Cinta
yang sederhana
Mencintai bisa dalam bentuk yang sangat sederhana dan dalam
kesederhanaan itu kadang tersimpan keindahan. Setidaknya hal ini yang saya
dapatkan dalam sebuah segmen film omnibus Rectoverso yang berjudul Hanya
Isyarat. Cinta menurut Alya bukanlah ketika ia memiliki semuanya. Memang bisa
dikatakan naïf oleh sebagian orang ketika ada sebuah pernyataan bahwa cinta tak
harus memiliki. Ada sebagian orang yang tak memahami pernyataan tersebut. Tapi
Alya bukanlah seorang yang serakah, yang harus memiliki apa yang ia cintai.
Memang ada sisi melankolis ketika ia sadar bahwa ia tak bisa memiliki apa yang
ia cintai. Ia juga mengakuinya. “saya mungkin adalah orang yang paling
bersedih”. Akan tetapi, ada semacam kesadaran bahwa menikmati hal-hal kecil
dalam sebuah perasaan yang disebut cinta bisa menjadi hal yang indah. Keindahan
yang sederhana dari sebuah pengertian dan pemahaman akan cinta itu sendiri.
cinta yang tidak berusaha menguasai. Cinta yang tidak berusaha mengekang. Cinta
yang tak serakah.
Alya bertemu dengan pria yang dicintainya dari sebuah milis
travelling yang menyatukan ia dengan 4 orang lainya. Ada 4 orang pria yang kesemuanya
bersahabat begitu saja seperti telah mengenal begitu lama. Sedangkan Alya
adalah anggota yang paling jarang berinteraksi. Ia lebih suka memperhatikan
mereka dari jauh sambil menggambar sketsa-skesta dari hal-hal yang menarik
perhatianya. Salah satu yang menarik perhatianya adalah punggung salah satu
temanya yang akhirnya membuatnya jatuh cinta. “aku jatuh cinta” begitu
ungkapnya “meskipun aku hanya bisa melihat dari balik punggungnya. Meskipun aku
tak mengetahui warna matanya”. Di sini memang bisa dibenarkan, jatuh cinta bisa
datang dari banyak hal, Alya diam-diam mencintai pria itu meskipun hanya bisa
melihat punggungnya karena lelaki itu memiliki pandangan-pandangan yang berbeda
dari yang lain. Kelak Alya akan tahu bahwa lelaki itu pernah mati Suri. Ketika
hidup kembali ia memutuskan untuk mencari ketenangan abadi. “aku hanya mencari
ketenangan abadi, bukan cinta, persahabatan, atau keluarga”. Di saat inilah
Alya bisa melihat warna mata lelaki itu ketika Alya terbujuk untuk duduk
bersama menceritakan hal-hal yang paling menyedihkan yang pernah mereka alami.
Dari sinilah cerita tentang mati suri itu ia ketahui. Ada yang ditinggal
meninggal kekasihnya sebulan sebelum pernikahan, ada yang ditinggal meninggal
sahabat karibnya, dan ada Alya yang menceritakan tentang sahabatnya yang hanya
tahu punggung ayam sebagai ayam yang tidak mengetahui bagian lain seperti dada,
paha, atau pun sayap. “ia adalah orang yang paling berbahagia meskipun hanya
tahu punggung ayam, ia bisa menikmatinya. Dan saya adalah orang yang paling
bersedih, karena saya hanya bisa memandangi punggungnya tanpa bisa memiliki.
Mampu melihat tapi tak mampu menggapai. Hanya bisa memmberi isyarat sehalus
awan, langit, atau pun hujan”.
Alya mengakui bahwa ia sedih tak bisa memiliki yang ia cintai,
sama seperti manusia lain pada umumnya. Lagipula siapa yang tak sedih. Tapi,
kesedihan itu bukanlah sebuah alasan untuk menjadi lemah, melankolis dan
seolah-olah dunia runtuh. Alya mencintai dengan cerdas tidak berhenti dan terjebak pada keinginan-keinginan untuk
memiliki yang tak mungkin. Ia tidak terjebak dalam sedihnya perasaan yang
menanggung kenyataan bahwa ia tak sanggup menggapai. Memang sulit memiliki
kesadaran bahwa cinta memiliki konsekuensi-konsekuensi yang harus dimengerti
dan ditanggung. Konsekuensinya tidak hanya bahagia selamanya, tapi
pertimbangkan juga jika cinta itu hanya satu pihak, akan ada air mata yang
harus dihadapi. Bagaimana cara menghadapi? Setiap orang memiliki cara yang
berbeda. Orang-orang tersebut ada yang terjebak dalam kesedihan dan kenyataan
bahwa ia tak sanggup menggapai. Tapi ada juga orang seperti Alya, yang masih
bisa melihat sisi cerah yang indah dan membehagiakan meskipun ia tak bisa
menggapai yang ia cintai.
Ia mencintai dengan sederhana. Ia mencintai dengan cerdas.
Ia mencintai dengan ketulusan bukan keserakahan. Meskipun tak semua hal bisa ia
gapai ada hal-hal kecil sederhana yang sering terlupa dari perhatian yang
justru bisa menjadi alasan untuk bahagia. Banyak yang terlau tamak sehingga
hanya bisa melihat hal-hal yang besar.
Setidaknya Alya bisa mengetahui warna mata lelaki itu.
Baginya itu sudah cukup. “sekarang aku tahu warna matanya. Hijau muda”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar