Di
luar hujan deras. Tadi malam kami berencana untuk ke pantai jam 04.30 agar bias
menikmati matahari terbit di pantai. Pasti menyenangkan dan luar biasa. aku
melihatnya masih tertidur lelap di balik
selimutnya. Ah, kita tak jadi ke pantai
dan melihat sun rise. Hari sebelumnya
kami terlalu siang ke pantai, jadi kami tak menikmati sun rise di pantai, tapi
di perjalanan menuju pantai. Ia membuat pohon kelapa menjadi siluet yang indah,
sedangkan cahanya begitu lembut di cakrawala. Tak ada kamera. Hanya kurekam di
dalam memoriku saja. Kubekukan disana selama yang aku bisa.
Tak
kusangka pantainya penuh sesak seperti hiruk pikuk lebaran. Dan yang membuatku
tambah terkejut, banyak sekali mobil dan motor di area parkir berpasir hitam.
Beberapa ber plat B, beberapa ber plat D. apa istimewanya pantai ini. Aku
penasaran. Lantas kulihat pantai dengan ombak yang ombaknya besar seprti pantai
selatan pada umumnya. Luas seperti parang tritis dan berpasir hitam. Katanya,
setiap tahun ada saja korban yang tewas terseret arus. Banyak yang bandel
memang, meskipun ada larangan dilarang berenang, tetap saja ada yang begitu
asik menceburkan diri, termasuk aku. Bagaimana mungkin ke pantai tanpa
menyentuh air. Hambar sekali bukan. Seperti seorang kanak-kanak, aku tak
peduli, aku asik bermain dengan buih putih dari ombak yang berusaha menepi.
Jika ada ombak yang lebih besar dari yang lainya aku berlari menepi. Aku
berkejar-kejaran dengan ombak. Gila. Memang begitu. Mungkin ada yang
memerhatikanku dan berujar “norak”. Mungkin ia pun berfikir demikian meskipun
ketika aku berlari-lari seperti anak-anak ia tetawa. Ah, tawanya begitu cantik.
Hujan
reda mungkin pukul 07.00. aku masih merasakan dingin. Aku lanjutkan tidur dan
bangun jam 08.00. sudah ada jadah goreng di meja. Hmmmmm….aromanya menggiurkan.
Si tuan rumah menyuruh ku membuat minuman. Aku menuju dapur dan mencari kopi.
Segelas kopi hitam di pagi hari sepertinya sempurna.aku bikin dua gelas, buat
aku dan temanku. Tak apalah tak jadi ke
pantai, ku sruput kopi hitam. Sekadar menikmati pagi bersama teman,
obrolan-obrolan kecil, dan music itu sudah cukup.
Dua
hari berjalan begitu cepat. Aku melirik jam. Hampir jam 12.00 yang berarti aku
harus segera pergi. Menuju tempat dimana aku harus melanjutkan hidup. Hal
menyenangkan memang berlalu begitu cepat. Dua hari yang cukup menyenangkan.
Bertemu dengan seorang teman. Mengulangi masa dimana kami makan bersama, ngopi,
dan membicarakan sesuatu dari yang tidak penting sampai sesuatu yang agak
penting. Dari gossip selebriti terkini hingga masalah pernikahan. Dari mencibir
sinetron Indonesia yang tak ada ceritanya hingga film Hollywood.
Music
jepang mengalun. Aku jadi ingin melamun di depan jendela memandangi gerimis.
Entahlah, kebanyakan lagu jepang membuat saya melankolis. Saya ingat saya harus
mengemasi beberapa pakaian yang saya bawa. Kutinggalkan music jepang. Kutinggalkan
melankolis. Tiba-tiba aku teringat akan
Jalan Daendels yang penuh lubang. Bukan berlubangnya yang aku ingat, tapi
keindahan di sekitarnya yang dipenuhi dengan tanaman-tanaman yang menghijau,
sungai-sungai yang akan segera bermuara ke laut. Sepertinya music jepang akan
serasi sekali menemaniku duduk melamun di tepi jendela sembari melihat
bunga-bungai tebu yang lembut, sawah-sawah yang hijau dan bersahaja,
sungai-sungai yang tenang. Ah, siapa peduli dengan jalan yang berliku dan
berlubang. Masih ada kebahagiaan kecil di jalan Daendels yang berguncang.
Saya
pamitan. Saya pandangi matanya sebelum saya benar-benar pergi. Saya tak perlu
menyesali perpisahan lagi. Sudah terlalu banyak perpisahan dan saya semakin
mati rasa. Sebenarnya sebelum saya naik bis dan melamun di depan jendela
mengagumi sekitar Jalan Daendels, saya ingin memeluknya sekadar beberapa menit
saja agar bias kuingat selama aku pergi. Meskipun ketika itu mungkin saja aku
tak sanggup melepasnya. Ah, Cuma khayalan, tidak mungkin aku bisa memeluknya,
apalagi menculiknya. Ia kekasih yang setia betapapun aku mengatakan
mencintainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar