![]() |
| Coffee by Mark Kazav |
Sari
kopi yang diekstrak, Cuma 30 ml saja. Tapi percayalah, yang 30 ml itu sanggup
membuatmu terbangun karena pahit yang
tidak biasa. Apa enaknya; pahit dan sedikit, bukankah lebih baik memesan teh
hangat atau cappuccino. Bisa jadi yang kedua tersebut harganya sama, bahkan
lebih murah. Akan tetapi, yang pahit dan sedikit ini bisa jadi adalah media
untuk membuka mata dan melihat dunia dengan lebih terbuka meskipun mendebarkan.
Tak perlu menambahkan gula, berapa pun jumlah yang engkau tuangkan pahit itu
tetap terasa. Mungkin kamu hanya akan mengaduk-aduk saja hingga lupa espresso
itu menjadi dingin. Kamu pun akan lupa dan jika tidak lupa, kamu akan malas
meminumnya. Langsung tenggak saja seperti meminum obat, boleh langsung atau
sedikit demi sedikit sambil lidahmu mengecap rasa yang pahit itu menggerayangimu
hingga kerongkongan. Rasakanlah jantung yang lebih cepat berdetak. Mungkin
kulitmu akan meremang menahan getir yang hanya sementara. Sehabis itu, rasa itu
akan enyah dan membuatmu lebih hidup. Kamu mungkin tak sadar, kamu tengah
bercinta dengan cara yang berbeda. Tapi, sedikit saja yang bisa memahami.
Oh
espresso, kau begitu mini tapi kau penuh kuasa. Namamu mungkin terlalu keren
hingga banyak orang terperdaya dan pada akhirnya terperangah ketika kau
disajikan diatas meja di depan mata manusia yang baru sekali itu mengenalmu.
Kau sering dicampakan dan tetap menggenang dalam cangkir mini yang senantiasa
memelukmu sebelum kamu masuk ke wastafel; saat dimana kau berpisah dengan wadah
yang membuatmu berarti. Mungkin kamu tertawa dengan wajah-wajah yang nampak
bodoh karena merasa tertipu. Kau pun mungkin menangis dan kehilangan kehangatan
ketika diombang-ambingkan. Kau boleh mengumpat pada manusia semacam ini. Kau
lebih hafal manusia jenis apa yang sanggup menerima ledakanmu hingga pembuluh
arteri. Sisanya, mungkin hanya remaja yang tengah asyik mencoba dan belum
pernah berkenalan dengan mu. Kamu tahu kan, dalam dunia manusia ada yang
mengatakan “tak kenal maka tak sayang”. Akan tetapi, kami manusia memang
terlahir untuk tidak menerima yang pahit, makanya kami menambahkan gula pada
kopi. Padahal, tanpa gula kamu tak kan kehilangan esensimu. Ah, aku tahu kamu
tak memusingkan hal ini. Lagipula, yang pahit itu justru bisa menjadi ladang
untuk lebih mawas dan waspada. Sayangnya manusia kebanyakan tak siap dengan
yang pahit, makanya banyak yang terkena gula darah karena mereka terlalu memuja
sari tebu itu. Manis memang sering melenakan dan kau sering dikesampingkan
meskipun sama-sama makhhluk ciptaan Tuhan.
Tak
semua manusia seperti itu, kau pun tahu itu. Ada yang tidak suka, ada juga yang
selalu rindu jika kau tak menyapa; rindu yang membuat kepala pening, rindu yang
mencandu. Yang ini aku tak sepakat dengan kamu. Ada masa dimana kita harusnya
berdiri sendiri tanpa perlu terikat bukan? Ada masa dimana kita boleh merindu
tapi tetap merasakan keindahan, bukan luka atau pun nyeri. Kau membantu melihat
dunia menjadi lebih terang, tapi pada akhirnya kau membuat mereka terbutakan
tanpa kamu dan membiarkan cinta itu menjadi obsesif karena kamu posesif.
Padahal kau tetap ada tanpa pemuja, tapi pemuja itu kau biarkan mengkerut tanpa
kamu.
Ah,
bukankah itu karena yang mencintaimu juga. Kau tak sepenuhnya salah. Tak ada
yang benar-benar salah. Aku bicara demikian karena dalam beberapa hal kau sering
menemaniku. Kita tak saling menguasai. Pada akhirnya, aku tak segan memanggilmu
teman. Kau bilang bahwa aku juga sering membuatmu bahagia dengan mempertemukan
kamu dengan air panas yang kau anggap hangat itu. Kau selalu suka yang hangat.
Aku suka sekali menikmati kebersamaan kalian yang tak terpisahkan; kebersamaan
yang menyatu, kebersamaan yang memberi arti satu dan lainnya. Lalu kalian
menari bersama dalam penyatuan yang syahdu, saat itulah kalian mengijinkan aku
melebur dalam sebuah cinta segitiga yang tak terobsesi untuk memiliki dia atau
kamu. Nikmati saja apa yang ada, begitulah yang terjadi dan memang demikian;
kita threesome.
Aku
juga suka cemburu bagaimana kau yang selalu bisa membaur dengan apa dan siapa saja
yang bersamamu. Kau membaur tanpa perlu jadi yang lain agar kau diterima, kau
tetap jadi dirimu. Kau tak menyembunyikan pahitmu karena itu rasamu, karena itu
kamu. Ah, bahkan kau hampir selalu membuat rasa yang lebih segar. Kau selalu
terlihat tanpa berusaha mencolok. Aku ingin menjadi sepertimu yang tak gentar
dan berani meskipun berbeda.
Aku
ingin menenggakmu. Aku ingin menikmatimu. Aku ingin sepertimu. Tapi tunggu
dulu, bukankah harusnya aku menunjukan rasa ku sendiri seperti kamu dengan rasa
mu. Seperti yang selalu kamu bilang ketika kita tengah bersama “kamu tak perlu
jadi A karena kamu B” .
Pagi
ini, aku ingin bercinta denganmu dan dia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar