Minggu, 05 Januari 2014

Madura Undercover


Madura memang tidak terlalu terekspos untuk segi wisata. Akan tetapi, bagi yang suka wisata sejarah Sumenep bisa menjadi referensi yang bagus untuk mengenal sejarah terutama perkembangan Islam di Sumenep. Beberapa contoh peninggalan sejarah yang bisa dinikmati seperti Keraton Sumenep, Makam, dan Masjid Agung Sumenep yang didirikan oleh Pangeran Natakusuma.
Tampaknya selain mendapat pengaruh dari Arab, arsitektur peninggalan sejarah tersebut juga dipengaruhi oleh pengaruh kebudayaan China seperti yang tampak pada Gerbang Masjid yang menyerupai beberapa gerbang Klenteng. Bentuk pintu gerbang yang megah dan unik tersebut mirip juga dengan pintu gerbang menuju makam. Sebagai bangunan peribadahan arsitektur masjid tersebut tampaknya kental sekali dengan akulturasi tak hanya dengan China akan tetapi juga antara kebudayaan Islam dengan Hindu/ budha seperti kebanyakan masjid yang ada di Jawa.
Saat itu saya tak sempat mengunjungi Keraton karena sebuah tugas, padahal menurut informasi setempat, keraton Sumenep tak jauh dari Lokasi Masjid Agung Sumenep tersebut yang berada di depan alun-alun. Hal ini mirip dengan keraton Yogyakarta yang letaknya tak jauh dari alun-alun.
Alun-alun kota Sumenep terbilang unik. Ketika malam saya menyempatkan diri untuk menghilangkan kepenatan, saya keliling stan stan penjual pakaian yang begitu banyak. Modelnya juga bagus-bagus. Tampaknya kegiatan semacam ini tak hanya terjadi di waktu-waktu tertentu, seperti momen Sekaten misalnya, tapi setiap hari. Selain itu, untuk hiburan keluarga bagi yang mengajak anak-anak ada juga odong-odong yang dibuat dengan berbagai bentuk. Sangat menarik. Ada bentuk naga, pooh, doraemon, dll. Odong-odong ini sebanarnya dibuat dari motor Tossa, kemudian diluarnya baru dihiasi denganberbagai ornament-ornamen dan lampu berwarna-warni.
Untuk yangtak terikat dengan tempat wisata, di Madura banyak hutan bakau dipinggir-pinggir sungai. Menarik dilihat dari atas  jembatan. Sayangnya memang tak ada Perahu yang digunakan untuk menyusuri Hutan Bakau tersebut. Berhubung Madura adalah sebuah pulau kecil. Hutan bakau merupakan pemdandangan yang sering dilihat.
Sebagai pulau kecil yang dikelilingi Laut dengan mayoritas penduduk menjadi nelayan, seafood di Madura terbilang murah. Ini menjadi strategi saya. Menikmati hasil alam daerah tersebut agar harganya murah. Ini menurut saya penting bagi para Backpacker. Harga Ayam misalnya hampir sama dengan harga cumi-cumi. Maka saat itu saya puas-puaskan makan seafood Karena harganya murah.
Ada satu hal yang mengecewakan sebenarnya. Norak memang. Tapi, saya benar-benar tidak bisa melihat jembatan Suramadu dan saya ingin sekali melihat jembatan yang menghubungkan pulau Jawa dan Madura, padahal dua kali saya melewatinya. Saya tertidur saat itu.
Bagi yang suka fotografi banyak sekali spot foto terutama di pantai nelayan. Banyak kapal nelayan. Tinggal nunggu momen sunset untuk mengambil gambar. Memang airnya keruh. Tapi banyak hal unik disana.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar