“Jangan
bicara tentang akal, jangan bicara tentang adil” begitu kata Bunda (Dewi
Irawan) kepada Hans (Marcell Domits) dan Lea (Prisia Nasution) dengan mata yang hampir tumpah
oleh air mata. Ia menahan isak yang Nampak begitu sesak. Lalu ketiganya hening.
Cinta memang kadang rumit. Dalam segmen Rectoverso: Malaikat Juga Tahu ini,
cinta memang rumit. Ia meunjukan wajah lain. Bukan semata tawa bahagia, tapi
urai air mata.
Akal dan
adil disini memang harus dipertanyakan dan tak perlu dituntut. Memang bagi Hans
tidak adil jika Bunda menuntut agar hubunganya dengan Lea disenbunyikan dari
Abang (Lukman Sardi) yang memiliki keistimewaan dibanding dengan adiknya itu,
hans. Jika Hans menuntut adil bukankah itu juga ketidak adilan karena Hans
dalam pandangan manusia pada umumnya lebih sempurna dibanding Abang dan bisa
mendapatkan perempuan yang ia sukai. Tapi Abang, dengan kondisinya, mungkinkah
cintanya terbalas oleh perempuan yang ia cintai. Cinta yang kata Bunda tanpa
rayuan. Cinta yang nyata. Cinta yang tulus melebihi cintanya Hans pada Lea.
Betapapun tulus cintanya Abang dibanding Hans, siapapun pasti bisa menebak
diantara keduanya yang mana yang akan dipilih oleh Lea. Ini juga salah satu
ketidakadilan yang selamanya akan dihadapi oleh Abang hanya karena ia berbeda
dari manusia pada umumnya.
Dinalar dari
akal pikir manusia yang menyebut dirinya normal, memang sepertinya tak masuk
akal seorang seperti Abang bisa jatuh cinta. Ini bukanlah omong kosong belaka
yang hanya merupakan rekaan penulis semata. Perlu dikaji juga bahwa manusia
seperti apapun, dengan kondisi seperti apapun memiliki kesamaan. Mereka
sama-sama memiliki cinta. Mereka sama-sama bisa mencintai dan ingin dicintai.
Film ini menyadarkan akan hal itu. Hal yang kebanyakan dilupakan dan diabaikan
orang hanya karena ketidaksamaan. Ketidaksamaan yang kadang membuat mereka
diperlakukan bukan sebagai manusia seutuhnya.
Ya, manusia
memang telah terlahir dengan ketidakadilan-ketidakadilan. Tapi meskipun
demikian, dalam film ini, Abang beruntung memiliki Ibu yang begitu
menyayanginya. Ia juga beruntung, meskipun ia berbeda, Lea memperlakukan Abang
dengan penuh kasih sayang. Kita bisa melihat sebelum Hans pulang malam-malam
Lea dihabiskan di taman samping rumah menatap bintang bersama Abang. Meskipun
Abang asik dengan dunianya sendiri tapi Lea selalu berusaha berkomunikasi
denganya. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu kadang mencandu dan membekas
begitu intim dan intens. Lantas, Hans datang. Malam penuh bintang pun berbeda.
Abang kehilangan Lea. Makin lama Abang semakin kehilangan. Ia histeris. Senyum
bahagia bunda dibalik jendela tiap kali melihat mereka berdua bersama pun
berubah menjadi isak. Isak yang semakin memuncak ketika Bunda menemukan sebuah
tulisan Abang untuk Lea. Kelak ketika Lea telah pindah dari rumah kos Bunda. Ia
membaca tulisan tersebut.
Bukankah
sepertinya tidak masuk akal untuk Abang bisa menulis hal semacam itu? Tapi
itulah kenyataanya. Maka Bunda benar, tak perlu bicara tentang akal. Akal
manusia kadang tak sampai pada hal-hal semacam itu. meskipun Abang dan Hans
sama-sama mencintai Lea. Bunda tahu siapa yang lebih tulus. akan tetapi, dengan
rasionalitas Bunda, ia pun tahu siapa yang akan dipilih Lea. Jika Abang adalah
Hans, ketulusan itu bisa dipastikan berbalas. Tapi Abang adalah Abang dengan
hidup yang telah digariskan. Hidup yang sebenarnya terbebas dari hukum-hukum
tanpa memahami apa itu konsekuensi. Meskipun ia memiliki hukum dan aturan
sendiri tapi hukum dan aturanya tak berdaya sama sekali oleh hukum dan aturan manusia-manusia
seperti Hans, Bunda, dan Lea. Maka salah dan egois Hans mengatakan tidak adil
karena hidup juga telah tidak adil pada Abang jika ia mau menuntut.
Segmen
Malaikat Juga tahu merupakan segmen favourite saya setelah Hanya Isyarat.
Segmen ini mampu menghadirkan cinta yang tidak biasa. Cinta yang berurai air
mata. Cinta yang melebihi batas akal dan logika yang mungkin terlupa oleh
manusia pada umumnya. Cinta yang menentang akal dan keadilan. Segmen ini juga
menghadirkan actor favourite saya yang bermain sebagai Abang (Lukman Sardi)
dengan sangat apik. Dewi Irawan (Bunda) juga bermain bagus dan mampu membangun
chemistry yang solid dengan Lukman Sardi. Setelah menjadi Pemeran Terbaik dalam
ajang FFI, Prisia Nasution juga berperan dengan baik. Kesemuanya menjadi satu
bingkisan yang sendu tapi penuh dengan makna yang indah.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar