Jumat, 17 Mei 2013



UP IN THE AIR
Up in the air menceritakan seorang pria lajang yang memiliki profesi sebagai pemecat orang. Kenapa judulnya seperti itu? Apa hubunganya dengan pria lajang berprofesi sebagai pemecat orang? jadi, alkisah di Amerika perusahaan-perusahaan di Amerika memiliki kesulitan ketika perusahaan tersebut harus mengurangi tenaga kerja yang disebabkan oleh banyak factor. Factor tersebut mungkin perusahaan yang mengalami kerugian sehingga harus mengurangi jumlah tenaga kerja. Bisa jadi, SDM nya sendiri yang dinilai kurang kompeten, dll. Pemecatan adalah hal yang menyakitkan dan membutuhkan cara agar yang dipecat tidak membuat reaksi yang belebihan meskipun pada kenyataanya reaksi berlebihan menjadi sangat biasa. Disinilah peranan George Clooney. Ia dikirim ke berbagai perusahaan di berbagai Negara bagian untuk memecat pegawai-pegawai yang telah ditentukan. Baginya reaksi apa pun sudah biasa dan dia bisa begitu tenang seolah-olah tidak punya perasaan ketika ada seorang ibu yang mengaku akan bunuh diri, atau ketika mendengar seorang pria paruh baya yang mengungkapkan bahwa pekerjaan yang dimiliki sekarang adalah pekerjaan satu-satunya guna menghidupi keluarganya. Ada juga yang merasa telah mengabdi begitu lama sehingga pemecatan adalah sebuah kesalahan, lagipula siapa George Clooney sehingga ia mempunyai wewenang untuk memecat? Beberapa hal tadi hanyalah sekelumit pengalaman dari apa yang telah ia alami.
Karena pekerjaanya menuntut dia untuk pergi ke satu tempat ke tempat lain dalam waktu yang berdekatan maka sebagian hidupnya ia habiskan di dalam pesawat. Sedangkan sebagian lainya ada di bumi dimana ia memijakan kaki secara nyata. Up in the air seperti sebuah cerminan hidup yang tidak biasa. Hidup yang berbeda dari orang pada umumnya. Ia memutuskan untuk lajang,. Ia nyaman hidup tanpa ikatan. Ia menyukai hidupnya yang ia anggap sempurna karena ia bebas kemana pun tanpa ada yang menyetir. Ia pergi karena ia ingin pergi tanpa ada yang membatasi. Usianya memang tak lagi muda tapi siapa peduli, itu hidup yang ia pilih. Lagipula ia memiliki pekerjaan yang membuatnya bisa bepergian ke sana kemari dan melihat hal-hal baru.  
Bagi orang lain mungkin hidup yang dipilih adalah hidup yang menyedihkan. Hidup yang sendiri. Hidup yang sepi. Tapi ia memiliki perspektif lain ketika ia tak terikat dengan apa pun dan tanpa membawa beban apa pun berarti ia bebas menentukan apa pun. Beban itu bisa jadi ditimbulkan karena ikatan atau apa pun yang menyebabkan seseorang enggan beranjak.. dan ransel kosong dalam seminarnya menunjukan bahwa ia tak membawa apa pun dan tak membutuhkan apa pun kecuali dia sendiri dalam perjalanan. Sebuah perjalanan yang jika di tarik ke sebuah lingkup yang lebih luas adalah kehidupan itu sendiri. Ia hanya butuh dirinya sendiri untuk hidup, untuk bahagia, dan untuk semuanya. Dan memang begitulah ia. Maka up in the air seperti sebuah prinsip yang begitu tidak membumi karena bagaimana hidup tanpa orang lain. Idealismenya memang tidak bisa diterima oleh semua orang bahkan keluarganya sendiri. Akan tetapi ia tidak membutuhkan pengakuan dan penerimaan orang lain untuk seperti itu. Dan ia juga tidak berusaha mempengaruhi orang untuk seperti itu kecuali dalam seminar Ransel Kosong yang memang menunjuk ia sebagai pembicara. Saya pribadi memiliki simpati terhadap tokoh yang diperankan oleh George Clooney dengan sangat baik ini. Harus menjadi sangat kuat untuk bisa seperti itu. Tidak semuanya saya setuju, tapi memang ada kalanya dan ada baiknya tidak merasa memiliki sesuatu kecuali kita sendiri. Bahkan dalam hubungan sekalipun tak perlu ada rasa memiliki yang posesif karena rasa memiliki itu pada akhirnya akan membuat luka. Membuang semua yang ada dalam ransel seperti membuat jarak dengan apa pun yang merasa manusia miliki. Merasa tidak memiliki apa-apa dalam satu sudut pandang adalah merupakan sebuah kebebasan.
Akan tetapi pada akhirnya ia adalah manusia biasa yang pada suatu titik kalah atau pun tersadar akan realita. Pada sebuah titik ia merasa harus kembali membumi dan menanggalkan idealism dan prinsipnya itu. Ia merasa sudah saatnya mendarat ke bumi dan hidup sebagaimana manusia pada umumnya seperti yang dikehendaki keluarganya. Ada banyak pertimbangan ketika ia harus menerima realita. Di titik ini ia meninggalkan kehidupan awang-awang yang telah di lakoninya. Ia memberikan hadiah yang ia dapat dari jasa penerbangan karena telah bepergian sepanjang 1000 mil kepada adiknya yang baru saja menikah. Maka bisa ditebak keluarganya pun menyambut ia yang berubah, yang menjadi manusia normal dalam tataran manusia pada umunya. Di segmen terakhir dalam Up in the Air kita menyaksikan runtuhnya idealisme yang telah ia bangun selama hidupnya untuk menjemput yang ia anggap berharga dalam ranselnya dengan begitu optimis.
Akan tetapi realita tak seindah drama komedi romantis. Bukan berarti juga keputusanya salah meskipun ia harus kecewa. Tidak mendapatkan apa yang diinginkan bukan berarti salah karena hidup juga memiliki rumus sendiri yang tidak bisa ditebak akan seperti apa. Optimismenya runtuh di Chicago. Apakah ia terpuruk? Tidak. Itu hanya fase lain yang mengantarkanya pada tingkatan lain. Bukankah sebelumnya ia telah terlalu nyaman dengan kehidupan awang-awangnya. Saya mengagumi keputusan besarnya untuk meninggalkan kebahagiaan yang telah ia miliki untuk sebuah kebahagiaan yang ia harapkan. Ia berani meninggalkan comfort zone nya untuk sebuah kebahagiaan lain meskipun ternyata ia tak mendapatkan apa yang ia harapkan itu.  Up in the Air menunjukan bahwa kita tak selalu harus mendapatkan apa yang diinginkan atau pun yang diharapkan karena realitanya yang diharapkan itu adalah milik dari orang lain yang juga bisa berkeputusan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar