarang. Pemandangan ini saya dapatkan sebelum sampai di sebuah tempat dimana ada gunung kecil yang di sebut warga sekitar Gunung Mandala dengan puncak sebuah batu besar menyerupai kepala manusia yang kala itu saya analogikan sebagai seorang pertapa yang telah membatu. Ibu saya mungkin tak peduli dengan momen-momen kelahiran sang surya ke permukaan. Padahal harusnya ibu tahu betapa melahirkan adalah proses yang tidak mudah. Atu kungkin karena beliau telah melahirkan 3 kali sehingga benar-benar tak peduli lagi sakitnya. Lagipula saya masih ingat betapa mudahnya saya dilahirkan. Kata beliau ketika saya mau lahir, bahkan beliau tak membutuhkan dukun beranak apalagi seorang bidan. Saya lahir begitu saja diatas sebuah tampah. Sebuah benda yang sering digunakan untuk menjemur kerupuk kering atau mengayak tepung jagung yang mau dijadikan nasi. Momen-momen kelahiran itu hanya saya yang menimati, bagi saya momen itu adalah momen yang begitu indah, begitu sacral, dan begitu romantis. ibu saya  yang tak peduli, dan hanya memedulikan sayuran yang digendongnya terus saja berjalan dan menyuruh saya cepat-cepat karena hari hampir siang. Takut tak dapat tempat di pasar. Maka karena saya juga takut ditinggal ditengah-tengah jalan sepi yang dikelilingi kebun maupun belukar saya pun bergegas. Saya hanya menikmati momen-momen kontraksi cakrawala yang mau melahirkan bayinya dalam waktu yang begitu singkat. Bayi yang akan menerangi dunia. Bayi yang akan membawa kebahagiaan. Semacam Nabi yang dikultuskan untuk menerangi si Jahiliyah. Kami tergesa-gesa. Ternyata pasar telah ramai sekali dengan orang-orang melakukan transaksi.
Sampai sekarang, momen matahari terbit adalah momen yang saya sukai. Indah dan lembut. Bersahaja. Matahari mau dilihat dengan mata telanjang tanpa menyakiti. Maka ketika teman saya bercerita bahwa ia mau mendaki gunung, saya meminta untuk diajak. Merengek seperti anak kecil. Beberapa acara yang seharusnya saya kerjakan saat itu saya batalkan, seperti mengunjungi peringatan Waisak di candi Borobudur. Saya benar-benar ingin ikut karena katanya dipuncak gunung kita bisa mendapatkan pemandangan matahari terbit yang menawan. Maka berangkatlah saya ke sebuah gunung dimana ketika kecil saya selalu melihat matahari menampakan wujudnya di sana, Gunung sindoro.
Saat itu harusnya saya bisa menikmati detik-detik kelahiran sang surya. Tetapi, dalam perjalanan dari tempat kemah ke puncak saya terengah-engah. Saya hampir tidak sampai puncak. Sebentar-sebentar saya merasa letih dan sesak. Mungkin karena suhu udara yang sangat dingin sehingga kadar oksigen rendah. Maka ketika sampai dipuncak, matahari telah meninggi. Apa mau dikata. Saya juga tak bisa dan tak punya kuasa mengembalikan matahari lagi ke kantong cakrawala. Saya juga tak bisa memutar waktu dimana saya bisa kembali sebelum jam 05.00. maka, saya menikmati apa yang ada saja. setidaknya saya tak begitu kecewa dengan pemandangan kawah Gunung Sindoro dan pemandangan beberapa atap langit  seperti Gunung Merapi yang paling banyak mengeluarkan uap, gunung Lawu, dan Gunung Merbabu disebelah timur maupun tenggara Gunung Sindoro ini. Di sebelah selatan gunung ini, ada saudara dekatnya yang berdiri teguh. Gunung Sumbing.
Memang, itu tidak terlalu buruk, ketika ke Gunung Prau, Dieng bahkan saya tak sempat melihat langit yang biru di puncak. Kabut dimana-mana padahal harusnya musim kemarau. Musim yang sangat pas untuk mendaki dan menikmati keindahan gunung prau dan sekitarnya dari puncak seperti yang ada di internet.
Beberapa minggu kemudian dari waktu saya mendaki gunung tresebut, beberapa  teman pendaki yang saya kenal ke gunung tersebut. Saya iri, background foto yang dipamerkan di facebook memperlihatkan gunung Prau yang cerah. Sial!!
Maka saya pun berkelana lagi, hingga akhirnya saya ke Gunung Merapi atas rekomendasi teman saya. Ia bilang gunungnya bagus dan medan pendakian tak terlalu sulit hingga saya sebagai pendaki pemula mengalami sendiri. saya sempat protes di tengah pendakian saya karena tak semudah yang ia ceritakan. Saat itu tengah musim kemarau. Debu-debu menghambat pendakian. Bahkan debu itu seringkali membuat pendaki yang turun berpapasan dengan saya seperti debu berjalan.

Paginya, sebelum jam 05.00 saya naik ke puncak dan benar saja puncak merapi sangat indah. Paling tidak itu membayar jerih payah saya. Dan bonusnya, sebuah pemandangan yang telah saya cari-cari. Semua keluh kesah terkunci. Saya tak bisa berbahasa kecuali diam dan menikmati karya Tuhan yang begitu cantik. Matahari terbit. Saya menyaksikan dengan seksama ketika matahari itu masih berupa embrio kecil di ufuk timur. Lantas detik-detik jam menjadikanya seperti bayi. Sangat lembut. Sangat cantik. 

Bali Part II: Penginapan, Makanan Murah, dan Pantai Seluk Rening yang Tenang

Tidak bisa dipungkiri bahwa salah satu kendala liburan di bali adalah biaya hidup yang mahal. Penginapan atau pun homestay juga tidak bisa dibilang murah. Akan tetapi bukan berarti juga tak ada penginapan murah sama sekali. Saya pernah mnyewa sebuah kamar seharga 50 ribu untuk dua orang. Jadi, sehari saya hanya perlu mengeluarkan uang 25 ribu. Kamar yang saya sewa memang bukan sebuah hotel maupun homestay, akan tetapi sebuah kos-kosan yang memang khusus ditujukan untuk orang-orang yang mau berlibur. Saya dapatkan kos-kosan tersebut melalui seorang teman yang berasal dari Bali yang kebetulan saat itu tengah berada di Jogja. dalam hal ini, relasi memang memang menjadi hal penting ketika mau berlibur. Paling tidak teman yang dari Bali tersebut bisa melakukan negosiasi terhadap pemilik penginapan. Hal ini memungkinkan untuk mendapatkan penginapan yang lebih murah daripada mencari sendiri.
Ada yang lebih murah lagi sebenarnya. Numpang di rumah teman yang dikenal jika tidak keberatan. Ingat bahwa backpacking adalah jalan-jalan murah yang menekan pengeluaran. Jika ada yang bisa menjadi sukarelawan kenapa tidak? Iya kan? Kalau semisal tidak enak opsi pertama bisa dilakukan. Meminta tolong teman untuk mencarikan penginapan, jika semisal memiliki teman di tempat tujuan.
Jika tidak punya teman di tempat tujuan, hal yang paling efektif adalah mencari di internet. Bertanya-tanya di milis backpacing. Perlu diketahui bahwa di Bali masih ada hotel dengan kisaran harga di bawah 100 ribu. Contohnya hotel Tabanan yang berada di Tabanan dan Mes Ultra yang berada di Jln. Nangka Selatan Denpasar. Jika ke Bali Utara ada Hotel murah dengan kamar nyaman dan bersih dengan kisaran harga 85.000. namanya hotel Jatinegara. Dekat dengan pantai Baluk Rening. Memang pantainya tak serama pantai yang berlokasi di Bali selatan. Semisal pantai Kuta. Pantai ini adalah pantai nelayan yang lumayan bersih dan sepi. Cocok untuk yang mau mencari ketenangan dengan pemandangan gunung Raung yang tinggi serupa tembok kastil raksasa yang megah. Di pantai ini juga kita bisa menikmati anak-anak yang berenang dan memancing dengan damai.
Untuk yang beragama Muslim, Bali juga banyak terdapat warung-warung jawa muslim dengan kisaran harga murah. Saya pernah makan di warung solo dengan harga 8000. Ada juga bakso arema yang dijual di gerobak-gerobak dengan harga 5000. Kalauu mau mencoba masakan bali, boleh dicoba Nasi Jinggo dan sate lilitnya. Beberapa tempat makan yang pernah saya kunjungi harganya tak sampai 10.000. bahkan di Kuta pun ada makanan murah. Cukup bayar 3000. Tapi memang Cuma nasi bungkus sih. Biasanya penjual menggunakan motor.



Minggu, 05 Januari 2014

KOPI HITAM: NOSTALGIA DAN SEBUAH PESONA

Apa menariknya kopi hitam. Pahit. Bagi sebagian orang kopi hitam akan membuat masalah dengan lambung mereka tapi bagi sebagian orang lain kopi hitam adalah teman. Bukan sekedar minuman belaka. Ia bisa menjadi teman yang menarik meskipun hitam dan pahit. Meskipun ada white coffee, cappuccino, latte dan minuman lain berbahan kopi. Di pagi hari, ia bisa menjadi teman untuk menyambut pagi menghilangkan kantuk yang enggan pergi. Mungkin ditemani rokok dan Koran bagi kaum urban. Mungkin ditemani perapian tungku bagi kaum pedesaan dengan cemilan ketela bakar. Lihatlah, bahkan ia menyatu dengan kelas sosial mana pun dan peradaban macam apa pun. Ia tetap nikmat disruput di café mewah, hotel berbintang, di pinggir jalan, maupun di rumah reyot di sela-sela gerimis. Hebat. Ia lebih tua dari cappuccino mungkin tapi ia tetap saja tak lekang. Ia melegenda.
Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, kopi hitam tak saja enak dinikmati dengan singkong bakar tapi juga dengan cake lembut dan juga biscuit. Lain daripada itu, ia adalah teman ngobrol yang asyik. Mungkin di café, di pos ronda, maupun di angkringan. Obrolan politik, film, dan trivia-trivia sepele semacam gossip ariel, farhat abbas, maupun Miley Cyrus.
Kopi hitam ada sebelum saya. Tentu ia lebih tua dari saya. Saya mengenal kopi hitam semenjak SD. Ketika itu Bapak saya akrab sekali dengan kopi hitam sebelum berangkat ke ladang setiap pagi. Dari Bapak saya, saya mulai mencicipi rasa kopi hitam. Lantas setiap pagi saya terbiasa meminum kopi hitam. Dulu tak terlintas kesan apa-apa. Rasanya nikmat saja meikmatinya ketika pagi yang dingin dan berkabut di pedesaan dengan tungku yang menyala. Sekarang, setiap kali saya meneguk kopi hitam terlintas sebuah romansa yang sederhana nan manis. Duduk bersama Bapak di dekat tungku perapian. Kami sama-sama bersiap-siap untuk beraktifitas. Bapak pergi ke ladang, dan saya pergi ke sekolah. Saya merindukan raut wajahnya. Raut wajah seorang ayah yang bijaksana. Ia pribadi yang tak banyak bicara. Seperti kopi hitam, ia pribadi yang sederhana tapi dirindukan.
Seperti beberapa orang yang menganggap kopi hitam menarik, saya jatuh cinta dengan kopi hitam. Aromanya yang segar sering membawa saya ke memori-memori masa lalu yang hangat. Ketika itu mungkin saya masih lugu. Saya sadar, saya merindukan masa itu. masa dimana saya tak memiliki banyak beban, masa dimana saya masih bisa menikmati hujan, masa dimana saya tak perlu berfikir tentang kebutuhan-kebutuhan orang dewasa. Tapi hidup tak melulu indah. Rasakanlah, meskipun ada gula dalam kopi, tetap saja ada rasa pahitnya, tetap saja ada ampas kopinya. Lagipula, bukankah kebanyakan gula akan membuat obesitas dan diabetes. Manis dan pahit mungkin seperti yin dan yang. Saling melengkapi. Tak saling menghujat. Mereka ada karena mereka harus ada. Pahit dalam kopi bisa menyadarkan anugerah Tuhan akan manisnya gula. Seperti manusia yang harus bersyukur mungkin akan anugerah-anugerah ketika ia dibanjiri air mata. Air mata inilah yang kadang-kadang datang karena pahit dan air mata inilah yang seringkali membuka mata untuk belajar mendengar, melihat, dan merasakah. Bukan tawa. Tawa memang gurih dan manis, tapi ia sering membuat lupa. Tawa dan air mata ada karena memang harus ada. Sayangnya salah satu dari mereka ada yang benar-benar dipuja dan salah satu yang lain dihujat.
Saya masih akrab dengan kopi dan setiap kali mencium aroma kopi, kembali ingatan saya melalang ke sebuah masa dimana saya merasa begitu beruntung. Mungkin saya merindukan mereka yang lama saya tinggalkan.



Madura Undercover


Madura memang tidak terlalu terekspos untuk segi wisata. Akan tetapi, bagi yang suka wisata sejarah Sumenep bisa menjadi referensi yang bagus untuk mengenal sejarah terutama perkembangan Islam di Sumenep. Beberapa contoh peninggalan sejarah yang bisa dinikmati seperti Keraton Sumenep, Makam, dan Masjid Agung Sumenep yang didirikan oleh Pangeran Natakusuma.
Tampaknya selain mendapat pengaruh dari Arab, arsitektur peninggalan sejarah tersebut juga dipengaruhi oleh pengaruh kebudayaan China seperti yang tampak pada Gerbang Masjid yang menyerupai beberapa gerbang Klenteng. Bentuk pintu gerbang yang megah dan unik tersebut mirip juga dengan pintu gerbang menuju makam. Sebagai bangunan peribadahan arsitektur masjid tersebut tampaknya kental sekali dengan akulturasi tak hanya dengan China akan tetapi juga antara kebudayaan Islam dengan Hindu/ budha seperti kebanyakan masjid yang ada di Jawa.
Saat itu saya tak sempat mengunjungi Keraton karena sebuah tugas, padahal menurut informasi setempat, keraton Sumenep tak jauh dari Lokasi Masjid Agung Sumenep tersebut yang berada di depan alun-alun. Hal ini mirip dengan keraton Yogyakarta yang letaknya tak jauh dari alun-alun.
Alun-alun kota Sumenep terbilang unik. Ketika malam saya menyempatkan diri untuk menghilangkan kepenatan, saya keliling stan stan penjual pakaian yang begitu banyak. Modelnya juga bagus-bagus. Tampaknya kegiatan semacam ini tak hanya terjadi di waktu-waktu tertentu, seperti momen Sekaten misalnya, tapi setiap hari. Selain itu, untuk hiburan keluarga bagi yang mengajak anak-anak ada juga odong-odong yang dibuat dengan berbagai bentuk. Sangat menarik. Ada bentuk naga, pooh, doraemon, dll. Odong-odong ini sebanarnya dibuat dari motor Tossa, kemudian diluarnya baru dihiasi denganberbagai ornament-ornamen dan lampu berwarna-warni.
Untuk yangtak terikat dengan tempat wisata, di Madura banyak hutan bakau dipinggir-pinggir sungai. Menarik dilihat dari atas  jembatan. Sayangnya memang tak ada Perahu yang digunakan untuk menyusuri Hutan Bakau tersebut. Berhubung Madura adalah sebuah pulau kecil. Hutan bakau merupakan pemdandangan yang sering dilihat.
Sebagai pulau kecil yang dikelilingi Laut dengan mayoritas penduduk menjadi nelayan, seafood di Madura terbilang murah. Ini menjadi strategi saya. Menikmati hasil alam daerah tersebut agar harganya murah. Ini menurut saya penting bagi para Backpacker. Harga Ayam misalnya hampir sama dengan harga cumi-cumi. Maka saat itu saya puas-puaskan makan seafood Karena harganya murah.
Ada satu hal yang mengecewakan sebenarnya. Norak memang. Tapi, saya benar-benar tidak bisa melihat jembatan Suramadu dan saya ingin sekali melihat jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura, padahal dua kali saya melewatinya. Saya tertidur saat itu.
Bagi yang suka fotografi banyak sekali spot foto terutama di pantai nelayan. Banyak kapal nelayan. Tinggal nunggu momen sunset untuk mengambil gambar. Memang airnya keruh. Tapi banyak hal unik disana.