Kamis, 16 Mei 2013

500 Days of Summer



500 Days of Summer
500 days of summer adalah salah satu film yang disebut sebagai film komedi romantic. Akan tetapi, jangan mengharapkan cerita seperti yang terdapat dalam Leap Year, The Ugly Truth, atau The Proposal. Sebelum menonton film ini buang jauh-jauh stereotype mengenai film komedi romantic jika kalian sudah tahu dari synopsis bahwa film ini ber genre komedi romantis. Bukan berarti film ini tidak bagus? Bukan. Bukan itu. Film ini bagus karena banyak realita tentang hidup dan cinta yang terpapar di dalamnya.
Realita adalah sebuah hal yang memang kadang pahit meskipun tak selamanya realita itu pahit. Kebahagiaan yang disambut dengan tawa sebenarnya di satu sisi melenakan kita terhadap realita yang sesungguhnya. Kita terlalu senang menyambut bahagia dengan tangan terbuka. Tanpa tanda Tanya. Tanpa curiga. Kita menyambutnya tanpa jarak atau tanpa pemikiran bahwa kelak ada yang lain setelah tawa itu. Adalah cinta yang membuat Tom (Joseph Gordon Levitt) bahagia. Ia tumbuh dengan kepercayaan bahwa cinta sejati memang ada dan pasti suatu ketika ia menemukan cintanya itu. Tom bertemu Summer (Zooey Deschannel) gadis cantik bergaya vintage yang digandrungi banyak laki-laki dan selalu membuat keuntungan di setiap perusahaan dimana ia bekerja. Tom bertemu summer yang sebenarnya tak percaya cinta sejati. Baginya hubungan dua orang laki-laki dan perempuan bukanlah yang harsu melibatkan hati. Dalam 500 Days of Summer inilah dua sosok yang berasal dari kutub berbeda bertemu. Mereka bersama. Mereka bercinta hingga Tom benar-benar percaya bahwa Summerlah cintanya. Ia bahagia tanpa bertanya. Ia bahagia tanpa curiga. Ia bahagia tanpa menjaga jarak dengan kebahagiaan itu. Realita menjadi sesuatu yang tak penting lagi. Baginya ia bahagia. Bahkan realita bahwa Summer mungkin tak berfikir bahwa diantara mereka ada cinta pun tak terfikirkan. Tom mabuk. Segala yang ada pada diri Summer adalah sebuah keindahan: senyumnya, rambutnya, dan bahkan benjolan di lututnya. Tom mabuk dalam genangan asmara. Itulah fase pertama. Fase jatuh cinta yang digambarkan sebagaimana yang terjadi di dalam hidup sehari-hari. Semuanya indah. Pagi adalah alunan music yang menghentak penuh semangat.
Akan tetapi dalam hidup, kebahagiaan adalah satu hal saja. Masih ada hal lain yang sering dilupakan. Hal lain itu bisa saja cemburu. Hal lain itu adalah patah hati dalam setiap hubungan. Tak muungkin dalam sebuah hubungan segalanya berjalan baik-baik saja. Dunia butuh cerita yang tak hanya menghibur tapi juga cerita tragis yang menguras air mata. Inilah fase putus. Sangat menyakitkan sebenarnya di tinggalkan ketika cinta itu tengah berada di titik puncak. Tapi realita ini sering tertutup oleh kebahagiaan yang di sambut dengan kalung bunga, music dan tari-tari. Fase ini digambarkan 500 days of summer dengan real. Yang tadinya indah menjadi sampah. Yang tadinya penuh pesona  menjadi biasa saja. Tawa menjadi air mata: sebuah realita yang sulit diterima tapi itulah yang terjadi. Siapa yang menerima air mata kecuali orang-orang yang benar-benar realistis dan mampu sembuh dari mabuknya. Summer mengendalikan Tom dengan sangat baik. wanita yang mampu menaklukan pria hingga hampir menghabisinya. Mungkin ada yang berspekulasi bahwa ada yang salah dengan wanita manis bergaya vintage ini. Ia seperti wanita yang tidak punya hati. Tapi apa setiap hubungan harus melibatkan hati dengan sangat intens tanpa mempertimbangkan apa yang akan terjadi esok? Cinta memang membutakan dalam satu sisi, tapi haruskah cinta itu membutakan mata terhada realita yang sesungguhnya. Summer wanita yang hebat. Ia mampu mengendalikan permainan dengan baik. sebaliknya, Tom adalah pria yang lemah, yang tidak bisa melihat realita dengan mata terbuka. Ia mabuk, tenggelam bersama perasaanya yang dangkal.
Lihat apa yang sebenarnya kita lakukan Tom? Summer mempertanyakan itu. Tentu saja Tom tercengang. Bukankah hari-hari yang mereka lewati adalah hari yang penuh cinta? Seketika itu juga Tom yang melayang tinggi terjatuh. Dan dengan intonasi yang begitu tenang tanpa beban Summer berkata bahwa mereka harusnta tak perlu bertemy lagi meskipun pada akhirnya Summer menemui Tom lagi. Bukan untuk kembali seperti yyang diharapkan Tom. 500 Days of Summer memang ber genre komedi romantis, ada romansa, ada kekonyolan, ada cinta, tetapi jangan mengharapkan film ini adalah film biasa karena film ini adalah film tentang realita. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar