Madura memang tidak terlalu terekspos untuk segi wisata. Akan tetapi, bagi yang suka wisata sejarah Sumenep
bisa menjadi referensi yang bagus untuk mengenal sejarah terutama perkembangan
Islam di Sumenep. Beberapa contoh peninggalan sejarah yang bisa dinikmati seperti
Keraton Sumenep, Makam, dan Masjid Agung Sumenep yang didirikan oleh Pangeran
Natakusuma.
Tampaknya selain mendapat pengaruh dari Arab,
arsitektur peninggalan sejarah tersebut juga dipengaruhi oleh pengaruh
kebudayaan China seperti yang tampak pada Gerbang Masjid yang menyerupai
beberapa gerbang Klenteng. Bentuk pintu gerbang yang megah dan unik tersebut
mirip juga dengan pintu gerbang menuju makam. Sebagai bangunan peribadahan
arsitektur masjid tersebut tampaknya kental sekali dengan akulturasi tak hanya
dengan China akan tetapi juga antara kebudayaan Islam dengan Hindu/ budha
seperti kebanyakan masjid yang ada di Jawa.
Saat itu saya tak sempat mengunjungi Keraton
karena sebuah tugas, padahal menurut informasi setempat, keraton Sumenep tak
jauh dari Lokasi Masjid Agung Sumenep tersebut yang berada di depan alun-alun.
Hal ini mirip dengan keraton Yogyakarta yang letaknya tak jauh dari alun-alun.
Alun-alun kota Sumenep terbilang unik. Ketika
malam saya menyempatkan diri untuk menghilangkan kepenatan, saya keliling stan
stan penjual pakaian yang begitu banyak. Modelnya juga bagus-bagus. Tampaknya
kegiatan semacam ini tak hanya terjadi di waktu-waktu tertentu, seperti momen
Sekaten misalnya, tapi setiap hari. Selain itu, untuk hiburan keluarga bagi yang
mengajak anak-anak ada juga odong-odong yang dibuat dengan berbagai bentuk.
Sangat menarik. Ada bentuk naga, pooh, doraemon, dll. Odong-odong ini
sebanarnya dibuat dari motor Tossa, kemudian diluarnya baru dihiasi
denganberbagai ornament-ornamen dan lampu berwarna-warni.
Untuk yangtak terikat dengan tempat wisata,
di Madura banyak hutan bakau dipinggir-pinggir sungai. Menarik dilihat dari
atas jembatan. Sayangnya memang tak ada
Perahu yang digunakan untuk menyusuri Hutan Bakau tersebut. Berhubung Madura
adalah sebuah pulau kecil. Hutan bakau merupakan pemdandangan yang sering
dilihat.
Sebagai pulau kecil yang dikelilingi Laut
dengan mayoritas penduduk menjadi nelayan, seafood di Madura terbilang murah.
Ini menjadi strategi saya. Menikmati hasil alam daerah tersebut agar harganya
murah. Ini menurut saya penting bagi para Backpacker. Harga Ayam misalnya
hampir sama dengan harga cumi-cumi. Maka saat itu saya puas-puaskan makan
seafood Karena harganya murah.
Ada satu hal yang mengecewakan sebenarnya.
Norak memang. Tapi, saya benar-benar tidak bisa melihat jembatan Suramadu dan
saya ingin sekali melihat jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura,
padahal dua kali saya melewatinya. Saya tertidur saat itu.
Bagi yang suka fotografi banyak sekali spot
foto terutama di pantai nelayan. Banyak kapal nelayan. Tinggal nunggu momen
sunset untuk mengambil gambar. Memang airnya keruh. Tapi banyak hal unik
disana.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar