Minggu, 28 April 2013

JAVA HEAT; EKSOTISME JOGJA, INTRIK, DAN


Pemain             ; Kellan Lutz, Mickey Rourke, Ario Bayu, Atiqoh Hasiholan
Sutradara         ; Conor Allyn
Penulis             : Rob Allyn, Conor Allyn
Produksi          : A Reliance Entertainment Company, Margate House

Jogja berkabung. Penduduk memadati halaman keraton tempat bom terjadi dimana Sultana (Atiqoh Hasiholan), seorang Putri Sultan, tewas di dalamnya. Mereka membawa lilin. Ungkapan belasungkawa dan karangan bunga dimana-mana, bahkan disetiap sudut jalan. Kita mungkin akan mengingat bagaimana ketika (alm) Putri Diana mangkat. Ya, kurang lebih begitulah. Polisi sibuk mencari sang pelaku yang dikepalai oleh Hasyim (Ario Bayu) dan dibantu oleh Anton (Rio Dewanto).
Dari rekaman CCTV diketahui sebelum bom terjadi Sultana bercakap-cakap sejenak dengan seorang asing, Jake (Kellan Lutz). Maka Jake pun disekap dan dimintai keterangan. Melalui tokoh Jake inilah cerita berlanjut. Jake mengetahui apa yang Hasyim dan sebagian besar polisi tidak tahu. Sultana belum  tewas. Begitu katanya ketika melihat tubuh terbakar yang diduga Sultana di rumah sakit. Bukan saja pada hidung palsu, tapi juga tindik klitoris yang dilakukan mayat tersebut.
“saya pernah bertemu beliau” katanya
“saya tahu wanita” tambahnya
Melalui tanda yang ada dipaha wanita itulah pencarian dimulai. Pencarian untuk mengetahui siapa yang menculik Sultana dan apa motifnya.
Dari sini, sebenarnya Java Heat memiliki ide cerita yang menarik. Eksotisme Jawa dan Yogyakarta pun menjadi daya tarik tersendiri melalui  keraton, Senja di Candi Ratu Boko, Prambanan, Sawah-sawah, Taman Sari, Borobudur, dll. Fil ini sepenuhnya produksi Hollywood dengan melibatkan actor dan actress local. Akan tetapi dasar cerita yang menarik itu pada akhirnya mengalir dengan plot yang jalan ceritanya tidak begitu kuat.
Kita akan diperkenalkan pada sosok Akhmed (Mike Luckock) yang jika dilihat dari cara berpakaian adalah seorang muslim garis keras yang menggunakan bom sebagai jihad. Melalui tokoh Akhmed kita juga akan dipertemukan dengan seorang asing yang bernama Malik (Mickey Rourke). Disini sepertinya Mickey Rourke , yang pernah menjadi nominator ajang Garmmy Awards sebagai actor terbaik dan juga pernah menjadi musuh Iron Men II, menjadi seorang Muslim gadungan. Maksudnya, ia menjadi muslim agar bisa menghasut Akhmed. Ada beberapa sub cerita yang sebenarnya saya tidak mengerti. Memang selama ini banyak bom yang mengatasnamakan Jihad. Tapi apakah mengebom Keraton juga termasuk jihad. Apa sebodoh itu seorang Akhmed yang mau apa saja untuk jihad tanpa melihat konteksnya terlebih dahulu. Menurut saya tak perlu ada embel-embel Islam dan Bom di film ini karena ide cerita sebenarnya cukup menarik, atau, mungkin bisa diganti dengan sebab lain. Atau mungkin, ide cerita bom ini karena maraknya bom yang ada di Indonesia?
Selain itu lucu juga melihat Akhmed yang berpakain seperti seorang arab masuk kedalam sebuah club dimana penari strip tease menggodanya. Memang sih bukan berarti tidak boleh tapi terkesan wagu. Lagipula, apakah Akhmed juga tidak tahu siapa itu Ling.
Pemilihan Rudy Wowor yang sangat bule pun kurang tepat. Sepertinya di luar sana masih banyak actor-aktor yang bermuka jawa yang pas di jadikan Sultan Hamengkubowono X dalam film ini. Seperti contohnya Sultan Hamengkubuwono dalam Sang Pencerah yang dimainkan Sudjiwo Tedjo. Untungya porsi Rudy Wowor tidak dominan.
Terlepas dari itu semua, setidaknya ada kebanggaan bahwa Indonesia dilirik Hollywood sebagai lokasi syuting setelah Eat, Pray, Love yang dibintangi Julia Robert. Bedanya film Eat, Pray, Love berlokasi di Bali, sedangkan Java Heat di Yogyakarta. Dilihat dari gambar dalam film ini pun eksotisme Yogyakarta tak kalah dengan Thailand, maupun China. Lihat saja ketika layar memperlihatkan Festival Lampion di Borobudur. 

2 komentar: