Rabu, 30 April 2014

BELAJAR DARI FILM: MENJADI GURU YANG EKSENTRIK

Dinamika Pendidikan: Taken From kampusnews.com

Tadi siang saya menonton film bagus, atau saya katakan film yang menyentuh saja karena bagus memiliki penilaian yang agak rumit dan saya pun tak begitu tahu secara teoritis mengenai film. Saya hanya orang yang suka nonton film. Film ini diputar di saluran TV berlangganan yang memang memutar film-film lama, judul film tersebut adalah Dangerous Mind. Saya terkesan dengan sosok guru perempuan di film ini, seorang guru baru yang dihadapkan pada satu kelas yang bahkan tak tahu itu apa kata kerja, seorang guru baru yang dihadapkan pada kelas mayoritas kulit hitam  yang tak tahu untuk apa sekolah itu, seorang guru yang dihadapkan pada siswa-siswa yang bahkan tak menganggap kehadirannya ada dan diperlukan. Sejauh ini saya teringat dengan film The Freedom Writers yang mengangkat tema hampir sama: murid urakan, tidak punya motivasi, dan yang paling memprihatinkan terlibat dalam gank yang bisa mengantarkan mereka pada kematian kapan pun dan dimana pun mungkin dengan peluru di pelipis, di dada, di jalan raya, di jalan sempit, bahkan di keramaian. Ada salah satu ungkapan yang masih saya ingat dalam film yang dibintangi Hillary Swank ini, salah satu muridnya berkata; akan sangat beruntung sekali bila usia saya sampai 18. Bagaimana kita tidak tercengang mendengar ungkapan seperti itu yang jelas-jelas datang dari orang yang sehat tanpa penyakit kronis sekalipun. Lantas ada pertanyaan, sebegitu gelapnyakah kehidupan disana?
Saya rasa kasus-kasus tersebut ada beberapa yang relevan dengan kondisi kita di Indonesia. Hanya saja sepertinya tak banyak guru yang paham bagaimana cara menangani murid semacam itu kecuali dikeluarkan dari depan kelas atau menulis kata-kata yang sama sebanyak 100 kali untuk menimbulkan efek jera. Berhasilkah? Saya rasa tidak.  
Saya bahkan masih ingat ketika itu saya masih berseragam putih abu-abu, seorang guru membanting pintu dan keluar dari kelasnya karena murid di kelas tersebut gaduh dan tak mau diatur. Sebelumnya mungkin dia memarahi kelas tersebut. Kita memang tak bisa menyalahkan sepenuhnya tindakan guru tersebut, tapi juga sekaligus tak bisa membenarkan tindakannya. Mungkin dia sebenarnya sangat peduli dengan murid-muridnya tapi dengan cara yang keliru karena di sisi lain ada guru yang tak acuh semisal mengantuk dikelas atau pergi kekantin ketika murid-muridnya mengerjakan tugas.
Kembali lagi pada guru yang membanting pintu dan keluar kelas lagi. mungkin dalam benaknya, semua murid harus duduk manis di bangku masing-masing dan mematuhi semua apa yang dikatakan guru. Akan tetapi, ia menemukan kenyataan yang berbeda. Saya pikir ia lupa akan fungsi pengajaran dan pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa pengajaran harusnya memerdekakan kemiskinan dan kebodohan, dan pendidikan harusnya menjadi sarana bagi murid-murid agar memiliki otonomi berpikir dan mengambil keputusan, martabat, mentalitas demokratik.
Selaras dengan Ki Hadjar Dewantara, dalam Undang-Undang disebut juga tujuan pendidikan yang tertera dalam UUD dasar 45 pasal 31 ayat 3 yang berbunyi Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Dalam pasal 5  juga menjelaskan tentang tujuan pendidikan yang berbunyi : Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.  Masih searah dengan pernyataan ki hadjar dewantara, dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003 disebutkan bahwa Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan watak peserta didik agar menjadi peserta didik yang cerdas. Lebih lanjut lagi, UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan baik untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni: (1) learning to Know, (2) learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Dimana keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ.
Jadi bisa disimpulan secara gamblang sebetulnya bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk mencerdaskan peserta didik agar menjadi manusia yang lebih baik tidak hanya secara intelektual tapi juga emosional dan spiritual. Maka dari beberapa uraian tersebut, ada pertanyaan yang muncul dalam benak saya, bisakah tindakan guru yang marah-marah kemudian pergi dengan membanting pintu berhasil memerdekakan murid-murid dari kebodohan dan membangun otonomi berfikir mereka? Saya rasa jawabannya tidak. Alih-alih mencerdaskan ia bisa saja abai terhadap profesinya sebagai seorang pendidik.
Tindakan guru yang tak acuh dalam film Dangerous Mind atau dalam kehidupan nyata bisa jadi hasil dari sebuah kepasrahan bahwa toh pada akhirnya murid lah yang membutuhkan pendidikan, guru atau pengajar hanyalah fasilitator. Dalam hal ini jangan lupa bahwa dalam sistem pendidikan ada paedagogi dan ada juga andragogi.  Paedagogi adalah sistem pendidikan dimana guru bertanggung jawab terhadap apa yang akan diajarkan. Guru adalah senter dari kegiatan belajar mengajar. Ia menjadi controller yang sekaligus menentukan kegiatan apa yang akan diterapkan di kelas. Berbeda dengan paedagogi, andragogi bersifat students center, guru hanya fasilitator. Dimana peserta didik bisa menentukan sendiri pencapaian apa yang ingin diraih. Cuma penerapan andragogy adalah untuk orang dewasa dan/atau dengan pemikiran dewasa juga. Akan kurang relevan jika hal ini secara gamblang dipraktekan pada anak-anak yang bahkan sangat membutuhkan bimbingan maupun arahan seperti yang terjadi pada film Dangerous Mind ataupun The Freedom Writers. Jika boleh saya menilai, kedua tokoh dalam film tersebut berhasil mencerdaskan anak didiknya meskipun mereka harus keluar dari sistem. Selain pendekatan personal yang banyak aral, kedua guru ini juga menggunakan media sastra dan tulisan untuk melatih pola pikir anak-anak.
Tapi seperti yang saya katakan tadi, perjuangan mereka tidak mudah, dan sama seperti yang terjadi dalam The Freedom Writer, sang guru dalam Dangerous Mind juga mengalami kesulitan dengan birokrasi di sana, bahkan dia dipanggil kepala sekolah untuk mengajar mengikuti kurikulum. Ini masalah klasik sepertinya, ada beberapa pihak yang merasa tahu semuanya dan bahwa kamu harus mengajar itu setelah ini dan meskipun mereka belum tahu sepenuhnya tentang A tapi kurikulum mengatakan kamu harus mengajar B. Tentu saja pihak yang konservatif itu tak mau tahu alasan si Guru dengan alasan “yang penting”. Dalam kasus seperti ini, seringnya, siswa yang dianggap nakal di kelas dan yang dianggap bodoh oleh beberapa pihak diabaikan begitu saja. Guru pun mengajar seperti mesin, tak ada personal engagement. “mau bagaimana juga tetap nggak bisa” ungkapan macam apa ini?  Makanya film ini istimewa buat saya sama seperti ketika nonton The Freedom Writers karena si guru tak menyerah pada keadaan. Ia percaya ada celah untuk bisa menarik perhatian siswa-siswa. Ia tak menjadikan dirinya mesin yang tak mempunya hati dikelas meskipun ada perlawanan tak hanya dari murid tapi juga dari guru lain maupun kepala sekolah. Ia manggunakan pendekatan personal kepada siswa-siswa yang dianggap paling bermasalah langsung ke rumah masing-masing. Mereka juga manusia. Mereka juga anak anak yang masih memerlukan perhatian lebih. Dan ini berhasil meskipun belum semua. Masalah begitu banyak. Tapi satu hal, ia tidak menyerah. Dalam kasus ini saya juga teringat Laskar Pelangi meskipun yang dihadapi dalam laskar pelangi tak sekompleks dan sepelik yang ada dikedua film ini. Tapi, paling tidak mereka tak menyerah dalam keadaan.
Dan pada akhirnya meskipun harus berpeluh darah terlebih dahulu, guru-guru perempuan itu membuktikan bahwa dengan hati yang tulus, hati-hati yang lain akan terketuk dan luluh dalam ketulusan yang di suatu ujung waktu membawa rindu. Ini adalah hal yang sangat indah dan beruntunglah bagi mereka yang dirindukan dan keberadaanya memberi arti. Memang, memberi arti yang sejati tak hanya butuh satu hari tapi berhari-hari hingga setiap hati memaknainya.
Saya percaya, di sini, di Negara saya Indonesia ada sosok-sosok seperti mereka meskipun belum tersorot kamera. Mungkin kita bisa menengok pengajar dalam Sakola Rimba yang telah memberi inspirasi juga buat saya secara pribadi. Lagi-lagi guru yang saya temukan adalah guru perempuan. Memang konteksnya beda, sangat beda, tapi ada kemiripan bahwa mereka sama-sama gigih dalam menjalankan panggilan hatinya. Dan saya pikir, kita, Indonesia perlu guru-guru seperti mereka yang tidak menjadi setengah mesin tapi masih menaruh hati untuk memandang bahwa murid-murid adalah manusia yang perlu juga diperlakukan sebagai manusia. Perlu guru yang eksentrik yang berani keluar dari kotak dengan satu tujuan; menjadikan anak didik lebih baik dengan menggunakan akal dan hatinya.



Sabtu, 26 April 2014

Every Trail Stars Here: Pendakian Gunung Lawu

Ada dua hal setidaknya kenapa pada akhirnya saya  naik gunung. Pertama adalah karena sebuah kerinduan. Entahlah, kerinduan ini sulit saya terjemahkan dalam kata-kata tapi ini bukan candu. Jika saya perlu menganalogikan kerinduan saya ini, mungkin seperti rindu saya pada rumah, pada ayah dan ibu saya, kekasih saya, dan orang-orang yang mencintai saya siapa pun mereka. Sejauh dan selama apa pun kita pergi dari mereka pada akhirnya kita ingin menjumpai mereka. Yang kedua adalah keinginan untuk dekat dengan sesuatu yang selama ini hanya bisa terlihat dari jauh. Mendaki seperti memahami dan mengenal lebih dekat karakter dan lekuk yang selama ini masih asing dan menyisakan tanya dan penasaran. Saya tidak menganggap pendakian adalah penaklukan sebuah gunung. Saya menganggap pendakian adalah penaklukan terhadap diri saya sendiri. Gunung bukan sesuatu yang perlu ditaklukan tapi dinikmati setiap jengkalnya. Bukankah terdengar intim dan sensual?
Karena kerinduan dan ingin mengenal yang selama ini kemegahanya hanya bisa saya intip dari balik jendela bus, saya memutuskan untuk mendaki Gunung Lawu setelah kurang lebih tiga bulan saya tidak mendaki gunung. Selama itu, saya hanya melihat gunung-gunung dari jauh.Mengagumi mereka dengan sebunyi-sembunyi. Seperti cinta platonic saja. Makin lama, godaan itu semakin besar. Saya harus mengumpulkan alasan bahwa saya ke gunung lawu untuk rehat dari kewajiban-kewajiban yang harus saya tunaikan. Saya butuh refreshing meskipun sebenarnya pernah saya berkomitmen sebelum saya lulus saya tidak akan naik gunung.
Berangkat dari jogja dengan menggunakan pramex ke solo saya ditemani satu kawan saya yang langsung mengiyakan ketika saya ajak mendaki Gunung Lawu. Masing-masing dari kami belum pernah ke Gunung Lawu. Tapi saya meyakinkan diri dan meyakinkan kawan saya tersebut untuk tidak takut sendiri, akan ada banyak kawan pendaki kelak setelah kita sampai di basecamp. Ini akan menjadi petualangan yang mendebarkan. Dengan membawa tas carrier yang selalu membuat saya merasa bebas dan keren, perjalanan dilanjutkan dengan menggunakan bus jurusan Tawangmangu dari Solo untuk kemudian dilanjutkan ke Cemoro Sewu. Ya, kami memutuskan pendakian lewat Cemoro Sewu karena pendakian lebih dekat meskipun dari beberapa milis pendakian, jalur yang akan dilalui akan lebih menanjak dibandingkan dengan basecamp Cemoro Kandang yang lebih landai.
Seperti halnya Dieng, perjalanan menuju Cemoro Kandang melewati jalur yang berliku-liku dan menanjak dengan pemandangan lahan pertanian yang sulit saya lewatkan. Yang paling saya suka adalah pemandangan pematang sawang yang hijau dengan teras siring yang curam. Sangat memikat mata saya. Pemandangan ini tak kalah dengan yang pernah saya jumpai di Ubud, Bali. Tak heran banyak sekali home stay yang tersedia di daerah Tawangmangu.
Menghabiskan kurang lebih 2 jam, angkot berhenti di Cemoro Sewu. “Sudah sampai mas” kata pak sopir. Cemoro Sewu terletak tidak lebih dari 1 km dari Cemoro Kandang. Jika perjalanan dimulai dari Solo, kita akan melewati basecamp Cemoro Kandang sebelum sampai di Basecamp Cemoro Sewu. Selain medannya yang berbeda, Cemoro Kandang dan Cemoro Sewu berbeda secara geografis, Cemoro Kandang terletak di Provinsi Jawa Tengah sedangkan Cemoro Sewu terletak di Provinsi Jawa Timur. Maka disinilah kami, dua anak manusia yang akan menjelajah belantara asing. Di tempat ini pula pendakian dan petualangan akan dimulai. Sebagaimana sebuah adegan film, jantung saya gemuruh seperti dentuman musik yang mengiringi adegan paling dramatis dan menegangkan. Tapi saya merasa bahagia, saya merasa menemukan orang-orang dengan passion yang sama. Saya tidak bisa menyembunyikan senyum saya sembari menghirup udara kebebasan. Benar saja, kami tidak sendiri. di Basecamp ini, para pendaki berkumpul. Sebagian ada yang mau memulai pendakian, sebagian lainnya baru saja turun gunung. Saya merasa hidup.
Mungkin sebuah kebetulan atau takdir, kawan pendaki saya bertemu dengan kawannya yang juga mau mendaki. Mereka menjadi teman karena sama-sama mengidolakan salah satu team sepak bola di Indonesia. temannya itu satu team dengan Mapala salah satu perguruan tinggi di Solo, jumlahnya 9 orang. Tidak butuh waktu lama untuk akrab dengan mereka. Tidak butuh waktu lama untuk menjadi team yang seru. Sudah saya bilang, tak perlu takut sendiri karena kita tak sendiri ketika mendaki.  Dari yang cuma berdua, kini menjadi bersebelas. Tak perlu hal yang besar untuk menyatukan kami. Hanya butuh hal-hal sederhana seperti air minum dan gorengan untuk kami menjadi rekat. Bisa dibayangkan jika ini tak hanya terjadi ribuan meter di atas permukaan laut. Indonesia tak perlu mengalami seteru hanya karena berbeda. Indah bukan?
Untuk mencapai puncak setinggi 3265 mdpl, kira-kira dibutuhkan waktu 8 jam pendakian. Ada 5 pos sebelum sampai dipuncak dengan medan terjal yang tersusun dari batu-batu. Kenapa saya bilang tersusun, karena, jalan setapak dari pos satu ke pos lain seperti telah ditata oleh manusia dengan batu-batu yang membentuk jalan setapak. Rapi. Ini memudahkan pendakian meskipun medannya memang terbilang terjal. apalagi dari pos 2 menuju pos 3 dan 4, medannya berbatu dan berundak-undak seperti tangga. Ini sungguh menguji kesabaran saya karena sebentar sebentar kaki saya terutama bagian lutut terasa pegal. Dalam perjalanan ke pos 4 langkah saya makin payah. Saat itu mungkin jam7. Di medan inilah istirahat paling sering terjadi. Mungkin tak sampai 15 undakan, saya memutuskan untuk istirahat. Itu terjadi lagi dan lagi. Tempat camping apalagi puncak masih terasa jauh sekali. Di atas bebatuan yang basah dengan sisa –sisa air hujan yang menitik dari dedaunan keyakinan untuk sampai di puncak tetap ada tapi saya tak memaksa. Ia tetap akan disana, diketinggian 3265 mdpl. Ia tidak akan kemana-mana. Meskipun masih lama, puncak tak akan meninggalkan saya. “mari nikmati perjalanan ini saja. tak perlu berfikir tentang puncak” ucapku pada kawan saya sambil menikmati biscuit dan meneguk air mineral. Kadang kami menyulut rokok sebagai dopping. Proses adalah hal yang paling harus dinikmati.
Sebelum sampai di pos 4, kami memutuskan untuk istirahat cukup lama, sekadar merebus air untuk menyeduh kopi dan memasak mie instan. Suhu makin dingin. Angin makin kencang. Tapi tak sampai memasak mie instan, perjalanan harus dilanjutkan karena angin semakin kencang dan tempat istirahat kami berada di jalur angin. Ya sudahlah, yang penting kami berhasil menyeduh kopi untuk menghangatkan badan.
Meskipun Lawu bukanlah termasuk list dari gunung-gunung yang ekstrim. Tapi, jujur saja, saya perlu susah payah untuk menapaki medan dengan langkah yang makin lama makin berat. Mungkin perlu dimaklumi, saya termasuk pendaki amatir yang baru satu setengah tahun ini menemukan asyiknya mendaki. Karena itulah, kaki saya begitu bahagia ketika mendapati medan yang landai. Dan puncaknya adalah ketika pada akhirnya kami sampai di basecamp Sendang Drajat untuk mendirikan tenda. Ini akhir yang bahagia sebelum awal yang baru esok hari mengejar matahari terbit. “kita bisa kawan” ungkapku. Kami bersalaman dengan haru. Kami menjadi dua pria yang mendadak begitu sentimentil dalam luapan bahagia dan tak tahu harus bagaimana meluapkanya.
Tempat dimana kami berkemah terdapat sebuah sendang yang disebut Sendang Drajat makanya disebut Basecamp Sendang Drajat. Ini adalah sumber air yang biasanya digunakan oleh para pendaki untuk minum maupun memasak. Disebelahnya sendang derajat terdapat sebuah pendopo kecil mirip dengan tempat persembahan orang Hindu. Hampir selalu ada dupa disini. Selain Sendang Drajat, ada juga tempat yang diyakini mistis yaitu Sumur Jalatunda. Lokasinya terletak sebelum basecamp Hargo Dalem. Konon tempat ini juga tempat pemujaan.
Selain tempat pemujaan dan nuansa mistis, Di Gunung Lawu juga terdapat warung makan. Ya warung makan. Ada satu di dekat Sendang Drajat dan satunya di Hargo Dalem. Warung makan ini menawarkan Nasi Pecel, Soto, Mie Instan, dan beberapa snack. Jadi, kl mau ke Gunung tanpa susah-susah bawa logistic, maka Gunung Lawu adalah pilihan yang paling baik.
Pendakian dimulai lagi, jam04.30 kami memutuskan keluar dari tenda setelah minum kopi dan makan mie. Untuk mencapai puncak kata beberapa pendaki tak memerlukan waktu lebih dari 30 menit. Semangat kami berganda, samar-samar di perjalanan menuju puncak yang disebut Puncak Hargo Dumilah, langit telah mengguratkan cahaya orange. Tandanya sebentar lagi matahari benar-benar akan terbit.
Dan decak kagum pun mengalir begitu saja. Disinilah pada akhirnya. Lawu mengijinkan kami untuk sampai di puncaknya. Kembali lagi, saya terpaku dalam haru akan keindahan Sang Pencipta. Saya layangkan pandang ke seluruh penjuru yang cerah. Ada pemandangan hijau hutan pinus serupa hutan paku Amerika Utara yang begitu Luas dari arah Utara. Sebagian lembahnya tertutupi lautan awan. Tampak begitu empuk. Begitu putih. Disebelah timur, matahari perlahan-lahan menampakan wujudnya dan menjadikan gradasi warna langit, orange, jingga, biru muda, dan biru tua dibagian yang paling jauh dengan matahari. Gunung-gunung dan perbukitan disebelah timur menjadi sekumpulan siluet. Dari puncak ini juga, kita bisa melihat Waduk Gajah Mungkur yang terletak di Kabupaten Wonogiri. Di sebelah barat, kita bisa melihat Gunung Merapi dan Merbabu.
Setelah itu, saya diam terpaku menunggu saat-saat matahari benar-benar muncul.


 
Puncak Lawu

Puncak Lawu: Kawan Pendakian

Puncak Lawu: Saya dan Indonesia

Salah Satu Flora Lawu

Salah Satu Flora Lawu

Team 11-1