Jumat, 10 Januari 2014

Sepeda Gembira: Indrayanti Tour Part I

Saya cukup beruntung punya partner perjalanan yang gila. Paham kan maksudnya? Bukan gila secara jiwa maupun psikologi. Gila dalam hal ini adalah melakukan beberapa hal yang belum tentu orang lain melakukanya. Kegilaan untuk melakukan hal-hal berani meskipun kegilaan itu kadang tipis sekali artinya dengan kebodohan. kenapa saya bilang kegilaan, karena ketika saya menceritakan pada orang lain, seolah - olah mereka merespon  sumpe lo??. dan mau bilang apalagi ketika itu adalah fakta yang terjadi. Saya terinspirasi oleh kata kata Ajahn Bram, manusia perlu melakukan hal-hal liar. Keluar dari kotak. Kadang, kebodohan untuk berani itu perlu. Maka, berangkatlah saya dan teman saya itu tadi ke sebuah pantai di Gunung Kidul. Indrayanti. Tak perlu berlama-lama melakukan negosiasi waktu. Tak perlu berlama-lama menentukan hari baik. Tak perlu cas cis cus tidak penting karena biasanya diskusi yang terlalu lama bahkan akan melahirkan omong kosong.
Kapan kamu punya waktu luang?
Lusa. Jawabnya.
Jalan-jalan yuk?
Oke.
Deal.
Deal.
Maka tak perlu menambah personel lagi. Kami pun berangkat jam 08.00 pagi menuju Pantai Indrayanti, sebuah pantai yang dijuluki the Kuta of Java. Tak ada yang istimewa kecuali kami menggunakan sepeda menuju pantai yang konon jauh di pesisir Gunung Kidul dengan medan naik turun. Yeah, it’s crazy. Saya suka membuat rencana dengan teman saya itu, karena ia tak memiliki keengganan untuk melakukan perjalanan yang seolah-olah soliter. Ia lebih berpengalaman memang. Pernah suatu kali ia pergi ke Bandung sendirian sehabis lulus SMA dengan modal  uang 10rb selama satu minggu. Bagaimana ia bisa bertahan? Semacam omong kosong. Tapi toh itu sudah terjadi. Ketika itu katanya ia bertemu dengan orang baik, penjual sayur atau semacamnya. Dari situlah ia bertahan hidup. ceritanya membuat saya berfikir bahwa ia adalah partner perjalanan yang pas. Berpengalaman. Berani. Dan tidak ribet. beberapa orang memiliki  keengganan melakukan perjalanan hanya dua orang atau seoarang saja. Mereka suka keriuhan. Mereka suka bergerombol. Tapi ia tidak demikian. Saya banyak belajar darinya.
Rintangan perjalan yang kami lakukan adalah jalan yang naik turun. Bukit pathuk menjadi kendala pertama. Berhubung sepeda kami adalah sepeda biasa, bukan sepeda gunung mahal, kami harus menuntun sepeda kami sampai daerah Bukit Bintang, tempat dimana ketika malam tiba orang-orang menikmati bintang yang lebih rendah lokasinya. Bintang yang terdiri dari lampu-lampu. Itu dilakukan setiap kali ada tanjakan yang tajam dan menukik ketika kaki kami tak mampu lagi diajak kompromi.
Ini adalah yang pertama. Kelak akan banyak lagi tanjakan-tanjakan yang harus kami lalui dengan peluh. Tak terhitung. Saya lupa tanjakan apa saja. ini seperti naik gunung sebenarnya, ada waktu berhenti untuk minum dan istirahat beberapa menit. Setidaknya peluh kami terkikis angin dan merasa segar untuk kemudian melanjutkan lagi. Momen-momen ini adalah salah satu momen terbaik, menikmati hutan hijau ketika beristirahat dengan udara yang segar. Kecuali ketika ada bus raksasa yang kentut dengan asap hitamnya. Wajar. Saat itu hari minggu dan banyak yang tengah liburan. Setiap kali bus paus itu melaju saya hanya mengumpat dalam hati “what the fuck man” bisakah kentutnya tak sehitam itu. tahu sendiri, bagaimana campuran panas matahari, keringat, debu, ditambah asap hitam itu. it’s not so good. Tapi paling tidak hutan yang hijau cukup menghibur. Mungkin sedikit berlebihan, tapi ketika mengayuh sepeda di jalan-jalan yang dikelilingi hutan, saya seperti tengah bersepeda di Eropa. Belum lagi ketika telah mendekati wilayah pantai. Disana banyak sekali batu-batu karang yang seperti candi. Tak Cuma satu. Batu-batu karang itu kebetulan tengah menghijau dengan pohon-pohon jati yang tengah bersemi. Seperti candi Borobudur dengan pepohonan diatasnya. Atau seperti taman bergantung babylonia itu. menakjubkan. Banyak detail-detail yang terlewatkan ketika menggunakan motor atau mobil. Banyak detail kecil yang kelewat dinikmati. Kadang-kadang ini digunakan untuk menghibur diri sembari bernyanyi lalalala yeyeye untuk melupakan lelah. Dan ketika melewati jalan yang menurun seperti roller coaster maka saya berteriak sepuasnya meskipun saya takut melewati jalan yang terlalu menurun apalagi dengan tikungan diakhirnya.
Perjalanan sampai di pantai idaman menghabiskan waktu 7,5 jam. Selama itu saya baru sadar kulit saya berubah seperti zebra cross. Mungkin saya hanya perlu melentangkan tubuh saya di jalanan untuk menjadi fasilitas penyebrangan. Pada awalnya saya tak peduli tapi ini berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Bukan hitamnya yang saya khawatirkan, tapi iritasinya yang membuat kulit saya gatal dan mengelupas seperti kulit ular. Maka jangan remehkan sun block. Bukan menjadi centil. Itu diperlukan untuk melindungi kulit. Jaket juga diperlukan kecuali kamu merasa gerah seperti saya yang akhirnya hanya menggunakan kaos karena tak tahan keringat.
7,5 jam itu harusnya tak diperlukan jika kami tak nyasar sampai Pantai Siung yang jauh dijung timur. Tapi karena tujuan kami adalah Indrayanti, maka kami putar balik setelah bertanya pada beberapa anak kecil yang tengah bermain dan menyapa kami seperti turis. Oh my God, saya baru ingat sebelum menjumpai anak-anak itu kami begitu berbahagia dalam euphoria karena menikmati turunan yang begitu panjang yang artinya kami harus kembali dan menuntun sepeda sejauh kami turun. Sekali lagi, saya menghibur diri dalam lagu. Dan sekali lagi, saya seperti terdampar di sebuah negeri coboy yang tandus dengan batu karang batu karang bak tembok tembok raksasa yang siap menahan gempuran-gempuran Tsunami. Seperti di gurun yang ada di film-film Amerika itu kecuali di gurun tak ada batu karang serupa candi-candi yang eksotis. Dan saya pikir Gunung Kidul sangat cocok untuk membuat film kolosal semacam lord of the Ring. Beberapa area disana masih begitu lugu, begitu perawan, begitu magis, begitu sepi, dan begitu luar biasa yang pasti sekali lagi akan terlewat jika menggunakan motor maupun mobil. Jadi meskipun kami tak mampir ke banyak lokasi wisata, tapi saya secara pribadi menikmati panorama yang menakjubkan. Setidaknya saat itu masih musim hukan sehingga pohon-pohon jati belum meranggas.
Lantas, Pantai Indrayati pun menyapa kami setelah 7,5 jam perjalanan. Dibandingkan dengan pertama kali saya ke pantai itu, mungkin 2 tahun yang lalu, pantai itu sama sekali berubah. Pantai itu seperti primadona sekarang. Apalagi saat itu hari minggu dan secara tidak langsung saya membenci hari minggu yang membuat orang membanjiri pantai itu. entah berapa bus dan entah berapa kota yang tumpah disana untuk menikmati Indrayanti dari dekat. Disana, saya hanya jadi penonton para pengunjung yang bersenda gurau dengan teman-teman maupun keluarga di bawah payung-payung raksasa. Saya hanya bisa ngiler ketika mereka berfoto-foto ria sedangkan saya dan teman saya tak membawa kamera. Maka kenangan ini memang kenangan yang egois. Kenangan yang aku saja yang menikmati.
Bagusnya pantai Indrayanti adalah ia bersih. Ada peraturan yang memberikan denda bagi yang buang sampah sembarangan. Bukan hanya peraturan yang ada di papan semata. Jika memang pantai ini dijuluki kutanya jogja maka  bolehlah. Meskipun pengunjung tak bisa berselancar. Hanya bisa berenang maupun melakukan volley pantai. Selain itu, ada life guard yang menjaga pantai dan pengunjung. Ini adalah kelebihan lain yang seharusnya pantai-pantai lain miliki juaga. Parang tritis misalnya. Sehingga jika ada pengunjung yang bermain diluar garis aman, life guard bisa mengingatkan. Tahu sendiri di pantai selatan sering ada korban.
Untuk sejenak saya menikmati pasir putihnya, air yang cukup jernih, dan batu karang yang menjadi tembok pantai ini. Meskipun saya tak begitu menyukai kerumunan yang begitu gerah, saya masih bisa menikmati pantai itu dengan surya yang hampir mengantuk.
Perjalanan ini seprti mendaki gunung ketika sampai puncak. Tapi ,memang banyak hal yang lebih menarik, seperti ketika saya ngobrol di angkringan dengan pemilik angkringan  di jalan Baron. Saya merasa begitu akrab dan akhirnya ditawari mampir menginap ketika pulang nanti. Meskipun bapak itu tak mengenal kami, ia begitu baik, begitu ramah. Sungguh-sungguh cerminan Indonesia kalau saya bilang. Indonesia yang masih ramah dan bersahaja.
Beberapa kali saya melakukan perjalanan, beberapa kali juga saya menemukan kebaikan-kebaikan yang kadang terfikir makin langka. Saya cukup bersyukur bahwa kebaikan-kebaikan itu masih ada. Intinya masih ada orang baik dan itu cukup membuat saya bahagia. Seperti ketika awal-awal saya suka mendaki gunung misalnya. Selain pemandangan sunset dan pemandangan alam yang menakubkan, satu hal yang membuat saya jatuh cinta dengan gunung adalah orang-orangnya yang peduli satu sama lain. Kita saling menyapa meskipun tak tahu darimana kami berasal. Kita saling bertanya, kita saling peduli tanpa memperdebatkan ras dan agama. Semacam cerminan Indonesia yang klasik. Beda ketika jalan-jalan di Mall. Semuanya egois bukan? Saya masih ingat waktu pertama kali mendaki, saat itu saya dan beberapa partner tengah istirahat turun gunung. Ketika itu saya berbincang-bincang dengan seoarng pendaki dari Semarang. Keakraban terjadi begitu saja hanya karena kami sama-sama pendaki. Jadi, mungkin ketika semua orang berfikir bahwa kita adalah Indonesia secara umum dan menjiwainya, mungkin tak perlu ada kekerasan yang berkedok ras dan agama. Rasa solidaritas sesame pendaki itu memang begitu kental, dijalan kadang-kadang ada yang menawari minum ketika pendaki yang turun masih membawa bekal yang lebih. Ini menakjubkan dan romantic menurut saya.

Sama halnya ketika saya bersepeda kala itu. ada pemilik mobil pick up yang begitu baik. Selain memberi  tumpangan karena hari telah begitu gelap dan kami masih saja berkutat di Hutan Bunder  yang tanpa cahaya kecuali ada mobil maupun motor yang lewat, pemilik mobil tersebut member kami beberapa cemilan dan air mineral. Padahal, siapa kami, toh mereka tak kenal siapa kami. Siapa tahu kami orang jahat yang pura-pura menumpang kemudian merampok mereka. Hari itu gerimis juga. Kami sangat bersyukur dan menertawai kenekatan kami ketika tengah menikmati happy ending diatas mobil pick up dengan gerimis yang tidak saya pedulikan lagi. Kadang kebaikan yang saya pikir telah hilang, lenyap begitu saja. ada semacam kepercayaan bahwa masih banyak kebaikan-kebaikan yang belum saya jumpai dan ada disuatu tempat. Masalahnya adalah, siap tidak saya menjumpai kebaikan itu dan belajar menjadi orang baik demi orang-orang baik?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar