Selasa, 07 April 2015

METAPHORA ROMANSA KOPI


Coffee, taken from http://s3.amazonaws.com/
Semerbak aroma kopi hitam selalu membuat saya rindu pada ayah. Bukan bermaksud menekankan bahwa saya adalah orang melankolis yang menyebabkan saya takut memiliki hubungan serius loh ya, tapi aroma atau bebauan selalu membawa saya kepada sebuah kenangan. Maka beruntung sekali bahwa aroma kopi tidak mengingatkan saya pada mantan-mantan yang pada akhirnya mata hatinya terbuka bahwa saya adalah pria yang tidak tepat. Loh emang pernah pacaran ya? Kopi dan sosok ayah itu sangat dekat dan kami pun masih setia ngopi bersama ketika saya mudik yang tak tentu itu.
Ngopi itu seperti sebuah budaya di desa saya. Mungkin karena di daerah dingin yang jika pagi bisa berkabut. Jangan heran ada kebiasan karing, alias menghangatkan badan dibawah sinar matahari. Kebiasan seperti ini seperti nongkrong tapi ala orang desa.  Maka, sejak SD, saya sudah terbiasa ngopi pagi-pagi di depan tungku  tentu bersama ayah saya. Saya lupa, apa saja yang dibicarakan, yang jelas bukan urusan hukuman mati kasus narkoba, ISIS, Pak Jokowi, Pak Ahok, atau urusan politik. Selain saat itu saya tak mendengar ada hukuman mati, ISIS pun belum ada, Jokowi belum jadi presiden, dan Ahok pun belum menjadi gubernur Jakarta. Ayah saya petani biasa yang ijazah SD pun tidak punya gara-gara tidak ikut ujian, maka, tahu apa beliau soal politik dan soal hukuman mati. Lah wong kalender masehi dan bulan masehi saja tidak hafal. Tapi, beliau tahu pasti mengenai kalender Pranata Mangsa sebagai acuan bercocok tanam yang makin lama, kata beliau, makin tidak jelas. Nah, beliau tidak tahu bahwa dunia mengalami Global Warming.
Karena besar meminum kopi hitam, saya pun tumbuh menyukai kopi hitam daripada kopi yang ditambah susu, coklat atau apapun itu yang ada di cafe-cafe. Enak, tapi tidak enak ketika bayar. Kesannya pun berbeda. Kopi hitam, kalau boleh meminjam kalimat Dee dalam Filosofi Kopi, itu sederhana dan memikat. Iya tidak perlu riasan atau make up macam-macam untuk memikat lidah. Mungkin, kalau diibaratkan perempuan itu ya perempuan yang tetap cantik meski tanpa make up. contohnya Medina Kamil. Dia naik gunung, belusukan di rimba, pun tetap cantik. Sekarang, bandingkan dengan cappucinno yang tentu saja perlu kocek lebih dalam kecuali jika beli kopi sachet yang bikin harimu tambah berwarna, atau yang serasa di Itali. Cappucino itu memang cantik, molek, lembut, dan tentunya memikat karena riasan genius ala barista professional, tapi sebagai kopi ia kurang nendang. Belum lagi jika melihat riasan-riasan yang aduhai bikin sayang untuk mengaduk dan menegaknya. Padahal kan beli kopi untuk diminum bukan hanya untuk dipantengi. Berbeda dengan kopi hitam yang apa adanya, selamanya hitam, dan begitu sampai habis tanpa basa-basi dan pura pura, cappuccino tampaknya tak demikian, ketika diaduk, sirna sudah kecantikan yang dibuat dari buih-buih susu itu. Belum lagi kengerian yang dirasakan oleh pria sekelas saya yang secara mental dan modal serba kurang. Aku mah apa atuh? Maka meminum secangkir cappuccino dan mendapatkan perempuan molek itu seperti menginginkan ngopi diangkringan ditemani Syahrini maju mundur cantik. Maka kesimpulannya, carilah pacar yang seperti kopi hitam. Loh kok? Iya, sederhana, apa adanya, memikat, dan kuat. Tidak takut keluar dibawah terik matahari, tidak perlu risau karena lupa bawa bedak, dan tidak perlu malu keluar tanpa lipstick. Hehehe. Tapi apa pun bentuknya, sederhana dan apa adanya, atau pun dengan riasan nan cantik, kopi itu ibarat wanita bagi laki-laki yang masih bisa mengagumi perempuan. Ia bisa bikin jantung berdebar dan bikin nagih. Nagihnya jangan diartikan macam-macam loh ya; nagih pingin ketemu, nagih pingin nyawang, nagih pingin ngobrol, dan nagih-nagih lainnya kecuali nagih hutang.
Selain mengingatkan saya pada ayah, kopi juga mengingatkan saya pada hujan. Hahaha. Sok romantis. Bukan itu maksud saya. Dengarkan dulu. Berhubung saya single, kalau bukan jomblo, yang setia menemani saya adalah kopi. Ia bisa menemani membaca novel, koran, majalah, atau sekedar berselancar di dunia maya dengan diamnya yang membikin hujan dan bacaan begitu syahdu syalala syahrini. Ia bisa menemani dan kita tak perlu takut ditinggalkan, kita butuh meminum kopi dan kopi butuh diminum karena itu bisa jadi salah satu eksistensi kenapa kopi tercipta di dunia, seperti kenapa Hawa tercipta didunia. Hubungan timbal balik. Ayah saya menanam kopi, merawatnya, panen, sisa panen yang dijual ditumbuk dan diminum sendiri. Saya jadi berfikir, bagaimana jika menjalin hubungan seperti menenggak kopi, saling membutuhkan dan tidak ada kata sakit hati. Minum kopi tak akan membikin sakit kecuali peminumnya sampai kalap meminum seember kopi ukuran 20 liter yang bisa jadi membikin jantung meledak. Minum kopi seperti ini tentu saja tidak masuk akal, berlebihan, tidak wajar,  atau malah bisa dibilang gila. Minum kopi itu harus penuh cinta, pelan-pelan, sesruput demi sesruput, jangan terlalu bernafsu,  sambil kongkow diangkringan, atau dimana pun sesuai selera, ditemani rokok dan ngobrol ngalor ngidul. Wah itu istimewa. Beda rasanya jika segelas langsung ditenggak habis kecuali espresso yang ukurannya cuma 23 ml. Minum kopi itu harus dibedakan sama minum arak atau soju. Jika tidak hilanglah romansanya. Mungkin karena kopi lah saya pada akhirnya menjadi single seperti ini. Jika kopi itu menjelma menjadi wujud Medina Kamil dan mau jadi pasangan saya, ya masa saya nolak. Itu kan kaya dapat uang 2 milyar dari acara Super Deal. Mana ada orang yang mau menolaknya kecuali konglomerat sekelas Bill Gates.
Kopi juga pasangan setia buat begadang ngejar tenggat waktu pengumpulan tugas maupun deadline-dealine yang membikin rambut saya yang keriting tambah keriting. Karena tidak ada pacar yang diajak sms, BBM, chatting, WA, atau yang lainnya, maka kopi ada dan masih setia dengan bisunya tanpa ngomel (meskipun kadang-kadang diomelin itu perlu, katanya tanda peduli).
Karena itu, tampaknya saya akan durhaka dan tidak tahu diri menduakan kopi jika saya punya pasangan. Saya tidak bisa membayangkan jika kopi yang saya tenggak, tiba-tiba caffeine yang terkandung didalamnya berubah menjadi makhluk jahat yang menyerang jantung saya karena cemburu membabi buta. Bisa jadi juga, dalam keadaan kalut karena saya tinggal, kopi itu berubah jadi virus yang membikin saya seperti zombie dan tidak bisa tidur berhari-hari. Itu kan ciloko akut. Maka karena saya cinta kopi, saya jadi takut menjalin hubungan. Sebagai pria saya harus memilih sebelum ada yang merajuk, kamu pilih dia apa aku?
Sebelum saya mengakhiri tulisan saya yang sebenarnya tidak jelas muaranya, ijinkan saya memberikan nilai moral pada tulisan saya ini. Jika anda jomblo dan gelisah karena tak kunjung punya pacar, minumlah kopi, dekati kopi, dan cintailah kopi karena ia setia dan komoditi ekspor Indonesia Raya. Merdeka!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar