Sederhana
tapi cukup memikat. Itulah kesan saya ketika melihat pertunjukan anak-anak FIB
UGM yang bertajub Sekoteng Selasa tanggal 16 april 2013. Beberapa memang masih perlu di poles lagi agar
penampilanya lebih baik walaupun hanya tampil di kalangan mahasiswa saja dengan
jumlah penonton yang tidak begitu banyak. Akan tetapi, saya berkeyakinan bahwa
berapa pun jumlah penonton yang ada, baik sedikit maupun banyak, baik di
lingkup terbuka maupun tertutup, performer wajib menampilkan yang terbaik.
Penampilan
UKM yang diberi nama Sandal Simpul membuka pertunjukan dengan apik. Di awali
dengan perkusi ala Korea (entahlah, saya lupa namanya), komunitas ini memulai
pertunjukanya. Tidak hanya perkusinya, mahasiswa yang menunjukan aksinya pun memakai
pakaian adat Korea (sepertinya. Yang jelas bukan baju casual atau pakaian
Indonesia. Ini hanya asumsi. Hehehe). Tidak berhenti di situ saja, karena
setelah sebuah lagu dimainkan, pertunjukan inti dari UKM ini dimulai. Angklung.
Disinilah saya mendapatkan greget dari pertunjukan Sandal Simpul. Agak
merinding sebenarnya kalau boleh lebay. Saya
merinding karena di sini mereka mengkolaborasikan musik asli Indonesia dengan musik
Korea dengan apik. Oh ya, kalau yang membawa perkusi ala Korea memakai baju ala
Korea, yang membawa angklung pakai batik. Tak hanya berkolaborasi tidak jelas,
mereka juga bermain melodi. Lagu pertama adalah Just the Way You Are yang di populerkan oleh Bruno Mars. Sedangkan
lagu kedua adalah Ekspresi yang pernah di populerkan oleh Titi DJ dan Indra
Lesmana. Lumayan juga. Saya jadi membayangkan jika ada musisi Indonesia yang
mengkombinasikan music kontemporer dengan musik tradisional, tidak hanya
angklung, tapi juga gamelan dan alat music tradisional Indonesia secara
komersil. Menarik sekali seperti yang pernah dilakukan oleh Anggun Cipta Sasmi
di album pertamanya Snow on the Sahara dan
Chrysalis ketika dia masih mengangkat
World Music sebagai aliran musiknya. Saya juga teringat Genesis yang dimotori
oleh Phil Collin dan ada juga Enigma yang sama-sama mengangkat World Music.
Sayangnya di Indonesia sepertinya belum banyak.
Bahkan belum ada. Setelah
pertunjukan pertama selesai, saya tahu komunitas ini baru dibentuk. Wow. Masih
banyak waktu untuk memoles dan bereksplorasi. Selain Just the Way You Are yang telah dimainkan dengan apik, mungkin bisa
dicoba lagunya Super Junior yang Mr
Simple. Kebetulan kan yang main anak-anak jurusan Korea.
Tak
kalah menarik dari pertunjukan Sandal Simpul, komunitas Perkusi Anak pun unjuk
kebolehan. Kali ini tidak dengan angklung tapi Jimbai. Yang istimewa adalah
bahwa pemain perkusi berasal dari Sekolah Luar Biasa, tepatnya SLB 2
Yogyakarta. Mereka membuktikan bahwa kekurangan tidak menghentikan mereka untuk
berkarya. Saya acungi jempol untuk mereka dan tentu saja untuk pelatih mereka.
Dengan agak ragu-ragu mereka memulai pertunjukan. Diawali dengan penabuh bas.
Iramanya sangat familiar dengan telinga saya. Saya mendefinisikannya sebagai
irama magis. Entah dari mana asalnya, hanya asumsi saya saja sebenarnya,
iramanya seperti music untuk memanggil hujan. Tepuk tangan menggema setelah
lagu pertama mereka selesaikan. Mereka juga menggabung irama Jimbai dan irama
lainya. Bukan alat music pada umumnya, tetapi dari botol-botol bekas sirup
sepertinya. Dengan nada-nada dari botol bekas tersebut lagu Gundul Gundul Pacul dimainkan. Keren.
Sama
seperti Komunitas Sandal Simpul, Perkusi Anak pun baru mulai latihan sejak 2
bulan lalu sebelum pertunjukan. Jadi, sangat memungkinkan untuk menjadi lebih
baik.
Pertunjukan
Sekoteng diakhiri dengan penampilan Band dari FIB, Additional Band, dengan
membawakan tiga buah lagu: A Thousand
Year, Hujan, dan Fix You. Tuntas sudah acaranya. Meskipun sederhana
tapi cukup berkesan.
SEKOTENG: Pertunjukan Ala Mahasiswa
FIB UGM
By:
Putra Wiranggaleng
Sederhana
tapi cukup memikat. Itulah kesan saya ketika melihat pertunjukan anak-anak FIB
UGM yang bertajub Sekoteng. Beberapa memang masih perlu di poles lagi agar
penampilanya lebih baik walaupun hanya tampil di kalangan mahasiswa saja dengan
jumlah penonton yang tidak begitu banyak. Akan tetapi, saya berkeyakinan bahwa
berapa pun jumlah penonton yang ada, baik sedikit maupun banyak, baik di
lingkup terbuka maupun tertutup, performer wajib menampilkan yang terbaik.
Penampilan
UKM yang diberi nama Sandal Simpul membuka pertunjukan dengan apik. Di awali
dengan perkusi ala Korea (entahlah, saya lupa namanya), komunitas ini memulai
pertunjukanya. Tidak hanya perkusinya, mahasiswa yang menunjukan aksinya pun memakai
pakaian adat Korea (sepertinya. Yang jelas bukan baju casual atau pakaian
Indonesia. Ini hanya asumsi. Hehehe). Tidak berhenti di situ saja, karena
setelah sebuah lagu dimainkan, pertunjukan inti dari UKM ini dimulai. Angklung.
Disinilah saya mendapatkan greget dari pertunjukan Sandal Simpul. Agak
merinding sebenarnya kalau boleh lebay. Saya
merinding karena di sini mereka mengkolaborasikan musik asli Indonesia dengan musik
Korea dengan apik. Oh ya, kalau yang membawa perkusi ala Korea memakai baju ala
Korea, yang membawa angklung pakai batik. Tak hanya berkolaborasi tidak jelas,
mereka juga bermain melodi. Lagu pertama adalah Just the Way You Are yang di populerkan oleh Bruno Mars. Sedangkan
lagu kedua adalah Ekspresi yang pernah di populerkan oleh Titi DJ dan Indra
Lesmana. Lumayan juga. Saya jadi membayangkan jika ada musisi Indonesia yang
mengkombinasikan music kontemporer dengan musik tradisional, tidak hanya
angklung, tapi juga gamelan dan alat music tradisional Indonesia secara
komersil. Menarik sekali seperti yang pernah dilakukan oleh Anggun Cipta Sasmi
di album pertamanya Snow on the Sahara dan
Chrysalis ketika dia masih mengangkat
World Music sebagai aliran musiknya. Saya juga teringat Genesis yang dimotori
oleh Phil Collin dan ada juga Enigma yang sama-sama mengangkat World Music.
Sayangnya di Indonesia sepertinya belum banyak.
Bahkan belum ada. Setelah
pertunjukan pertama selesai, saya tahu komunitas ini baru dibentuk. Wow. Masih
banyak waktu untuk memoles dan bereksplorasi. Selain Just the Way You Are yang telah dimainkan dengan apik, mungkin bisa
dicoba lagunya Super Junior yang Mr
Simple. Kebetulan kan yang main anak-anak jurusan Korea.
Tak
kalah menarik dari pertunjukan Sandal Simpul, komunitas Perkusi Anak pun unjuk
kebolehan. Kali ini tidak dengan angklung tapi Jimbai. Yang istimewa adalah
bahwa pemain perkusi berasal dari Sekolah Luar Biasa, tepatnya SLB 2
Yogyakarta. Mereka membuktikan bahwa kekurangan tidak menghentikan mereka untuk
berkarya. Saya acungi jempol untuk mereka dan tentu saja untuk pelatih mereka.
Dengan agak ragu-ragu mereka memulai pertunjukan. Diawali dengan penabuh bas.
Iramanya sangat familiar dengan telinga saya. Saya mendefinisikannya sebagai
irama magis. Entah dari mana asalnya, hanya asumsi saya saja sebenarnya,
iramanya seperti music untuk memanggil hujan. Tepuk tangan menggema setelah
lagu pertama mereka selesaikan. Mereka juga menggabung irama Jimbai dan irama
lainya. Bukan alat music pada umumnya, tetapi dari botol-botol bekas sirup
sepertinya. Dengan nada-nada dari botol bekas tersebut lagu Gundul Gundul Pacul dimainkan. Keren.
Sama
seperti Komunitas Sandal Simpul, Perkusi Anak pun baru mulai latihan sejak 2
bulan lalu sebelum pertunjukan. Jadi, sangat memungkinkan untuk menjadi lebih
baik.
Pertunjukan
Sekoteng diakhiri dengan penampilan Band dari FIB, Additional Band, dengan
membawakan tiga buah lagu: A Thousand
Year, Hujan, dan Fix You. Tuntas sudah acaranya. Meskipun sederhana
tapi cukup berkesan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar