Saya cukup
beruntung punya partner perjalanan yang gila. Paham kan maksudnya? Bukan gila
secara jiwa maupun psikologi. Gila dalam hal ini adalah melakukan beberapa hal
yang belum tentu orang lain melakukanya. Kegilaan untuk melakukan hal-hal
berani meskipun kegilaan itu kadang tipis sekali artinya dengan kebodohan. kenapa saya bilang kegilaan, karena ketika saya menceritakan pada orang lain, seolah - olah mereka merespon sumpe lo??. dan mau bilang apalagi ketika itu adalah fakta yang terjadi. Saya terinspirasi oleh kata kata Ajahn Bram, manusia perlu melakukan hal-hal liar. Keluar dari kotak.
Kadang, kebodohan untuk berani itu perlu. Maka, berangkatlah saya dan teman
saya itu tadi ke sebuah pantai di Gunung Kidul. Indrayanti. Tak perlu
berlama-lama melakukan negosiasi waktu. Tak perlu berlama-lama menentukan hari
baik. Tak perlu cas cis cus tidak penting karena biasanya diskusi yang terlalu
lama bahkan akan melahirkan omong kosong.
Kapan kamu
punya waktu luang?
Lusa.
Jawabnya.
Jalan-jalan
yuk?
Oke.
Deal.
Deal.
Maka tak
perlu menambah personel lagi. Kami pun berangkat jam 08.00 pagi menuju Pantai
Indrayanti, sebuah pantai yang dijuluki the Kuta of Java. Tak ada yang istimewa
kecuali kami menggunakan sepeda menuju pantai yang konon jauh di pesisir Gunung
Kidul dengan medan naik turun. Yeah, it’s crazy. Saya suka membuat rencana
dengan teman saya itu, karena ia tak memiliki keengganan untuk melakukan
perjalanan yang seolah-olah soliter. Ia lebih berpengalaman memang. Pernah
suatu kali ia pergi ke Bandung sendirian sehabis lulus SMA dengan modal uang 10rb selama satu minggu. Bagaimana ia
bisa bertahan? Semacam omong kosong. Tapi toh itu sudah terjadi. Ketika itu
katanya ia bertemu dengan orang baik, penjual sayur atau semacamnya. Dari
situlah ia bertahan hidup. ceritanya membuat saya berfikir bahwa ia adalah
partner perjalanan yang pas. Berpengalaman. Berani. Dan tidak ribet. beberapa
orang memiliki keengganan melakukan
perjalanan hanya dua orang atau seoarang saja. Mereka suka keriuhan. Mereka
suka bergerombol. Tapi ia tidak demikian. Saya banyak belajar darinya.
Rintangan
perjalan yang kami lakukan adalah jalan yang naik turun. Bukit pathuk menjadi
kendala pertama. Berhubung sepeda kami adalah sepeda biasa, bukan sepeda gunung
mahal, kami harus menuntun sepeda kami sampai daerah Bukit Bintang, tempat
dimana ketika malam tiba orang-orang menikmati bintang yang lebih rendah
lokasinya. Bintang yang terdiri dari lampu-lampu. Itu dilakukan setiap kali ada
tanjakan yang tajam dan menukik ketika kaki kami tak mampu lagi diajak
kompromi.
Ini adalah
yang pertama. Kelak akan banyak lagi tanjakan-tanjakan yang harus kami lalui
dengan peluh. Tak terhitung. Saya lupa tanjakan apa saja. ini seperti naik
gunung sebenarnya, ada waktu berhenti untuk minum dan istirahat beberapa menit.
Setidaknya peluh kami terkikis angin dan merasa segar untuk kemudian
melanjutkan lagi. Momen-momen ini adalah salah satu momen terbaik, menikmati
hutan hijau ketika beristirahat dengan udara yang segar. Kecuali ketika ada bus
raksasa yang kentut dengan asap hitamnya. Wajar. Saat itu hari minggu dan
banyak yang tengah liburan. Setiap kali bus paus itu melaju saya hanya
mengumpat dalam hati “what the fuck man” bisakah kentutnya tak sehitam itu.
tahu sendiri, bagaimana campuran panas matahari, keringat, debu, ditambah asap
hitam itu. it’s not so good. Tapi paling tidak hutan yang hijau cukup
menghibur. Mungkin sedikit berlebihan, tapi ketika mengayuh sepeda di
jalan-jalan yang dikelilingi hutan, saya seperti tengah bersepeda di Eropa.
Belum lagi ketika telah mendekati wilayah pantai. Disana banyak sekali
batu-batu karang yang seperti candi. Tak Cuma satu. Batu-batu karang itu
kebetulan tengah menghijau dengan pohon-pohon jati yang tengah bersemi. Seperti
candi Borobudur dengan pepohonan diatasnya. Atau seperti taman bergantung
babylonia itu. menakjubkan. Banyak detail-detail yang terlewatkan ketika
menggunakan motor atau mobil. Banyak detail kecil yang kelewat dinikmati.
Kadang-kadang ini digunakan untuk menghibur diri sembari bernyanyi lalalala
yeyeye untuk melupakan lelah. Dan ketika melewati jalan yang menurun seperti
roller coaster maka saya berteriak sepuasnya meskipun saya takut melewati jalan
yang terlalu menurun apalagi dengan tikungan diakhirnya.
Perjalanan
sampai di pantai idaman menghabiskan waktu 7,5 jam. Selama itu saya baru sadar
kulit saya berubah seperti zebra cross. Mungkin saya hanya perlu melentangkan
tubuh saya di jalanan untuk menjadi fasilitas penyebrangan. Pada awalnya saya
tak peduli tapi ini berubah menjadi sesuatu yang mengerikan. Bukan hitamnya
yang saya khawatirkan, tapi iritasinya yang membuat kulit saya gatal dan
mengelupas seperti kulit ular. Maka jangan remehkan sun block. Bukan menjadi
centil. Itu diperlukan untuk melindungi kulit. Jaket juga diperlukan kecuali
kamu merasa gerah seperti saya yang akhirnya hanya menggunakan kaos karena tak
tahan keringat.
7,5 jam itu
harusnya tak diperlukan jika kami tak nyasar sampai Pantai Siung yang jauh
dijung timur. Tapi karena tujuan kami adalah Indrayanti, maka kami putar balik
setelah bertanya pada beberapa anak kecil yang tengah bermain dan menyapa kami
seperti turis. Oh my God, saya baru ingat sebelum menjumpai anak-anak itu kami
begitu berbahagia dalam euphoria karena menikmati turunan yang begitu panjang
yang artinya kami harus kembali dan menuntun sepeda sejauh kami turun. Sekali
lagi, saya menghibur diri dalam lagu. Dan sekali lagi, saya seperti terdampar
di sebuah negeri coboy yang tandus dengan batu karang batu karang bak tembok
tembok raksasa yang siap menahan gempuran-gempuran Tsunami. Seperti di gurun
yang ada di film-film Amerika itu kecuali di gurun tak ada batu karang serupa
candi-candi yang eksotis. Dan saya pikir Gunung Kidul sangat cocok untuk
membuat film kolosal semacam lord of the Ring. Beberapa area disana masih
begitu lugu, begitu perawan, begitu magis, begitu sepi, dan begitu luar biasa
yang pasti sekali lagi akan terlewat jika menggunakan motor maupun mobil. Jadi
meskipun kami tak mampir ke banyak lokasi wisata, tapi saya secara pribadi
menikmati panorama yang menakjubkan. Setidaknya saat itu masih musim hukan
sehingga pohon-pohon jati belum meranggas.
Lantas,
Pantai Indrayati pun menyapa kami setelah 7,5 jam perjalanan. Dibandingkan
dengan pertama kali saya ke pantai itu, mungkin 2 tahun yang lalu, pantai itu
sama sekali berubah. Pantai itu seperti primadona sekarang. Apalagi saat itu
hari minggu dan secara tidak langsung saya membenci hari minggu yang membuat
orang membanjiri pantai itu. entah berapa bus dan entah berapa kota yang tumpah
disana untuk menikmati Indrayanti dari dekat. Disana, saya hanya jadi penonton
para pengunjung yang bersenda gurau dengan teman-teman maupun keluarga di bawah
payung-payung raksasa. Saya hanya bisa ngiler ketika mereka berfoto-foto ria
sedangkan saya dan teman saya tak membawa kamera. Maka kenangan ini memang
kenangan yang egois. Kenangan yang aku saja yang menikmati.
Bagusnya
pantai Indrayanti adalah ia bersih. Ada peraturan yang memberikan denda bagi
yang buang sampah sembarangan. Bukan hanya peraturan yang ada di papan semata.
Jika memang pantai ini dijuluki kutanya jogja maka bolehlah. Meskipun pengunjung tak bisa
berselancar. Hanya bisa berenang maupun melakukan volley pantai. Selain itu,
ada life guard yang menjaga pantai dan pengunjung. Ini adalah kelebihan lain
yang seharusnya pantai-pantai lain miliki juaga. Parang tritis misalnya.
Sehingga jika ada pengunjung yang bermain diluar garis aman, life guard bisa
mengingatkan. Tahu sendiri di pantai selatan sering ada korban.
Untuk
sejenak saya menikmati pasir putihnya, air yang cukup jernih, dan batu karang
yang menjadi tembok pantai ini. Meskipun saya tak begitu menyukai kerumunan
yang begitu gerah, saya masih bisa menikmati pantai itu dengan surya yang
hampir mengantuk.
Perjalanan
ini seprti mendaki gunung ketika sampai puncak. Tapi ,memang banyak hal yang
lebih menarik, seperti ketika saya ngobrol di angkringan dengan pemilik
angkringan di jalan Baron. Saya merasa
begitu akrab dan akhirnya ditawari mampir menginap ketika pulang nanti.
Meskipun bapak itu tak mengenal kami, ia begitu baik, begitu ramah.
Sungguh-sungguh cerminan Indonesia kalau saya bilang. Indonesia yang masih
ramah dan bersahaja.
Beberapa kali
saya melakukan perjalanan, beberapa kali juga saya menemukan kebaikan-kebaikan
yang kadang terfikir makin langka. Saya cukup bersyukur bahwa kebaikan-kebaikan
itu masih ada. Intinya masih ada orang baik dan itu cukup membuat saya bahagia.
Seperti ketika awal-awal saya suka mendaki gunung misalnya. Selain pemandangan
sunset dan pemandangan alam yang menakubkan, satu hal yang membuat saya jatuh
cinta dengan gunung adalah orang-orangnya yang peduli satu sama lain. Kita saling
menyapa meskipun tak tahu darimana kami berasal. Kita saling bertanya, kita
saling peduli tanpa memperdebatkan ras dan agama. Semacam cerminan Indonesia
yang klasik. Beda ketika jalan-jalan di Mall. Semuanya egois bukan? Saya masih
ingat waktu pertama kali mendaki, saat itu saya dan beberapa partner tengah
istirahat turun gunung. Ketika itu saya berbincang-bincang dengan seoarng
pendaki dari Semarang. Keakraban terjadi begitu saja hanya karena kami
sama-sama pendaki. Jadi, mungkin ketika semua orang berfikir bahwa kita adalah
Indonesia secara umum dan menjiwainya, mungkin tak perlu ada kekerasan yang
berkedok ras dan agama. Rasa solidaritas sesame pendaki itu memang begitu
kental, dijalan kadang-kadang ada yang menawari minum ketika pendaki yang turun
masih membawa bekal yang lebih. Ini menakjubkan dan romantic menurut saya.
Sama halnya
ketika saya bersepeda kala itu. ada pemilik mobil pick up yang begitu baik. Selain
memberi tumpangan karena hari telah
begitu gelap dan kami masih saja berkutat di Hutan Bunder yang tanpa cahaya kecuali ada mobil maupun
motor yang lewat, pemilik mobil tersebut member kami beberapa cemilan dan air
mineral. Padahal, siapa kami, toh mereka tak kenal siapa kami. Siapa tahu kami
orang jahat yang pura-pura menumpang kemudian merampok mereka. Hari itu gerimis
juga. Kami sangat bersyukur dan menertawai kenekatan kami ketika tengah
menikmati happy ending diatas mobil pick up dengan gerimis yang tidak saya
pedulikan lagi. Kadang kebaikan yang saya pikir telah hilang, lenyap begitu
saja. ada semacam kepercayaan bahwa masih banyak kebaikan-kebaikan yang belum
saya jumpai dan ada disuatu tempat. Masalahnya adalah, siap tidak saya
menjumpai kebaikan itu dan belajar menjadi orang baik demi orang-orang baik?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar