Hujan. Agak deras
mengusik siang yang harusnya ramai oleh rutinitas. Bukan karena malas. Tapi saya
suka hujan yang menenangkan. Setidaknya siang tak kacau. Orang-orang memilih
tenang dan diam berteduh meskipun banyak yang memaki karena hujan tak kunjung
reda dan mereka harus segera sampai tempat tujuan karena ada deadline. Lucu
juga. Salah siapa tak bawa mantel atau payung.
Saya berteduh dengan
tenang sambil menikmati segelas kopi hitam di sebuah warung burjo. Saya tak
terburu-buru. Tak ada yang memburu saya. Dulu waktu kecil saya suka sekali
dengan hujan. Kadang ketika hujan saya hanya ingin bernostalgia meskipun tanpa
bisa bermain-main ditengah hujan. Saya hanya bisa melempar kenangan ke masa
kanak-kanak yang telah tergerus waktu. Tapi belum usang. Dan tak akan pernah
usang. Ia seperti aroma kopi yang barus saja diseduh. Masih segar. Masih kuat.
Tak pernah tua. Ketika itu tawa begitu ringan seperti langkah saya dan
teman-teman meskipun didera hujan ketika kami bermain gobak sodor. Semakin deras bahkan semakin asik. dan ketika itu,
saya seperti beberapa teman saya tak memedulikan peringatan dari orang tua.
Kebahagiaan begitu sederhana dan bersahaja seperti tiga anak kecil yang tadi
bermain-main di depan burjo ini. mereka bernyanyi sambil berjalan beriringan
membentuk pola kereta api. Naik kereta
api. Tut tut tut. Siapa hendak turun. Kebandung Surabaya.Mereka sama sekali
tak menganggu saya meskipun mondar mandir di dalam burjo.keberadaan saya pun
tampaknya tak mengganggu mereka. Kami tak saling mengganggu. Saya menikmati
polah mereka meskipun mereka mungkin dan sudah bisa dipastikan tak menikmati
keberadaan saya. Saya mungkin tidak ada bagi mereka. Bahkan warung burjo ini
mungkin tidak ada. Mungkin warung ini berubah menjadi gerbong-gerbong yang
penuh lalu lalang. Setidaknya saya pernah seperti mereka.
Meskipun saya pernah
menjadi anak kecil seperti mereka tapi bayangan imajinasi ketika anak-anak
telah tertutup halimun yang pekat. Terlalu detail untuk dibayangkan. Saya hanya
bisa mereka-reka apa yang ada dibenak kepala 3 bocah itu. Memang mereka hanya
terlihat berputar-putar ke dalam dan keluar warung burjo ini secara kasat mata.
Tapi mungkin saja mereka tengah berada dalam kereta express yang mengantarkan
mereka ke tempat yang mereka inginkan. Ke Bandung dan Surabaya. Atau ke tempat
lain yang entah. Mereka saja yang tahu. Bahkan aku yakin ke tiga anak tadi
memiliki tempat yang berbeda di benak mereka. Mereka bersama dalam perbedaan
yang tak terkatakan. Tapi mereka tak peduli perbedaan dalam kebersamaan
tersebut. Toh mereka bahagia. Aku iri sebenarnya untuk yang satu ini. Makin
jauh keretanya menderu, sepertinya imajinasi semakin enggan menyapa. Imajinasi
semakin tak ramah. Semakin jauh keretanya, semakin gersang. Perlu hujan untuk
menjadikan gersang itu basah dan menumbuhkan rumput-rumput yang layu terkapar
sia-sia. Kemudian saya sadar, kereta saya memang telah cukup jauh dimana
kebahagiaan kadang menjadi begitu rumit, mahal, dan sombong.
Layaknya dewasa telah
memandang sebelah mata kebahagiaan 3 bocah itu. dan, dewasa juga telah mengikis
yang lainya. Bukan ingin kembali ke masa kanak. Tapi bisakah semuanya menjadi
sederhana lagi. Adakah tawa yang datang dari sesuatu yang biasa-biasa saja
seperti ketika berlarian saat hujan dan berjingkrak-jingkrak diatas tanah yang
basah tanpa memikirkan kapan menikah, kerja apa, berapa penghasilanya. Saya pernah
menulis disebuah sosial media bahwa tak peduli apa pendidikan seseorang,
memiliki pasangan adalah masalah purba yang kadang membuat saya miris. Menikah
seperti tujuan utama. Menikah seperti sumber kebahagiaan yang besar. Hujan yang
bersahaja berperang dengan masalah-masalah rumit dewasa, ia bukan lagi suatu
kebahagiaan. Ia bukan siapa-siapa ketika dewasa. Kadang ia dibenci. Kala itu
hujan yang cemburu membuat saya demam maupun flu. Dewasa pun makin begitu acuh
dengan hujan. Dewasa adalah kesombongan dengan kebahagiaan yang gemerlap
berpendar-pendar. Kebahagiaan yang materi. Kebahagiaan yang obsesif. Aku ngeri.
Bukan apa-apa. Aku
ngeri karena aku tersisih juga secara tidak langsung. Aku tersisih karena aku
merasa tidak normal. Aku jengah dengan obrolan tentang pernikahan, anak, dan
pekerjaan yang serasa begitu angkuh. Tapi disisi lain aku juga tidak bisa
mengelak tentang itu. kata mereka sudah saatnya saya menikah punya anak. Kata
mereka saya belum lengkap karena saya belum menikah dan belum punya anak. Kata
mereka saya belum bahagia. Kata mereka saya menyedihkan. Kebahagiaan seperti
sebuah terror. Kata mereka. Kata meraka. Kata mereka. Tak ada habisnya.
Menikah, punya anak
seperti sebuah stigma mencekam tentang sebuah kebahagiaan.
Saya makin merasa tak
normal. Tapi saya makin peduli. Saya makin menyisihkan diri dari hingar bingar.
Alih-alih memikirkan tentang menikah kapan, dengan puteri dari mana, saya sibuk
berbahagia dengan cara saya sendiri. saya sibuk mendaki gunung. Saya sibuk
bersepeda dan mengeksplorasi yang belum saya ketahui. Saya sibuk memaknai apa
yang sederhana kembali. Saya sibuk menikmati apa yang sederhana kembali. Hingga
suatu kali saya dengar mereka mengatakan “dewasalah.”
Memang, takaran
“bahagia” terlalu absurd. Tak perlu judgmental. Saya menghargai orang yang
bahagia dalam keadaan single. Saya juga menghargai orang yang bahagia dengan
pasangan mereka. Akan tetapi, Ada yang diskriminatif. Menganggap kebahagiaan
seperti itu, kebahagiaan yang sendiri, adalah kebahagiaan yang klise,
kebahagiaan yang palsu. Kebahagiaan yang terpaksa. Tapi sebenarnya tidak juga.
Tidak semua kesendirian adalah sebuah kondisi yang terjadi begitu saja. kondisi
yang membuat pelaku tak bisa memilih untuk berbuat lain. Kesendirian bisa jadi
adalah sebuah pilihan. Saya pernah menulis bahwa sendiri adalah salah satu
kebahagiaan ketika bersama adalah sebuah omong kosong. Salah satu kebahagiaan
yang begitu personal. Yang tak terbagi. Seperti ketika menikmati hujan sendiri
di tepi jendela sembari menikmati kopi. Ini momen kecil memang. Tak bisa
dibagi. Kadang ambigu satu orang dengan orang lain. Tak terjemah kadang-kadang.
Saya mengatakan begini
bukan karena saya tidak punya pasangan. Ada. Cuman, saya mengeluhkan ketika
single menjadi sebuah masalah. Seolah-olah menjadi single adalah sebuah
kutukan. Ah kasihan betul orang-orang yang seperti ini. padahal banyak yang
bisa dinikmati ketika sendiri. ketika kebahagiaan ditentukan oleh ada tidaknya
orang lain yang seolah-olah kebahagiaan ditentukan oleh orang lain. Bukan
datang dari diri sendiri. ah, saya tak sejalan dengan dewasa yang rumit memang.
Saya masih ingin bersahabat dengan hujan maupun gerimis yang tak membuat kepala
saya sumeng.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar