Sabtu, 18 Januari 2014

HUJAN DAN KEBAHAGIAAN KECIL

Hujan. Agak deras mengusik siang yang harusnya ramai oleh rutinitas. Bukan karena malas. Tapi saya suka hujan yang menenangkan. Setidaknya siang tak kacau. Orang-orang memilih tenang dan diam berteduh meskipun banyak yang memaki karena hujan tak kunjung reda dan mereka harus segera sampai tempat tujuan karena ada deadline. Lucu juga. Salah siapa tak bawa mantel atau payung.
Saya berteduh dengan tenang sambil menikmati segelas kopi hitam di sebuah warung burjo. Saya tak terburu-buru. Tak ada yang memburu saya. Dulu waktu kecil saya suka sekali dengan hujan. Kadang ketika hujan saya hanya ingin bernostalgia meskipun tanpa bisa bermain-main ditengah hujan. Saya hanya bisa melempar kenangan ke masa kanak-kanak yang telah tergerus waktu. Tapi belum usang. Dan tak akan pernah usang. Ia seperti aroma kopi yang barus saja diseduh. Masih segar. Masih kuat. Tak pernah tua. Ketika itu tawa begitu ringan seperti langkah saya dan teman-teman meskipun didera hujan ketika kami bermain gobak sodor. Semakin deras bahkan semakin asik. dan ketika itu, saya seperti beberapa teman saya tak memedulikan peringatan dari orang tua. Kebahagiaan begitu sederhana dan bersahaja seperti tiga anak kecil yang tadi bermain-main di depan burjo ini. mereka bernyanyi sambil berjalan beriringan membentuk pola kereta api. Naik kereta api. Tut tut tut. Siapa hendak turun. Kebandung Surabaya.Mereka sama sekali tak menganggu saya meskipun mondar mandir di dalam burjo.keberadaan saya pun tampaknya tak mengganggu mereka. Kami tak saling mengganggu. Saya menikmati polah mereka meskipun mereka mungkin dan sudah bisa dipastikan tak menikmati keberadaan saya. Saya mungkin tidak ada bagi mereka. Bahkan warung burjo ini mungkin tidak ada. Mungkin warung ini berubah menjadi gerbong-gerbong yang penuh lalu lalang. Setidaknya saya pernah seperti mereka.
Meskipun saya pernah menjadi anak kecil seperti mereka tapi bayangan imajinasi ketika anak-anak telah tertutup halimun yang pekat. Terlalu detail untuk dibayangkan. Saya hanya bisa mereka-reka apa yang ada dibenak kepala 3 bocah itu. Memang mereka hanya terlihat berputar-putar ke dalam dan keluar warung burjo ini secara kasat mata. Tapi mungkin saja mereka tengah berada dalam kereta express yang mengantarkan mereka ke tempat yang mereka inginkan. Ke Bandung dan Surabaya. Atau ke tempat lain yang entah. Mereka saja yang tahu. Bahkan aku yakin ke tiga anak tadi memiliki tempat yang berbeda di benak mereka. Mereka bersama dalam perbedaan yang tak terkatakan. Tapi mereka tak peduli perbedaan dalam kebersamaan tersebut. Toh mereka bahagia. Aku iri sebenarnya untuk yang satu ini. Makin jauh keretanya menderu, sepertinya imajinasi semakin enggan menyapa. Imajinasi semakin tak ramah. Semakin jauh keretanya, semakin gersang. Perlu hujan untuk menjadikan gersang itu basah dan menumbuhkan rumput-rumput yang layu terkapar sia-sia. Kemudian saya sadar, kereta saya memang telah cukup jauh dimana kebahagiaan kadang menjadi begitu rumit, mahal, dan sombong.
Layaknya dewasa telah memandang sebelah mata kebahagiaan 3 bocah itu. dan, dewasa juga telah mengikis yang lainya. Bukan ingin kembali ke masa kanak. Tapi bisakah semuanya menjadi sederhana lagi. Adakah tawa yang datang dari sesuatu yang biasa-biasa saja seperti ketika berlarian saat hujan dan berjingkrak-jingkrak diatas tanah yang basah tanpa memikirkan kapan menikah, kerja apa, berapa penghasilanya. Saya pernah menulis disebuah sosial media bahwa tak peduli apa pendidikan seseorang, memiliki pasangan adalah masalah purba yang kadang membuat saya miris. Menikah seperti tujuan utama. Menikah seperti sumber kebahagiaan yang besar. Hujan yang bersahaja berperang dengan masalah-masalah rumit dewasa, ia bukan lagi suatu kebahagiaan. Ia bukan siapa-siapa ketika dewasa. Kadang ia dibenci. Kala itu hujan yang cemburu membuat saya demam maupun flu. Dewasa pun makin begitu acuh dengan hujan. Dewasa adalah kesombongan dengan kebahagiaan yang gemerlap berpendar-pendar. Kebahagiaan yang materi. Kebahagiaan yang obsesif. Aku ngeri.
Bukan apa-apa. Aku ngeri karena aku tersisih juga secara tidak langsung. Aku tersisih karena aku merasa tidak normal. Aku jengah dengan obrolan tentang pernikahan, anak, dan pekerjaan yang serasa begitu angkuh. Tapi disisi lain aku juga tidak bisa mengelak tentang itu. kata mereka sudah saatnya saya menikah punya anak. Kata mereka saya belum lengkap karena saya belum menikah dan belum punya anak. Kata mereka saya belum bahagia. Kata mereka saya menyedihkan. Kebahagiaan seperti sebuah terror. Kata mereka. Kata meraka. Kata mereka. Tak ada habisnya.
Menikah, punya anak seperti sebuah stigma mencekam tentang sebuah kebahagiaan.
Saya makin merasa tak normal. Tapi saya makin peduli. Saya makin menyisihkan diri dari hingar bingar. Alih-alih memikirkan tentang menikah kapan, dengan puteri dari mana, saya sibuk berbahagia dengan cara saya sendiri. saya sibuk mendaki gunung. Saya sibuk bersepeda dan mengeksplorasi yang belum saya ketahui. Saya sibuk memaknai apa yang sederhana kembali. Saya sibuk menikmati apa yang sederhana kembali. Hingga suatu kali saya dengar mereka mengatakan “dewasalah.”
Memang, takaran “bahagia” terlalu absurd. Tak perlu judgmental. Saya menghargai orang yang bahagia dalam keadaan single. Saya juga menghargai orang yang bahagia dengan pasangan mereka. Akan tetapi, Ada yang diskriminatif. Menganggap kebahagiaan seperti itu, kebahagiaan yang sendiri, adalah kebahagiaan yang klise, kebahagiaan yang palsu. Kebahagiaan yang terpaksa. Tapi sebenarnya tidak juga. Tidak semua kesendirian adalah sebuah kondisi yang terjadi begitu saja. kondisi yang membuat pelaku tak bisa memilih untuk berbuat lain. Kesendirian bisa jadi adalah sebuah pilihan. Saya pernah menulis bahwa sendiri adalah salah satu kebahagiaan ketika bersama adalah sebuah omong kosong. Salah satu kebahagiaan yang begitu personal. Yang tak terbagi. Seperti ketika menikmati hujan sendiri di tepi jendela sembari menikmati kopi. Ini momen kecil memang. Tak bisa dibagi. Kadang ambigu satu orang dengan orang lain. Tak terjemah kadang-kadang.
Saya mengatakan begini bukan karena saya tidak punya pasangan. Ada. Cuman, saya mengeluhkan ketika single menjadi sebuah masalah. Seolah-olah menjadi single adalah sebuah kutukan. Ah kasihan betul orang-orang yang seperti ini. padahal banyak yang bisa dinikmati ketika sendiri. ketika kebahagiaan ditentukan oleh ada tidaknya orang lain yang seolah-olah kebahagiaan ditentukan oleh orang lain. Bukan datang dari diri sendiri. ah, saya tak sejalan dengan dewasa yang rumit memang. Saya masih ingin bersahabat dengan hujan maupun gerimis yang tak membuat kepala saya sumeng.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar