Stars :Bradley
Cooper, Jennifer Lawrence, Robert De Niro
Kehilangan akan
meninggalkan luka. Luka itu kadang sangat dalam hingga mereka mati rasa dan
kadang membuat mereka berhenti jadi manusia. Luka itu dialami Pat (Bradley
Cooper) setiap kali ia mendengarkan lagu pernikahannya dan mantan istrinya
Nikki (). Lagu yang pernah membuatnya sangat bahagia yang pada akhirnya
membuatnya masuk panti rehabilitasi hingga mendapat larangan bertemu Nikki
dalam jarak dekat. Lagu itu, meskipun hanya lagu mampu membuat seorang Pat
kehilangan kendali hingga ia mengobrak abrik sebuah ruang tunggu terapisnya.
Sebuah lagu yang meskipun tak nyata terdengar berdengung dalam otaknya yang
membuat emosinya meletup-letup. Pada akhirnya penonton akan tahu, ia sebenarnya
tak depresi lagi. Bahkan ia tengah menata hidupnya dengan selalu berfikir
positif akan kehidupan yang bahagia. Ia adalah penderita Bipolar dimana kondisi
psikologis seseorang tidak stabil.
Melalui tokoh Pat,
penonton bisa mempelajari kondisi kejiwaan seseorang yang mengidap penyakit
Bipolar. Dalam keadaan yang sangat labil ia akan melakukan apapun tanpa kendali
seperti yang dilakukan Pat di ruang tunggu terapisnya ketika mengobrak-abrik
rak buku dan hamper menghancurkanya. Akan tetapi ketika semua telah berantakan
penderita bipolar bisa saja menyadari kesalahanya dan berhenti kalap. Bahkan
minta maaf. Penderita bipolar bukan gila, bagaimana mungkin seorang gila
menjadi seorang guru sekolah menengah. Orang-orang bipolar hanya butuh dukungan
untuk menjadi lebih baik dan mengontrol diri. Dalam dunia nyata kita tahu
penyanyi era 90an Sinead dCo’onor juga mengidap penyakit ini, toh dia juga
sukses dengan hit single nya nothing
compares to you.
Kemudian Pat dalam
sebuah makan malam yang diadakan oleh temanya bertemu dengan Tiffany (Jennifer
Lawrence) yang bukan penderita Bipolar tapi menyimpan kesedihan yang sangat
dalam akan kehilangan suaminya secara mendadak. Depresi itu membuatnya menjadi
seorang maniak seks. Dalam film ini tak ditunjukan adegan seks yang vulgar akan
tetapi kita akan tahu dalam dialog yang terjadi antara Tiffani dan Pat di
sebuah restoran di hari Hallowen. Makan malam yang bukan kencan setelah makan
malam yang tidak berjalan dengan baik di rumah kakanya Tiffany. Dalam dialog
ini Jennifer Lawrence memainkan tokoh Tiffani dengan penuh emosi. Kehebatnya
menyembunyikan emosi dengan anggun sebelum akhirnya meledak dengan
memporak-porandakan gelas dan piring diatas meja. Kenapa bisa begitu? Ia tidak
terima jika kondisi kejiwaanya lebih parah dari Pat.
Seperti sebuah takdir,
mereka berdua, tokoh sentral dalam film ini yang tentu saja bermain dengan
baik, dipertemukan. Mereka memang sebenarnya sama seperti apa yang diutarakan
Tiffani kepada Pat. Persamaan itu adalah ditinggalkan orang yang dicintai yang
membuat mereka rapuh. Tapi rapuh ini ditanggapi keduanya dengan cara yang
berbeda. Jika pat meskipun masih sering meledak-ledak memiliki pemikiran yang
positif mengenai hidup yang kelak akan bahagia dimana ia akan kembali lagi
dengan Nikki, Tiffani memilih jalan lain karena ia tak mungkin kembali lagi
dengan suaminya. Ia mencandu seks. Tapi karena Tiffanilah Pat berubah. Ia
mngajari untuk bisa mengontrol diri ketika lagu sialan itu tiba-tiba terdengar.
“it’s just a song. Don’t make it a
monster. Take a deep breath” begitu kira-kira saran Tiffani pada Pat. Pat
pun mengikuti saran itu.
Film ini telah
memposisikan Jennifer Lawrence sebagai Best
Actress in a leading Role dalam ajang Golden Globe dan bahkan Academy
Awards setelah sebelumnya dinominasikan untuk kategori yang sama di film Winter’s Bone. Bahkan, Bradley Cooper
pun meski harus mengakui keunggulan Daniel Day Lewis dalam Lincoln, dinominasikan sebagai Best
Actor. Setidaknya ia tak hanya dikenal sebagai pria gila dalam film the Hangover, tapi ia telah dikenal juga sebagai aktor yang
layak disejajarkan dengan actor serius lainya yang tidak hanya tampan dan
komersil, tapi juga serius seperti Brad pitt, Leonardo di Caprio, dll.
Film ini juga
menunjukan bahwa setiap manusia memiliki sisi yang rapuh yang bisa menjadi
“gila”. Bahkan setelah menonton film ini saya jadi bertanya-tanya, sepertinya
saya penderita Bipolar. Hanya saja saya tidak berani ke dokter untuk mengetes
kondisi kejiwaan saya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar