![]() |
| Dinamika Pendidikan: Taken From kampusnews.com |
Tadi siang saya menonton film bagus, atau
saya katakan film yang menyentuh saja karena bagus memiliki penilaian yang agak
rumit dan saya pun tak begitu tahu secara teoritis mengenai film. Saya hanya
orang yang suka nonton film. Film ini diputar di saluran TV berlangganan yang
memang memutar film-film lama, judul film tersebut adalah Dangerous Mind. Saya
terkesan dengan sosok guru perempuan di film ini, seorang guru baru yang
dihadapkan pada satu kelas yang bahkan tak tahu itu apa kata kerja, seorang
guru baru yang dihadapkan pada kelas mayoritas kulit hitam yang tak tahu untuk apa sekolah itu, seorang
guru yang dihadapkan pada siswa-siswa yang bahkan tak menganggap kehadirannya
ada dan diperlukan. Sejauh ini saya teringat dengan film The Freedom Writers
yang mengangkat tema hampir sama: murid urakan, tidak punya motivasi, dan yang
paling memprihatinkan terlibat dalam gank yang bisa mengantarkan mereka pada
kematian kapan pun dan dimana pun mungkin dengan peluru di pelipis, di dada, di
jalan raya, di jalan sempit, bahkan di keramaian. Ada salah satu ungkapan yang
masih saya ingat dalam film yang dibintangi Hillary Swank ini, salah satu
muridnya berkata; akan sangat beruntung sekali bila usia saya sampai 18.
Bagaimana kita tidak tercengang mendengar ungkapan seperti itu yang jelas-jelas
datang dari orang yang sehat tanpa penyakit kronis sekalipun. Lantas ada
pertanyaan, sebegitu gelapnyakah kehidupan disana?
Saya rasa kasus-kasus tersebut ada beberapa
yang relevan dengan kondisi kita di Indonesia. Hanya saja sepertinya tak banyak
guru yang paham bagaimana cara menangani murid semacam itu kecuali dikeluarkan
dari depan kelas atau menulis kata-kata yang sama sebanyak 100 kali untuk
menimbulkan efek jera. Berhasilkah? Saya rasa tidak.
Saya bahkan masih ingat ketika itu saya masih
berseragam putih abu-abu, seorang guru membanting pintu dan keluar dari
kelasnya karena murid di kelas tersebut gaduh dan tak mau diatur. Sebelumnya mungkin
dia memarahi kelas tersebut. Kita memang tak bisa menyalahkan sepenuhnya
tindakan guru tersebut, tapi juga sekaligus tak bisa membenarkan tindakannya. Mungkin
dia sebenarnya sangat peduli dengan murid-muridnya tapi dengan cara yang keliru
karena di sisi lain ada guru yang tak acuh semisal mengantuk dikelas atau pergi
kekantin ketika murid-muridnya mengerjakan tugas.
Kembali lagi pada guru yang membanting pintu
dan keluar kelas lagi. mungkin dalam benaknya, semua murid harus duduk manis di
bangku masing-masing dan mematuhi semua apa yang dikatakan guru. Akan tetapi,
ia menemukan kenyataan yang berbeda. Saya pikir ia lupa akan fungsi pengajaran
dan pendidikan yang diungkapkan oleh Ki Hadjar Dewantara bahwa pengajaran
harusnya memerdekakan kemiskinan dan kebodohan, dan pendidikan harusnya menjadi
sarana bagi murid-murid agar memiliki otonomi berpikir dan mengambil keputusan,
martabat, mentalitas demokratik.
Selaras dengan Ki Hadjar Dewantara, dalam
Undang-Undang disebut juga tujuan pendidikan yang tertera dalam UUD dasar 45
pasal 31 ayat 3 yang berbunyi Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu
sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahlak
mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan
undang-undang. Dalam pasal 5 juga menjelaskan
tentang tujuan pendidikan yang berbunyi : Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan
dan teknologi dengan menunjang tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa
untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia. Masih searah dengan pernyataan ki hadjar
dewantara, dalam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003 disebutkan bahwa Pendidikan
bertujuan untuk mengembangkan watak peserta didik agar menjadi peserta didik
yang cerdas. Lebih lanjut lagi, UNESCO mencanangkan empat pilar pendidikan baik
untuk masa sekarang maupun masa depan, yakni: (1) learning to Know, (2)
learning to do (3) learning to be, dan (4) learning to live together. Dimana
keempat pilar pendidikan tersebut menggabungkan tujuan-tujuan IQ, EQ dan SQ.
Jadi bisa disimpulan secara gamblang sebetulnya
bahwa tujuan utama pendidikan adalah untuk mencerdaskan peserta didik agar
menjadi manusia yang lebih baik tidak hanya secara intelektual tapi juga
emosional dan spiritual. Maka dari beberapa uraian tersebut, ada pertanyaan
yang muncul dalam benak saya, bisakah tindakan guru yang marah-marah kemudian
pergi dengan membanting pintu berhasil memerdekakan murid-murid dari kebodohan
dan membangun otonomi berfikir mereka? Saya rasa jawabannya tidak. Alih-alih
mencerdaskan ia bisa saja abai terhadap profesinya sebagai seorang pendidik.
Tindakan guru yang tak acuh dalam film
Dangerous Mind atau dalam kehidupan nyata bisa jadi hasil dari sebuah
kepasrahan bahwa toh pada akhirnya murid lah yang membutuhkan pendidikan, guru
atau pengajar hanyalah fasilitator. Dalam hal ini jangan lupa bahwa dalam
sistem pendidikan ada paedagogi dan ada juga andragogi. Paedagogi adalah sistem pendidikan dimana guru
bertanggung jawab terhadap apa yang akan diajarkan. Guru adalah senter dari
kegiatan belajar mengajar. Ia menjadi controller yang sekaligus menentukan
kegiatan apa yang akan diterapkan di kelas. Berbeda dengan paedagogi, andragogi
bersifat students center, guru hanya
fasilitator. Dimana peserta didik bisa menentukan sendiri pencapaian apa yang
ingin diraih. Cuma penerapan andragogy adalah untuk orang dewasa dan/atau dengan
pemikiran dewasa juga. Akan kurang relevan jika hal ini secara gamblang dipraktekan
pada anak-anak yang bahkan sangat membutuhkan bimbingan maupun arahan seperti
yang terjadi pada film Dangerous Mind ataupun The Freedom Writers. Jika boleh
saya menilai, kedua tokoh dalam film tersebut berhasil mencerdaskan anak
didiknya meskipun mereka harus keluar dari sistem. Selain pendekatan personal
yang banyak aral, kedua guru ini juga menggunakan media sastra dan tulisan
untuk melatih pola pikir anak-anak.
Tapi seperti yang saya katakan tadi,
perjuangan mereka tidak mudah, dan sama seperti yang terjadi dalam The Freedom
Writer, sang guru dalam Dangerous Mind juga mengalami kesulitan dengan
birokrasi di sana, bahkan dia dipanggil kepala sekolah untuk mengajar mengikuti
kurikulum. Ini masalah klasik sepertinya, ada beberapa pihak yang merasa tahu
semuanya dan bahwa kamu harus mengajar itu setelah ini dan meskipun mereka
belum tahu sepenuhnya tentang A tapi kurikulum mengatakan kamu harus mengajar
B. Tentu saja pihak yang konservatif itu tak mau tahu alasan si Guru dengan
alasan “yang penting”. Dalam kasus seperti ini, seringnya, siswa yang dianggap
nakal di kelas dan yang dianggap bodoh oleh beberapa pihak diabaikan begitu
saja. Guru pun mengajar seperti mesin, tak ada personal engagement. “mau bagaimana juga tetap nggak bisa” ungkapan
macam apa ini? Makanya film ini istimewa
buat saya sama seperti ketika nonton The Freedom Writers karena si guru tak
menyerah pada keadaan. Ia percaya ada celah untuk bisa menarik perhatian
siswa-siswa. Ia tak menjadikan dirinya mesin yang tak mempunya hati dikelas
meskipun ada perlawanan tak hanya dari murid tapi juga dari guru lain maupun
kepala sekolah. Ia manggunakan pendekatan personal kepada siswa-siswa yang
dianggap paling bermasalah langsung ke rumah masing-masing. Mereka juga
manusia. Mereka juga anak anak yang masih memerlukan perhatian lebih. Dan ini
berhasil meskipun belum semua. Masalah begitu banyak. Tapi satu hal, ia tidak
menyerah. Dalam kasus ini saya juga teringat Laskar Pelangi meskipun yang
dihadapi dalam laskar pelangi tak sekompleks dan sepelik yang ada dikedua film
ini. Tapi, paling tidak mereka tak menyerah dalam keadaan.
Dan pada akhirnya meskipun harus berpeluh
darah terlebih dahulu, guru-guru perempuan itu membuktikan bahwa dengan hati
yang tulus, hati-hati yang lain akan terketuk dan luluh dalam ketulusan yang di
suatu ujung waktu membawa rindu. Ini adalah hal yang sangat indah dan
beruntunglah bagi mereka yang dirindukan dan keberadaanya memberi arti. Memang,
memberi arti yang sejati tak hanya butuh satu hari tapi berhari-hari hingga
setiap hati memaknainya.
Saya percaya, di sini, di Negara saya
Indonesia ada sosok-sosok seperti mereka meskipun belum tersorot kamera. Mungkin
kita bisa menengok pengajar dalam Sakola Rimba yang telah memberi inspirasi
juga buat saya secara pribadi. Lagi-lagi guru yang saya temukan adalah guru
perempuan. Memang konteksnya beda, sangat beda, tapi ada kemiripan bahwa mereka
sama-sama gigih dalam menjalankan panggilan hatinya. Dan saya pikir, kita,
Indonesia perlu guru-guru seperti mereka yang tidak menjadi setengah mesin tapi
masih menaruh hati untuk memandang bahwa murid-murid adalah manusia yang perlu
juga diperlakukan sebagai manusia. Perlu guru yang eksentrik yang berani keluar
dari kotak dengan satu tujuan; menjadikan anak didik lebih baik dengan
menggunakan akal dan hatinya.
