Selasa, 28 Januari 2014

ESPRESSO

Coffee by Mark Kazav

Sari kopi yang diekstrak, Cuma 30 ml saja. Tapi percayalah, yang 30 ml itu sanggup membuatmu terbangun karena pahit  yang tidak biasa. Apa enaknya; pahit dan sedikit, bukankah lebih baik memesan teh hangat atau cappuccino. Bisa jadi yang kedua tersebut harganya sama, bahkan lebih murah. Akan tetapi, yang pahit dan sedikit ini bisa jadi adalah media untuk membuka mata dan melihat dunia dengan lebih terbuka meskipun mendebarkan. Tak perlu menambahkan gula, berapa pun jumlah yang engkau tuangkan pahit itu tetap terasa. Mungkin kamu hanya akan mengaduk-aduk saja hingga lupa espresso itu menjadi dingin. Kamu pun akan lupa dan jika tidak lupa, kamu akan malas meminumnya. Langsung tenggak saja seperti meminum obat, boleh langsung atau sedikit demi sedikit sambil lidahmu mengecap rasa yang pahit itu menggerayangimu hingga kerongkongan. Rasakanlah jantung yang lebih cepat berdetak. Mungkin kulitmu akan meremang menahan getir yang hanya sementara. Sehabis itu, rasa itu akan enyah dan membuatmu lebih hidup. Kamu mungkin tak sadar, kamu tengah bercinta dengan cara yang berbeda. Tapi, sedikit saja yang bisa memahami.
Oh espresso, kau begitu mini tapi kau penuh kuasa. Namamu mungkin terlalu keren hingga banyak orang terperdaya dan pada akhirnya terperangah ketika kau disajikan diatas meja di depan mata manusia yang baru sekali itu mengenalmu. Kau sering dicampakan dan tetap menggenang dalam cangkir mini yang senantiasa memelukmu sebelum kamu masuk ke wastafel; saat dimana kau berpisah dengan wadah yang membuatmu berarti. Mungkin kamu tertawa dengan wajah-wajah yang nampak bodoh karena merasa tertipu. Kau pun mungkin menangis dan kehilangan kehangatan ketika diombang-ambingkan. Kau boleh mengumpat pada manusia semacam ini. Kau lebih hafal manusia jenis apa yang sanggup menerima ledakanmu hingga pembuluh arteri. Sisanya, mungkin hanya remaja yang tengah asyik mencoba dan belum pernah berkenalan dengan mu. Kamu tahu kan, dalam dunia manusia ada yang mengatakan “tak kenal maka tak sayang”. Akan tetapi, kami manusia memang terlahir untuk tidak menerima yang pahit, makanya kami menambahkan gula pada kopi. Padahal, tanpa gula kamu tak kan kehilangan esensimu. Ah, aku tahu kamu tak memusingkan hal ini. Lagipula, yang pahit itu justru bisa menjadi ladang untuk lebih mawas dan waspada. Sayangnya manusia kebanyakan tak siap dengan yang pahit, makanya banyak yang terkena gula darah karena mereka terlalu memuja sari tebu itu. Manis memang sering melenakan dan kau sering dikesampingkan meskipun sama-sama makhhluk ciptaan Tuhan.
Tak semua manusia seperti itu, kau pun tahu itu. Ada yang tidak suka, ada juga yang selalu rindu jika kau tak menyapa; rindu yang membuat kepala pening, rindu yang mencandu. Yang ini aku tak sepakat dengan kamu. Ada masa dimana kita harusnya berdiri sendiri tanpa perlu terikat bukan? Ada masa dimana kita boleh merindu tapi tetap merasakan keindahan, bukan luka atau pun nyeri. Kau membantu melihat dunia menjadi lebih terang, tapi pada akhirnya kau membuat mereka terbutakan tanpa kamu dan membiarkan cinta itu menjadi obsesif karena kamu posesif. Padahal kau tetap ada tanpa pemuja, tapi pemuja itu kau biarkan mengkerut tanpa kamu.
Ah, bukankah itu karena yang mencintaimu juga. Kau tak sepenuhnya salah. Tak ada yang benar-benar salah. Aku bicara demikian karena dalam beberapa hal kau sering menemaniku. Kita tak saling menguasai. Pada akhirnya, aku tak segan memanggilmu teman. Kau bilang bahwa aku juga sering membuatmu bahagia dengan mempertemukan kamu dengan air panas yang kau anggap hangat itu. Kau selalu suka yang hangat. Aku suka sekali menikmati kebersamaan kalian yang tak terpisahkan; kebersamaan yang menyatu, kebersamaan yang memberi arti satu dan lainnya. Lalu kalian menari bersama dalam penyatuan yang syahdu, saat itulah kalian mengijinkan aku melebur dalam sebuah cinta segitiga yang tak terobsesi untuk memiliki dia atau kamu. Nikmati saja apa yang ada, begitulah yang terjadi dan memang demikian; kita threesome.
Aku juga suka cemburu bagaimana kau yang selalu bisa membaur dengan apa dan siapa saja yang bersamamu. Kau membaur tanpa perlu jadi yang lain agar kau diterima, kau tetap jadi dirimu. Kau tak menyembunyikan pahitmu karena itu rasamu, karena itu kamu. Ah, bahkan kau hampir selalu membuat rasa yang lebih segar. Kau selalu terlihat tanpa berusaha mencolok. Aku ingin menjadi sepertimu yang tak gentar dan berani meskipun berbeda.
Aku ingin menenggakmu. Aku ingin menikmatimu. Aku ingin sepertimu. Tapi tunggu dulu, bukankah harusnya aku menunjukan rasa ku sendiri seperti kamu dengan rasa mu. Seperti yang selalu kamu bilang ketika kita tengah bersama “kamu tak perlu jadi A karena kamu B” .

Pagi ini, aku ingin bercinta denganmu dan dia. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar