Senin, 26 Agustus 2013

RECTOVERSO: MALAIKAT JUGA TAHU


“Jangan bicara tentang akal, jangan bicara tentang adil” begitu kata Bunda (Dewi Irawan) kepada Hans (Marcell Domits) dan Lea (Prisia Nasution) dengan mata yang hampir tumpah oleh air mata. Ia menahan isak yang Nampak begitu sesak. Lalu ketiganya hening. Cinta memang kadang rumit. Dalam segmen Rectoverso: Malaikat Juga Tahu ini, cinta memang rumit. Ia meunjukan wajah lain. Bukan semata tawa bahagia, tapi urai air mata.
Akal dan adil disini memang harus dipertanyakan dan tak perlu dituntut. Memang bagi Hans tidak adil jika Bunda menuntut agar hubunganya dengan Lea disenbunyikan dari Abang (Lukman Sardi) yang memiliki keistimewaan dibanding dengan adiknya itu, hans. Jika Hans menuntut adil bukankah itu juga ketidak adilan karena Hans dalam pandangan manusia pada umumnya lebih sempurna dibanding Abang dan bisa mendapatkan perempuan yang ia sukai. Tapi Abang, dengan kondisinya, mungkinkah cintanya terbalas oleh perempuan yang ia cintai. Cinta yang kata Bunda tanpa rayuan. Cinta yang nyata. Cinta yang tulus melebihi cintanya Hans pada Lea. Betapapun tulus cintanya Abang dibanding Hans, siapapun pasti bisa menebak diantara keduanya yang mana yang akan dipilih oleh Lea. Ini juga salah satu ketidakadilan yang selamanya akan dihadapi oleh Abang hanya karena ia berbeda dari manusia pada umumnya.
Dinalar dari akal pikir manusia yang menyebut dirinya normal, memang sepertinya tak masuk akal seorang seperti Abang bisa jatuh cinta. Ini bukanlah omong kosong belaka yang hanya merupakan rekaan penulis semata. Perlu dikaji juga bahwa manusia seperti apapun, dengan kondisi seperti apapun memiliki kesamaan. Mereka sama-sama memiliki cinta. Mereka sama-sama bisa mencintai dan ingin dicintai. Film ini menyadarkan akan hal itu. Hal yang kebanyakan dilupakan dan diabaikan orang hanya karena ketidaksamaan. Ketidaksamaan yang kadang membuat mereka diperlakukan bukan sebagai manusia seutuhnya.
Ya, manusia memang telah terlahir dengan ketidakadilan-ketidakadilan. Tapi meskipun demikian, dalam film ini, Abang beruntung memiliki Ibu yang begitu menyayanginya. Ia juga beruntung, meskipun ia berbeda, Lea memperlakukan Abang dengan penuh kasih sayang. Kita bisa melihat sebelum Hans pulang malam-malam Lea dihabiskan di taman samping rumah menatap bintang bersama Abang. Meskipun Abang asik dengan dunianya sendiri tapi Lea selalu berusaha berkomunikasi denganya. Kebiasaan-kebiasaan kecil seperti itu kadang mencandu dan membekas begitu intim dan intens. Lantas, Hans datang. Malam penuh bintang pun berbeda. Abang kehilangan Lea. Makin lama Abang semakin kehilangan. Ia histeris. Senyum bahagia bunda dibalik jendela tiap kali melihat mereka berdua bersama pun berubah menjadi isak. Isak yang semakin memuncak ketika Bunda menemukan sebuah tulisan Abang untuk Lea. Kelak ketika Lea telah pindah dari rumah kos Bunda. Ia membaca tulisan tersebut.
Bukankah sepertinya tidak masuk akal untuk Abang bisa menulis hal semacam itu? Tapi itulah kenyataanya. Maka Bunda benar, tak perlu bicara tentang akal. Akal manusia kadang tak sampai pada hal-hal semacam itu. meskipun Abang dan Hans sama-sama mencintai Lea. Bunda tahu siapa yang lebih tulus. akan tetapi, dengan rasionalitas Bunda, ia pun tahu siapa yang akan dipilih Lea. Jika Abang adalah Hans, ketulusan itu bisa dipastikan berbalas. Tapi Abang adalah Abang dengan hidup yang telah digariskan. Hidup yang sebenarnya terbebas dari hukum-hukum tanpa memahami apa itu konsekuensi. Meskipun ia memiliki hukum dan aturan sendiri tapi hukum dan aturanya tak berdaya sama sekali oleh hukum dan aturan manusia-manusia seperti Hans, Bunda, dan Lea. Maka salah dan egois Hans mengatakan tidak adil karena hidup juga telah tidak adil pada Abang jika ia mau menuntut.

Segmen Malaikat Juga tahu merupakan segmen favourite saya setelah Hanya Isyarat. Segmen ini mampu menghadirkan cinta yang tidak biasa. Cinta yang berurai air mata. Cinta yang melebihi batas akal dan logika yang mungkin terlupa oleh manusia pada umumnya. Cinta yang menentang akal dan keadilan. Segmen ini juga menghadirkan actor favourite saya yang bermain sebagai Abang (Lukman Sardi) dengan sangat apik. Dewi Irawan (Bunda) juga bermain bagus dan mampu membangun chemistry yang solid dengan Lukman Sardi. Setelah menjadi Pemeran Terbaik dalam ajang FFI, Prisia Nasution juga berperan dengan baik. Kesemuanya menjadi satu bingkisan yang sendu tapi penuh dengan makna yang indah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar