Pemain ; Kellan Lutz, Mickey
Rourke, Ario Bayu, Atiqoh Hasiholan
Sutradara ; Conor Allyn
Penulis :
Rob Allyn, Conor Allyn
Produksi :
A Reliance Entertainment Company, Margate House
Jogja berkabung.
Penduduk memadati halaman keraton tempat bom terjadi dimana Sultana (Atiqoh
Hasiholan), seorang Putri Sultan, tewas di dalamnya. Mereka membawa lilin.
Ungkapan belasungkawa dan karangan bunga dimana-mana, bahkan disetiap sudut
jalan. Kita mungkin akan mengingat bagaimana ketika (alm) Putri Diana mangkat.
Ya, kurang lebih begitulah. Polisi sibuk mencari sang pelaku yang dikepalai
oleh Hasyim (Ario Bayu) dan dibantu oleh Anton (Rio Dewanto).
Dari
rekaman CCTV diketahui sebelum bom terjadi Sultana bercakap-cakap sejenak
dengan seorang asing, Jake (Kellan Lutz). Maka Jake pun disekap dan dimintai
keterangan. Melalui tokoh Jake inilah cerita berlanjut. Jake mengetahui apa
yang Hasyim dan sebagian besar polisi tidak tahu. Sultana belum tewas. Begitu katanya ketika melihat tubuh
terbakar yang diduga Sultana di rumah sakit. Bukan saja pada hidung palsu, tapi
juga tindik klitoris yang dilakukan mayat tersebut.
“saya
pernah bertemu beliau” katanya
“saya
tahu wanita” tambahnya
Melalui
tanda yang ada dipaha wanita itulah pencarian dimulai. Pencarian untuk
mengetahui siapa yang menculik Sultana dan apa motifnya.
Dari
sini, sebenarnya Java Heat memiliki ide cerita yang menarik. Eksotisme Jawa dan
Yogyakarta pun menjadi daya tarik tersendiri melalui keraton, Senja di Candi Ratu Boko, Prambanan,
Sawah-sawah, Taman Sari, Borobudur, dll. Fil ini sepenuhnya produksi Hollywood
dengan melibatkan actor dan actress local. Akan tetapi dasar cerita yang
menarik itu pada akhirnya mengalir dengan plot yang jalan ceritanya tidak
begitu kuat.
Kita
akan diperkenalkan pada sosok Akhmed (Mike Luckock) yang jika dilihat dari cara
berpakaian adalah seorang muslim garis keras yang menggunakan bom sebagai
jihad. Melalui tokoh Akhmed kita juga akan dipertemukan dengan seorang asing
yang bernama Malik (Mickey Rourke). Disini sepertinya Mickey Rourke , yang
pernah menjadi nominator ajang Garmmy Awards sebagai actor terbaik dan juga pernah
menjadi musuh Iron Men II, menjadi seorang Muslim gadungan. Maksudnya, ia
menjadi muslim agar bisa menghasut Akhmed. Ada beberapa sub cerita yang
sebenarnya saya tidak mengerti. Memang selama ini banyak bom yang
mengatasnamakan Jihad. Tapi apakah mengebom Keraton juga termasuk jihad. Apa
sebodoh itu seorang Akhmed yang mau apa saja untuk jihad tanpa melihat
konteksnya terlebih dahulu. Menurut saya tak perlu ada embel-embel Islam dan
Bom di film ini karena ide cerita sebenarnya cukup menarik, atau, mungkin bisa
diganti dengan sebab lain. Atau mungkin, ide cerita bom ini karena maraknya bom
yang ada di Indonesia?
Selain
itu lucu juga melihat Akhmed yang berpakain seperti seorang arab masuk kedalam
sebuah club dimana penari strip tease menggodanya. Memang sih bukan berarti
tidak boleh tapi terkesan wagu. Lagipula, apakah Akhmed juga tidak tahu siapa
itu Ling.
Pemilihan
Rudy Wowor yang sangat bule pun kurang tepat. Sepertinya di luar sana masih
banyak actor-aktor yang bermuka jawa yang pas di jadikan Sultan Hamengkubowono
X dalam film ini. Seperti contohnya Sultan Hamengkubuwono dalam Sang Pencerah
yang dimainkan Sudjiwo Tedjo. Untungya porsi Rudy Wowor tidak dominan.
Terlepas
dari itu semua, setidaknya ada kebanggaan bahwa Indonesia dilirik Hollywood
sebagai lokasi syuting setelah Eat, Pray,
Love yang dibintangi Julia Robert. Bedanya film Eat, Pray, Love berlokasi di Bali, sedangkan Java Heat di Yogyakarta. Dilihat dari gambar dalam film ini pun
eksotisme Yogyakarta tak kalah dengan Thailand, maupun China. Lihat saja ketika
layar memperlihatkan Festival Lampion di Borobudur.

Yang kutahu Candi Borobudur itu di Magelang ^^ *just saying*
BalasHapusok. thanks bro
BalasHapus