![]() |
| Coffee, taken from http://s3.amazonaws.com/ |
Semerbak
aroma kopi hitam selalu membuat saya rindu pada ayah. Bukan bermaksud
menekankan bahwa saya adalah orang melankolis yang menyebabkan saya takut
memiliki hubungan serius loh ya, tapi aroma atau bebauan selalu membawa saya kepada
sebuah kenangan. Maka beruntung sekali bahwa aroma kopi tidak mengingatkan saya
pada mantan-mantan yang pada akhirnya mata hatinya terbuka bahwa saya adalah
pria yang tidak tepat. Loh emang pernah pacaran ya? Kopi dan sosok ayah itu
sangat dekat dan kami pun masih setia ngopi
bersama ketika saya mudik yang tak tentu itu.
Ngopi itu seperti
sebuah budaya di desa saya. Mungkin karena di daerah dingin yang jika pagi bisa
berkabut. Jangan heran ada kebiasan karing,
alias menghangatkan badan dibawah sinar matahari. Kebiasan seperti ini seperti
nongkrong tapi ala orang desa. Maka,
sejak SD, saya sudah terbiasa ngopi
pagi-pagi di depan tungku tentu bersama
ayah saya. Saya lupa, apa saja yang dibicarakan, yang jelas bukan urusan
hukuman mati kasus narkoba, ISIS, Pak Jokowi, Pak Ahok, atau urusan politik. Selain
saat itu saya tak mendengar ada hukuman mati, ISIS pun belum ada, Jokowi belum
jadi presiden, dan Ahok pun belum menjadi gubernur Jakarta. Ayah saya petani
biasa yang ijazah SD pun tidak punya gara-gara tidak ikut ujian, maka, tahu apa
beliau soal politik dan soal hukuman mati. Lah
wong kalender masehi dan bulan masehi saja tidak hafal. Tapi, beliau tahu
pasti mengenai kalender Pranata Mangsa
sebagai acuan bercocok tanam yang makin lama, kata beliau, makin tidak jelas.
Nah, beliau tidak tahu bahwa dunia mengalami Global Warming.
Karena
besar meminum kopi hitam, saya pun tumbuh menyukai kopi hitam daripada kopi
yang ditambah susu, coklat atau apapun itu yang ada di cafe-cafe. Enak, tapi
tidak enak ketika bayar. Kesannya pun berbeda. Kopi hitam, kalau boleh meminjam
kalimat Dee dalam Filosofi Kopi, itu sederhana dan memikat. Iya tidak perlu
riasan atau make up macam-macam untuk memikat lidah. Mungkin, kalau diibaratkan
perempuan itu ya perempuan yang tetap cantik meski tanpa make up. contohnya
Medina Kamil. Dia naik gunung, belusukan di rimba, pun tetap cantik. Sekarang,
bandingkan dengan cappucinno yang tentu saja perlu kocek lebih dalam kecuali
jika beli kopi sachet yang bikin harimu tambah berwarna, atau yang serasa di
Itali. Cappucino itu memang cantik, molek, lembut, dan tentunya memikat karena
riasan genius ala barista professional, tapi sebagai kopi ia kurang nendang.
Belum lagi jika melihat riasan-riasan yang aduhai bikin sayang untuk mengaduk dan
menegaknya. Padahal kan beli kopi untuk diminum bukan hanya untuk dipantengi. Berbeda dengan kopi hitam
yang apa adanya, selamanya hitam, dan begitu sampai habis tanpa basa-basi dan
pura pura, cappuccino tampaknya tak demikian, ketika diaduk, sirna sudah
kecantikan yang dibuat dari buih-buih susu itu. Belum lagi kengerian yang
dirasakan oleh pria sekelas saya yang secara mental dan modal serba kurang. Aku mah apa atuh? Maka meminum secangkir
cappuccino dan mendapatkan perempuan molek itu seperti menginginkan ngopi diangkringan ditemani Syahrini
maju mundur cantik. Maka kesimpulannya, carilah pacar yang seperti kopi hitam.
Loh kok? Iya, sederhana, apa adanya, memikat, dan kuat. Tidak takut keluar
dibawah terik matahari, tidak perlu risau karena lupa bawa bedak, dan tidak
perlu malu keluar tanpa lipstick. Hehehe. Tapi apa pun bentuknya, sederhana dan
apa adanya, atau pun dengan riasan nan cantik, kopi itu ibarat wanita bagi
laki-laki yang masih bisa mengagumi perempuan. Ia bisa bikin jantung berdebar
dan bikin nagih. Nagihnya jangan diartikan macam-macam loh ya; nagih pingin ketemu, nagih
pingin nyawang, nagih pingin ngobrol,
dan nagih-nagih lainnya kecuali nagih hutang.
Selain
mengingatkan saya pada ayah, kopi juga mengingatkan saya pada hujan. Hahaha.
Sok romantis. Bukan itu maksud saya. Dengarkan dulu. Berhubung saya single, kalau bukan jomblo, yang setia
menemani saya adalah kopi. Ia bisa menemani membaca novel, koran, majalah, atau
sekedar berselancar di dunia maya dengan diamnya yang membikin hujan dan bacaan
begitu syahdu syalala syahrini. Ia
bisa menemani dan kita tak perlu takut ditinggalkan, kita butuh meminum kopi
dan kopi butuh diminum karena itu bisa jadi salah satu eksistensi kenapa kopi
tercipta di dunia, seperti kenapa Hawa tercipta didunia. Hubungan timbal balik.
Ayah saya menanam kopi, merawatnya, panen, sisa panen yang dijual ditumbuk dan
diminum sendiri. Saya jadi berfikir, bagaimana jika menjalin hubungan seperti
menenggak kopi, saling membutuhkan dan tidak ada kata sakit hati. Minum kopi tak
akan membikin sakit kecuali
peminumnya sampai kalap meminum seember kopi ukuran 20 liter yang bisa jadi membikin jantung meledak. Minum kopi
seperti ini tentu saja tidak masuk akal, berlebihan, tidak wajar, atau
malah bisa dibilang gila. Minum kopi itu harus penuh cinta, pelan-pelan, sesruput demi sesruput, jangan terlalu bernafsu,
sambil kongkow diangkringan,
atau dimana pun sesuai selera, ditemani rokok dan ngobrol ngalor ngidul. Wah itu istimewa. Beda rasanya jika segelas langsung
ditenggak habis kecuali espresso yang
ukurannya cuma 23 ml. Minum kopi itu harus dibedakan sama minum arak atau soju.
Jika tidak hilanglah romansanya. Mungkin karena kopi lah saya pada akhirnya
menjadi single seperti ini. Jika kopi itu menjelma menjadi wujud Medina Kamil
dan mau jadi pasangan saya, ya masa saya nolak.
Itu kan kaya dapat uang 2 milyar dari acara Super Deal. Mana ada orang yang mau
menolaknya kecuali konglomerat sekelas Bill Gates.
Kopi
juga pasangan setia buat begadang ngejar
tenggat waktu pengumpulan tugas maupun deadline-dealine
yang membikin rambut saya yang
keriting tambah keriting. Karena tidak ada pacar yang diajak sms, BBM, chatting, WA, atau yang lainnya, maka
kopi ada dan masih setia dengan bisunya tanpa ngomel (meskipun kadang-kadang diomelin
itu perlu, katanya tanda peduli).
Karena
itu, tampaknya saya akan durhaka dan tidak tahu diri menduakan kopi jika saya
punya pasangan. Saya tidak bisa membayangkan jika kopi yang saya tenggak,
tiba-tiba caffeine yang terkandung didalamnya berubah menjadi makhluk jahat
yang menyerang jantung saya karena cemburu membabi buta. Bisa jadi juga, dalam
keadaan kalut karena saya tinggal, kopi itu berubah jadi virus yang membikin
saya seperti zombie dan tidak bisa tidur berhari-hari. Itu kan ciloko akut. Maka karena saya cinta
kopi, saya jadi takut menjalin hubungan. Sebagai pria saya harus memilih
sebelum ada yang merajuk, kamu pilih dia apa aku?
Sebelum
saya mengakhiri tulisan saya yang sebenarnya tidak jelas muaranya, ijinkan saya
memberikan nilai moral pada tulisan saya ini. Jika anda jomblo dan gelisah
karena tak kunjung punya pacar, minumlah kopi, dekati kopi, dan cintailah kopi
karena ia setia dan komoditi ekspor Indonesia Raya. Merdeka!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar