Senin, 29 April 2013

SILVER LINING PLAYBOOK




Director     : David O. Russell 
Writers     :David O. Russell (screenplay), Matthew Quick (novel)
Stars    :Bradley Cooper, Jennifer Lawrence, Robert De Niro

Kehilangan akan meninggalkan luka. Luka itu kadang sangat dalam hingga mereka mati rasa dan kadang membuat mereka berhenti jadi manusia. Luka itu dialami Pat (Bradley Cooper) setiap kali ia mendengarkan lagu pernikahannya dan mantan istrinya Nikki (). Lagu yang pernah membuatnya sangat bahagia yang pada akhirnya membuatnya masuk panti rehabilitasi hingga mendapat larangan bertemu Nikki dalam jarak dekat. Lagu itu, meskipun hanya lagu mampu membuat seorang Pat kehilangan kendali hingga ia mengobrak abrik sebuah ruang tunggu terapisnya. Sebuah lagu yang meskipun tak nyata terdengar berdengung dalam otaknya yang membuat emosinya meletup-letup. Pada akhirnya penonton akan tahu, ia sebenarnya tak depresi lagi. Bahkan ia tengah menata hidupnya dengan selalu berfikir positif akan kehidupan yang bahagia. Ia adalah penderita Bipolar dimana kondisi psikologis seseorang tidak stabil.
Melalui tokoh Pat, penonton bisa mempelajari kondisi kejiwaan seseorang yang mengidap penyakit Bipolar. Dalam keadaan yang sangat labil ia akan melakukan apapun tanpa kendali seperti yang dilakukan Pat di ruang tunggu terapisnya ketika mengobrak-abrik rak buku dan hamper menghancurkanya. Akan tetapi ketika semua telah berantakan penderita bipolar bisa saja menyadari kesalahanya dan berhenti kalap. Bahkan minta maaf. Penderita bipolar bukan gila, bagaimana mungkin seorang gila menjadi seorang guru sekolah menengah. Orang-orang bipolar hanya butuh dukungan untuk menjadi lebih baik dan mengontrol diri. Dalam dunia nyata kita tahu penyanyi era 90an Sinead dCo’onor juga mengidap penyakit ini, toh dia juga sukses dengan hit single nya nothing compares to you.
Kemudian Pat dalam sebuah makan malam yang diadakan oleh temanya bertemu dengan Tiffany (Jennifer Lawrence) yang bukan penderita Bipolar tapi menyimpan kesedihan yang sangat dalam akan kehilangan suaminya secara mendadak. Depresi itu membuatnya menjadi seorang maniak seks. Dalam film ini tak ditunjukan adegan seks yang vulgar akan tetapi kita akan tahu dalam dialog yang terjadi antara Tiffani dan Pat di sebuah restoran di hari Hallowen. Makan malam yang bukan kencan setelah makan malam yang tidak berjalan dengan baik di rumah kakanya Tiffany. Dalam dialog ini Jennifer Lawrence memainkan tokoh Tiffani dengan penuh emosi. Kehebatnya menyembunyikan emosi dengan anggun sebelum akhirnya meledak dengan memporak-porandakan gelas dan piring diatas meja. Kenapa bisa begitu? Ia tidak terima jika kondisi kejiwaanya lebih parah dari Pat.
Seperti sebuah takdir, mereka berdua, tokoh sentral dalam film ini yang tentu saja bermain dengan baik, dipertemukan. Mereka memang sebenarnya sama seperti apa yang diutarakan Tiffani kepada Pat. Persamaan itu adalah ditinggalkan orang yang dicintai yang membuat mereka rapuh. Tapi rapuh ini ditanggapi keduanya dengan cara yang berbeda. Jika pat meskipun masih sering meledak-ledak memiliki pemikiran yang positif mengenai hidup yang kelak akan bahagia dimana ia akan kembali lagi dengan Nikki, Tiffani memilih jalan lain karena ia tak mungkin kembali lagi dengan suaminya. Ia mencandu seks. Tapi karena Tiffanilah Pat berubah. Ia mngajari untuk bisa mengontrol diri ketika lagu sialan itu tiba-tiba terdengar. “it’s just a song. Don’t make it a monster. Take a deep breath” begitu kira-kira saran Tiffani pada Pat. Pat pun mengikuti saran itu.
Film ini telah memposisikan Jennifer Lawrence sebagai Best Actress in a leading Role dalam ajang Golden Globe dan bahkan Academy Awards setelah sebelumnya dinominasikan untuk kategori yang sama di film Winter’s Bone. Bahkan, Bradley Cooper pun meski harus mengakui keunggulan Daniel Day Lewis dalam Lincoln, dinominasikan sebagai Best Actor. Setidaknya ia tak hanya dikenal sebagai pria gila dalam film the Hangover,  tapi ia telah dikenal juga sebagai aktor yang layak disejajarkan dengan actor serius lainya yang tidak hanya tampan dan komersil, tapi juga serius seperti Brad pitt, Leonardo di Caprio, dll.
Film ini juga menunjukan bahwa setiap manusia memiliki sisi yang rapuh yang bisa menjadi “gila”. Bahkan setelah menonton film ini saya jadi bertanya-tanya, sepertinya saya penderita Bipolar. Hanya saja saya tidak berani ke dokter untuk mengetes kondisi kejiwaan saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar