Sabtu, 24 Agustus 2013

RECTOVERSO: HANYA ISYARAT

Cinta yang sederhana

Mencintai bisa dalam bentuk yang sangat sederhana dan dalam kesederhanaan itu kadang tersimpan keindahan. Setidaknya hal ini yang saya dapatkan dalam sebuah segmen film omnibus Rectoverso yang berjudul Hanya Isyarat. Cinta menurut Alya bukanlah ketika ia memiliki semuanya. Memang bisa dikatakan naïf oleh sebagian orang ketika ada sebuah pernyataan bahwa cinta tak harus memiliki. Ada sebagian orang yang tak memahami pernyataan tersebut. Tapi Alya bukanlah seorang yang serakah, yang harus memiliki apa yang ia cintai. Memang ada sisi melankolis ketika ia sadar bahwa ia tak bisa memiliki apa yang ia cintai. Ia juga mengakuinya. “saya mungkin adalah orang yang paling bersedih”. Akan tetapi, ada semacam kesadaran bahwa menikmati hal-hal kecil dalam sebuah perasaan yang disebut cinta bisa menjadi hal yang indah. Keindahan yang sederhana dari sebuah pengertian dan pemahaman akan cinta itu sendiri. cinta yang tidak berusaha menguasai. Cinta yang tidak berusaha mengekang. Cinta yang tak serakah.
Alya bertemu dengan pria yang dicintainya dari sebuah milis travelling yang menyatukan ia dengan 4 orang lainya. Ada 4 orang pria yang kesemuanya bersahabat begitu saja seperti telah mengenal begitu lama. Sedangkan Alya adalah anggota yang paling jarang berinteraksi. Ia lebih suka memperhatikan mereka dari jauh sambil menggambar sketsa-skesta dari hal-hal yang menarik perhatianya. Salah satu yang menarik perhatianya adalah punggung salah satu temanya yang akhirnya membuatnya jatuh cinta. “aku jatuh cinta” begitu ungkapnya “meskipun aku hanya bisa melihat dari balik punggungnya. Meskipun aku tak mengetahui warna matanya”. Di sini memang bisa dibenarkan, jatuh cinta bisa datang dari banyak hal, Alya diam-diam mencintai pria itu meskipun hanya bisa melihat punggungnya karena lelaki itu memiliki pandangan-pandangan yang berbeda dari yang lain. Kelak Alya akan tahu bahwa lelaki itu pernah mati Suri. Ketika hidup kembali ia memutuskan untuk mencari ketenangan abadi. “aku hanya mencari ketenangan abadi, bukan cinta, persahabatan, atau keluarga”. Di saat inilah Alya bisa melihat warna mata lelaki itu ketika Alya terbujuk untuk duduk bersama menceritakan hal-hal yang paling menyedihkan yang pernah mereka alami. Dari sinilah cerita tentang mati suri itu ia ketahui. Ada yang ditinggal meninggal kekasihnya sebulan sebelum pernikahan, ada yang ditinggal meninggal sahabat karibnya, dan ada Alya yang menceritakan tentang sahabatnya yang hanya tahu punggung ayam sebagai ayam yang tidak mengetahui bagian lain seperti dada, paha, atau pun sayap. “ia adalah orang yang paling berbahagia meskipun hanya tahu punggung ayam, ia bisa menikmatinya. Dan saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya hanya bisa memandangi punggungnya tanpa bisa memiliki. Mampu melihat tapi tak mampu menggapai. Hanya bisa memmberi isyarat sehalus awan, langit, atau pun hujan”.   
Alya mengakui bahwa ia sedih tak bisa memiliki yang ia cintai, sama seperti manusia lain pada umumnya. Lagipula siapa yang tak sedih. Tapi, kesedihan itu bukanlah sebuah alasan untuk menjadi lemah, melankolis dan seolah-olah dunia runtuh. Alya mencintai dengan cerdas tidak berhenti  dan terjebak pada keinginan-keinginan untuk memiliki yang tak mungkin. Ia tidak terjebak dalam sedihnya perasaan yang menanggung kenyataan bahwa ia tak sanggup menggapai. Memang sulit memiliki kesadaran bahwa cinta memiliki konsekuensi-konsekuensi yang harus dimengerti dan ditanggung. Konsekuensinya tidak hanya bahagia selamanya, tapi pertimbangkan juga jika cinta itu hanya satu pihak, akan ada air mata yang harus dihadapi. Bagaimana cara menghadapi? Setiap orang memiliki cara yang berbeda. Orang-orang tersebut ada yang terjebak dalam kesedihan dan kenyataan bahwa ia tak sanggup menggapai. Tapi ada juga orang seperti Alya, yang masih bisa melihat sisi cerah yang indah dan membehagiakan meskipun ia tak bisa menggapai yang ia cintai.
Ia mencintai dengan sederhana. Ia mencintai dengan cerdas. Ia mencintai dengan ketulusan bukan keserakahan. Meskipun tak semua hal bisa ia gapai ada hal-hal kecil sederhana yang sering terlupa dari perhatian yang justru bisa menjadi alasan untuk bahagia. Banyak yang terlau tamak sehingga hanya bisa melihat hal-hal yang besar.
Setidaknya Alya bisa mengetahui warna mata lelaki itu. Baginya itu sudah cukup. “sekarang aku tahu warna matanya. Hijau muda”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar