Sabtu, 20 April 2013

SEKOTENG: Pertunjukan Ala Mahasiswa FIB UGM


Sederhana tapi cukup memikat. Itulah kesan saya ketika melihat pertunjukan anak-anak FIB UGM yang bertajub Sekoteng Selasa tanggal 16 april 2013. Beberapa memang masih perlu di poles lagi agar penampilanya lebih baik walaupun hanya tampil di kalangan mahasiswa saja dengan jumlah penonton yang tidak begitu banyak. Akan tetapi, saya berkeyakinan bahwa berapa pun jumlah penonton yang ada, baik sedikit maupun banyak, baik di lingkup terbuka maupun tertutup, performer wajib menampilkan yang terbaik.
Penampilan UKM yang diberi nama Sandal Simpul membuka pertunjukan dengan apik. Di awali dengan perkusi ala Korea (entahlah, saya lupa namanya), komunitas ini memulai pertunjukanya. Tidak hanya perkusinya, mahasiswa yang menunjukan aksinya pun memakai pakaian adat Korea (sepertinya. Yang jelas bukan baju casual atau pakaian Indonesia. Ini hanya asumsi. Hehehe). Tidak berhenti di situ saja, karena setelah sebuah lagu dimainkan, pertunjukan inti dari UKM ini dimulai. Angklung. Disinilah saya mendapatkan greget dari pertunjukan Sandal Simpul. Agak merinding sebenarnya kalau boleh lebay. Saya merinding karena di sini mereka mengkolaborasikan musik asli Indonesia dengan musik Korea dengan apik. Oh ya, kalau yang membawa perkusi ala Korea memakai baju ala Korea, yang membawa angklung pakai batik. Tak hanya berkolaborasi tidak jelas, mereka juga bermain melodi. Lagu pertama adalah Just the Way You Are yang di populerkan oleh Bruno Mars. Sedangkan lagu kedua adalah Ekspresi yang pernah di populerkan oleh Titi DJ dan Indra Lesmana. Lumayan juga. Saya jadi membayangkan jika ada musisi Indonesia yang mengkombinasikan music kontemporer dengan musik tradisional, tidak hanya angklung, tapi juga gamelan dan alat music tradisional Indonesia secara komersil. Menarik sekali seperti yang pernah dilakukan oleh Anggun Cipta Sasmi di album pertamanya Snow on the Sahara dan Chrysalis ketika dia masih mengangkat World Music sebagai aliran musiknya. Saya juga teringat Genesis yang dimotori oleh Phil Collin dan ada juga Enigma yang sama-sama mengangkat World Music. Sayangnya di Indonesia sepertinya belum banyak.   Bahkan belum ada. Setelah pertunjukan pertama selesai, saya tahu komunitas ini baru dibentuk. Wow. Masih banyak waktu untuk memoles dan bereksplorasi. Selain Just the Way You Are yang telah dimainkan dengan apik, mungkin bisa dicoba lagunya Super Junior yang Mr Simple. Kebetulan kan yang main anak-anak jurusan Korea.
Tak kalah menarik dari pertunjukan Sandal Simpul, komunitas Perkusi Anak pun unjuk kebolehan. Kali ini tidak dengan angklung tapi Jimbai. Yang istimewa adalah bahwa pemain perkusi berasal dari Sekolah Luar Biasa, tepatnya SLB 2 Yogyakarta. Mereka membuktikan bahwa kekurangan tidak menghentikan mereka untuk berkarya. Saya acungi jempol untuk mereka dan tentu saja untuk pelatih mereka. Dengan agak ragu-ragu mereka memulai pertunjukan. Diawali dengan penabuh bas. Iramanya sangat familiar dengan telinga saya. Saya mendefinisikannya sebagai irama magis. Entah dari mana asalnya, hanya asumsi saya saja sebenarnya, iramanya seperti music untuk memanggil hujan. Tepuk tangan menggema setelah lagu pertama mereka selesaikan. Mereka juga menggabung irama Jimbai dan irama lainya. Bukan alat music pada umumnya, tetapi dari botol-botol bekas sirup sepertinya. Dengan nada-nada dari botol bekas tersebut lagu Gundul Gundul Pacul dimainkan. Keren.
Sama seperti Komunitas Sandal Simpul, Perkusi Anak pun baru mulai latihan sejak 2 bulan lalu sebelum pertunjukan. Jadi, sangat memungkinkan untuk menjadi lebih baik.
Pertunjukan Sekoteng diakhiri dengan penampilan Band dari FIB, Additional Band, dengan membawakan tiga buah lagu: A Thousand Year, Hujan, dan Fix You.  Tuntas sudah acaranya. Meskipun sederhana tapi cukup berkesan.

SEKOTENG: Pertunjukan Ala Mahasiswa FIB UGM
By: Putra Wiranggaleng
Sederhana tapi cukup memikat. Itulah kesan saya ketika melihat pertunjukan anak-anak FIB UGM yang bertajub Sekoteng. Beberapa memang masih perlu di poles lagi agar penampilanya lebih baik walaupun hanya tampil di kalangan mahasiswa saja dengan jumlah penonton yang tidak begitu banyak. Akan tetapi, saya berkeyakinan bahwa berapa pun jumlah penonton yang ada, baik sedikit maupun banyak, baik di lingkup terbuka maupun tertutup, performer wajib menampilkan yang terbaik.
Penampilan UKM yang diberi nama Sandal Simpul membuka pertunjukan dengan apik. Di awali dengan perkusi ala Korea (entahlah, saya lupa namanya), komunitas ini memulai pertunjukanya. Tidak hanya perkusinya, mahasiswa yang menunjukan aksinya pun memakai pakaian adat Korea (sepertinya. Yang jelas bukan baju casual atau pakaian Indonesia. Ini hanya asumsi. Hehehe). Tidak berhenti di situ saja, karena setelah sebuah lagu dimainkan, pertunjukan inti dari UKM ini dimulai. Angklung. Disinilah saya mendapatkan greget dari pertunjukan Sandal Simpul. Agak merinding sebenarnya kalau boleh lebay. Saya merinding karena di sini mereka mengkolaborasikan musik asli Indonesia dengan musik Korea dengan apik. Oh ya, kalau yang membawa perkusi ala Korea memakai baju ala Korea, yang membawa angklung pakai batik. Tak hanya berkolaborasi tidak jelas, mereka juga bermain melodi. Lagu pertama adalah Just the Way You Are yang di populerkan oleh Bruno Mars. Sedangkan lagu kedua adalah Ekspresi yang pernah di populerkan oleh Titi DJ dan Indra Lesmana. Lumayan juga. Saya jadi membayangkan jika ada musisi Indonesia yang mengkombinasikan music kontemporer dengan musik tradisional, tidak hanya angklung, tapi juga gamelan dan alat music tradisional Indonesia secara komersil. Menarik sekali seperti yang pernah dilakukan oleh Anggun Cipta Sasmi di album pertamanya Snow on the Sahara dan Chrysalis ketika dia masih mengangkat World Music sebagai aliran musiknya. Saya juga teringat Genesis yang dimotori oleh Phil Collin dan ada juga Enigma yang sama-sama mengangkat World Music. Sayangnya di Indonesia sepertinya belum banyak.   Bahkan belum ada. Setelah pertunjukan pertama selesai, saya tahu komunitas ini baru dibentuk. Wow. Masih banyak waktu untuk memoles dan bereksplorasi. Selain Just the Way You Are yang telah dimainkan dengan apik, mungkin bisa dicoba lagunya Super Junior yang Mr Simple. Kebetulan kan yang main anak-anak jurusan Korea.
Tak kalah menarik dari pertunjukan Sandal Simpul, komunitas Perkusi Anak pun unjuk kebolehan. Kali ini tidak dengan angklung tapi Jimbai. Yang istimewa adalah bahwa pemain perkusi berasal dari Sekolah Luar Biasa, tepatnya SLB 2 Yogyakarta. Mereka membuktikan bahwa kekurangan tidak menghentikan mereka untuk berkarya. Saya acungi jempol untuk mereka dan tentu saja untuk pelatih mereka. Dengan agak ragu-ragu mereka memulai pertunjukan. Diawali dengan penabuh bas. Iramanya sangat familiar dengan telinga saya. Saya mendefinisikannya sebagai irama magis. Entah dari mana asalnya, hanya asumsi saya saja sebenarnya, iramanya seperti music untuk memanggil hujan. Tepuk tangan menggema setelah lagu pertama mereka selesaikan. Mereka juga menggabung irama Jimbai dan irama lainya. Bukan alat music pada umumnya, tetapi dari botol-botol bekas sirup sepertinya. Dengan nada-nada dari botol bekas tersebut lagu Gundul Gundul Pacul dimainkan. Keren.
Sama seperti Komunitas Sandal Simpul, Perkusi Anak pun baru mulai latihan sejak 2 bulan lalu sebelum pertunjukan. Jadi, sangat memungkinkan untuk menjadi lebih baik.
Pertunjukan Sekoteng diakhiri dengan penampilan Band dari FIB, Additional Band, dengan membawakan tiga buah lagu: A Thousand Year, Hujan, dan Fix You.  Tuntas sudah acaranya. Meskipun sederhana tapi cukup berkesan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar