Senin, 02 September 2013

The Perks of Being Wallflower



Banyak definisi dan pengertian mengenai masa remaja. Masa pencarian jati diri. Masa pengukuhan eksistensi. Rumit. Sebagian memiliki masa yang menyenangkan dengan banyak teman disekeliling mereka. Sebagian biasa saja tak ada yang istimewa. Tapi satu hal yang sangat penting dalam masa ini, teman. Teman yang pada akhirnya bisa menjelaskan kedudukanya. Teman yang mampu memperkukuh eksistensinya dalam hidup. Teman yang bisa menjadi tempat berbagi, tidak hanya tawa tapi juga luka. Teman yang ada dimana ia membutuhkan.
Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana jika tak ada teman? Atau seseorang yang telah menjadi sahabat Karib tiba-tiba pergi padahal ada pengalaman masa lalu yang begitu pahit dan sering kali menghantui dan teman begitu dibutuhkan sekedar untuk mengurangi beban.
Adalah Charlie (Logan Lerman), setiap hari ia menghitung mundur sisa waktu yang akan dilalui hingga ia lulus dari SMA. Baginya masa SMA adalah omong kosong, sama saja dengan masa SMP. Ia telah begitu banyak melihat kesenjangan dan perlakuan buruk dari senior-senior terhadap yunior seperti dia.seseorang yang tidak popular dan tidak dianggap keren. Hari-hari berlalu dengan membosankan, tak ada kesan. Satu hal yang pasti sebagaimana remaja pada umumnya, ia butuh teman. Sepertinya teman adalah sesuatu yang begitu penting meskipun Cuma satu. Ada beberapa harapan sebenarnya untuknya berteman dan dekat dengan orang: temanya di SMP, seorang gadis berambut coklat yang dulu sering bersamanya. Akan tetapi ketika ia mencoba menyapa, gadis itu hanya berpaling. Kedua adalah kakaknya yang juga berada di SMA yang sama. Ia berusaha bergabung dengan kakaknya tapi kakaknya mengacuhkanya karena ia seorang junior.
Begitulah hari-harinya. Perlahan-lahan, plot cerita tak hanya menunjukan kesulitanya bersosialisasi. Ia juga menyimpan sebuah rahasia masa lalu yang menjadi misteri hingga akhir cerita. Ketika trauma itu tiba-tiba menyerangnya, ada satu orang yang ia harapkan datang meskipun itu mustahil, Bibi Helena. Baginya, wanita lembut yang di sia-siakan suaminya itu adalah penolongnya. Akan tetapi, tak ada Bibi Helena lagi. Ia harus berjuang sendiri dengan menulis sebuah surat yang ditujukan kepada entah siapa. Yang jelas dalam film ini ia menyebutkan “entah siapa pun kamu”. Ia rutin menulis setelah dalam satu suratnya ia mengatakan “maaf sudah lama aku tak menulis”.
Di sebuah pertandingan American Football, Charlie berkenalan dengan dua siswa yang akhirnya menjadi sahabatnya, Sam (Emma Watson) dan Pattrick (Ezra Miller). Sahabat yang menerima dia sebagaimana ia apa adanya. Mereka tak menuntut Charlie sebagai siswa yang popular. Persahabatan yang tidak menuntut. Persahabatan yang tanpa maksud. Tapi dua orang ini juga tak sempurna adanya. Mereka bukan manusia tanpa masalah sebagaimana Charlie. Sam, gadis cantik yang berkali-kali berhubungan dengan pria yang kurang baik. Ia merasa waktunya telah ia sia-siakan sehingga diakhir tahun sekolahnya bahkan nilainya tidak mencukupi untuk masuk perguruan tinggi. Pattrick, kakak tiri Sam,  siapa yang tahu dibalik keunikan dan kecuekanya dia, dia adalah seorang gay yang backstreet dengan pacarnya hanya karena ia takut pacarnya yang popular itu diketahui gay oleh teman-temanya dan ayahnya. Ia menyimpan luka sebenarnya. Tapi ia menerima meskipun berat. Ketiga remaja ini, dengan kompleksitasnya sebagai manusia menjadi sahabat yang saling menerima. Tidak susah bagi Charlie menerima bahwa Pattrick adalah seorang gay. Bakan ia adalah orang yang paling marah ketika Pacarnya tak berbuat apa-apa disaat Pattrick direndahkan begitu rupa. Mengenai Sam, meskipun ia memiliki masa lalu yang tidak baik tapi Charlie dengan tegas mengatakan, “semua orang punya masa lalu, tapi yang lebih penting adalah bagaimana dia sekarang”. Jadi, bagi Sam, masa lalu tidaklah begitu penting, setiap orang punya kesempatan kedua. Saya pikir persahabatan mereka terjalin bukan karena maksud dan persahabatan seperti itulah persahabatan yang indah dan menyenangkan. Mengenai hal ini, seoarnag novelis Indonesia mengatakan tidak ada yang lebih menyenangkan menjalin pertemanan selain pertemanan yang tanpa maksud. 
Banyak hal yang bisa dipelajari dari film ini, perhatian sekecil apa pun yang diberikan ternyata memiliki dampak yang sangat besar. Dan teman, sebarapa pun sedikit teman yang dimiliki juga memiliki kontribusi secara psikologis yang sangat besar. 
Tapi bersama seringnya tak bisa berjalan selamanya. Ada perpisahan. Charlie adalah junior Sam dan Pattrick. Mereka berdua lulus dari sekolah dan melanjutkan ke universitas. Rasa kehilangan selalu ada di setiap perpisahan yang menyisakan ketakutan. Ketakutan itu muncul dalam berbagai bentuk, takut dilupakan, takut sendiri, dan takut untuk menghadapi hari-hari tanpa orang yang selama ini telah bersama dengan berbagai cerita. Lantas kemudia baying-bayang masa lalu yang semakin lama semakin terang muncul menyerang Charlie.dan Bibi Helena yang begitu dirindukanya menjadi sebuah penyesalan. Charlie begitu menyayanginya hingga ia yakin ialah penyebab kematianya yang membuat ia begitu sedih. Akan tetapi, ia menyimpan rahasia terdalam juga, rahasia yang hanya mereka berdua yang tahu. Rahasia yang pada akhirnya membuat Ibunya menangis.

Di awal perpisahan dengan dua sahabatnya itu, Charlie rajin menulis seperti janjinya pada Sam yang sebenarnya ia sayangi. Tak ada belum tentu hilang. Tak selayaknya juga cinta menahan langkah. Jauh bukan berarti pergi. Sam dan Pattrick tetap menjadi sahabat Sam meskipun mereka telah jauh. Ada mimpi yang harus dikejar meskipun ada cinta yang enggan ditinggalkan. Dan mimpi itu menumbuhkan sebuah esadaran bahwa kebersamaan fisik tak selamanya terjalin setiap saat. Akan tetapi bukan juga tak ada sama sekali. Ada masa kebersamaan terjalin lagi. Ada waktu yang begitu berharga untuk dilewatkan jika meraka ada dekat sekadar menghabiskan waktu bersama. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar