Senin, 02 Desember 2013

DIENG: AN INCREDIBLE ONE DAY TOUR

Setelah turun dari Gunung Prau, saya dan rekan saya memutuskan untuk keliling Dieng seharian sebelum kembali ke Jogja. Malam sebelumnya kami menginap di rumah salah satu pengurus Basecamp Gunung Prau. Ini seperti cerita Cinderella yang berakhir bahagia dimana kami tak lagi menginap di kebun kentang. Kami tidur dikasur yang empuk dan selimut yang hangat. Hmmmmm…… it’s a happy ending and I love it. Dari situ kami mengetahui beberapa fakta tentang Dieng yang salah satunya adalah fenomena rambut Gimbal, fakta tentang kawah Timbang yang beberapa waktu yang lalu sempat membuat geger media elektronik dan media cetak. Ia bercerita seperti pengantar tidur bahwa apa yang diberitakan media tak seperti apa yang sesungguhnya terjadi, media kadang-kadang terlalu melebih-lebihkan dan itulah yang terjadi ketika kejadian Kawah Timbang hingga ada kejadian salah satu warga dikeroyok masa atas berita yang telah tersebar. Dieng saat itu katanya baik-baik saja. lokasi kawah Timbang terpaut jauh dengan Dieng. Tapi, pemberitaan demi pemberitaan membuat pariwisata dieng mati sejenak. Siapa yang tidak kesal dengan hal demikian padahal selain sector pertanian, wisata juga merupakan salah satu sector utama disana.
Ia juga seorang petualang, katanya ia akan menikah setelah berhasil menaklukan Puncak Rinjani. Saya mengamini nya. Saya suka sudut pandangnya yang tidak mengutamakan menikah tapi tidak menentang pernikahan. Hanya menundanya saja.
Paginya, meskipun mendung, one day trip nya tetap menjadi misi utama. Siapa tahu matahari muncul setelah jam 09.00. siapa tahu ketemu jodoh di kompleks candi arjuna, siapa tahu nemu harta karun di kawah Sikidang. And then here we are… beberapa lokasi yang akan dikunjungi. Memang termasuk tujuan mainstream turis-turis yang berkunjung ke dieng. Selain kawah Sikidang dan kompleks Candi Arjuna, kami mengunjungi telaga warna tentu saja, telaga cebong di lembah bukit sikunir, gardu pandang dan kawasan Agrowisata kebun the Tambi. Sayangnya kami tak ke kawah Candradimuka dimana Sang Gatotkaca mencelupkan diri menjadi sakti mandraguna. Siapa tahu ketika saya kesana dan mencemplungkan diri ke kawahnya saya juga bisa berotot kawat balung besi dan berparas arjuna. Well, that’s just a silly imagination. Karena, ketika ke kawah sikidang pun bau belerang membuat pusing apalagi mencelupkan diri. Bisa-bisa jadi opor manusia. Memakai masker sangat disarankan disana agar bisa menikmati pemdandangan kawah Sikidang dan sekitarnya lebih lama. Really, it’s worthed. Karena tak memakai masker dan tak bisa berlama-lama di Kawah Sikidang, takut ada dorongan niat untuk melompat ke pusat kepulan asap itu, saya dan rekan saya menghabiskan waktu di kompleks candi Arjuna. Sebenarnya nama kompleks candinya harusnya kompleks candi pandawa, masalahnya candi-candi disana bernama ksatria-ksatria pandawa dan Semar. Atau mungkin nama diambil karena Arjuna konon katanya adalah ksatria yang paling tampan.
Sekedar informasi saja, kompleks candi tersebut masih dignakan untuk sembahyang jadi kurangi perilaku-perilaku yang kurang baik. Candi adalah tempat ibadah yang tak beda seperti Masjid bagi orang muslim atau Gereja bagi orang Kristen/Katolik. Fungsinya Tak berbeda dengan candi-candi lain sebenarnya seperti candi Borobudur dan candi Prambanan meskipun kompleks candi ini jah lebih kecil. Akan tetapi aura magis di kompleks candi ini tak sepekat seperti di kawasan Telaga Warna. Di telaga warna ada beberapa Guan yang masih dijaga oleh juru kunci. Apalagi saat itu mendung dan kabut menyelimuti permukaan telaga.  Hmmmm… tapi jangan khawatir, kawasan telaga warna tidak menjual aura magis tapi menjual keindahan. Tentu saja karena ini kawasan wisata, gua-gua yang ada di sekitar telaga bisa dimasuki tetapi dengan ijin sang Juru Kunci dan dengan guidance dari Juru Kunci. Jadi kalau masuk ke Gua-gua tertentu tidak ngeloyor sendirian. Bisa-bisa nyasar nggak balik. Tapi alasan lain mungkin untuk menjaga kesakralan beberapa gua tersebut. Dan sebagai turis yang baik hendaknya tak perlu berfikir yang aneh-aneh. Cukup menikmati alam, jeprat jepret narsis, jangan buang sampah sembarangan, dan tak perlu menceburkan diri ke telaga. Bukan apa-apa. Udaranya saja sudah dingin bagaimana airnya.
Dalam perjalanan pulang, kami mampir ke gardu pandang. Well, ternyata kabutnya belum hilang juga ditambah angin. Wew! Enaknya meneruput kopi panas atau teh panas dan makan gorengan yang banyak tersaji di dekat gardu pandang. Ada menu lain selain gorengan, kopi, dan, teh yaitu tak lain dan tak bukan adalah kentang goreng. Harganya juga murah mulai dari 2000. Dingin diluar tapi hangat di dalam. Sekedar info, meskipun ada gorengan, kopi, dan teh  tetap disarankan untuk memakai pakaian yang bisa menghangatkan badan. Ketika itu saya terpaksa memakai celana pendek dan kaos oblong pendek dengan dilapisi rompi karena hanya itu yang tersisa. Bagaimana rasanya? Luar biasa. Luar biasa beku.
Perjalanan sayang sekali harus disudahi setelah agrowisata Tambi. Sebuah pemandangan hijau daun teh di lereng gunung.


Arca di kawasan Telaga Warna Dieng

 Telaga Warna, Dieng
 Si Kurir
 Kawasan Argowisata Tambi
 Kompleks Candi Arjuna, Dieng
 Pemandangan sekitar kompleks Candi Arjuna, Dieng
 Pemandangan sekitar kompleks Candi Arjuna, Dieng
 Desa Sambungan, desa tertinggi di Pulau Jawa, Dieng
 Desa Sambungan, desa tertinggi di Pulau Jawa, Dieng
 Telaga Cebong, Dieng
 Sikunir, Dieng
 Kawah Sikidang, Dieng
 Kompleks Candi Arjuna, Dieng
 Kawah Sikidang, Dieng


Tidak ada komentar:

Posting Komentar