Senin, 15 April 2013

Kenangan Kecil di Tepi Jalan Daendels



Di luar hujan deras. Tadi malam kami berencana untuk ke pantai jam 04.30 agar bias menikmati matahari terbit di pantai. Pasti menyenangkan dan luar biasa. aku melihatnya  masih tertidur lelap di balik selimutnya. Ah,  kita tak jadi ke pantai dan melihat sun rise. Hari sebelumnya kami terlalu siang ke pantai, jadi kami tak menikmati sun rise di pantai, tapi di perjalanan menuju pantai. Ia membuat pohon kelapa menjadi siluet yang indah, sedangkan cahanya begitu lembut di cakrawala. Tak ada kamera. Hanya kurekam di dalam memoriku saja. Kubekukan disana selama yang aku bisa.
Tak kusangka pantainya penuh sesak seperti hiruk pikuk lebaran. Dan yang membuatku tambah terkejut, banyak sekali mobil dan motor di area parkir berpasir hitam. Beberapa ber plat B, beberapa ber plat D. apa istimewanya pantai ini. Aku penasaran. Lantas kulihat pantai dengan ombak yang ombaknya besar seprti pantai selatan pada umumnya. Luas seperti parang tritis dan berpasir hitam. Katanya, setiap tahun ada saja korban yang tewas terseret arus. Banyak yang bandel memang, meskipun ada larangan dilarang berenang, tetap saja ada yang begitu asik menceburkan diri, termasuk aku. Bagaimana mungkin ke pantai tanpa menyentuh air. Hambar sekali bukan. Seperti seorang kanak-kanak, aku tak peduli, aku asik bermain dengan buih putih dari ombak yang berusaha menepi. Jika ada ombak yang lebih besar dari yang lainya aku berlari menepi. Aku berkejar-kejaran dengan ombak. Gila. Memang begitu. Mungkin ada yang memerhatikanku dan berujar “norak”. Mungkin ia pun berfikir demikian meskipun ketika aku berlari-lari seperti anak-anak ia tetawa. Ah, tawanya begitu cantik. 
Hujan reda mungkin pukul 07.00. aku masih merasakan dingin. Aku lanjutkan tidur dan bangun jam 08.00. sudah ada jadah goreng di meja. Hmmmmm….aromanya menggiurkan. Si tuan rumah menyuruh ku membuat minuman. Aku menuju dapur dan mencari kopi. Segelas kopi hitam di pagi hari sepertinya sempurna.aku bikin dua gelas, buat aku dan temanku.  Tak apalah tak jadi ke pantai, ku sruput kopi hitam. Sekadar menikmati pagi bersama teman, obrolan-obrolan kecil, dan music itu sudah cukup.
Dua hari berjalan begitu cepat. Aku melirik jam. Hampir jam 12.00 yang berarti aku harus segera pergi. Menuju tempat dimana aku harus melanjutkan hidup. Hal menyenangkan memang berlalu begitu cepat. Dua hari yang cukup menyenangkan. Bertemu dengan seorang teman. Mengulangi masa dimana kami makan bersama, ngopi, dan membicarakan sesuatu dari yang tidak penting sampai sesuatu yang agak penting. Dari gossip selebriti terkini hingga masalah pernikahan. Dari mencibir sinetron Indonesia yang tak ada ceritanya hingga film Hollywood.
Music jepang mengalun. Aku jadi ingin melamun di depan jendela memandangi gerimis. Entahlah, kebanyakan lagu jepang membuat saya melankolis. Saya ingat saya harus mengemasi beberapa pakaian yang saya bawa. Kutinggalkan music jepang. Kutinggalkan melankolis.  Tiba-tiba aku teringat akan Jalan Daendels yang penuh lubang. Bukan berlubangnya yang aku ingat, tapi keindahan di sekitarnya yang dipenuhi dengan tanaman-tanaman yang menghijau, sungai-sungai yang akan segera bermuara ke laut. Sepertinya music jepang akan serasi sekali menemaniku duduk melamun di tepi jendela sembari melihat bunga-bungai tebu yang lembut, sawah-sawah yang hijau dan bersahaja, sungai-sungai yang tenang. Ah, siapa peduli dengan jalan yang berliku dan berlubang. Masih ada kebahagiaan kecil di jalan Daendels yang berguncang.
Saya pamitan. Saya pandangi matanya sebelum saya benar-benar pergi. Saya tak perlu menyesali perpisahan lagi. Sudah terlalu banyak perpisahan dan saya semakin mati rasa. Sebenarnya sebelum saya naik bis dan melamun di depan jendela mengagumi sekitar Jalan Daendels, saya ingin memeluknya sekadar beberapa menit saja agar bias kuingat selama aku pergi. Meskipun ketika itu mungkin saja aku tak sanggup melepasnya. Ah, Cuma khayalan, tidak mungkin aku bisa memeluknya, apalagi menculiknya. Ia kekasih yang setia betapapun aku mengatakan mencintainya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar