Kamis, 23 Januari 2014

DEWI YANG JATUH CINTA

Angel by Reneal
Sang Dewi jatuh cinta pada seorang pendaki yang liat itu. Awalnya sederhana saja, ketika pendaki tengah mendaki puncak semeru yang menjulang tinggi dan gagah tak tertandingi di seantero pulau Jawa itu, secara tak sengaja ia bertemu dengan seorang wanita yang tengah asik memetik bunga lavender. Pendaki itu mungkin tak tahu bahwa wanita itu adalah jelmaan sang dewi yang diutus Tuhan untuk memetik sari lavender. Semeru adalah surganya lavender di bulan Juni yang bunganya nampak seperti permadani yang berkibar kibar ungu dari kejauhan ketika dihembus angin bulan juni. Pendaki itu, yang telah malang melintang dalam pendakian, tahu kapan masa terbaik untuk menikmati semeru dititik terindah. Melihat perusakan itu, secara lugu dan lugas, si pendaki mengingatkan wanita yang tengah memetik lavender itu bahwa ia melanggar hukum. Hukum manusia yang dibuat oleh sebuah birokrasi, pemerintah. Ya, memang ada undang-undang yang melarang dengan jelas perusakan lingkungan termasuk pemetikan lavender atau edelweiss yang ada di gunung. Meskipun tak semua tahu tentang itu atau bisa jadi tahu tapi pura-pura tak tahu.
Tak semestinya pendaki mengambil apa pun yang ada di gunung kecuali gambar-gambar yang bisa diabadikan melalui sebuah alat bernama kamera. Sang dewi terkesiap. Ia gugup. Ia terpana dengan pernyataan tersebut. Maka dengan nada yang sopan sang dewi meminta maaf. Dan sebagaimana umumnya para pendaki, ia memulai bertanya darimana asalnya untuk basa basi. Lantas obrolan-obrolan seperti sudah berapa lama menekuni hobi pendakian, apa gunung yang ingin sekali didaki, dan pengalaman paling menarik selama mendaki mengalir begitu saja. Seperti angin yang menggelayut diantara rumput-rumput diapadang savanna. Memang, percakapan sesama pendaki kadang terjadi begitu saja. kekaraban kadang muncul begitu lugas. Mungkin karena merasa memiliki kesamaan.
Setelah itu sang dewi yang bersemayam tinggi di langit yang agung mulai mengawasi pendaki yang tak juga hengkang dari pikiranya. Ia jatuh cinta sepertinya. Tapi ia tak tahu istilah itu. hanya saja, keingintahuan tentang pendaki itu kian besar. Ia berdebar setiap kali matanya bertemu dengan mata pendaki dalam angan-anganya. Ia gusar dan hanya ingin bertemu dengan pendaki itu secepatnya, entah bagaimana pun caranya. Belum terpikir bagaimana jika Tuhan mengetahuinya yang pasti telah Ia ketahui. Lagipula, apa yang tidak Ia ketahui. Tapi begitulah, ada sisi cinta yang membutakan. Kebutaan yang nikmat. Kebutaan yang tak menyakiti. Atau belum??
Sang dewi terus mengamati, kapan si pendaki akan mendaki lagi dari kejauhan seperti mata-mata. Lalu ia tahu, lusa si pendaki akan menelusuri Gunung Lawu. Disana ada curug sewu yang gemericiknya mengeluarkan riak putih nan indah. Dengan menggunakan pelangi ia terbang dan menepi di bebatuan curug. Pelangi itu menarik perhatian sang Pendaki. Bagaimana tidak, pelangi memiliki pesona yang sulit untuk diabaikan. Pesona yang sulit dihindarkan. Dan diujung pesona itu, ada bintang utama bak diva dengan rambut terurai basah sampai punggungya. Sejenak sang pendaki tak berkedip. Sepertinya tak asing. Ia perlu meyakinkan bahwa yang dialami bukan déjà vu. Dibalik gemericik yang nyaris riuh, tubuh sang dewi terbias cahaya mentari yang keemasan dan mega yang jingga. Sang dewi termangu menikmati bias senja diujung pelangi yang warna-warnanya seperti selendang-selendang maha besar terbentang. Dengan gugup si pendaki menyapa. Singkat saja di curug itulah kedekatan mereka mulai menuju kearah keintiman. Seperti puncak gunung dan kawah yang kadang tak terpisahkan. Dan sebagai pendaki ia adalah pengembara yang lihai memainkan kata serupa pujangga yang sebenarnya tak perlu karena sang dewi telah jatuh hati. Bahkan, sebelum si pendaki berkata-kata sekalipun. Bahkan, tanpa si pendaki berkata apa-apa pun cinta itu telah ada sebagai kekaguman yang tak biasa. Kekaguman yang membuat hati sang dewi bergetar. Kekaguman yang diam-diam membuatnya ingin menjadi manusia yang utuh. Ia telah terbutakan kini. Kebutaan yang ia tak sadari. Tuhan tak berkata-kata sebagai ungkapan bahwa sebenarnya itu tak bisa. Sebuah hukum alam yang tak bisa lagi diperbarui hanya karena perasaan melankoli. Hukum alam yang telah tercipta demikian dan memang harus demikian. Jika tidak, keseimbangan akan goncang, alam akan berputar pada poros yang berbeda. Seperti matahari yang harus terbit dari timur. Karena jika di barat, kiamat akan hadir sebagai mimpi buruk yang bahkan tak bisa terbayangkan. Tatanan rusak. Sumbu-sumbu bergeser dari porosnya. Tuhan tak mau mengorbankan itu hanya untuk satu Dewi yang merajuk.
Sang dewi terus hadir dalam jelmaanya sebagai manusia. Ia menyebut dirinya Pelangi. Ia menjelma menjadi wanita yang jelita. Ia telah sempurna dalam takaran bahwa tak ada yang sempurna. Tampaknya si pendaki pun telah jatuh hati pada wanita jelmaan dewi yang tidak ia ketahui. Setelah senja di curug sewu, sang dewi lebih sering menjadi manusia yang kasmaran. Si pendaki juga tampaknya sama. Terbawa kidung kasih yang memabukan. Tapi tak ada yang tahu pasti kedalaman hati manusia. Suatu kali sang dewi akan tahu bahwa ada kekosongan di dalam hati si pendaki. Semacam lara yang melubangi hatinya. Yang tak kan terisi oleh apa pun. Tak tergantikan. Bahkan, sang dewi sekalipun. Kelak, sang dewi merasakan lara untuk pertama kalinya. Untuk saat ini, sang dewi hanya merasakan kehidupan lain. Ia lugu soal hati terdalam. Maka yang ia lakukan adalah menikmati yang kini dan dan disini.
Sang dewi tanpa disadarinya telah berubah menjadi anak yang berani kalau bukan nakal. Tuhan pun berfirman bahwa sang dewi harus menghentikanya. Ini tak mungkin. Tak bisa. Lebih rumit dari perbedaan keyakinan. Ah, perbedaan keyakinan masih bisa diupayakan. Bukankah sebenarnya esensi keyakinan adalah sama. Hanya saja keyakinan-keyakinan tersebut memberi nama Tuhan dengan berbeda-beda. Akan tetapi esensi tentang Ketuhanan sebagai Yang Maha Tinggi, Yang Maha Asih, Yang Maha Agung bukankah sama. Tapi, kadang manusia mengartikan lain. Arti yang membuat perselisihan. Arti yang membuat perpisahan. Biar bagaiman pun, manusia memang memiliki keterbatasan dalam mengartikan. Ada memang yang tetap bertahan. Ada memang yang acuh dengan perbedaan tersebut. Tapi ada juga yang memilih untuk menjadi rasional. Katanya ada hukum yang telah mengatur. Katanya cinta tak harus memiliki. Sang dewi adalah salah satu yang tak peduli. Tampaknya bara dalam hatinya begitu dahsyat. Bara yang tak kenal logika.
Tapi ada yang tidak disampaikan Tuhan dalam hal ini kepada Sang Dewi. Sesuatu yang sederhana saja sebenarnya. Sesuatu yang sangat welas yang mungkin akan ditolak oleh kebutaan cinta. Bukan karena Tuhan cemburu. Hanya saja, Tuhan terlalu sayang pada sang dewi dan tak tega melihat dewi yang tak mengenal sakit pada akhirnya mengerti tentang perasaan yang fana. Perasaan sakit. Perasaan dikhianati. Sang dewi tak tahu air mata kesedihan yang begitu pribadi.
Bukankah ketika Engkau menciptakan dunia, Engkau telah tahu bagaimana manusia. Kami meragukan. Tapi manusia bisa membuktikan untuk bisa menjaga bumi meskipun tak semua. Kenapa yang ini tak bisa. Bukankah cinta adalah ciptaanmu juga. Kenapa Engkau larang wahai Sang Pengasih. Sang dewi merajuk.
Cinta ini bukan hamba yang meminta. Bukan hamba yang mencari. Cinta ini telah tercipta. Bukankah Engkau yang Maha Pencipta.
Lantas, Tuhan tak bisa tidak kecuali membiarkanya. Waktu berselang. Sang dewi bahagia seperti berada di puncak-puncak tertinggi. Waktu berselang lagi. Mentari tak pernah berhenti menandai tanggal hari dan bulan dalam jejak-jejak pagi siang dan malam. Ia terus mengalir patuh sesuai kodratnya tanpa bertanya. Itu tugas yang diembanya.
Waktu itu juga yang menunjukan ada air mata. Air mata bukan untuk siapa-siapa seperti selama ini ia menangisi kesedihan yang terjadi di Bumi karena manusia yang saling bertikai pada kesalah pahaman. Air mata ini untuk dirinya sendiri. air mata ini karena ia melihat air mata sang pendaki. Ia mengamati dari jauh seperti mentari yang bersinar tanpa perlu menyentuh. Dari jauh itu ia menemukan sebuah kenyataan pahit. Sang pendaki menangisi seoarang wanita yang benar-benar manusia. Wanita yang pernah ada di hidupnya. Wanita yang ia kasihi hingga berurai air mata. Wanita yang telah pergi dan kelak ia tahu wanita itu akan berlabuh pada pengembara lain. Sang dewi menangis akan kenyataan bahwa ia tak ubahnya seperti purnama ditengah hari. Ada tapi apa daya tak ada sinar. Ia terabaikan sebelum malam tiba. Ia hanyalah bayangan yang memantulkan sosok lain. Ia semu. Ia tidak nyata. Seperti wayang pelipur lara. Tak kurang apalagi lebih.
Ia telah merasakan menjadi manusia. Sisi manusia yang tak mudah. Sisi manusia yang sakit. ia baru tahu arti sebuah realita. Ia ingin menjadi rimba kini karena menjadi wanita yang meninggalkan si pendaki adalah tidak mungkin. Ia tetap bukan seorang manusia. Mau seperti apa pun, ia tak mampu menjadi wanita yang telah membuat si pendaki penuh dengan lara. Lara yang membuat sang dewi merasa terkapar, bahkan terseok ketika ia berupaya melangkahkan kaki. Setidaknya jika memang ia tak bisa dan tak akan pernah bisa menjadi wanita itu ia bisa menjadi rimba. Rimba yang selau menjadi cinta pertamanya selain wanita yang juga telah merenggut hati si pendaki yang telah merenggut hatinya. Rimba yang selalu dirindu. Rimba yang selalu ia jelajahi. Rimba yang selalu dikagumi. Rimba yang bukan bayangan dari wanita itu. Tak peduli betapa pun susah payahnya untuk menggapai puncak rimba-rimba yang ia taklukan. Tak peduli memar, kram dan cedera, rimba selalu dijadikan temanya, rimba selalu menjadi cintanya meskipun rimba tak selalu manis padanya. Pendaki akan hadir karena rindunya. Meskipun rimba kadang emnyakiti sekali pun, si pendaki selalu memiliki waktu untuk bersua.
Pahit. Ia bukanlah rimba apalagi wanita itu. ia hanya bayangan. Pun, ia bukan belukar maupun rumput kerdil yang rapuh sekalipun. Ia bukan siapa-siapa. Ia mungkin hanya titik kecil yang dianggap singgah.
Air mata si pendaki menjadi air matanya. Bagaimana rasanya sebuah keberadaan menjadi sebuah omong kosong. Bagaimana tawa, kata-kata indah hanya sesuatu tanpa makna. Tiba-tiba sang dewi ingin sendiri.

Hujan pun turun begitu deras. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar