5
CM
Karya: Donny Dirgantoro
Baru
setengah bagian dari novel saya baca. Kadang saya ikut memutar beberapa
lagu-lagu yang di lampirkan oleh penulis dalam novelnya. Ya beberapa lagu saja
karena koleksi lagu saya tidak se lengkap yang penulis miliki. Novel ini tidak
sekadar menghibur. Banyak sekali pelajaran yang menginspirasi saya dengan cara
penyampaian dan bahasa yang tidak rumit karena menggunakan bahasa anak muda. Ada
bagian dimana saya cekikikan sendiri seperti orang gila, ada bagian yang
mengharukan seperti ketika ke enam tokoh berada di lempuyangan. Ada bagian yang
mengajarkan saya untuk tidak mudah menyerah seperti pada saat tokoh ian
mengerjakan skripsi yang tertunda karena pada saat saya membaca novel ini saya
juga sedang mengerjakan skripsi yang tertunda. Ada bagian yang sangat personal
dimana saya secara tidak langsung lebih memahami diri saya yang kurang lebih
seperti dalam lagunya Radiohead, Fake
Plastic Trees. Ada bagian dimana saya juga mengerti bahwa saya telah
terjebak dalam zona aman seperti ketika penulis melalui tokoh Zafran mengutip
filsuf Yunani, Plato. Ketika mambaca bagian ini, saya memiliki tekad untuk
tidak takut berpetualang. Melepas zona nyaman. Melepas sesuatu yang kita anggap
milik kita. Hal ini menguatkan apa yang ditulis Budayawan Sudjiwo Tedjo dalam
kumpulan tulisanya yang berjudul Jiwo
J#ncuk dalam bagian Tubuhmu, Jiwamu, Binatangmu.
Novel
ini mengajarkan sesuatu tanpa menggurui. Melalui lima tokoh sentral, penulis
merangkum banyak hal dalam satu proses bersama yang disebut persahabatan. Lima
tokoh tersebut paling tidak mewakili karakter-karakter yang berbeda.
Masing-masing unik. Memiliki warna sendiri-sendiri. Warna-warna itu berbaur menjadi
pelangi yang melukiskan kisah yang apik dan cerdas (karena biar hancurnya
seperti apa pun, tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini semuanya cerdas,
kadang-kadang terasa seperti mustahil mereka semua serba tahu meskipun tidak
mustahil juga ketika dalam realita manusia mau belajar).
Bagian
melodramatic yang saya rasakan adalah bahwa saya juga memiliki beberapa sahabat.
Sahabat yang pada akhirnya terpisah karena memang harus begitu. Setelah lulus
dari universitas masing-masing memiliki kesibukan sendiri-sendiri yang
mengharuskan kita tinggal di kota yang berbeda. Sesak sekali rasanya. Mengapa
harus demikian? tapi kekhawatiran itu di tepis melalui quotation sederhana dari
lagu yang dinyanyikan oleh Ptoject Pop, “bila
kita nanti tua dan hidup masing-masing ingatlah hari ini….”. sekali lagi
meskipun secara tidak langsung saya mengucapkan terima kasih buat pengarang
novel 5 cm meskipun covernya telah bergambar poster film (jujur saya kurang
suka). Apalah arti sebuah cover.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar