![]() |
| Angel by Reneal |
Sang
Dewi jatuh cinta pada seorang pendaki yang liat itu. Awalnya sederhana saja,
ketika pendaki tengah mendaki puncak semeru yang menjulang tinggi dan gagah tak
tertandingi di seantero pulau Jawa itu, secara tak sengaja ia bertemu dengan
seorang wanita yang tengah asik memetik bunga lavender. Pendaki itu mungkin tak
tahu bahwa wanita itu adalah jelmaan sang dewi yang diutus Tuhan untuk memetik
sari lavender. Semeru adalah surganya lavender di bulan Juni yang bunganya
nampak seperti permadani yang berkibar kibar ungu dari kejauhan ketika dihembus
angin bulan juni. Pendaki itu, yang telah malang melintang dalam pendakian,
tahu kapan masa terbaik untuk menikmati semeru dititik terindah. Melihat
perusakan itu, secara lugu dan lugas, si pendaki mengingatkan wanita yang
tengah memetik lavender itu bahwa ia melanggar hukum. Hukum manusia yang dibuat
oleh sebuah birokrasi, pemerintah. Ya, memang ada undang-undang yang melarang
dengan jelas perusakan lingkungan termasuk pemetikan lavender atau edelweiss
yang ada di gunung. Meskipun tak semua tahu tentang itu atau bisa jadi tahu
tapi pura-pura tak tahu.
Tak
semestinya pendaki mengambil apa pun yang ada di gunung kecuali gambar-gambar
yang bisa diabadikan melalui sebuah alat bernama kamera. Sang dewi terkesiap. Ia
gugup. Ia terpana dengan pernyataan tersebut. Maka dengan nada yang sopan sang
dewi meminta maaf. Dan sebagaimana umumnya para pendaki, ia memulai bertanya
darimana asalnya untuk basa basi. Lantas obrolan-obrolan seperti sudah berapa
lama menekuni hobi pendakian, apa gunung yang ingin sekali didaki, dan
pengalaman paling menarik selama mendaki mengalir begitu saja. Seperti angin
yang menggelayut diantara rumput-rumput diapadang savanna. Memang, percakapan
sesama pendaki kadang terjadi begitu saja. kekaraban kadang muncul begitu
lugas. Mungkin karena merasa memiliki kesamaan.
Setelah
itu sang dewi yang bersemayam tinggi di langit yang agung mulai mengawasi
pendaki yang tak juga hengkang dari pikiranya. Ia jatuh cinta sepertinya. Tapi
ia tak tahu istilah itu. hanya saja, keingintahuan tentang pendaki itu kian
besar. Ia berdebar setiap kali matanya bertemu dengan mata pendaki dalam
angan-anganya. Ia gusar dan hanya ingin bertemu dengan pendaki itu secepatnya,
entah bagaimana pun caranya. Belum terpikir bagaimana jika Tuhan mengetahuinya
yang pasti telah Ia ketahui. Lagipula, apa yang tidak Ia ketahui. Tapi
begitulah, ada sisi cinta yang membutakan. Kebutaan yang nikmat. Kebutaan yang
tak menyakiti. Atau belum??
Sang
dewi terus mengamati, kapan si pendaki akan mendaki lagi dari kejauhan seperti
mata-mata. Lalu ia tahu, lusa si pendaki akan menelusuri Gunung Lawu. Disana
ada curug sewu yang gemericiknya mengeluarkan riak putih nan indah. Dengan
menggunakan pelangi ia terbang dan menepi di bebatuan curug. Pelangi itu
menarik perhatian sang Pendaki. Bagaimana tidak, pelangi memiliki pesona yang
sulit untuk diabaikan. Pesona yang sulit dihindarkan. Dan diujung pesona itu,
ada bintang utama bak diva dengan rambut terurai basah sampai punggungya.
Sejenak sang pendaki tak berkedip. Sepertinya tak asing. Ia perlu meyakinkan
bahwa yang dialami bukan déjà vu. Dibalik gemericik yang nyaris riuh, tubuh
sang dewi terbias cahaya mentari yang keemasan dan mega yang jingga. Sang dewi
termangu menikmati bias senja diujung pelangi yang warna-warnanya seperti
selendang-selendang maha besar terbentang. Dengan gugup si pendaki menyapa.
Singkat saja di curug itulah kedekatan mereka mulai menuju kearah keintiman.
Seperti puncak gunung dan kawah yang kadang tak terpisahkan. Dan sebagai
pendaki ia adalah pengembara yang lihai memainkan kata serupa pujangga yang
sebenarnya tak perlu karena sang dewi telah jatuh hati. Bahkan, sebelum si
pendaki berkata-kata sekalipun. Bahkan, tanpa si pendaki berkata apa-apa pun
cinta itu telah ada sebagai kekaguman yang tak biasa. Kekaguman yang membuat
hati sang dewi bergetar. Kekaguman yang diam-diam membuatnya ingin menjadi
manusia yang utuh. Ia telah terbutakan kini. Kebutaan yang ia tak sadari. Tuhan
tak berkata-kata sebagai ungkapan bahwa sebenarnya itu tak bisa. Sebuah hukum
alam yang tak bisa lagi diperbarui hanya karena perasaan melankoli. Hukum alam
yang telah tercipta demikian dan memang harus demikian. Jika tidak,
keseimbangan akan goncang, alam akan berputar pada poros yang berbeda. Seperti
matahari yang harus terbit dari timur. Karena jika di barat, kiamat akan hadir
sebagai mimpi buruk yang bahkan tak bisa terbayangkan. Tatanan rusak.
Sumbu-sumbu bergeser dari porosnya. Tuhan tak mau mengorbankan itu hanya untuk
satu Dewi yang merajuk.
Sang
dewi terus hadir dalam jelmaanya sebagai manusia. Ia menyebut dirinya Pelangi.
Ia menjelma menjadi wanita yang jelita. Ia telah sempurna dalam takaran bahwa
tak ada yang sempurna. Tampaknya si pendaki pun telah jatuh hati pada wanita
jelmaan dewi yang tidak ia ketahui. Setelah senja di curug sewu, sang dewi
lebih sering menjadi manusia yang kasmaran. Si pendaki juga tampaknya sama.
Terbawa kidung kasih yang memabukan. Tapi tak ada yang tahu pasti kedalaman
hati manusia. Suatu kali sang dewi akan tahu bahwa ada kekosongan di dalam hati
si pendaki. Semacam lara yang melubangi hatinya. Yang tak kan terisi oleh apa
pun. Tak tergantikan. Bahkan, sang dewi sekalipun. Kelak, sang dewi merasakan
lara untuk pertama kalinya. Untuk saat ini, sang dewi hanya merasakan kehidupan
lain. Ia lugu soal hati terdalam. Maka yang ia lakukan adalah menikmati yang
kini dan dan disini.
Sang
dewi tanpa disadarinya telah berubah menjadi anak yang berani kalau bukan
nakal. Tuhan pun berfirman bahwa sang dewi harus menghentikanya. Ini tak
mungkin. Tak bisa. Lebih rumit dari perbedaan keyakinan. Ah, perbedaan
keyakinan masih bisa diupayakan. Bukankah sebenarnya esensi keyakinan adalah
sama. Hanya saja keyakinan-keyakinan tersebut memberi nama Tuhan dengan
berbeda-beda. Akan tetapi esensi tentang Ketuhanan sebagai Yang Maha Tinggi,
Yang Maha Asih, Yang Maha Agung bukankah sama. Tapi, kadang manusia mengartikan
lain. Arti yang membuat perselisihan. Arti yang membuat perpisahan. Biar
bagaiman pun, manusia memang memiliki keterbatasan dalam mengartikan. Ada
memang yang tetap bertahan. Ada memang yang acuh dengan perbedaan tersebut.
Tapi ada juga yang memilih untuk menjadi rasional. Katanya ada hukum yang telah
mengatur. Katanya cinta tak harus memiliki. Sang dewi adalah salah satu yang
tak peduli. Tampaknya bara dalam hatinya begitu dahsyat. Bara yang tak kenal
logika.
Tapi
ada yang tidak disampaikan Tuhan dalam hal ini kepada Sang Dewi. Sesuatu yang
sederhana saja sebenarnya. Sesuatu yang sangat welas yang mungkin akan ditolak
oleh kebutaan cinta. Bukan karena Tuhan cemburu. Hanya saja, Tuhan terlalu
sayang pada sang dewi dan tak tega melihat dewi yang tak mengenal sakit pada
akhirnya mengerti tentang perasaan yang fana. Perasaan sakit. Perasaan
dikhianati. Sang dewi tak tahu air mata kesedihan yang begitu pribadi.
Bukankah
ketika Engkau menciptakan dunia, Engkau telah tahu bagaimana manusia. Kami
meragukan. Tapi manusia bisa membuktikan untuk bisa menjaga bumi meskipun tak
semua. Kenapa yang ini tak bisa. Bukankah cinta adalah ciptaanmu juga. Kenapa
Engkau larang wahai Sang Pengasih. Sang dewi merajuk.
Cinta
ini bukan hamba yang meminta. Bukan hamba yang mencari. Cinta ini telah
tercipta. Bukankah Engkau yang Maha Pencipta.
Lantas,
Tuhan tak bisa tidak kecuali membiarkanya. Waktu berselang. Sang dewi bahagia
seperti berada di puncak-puncak tertinggi. Waktu berselang lagi. Mentari tak
pernah berhenti menandai tanggal hari dan bulan dalam jejak-jejak pagi siang
dan malam. Ia terus mengalir patuh sesuai kodratnya tanpa bertanya. Itu tugas
yang diembanya.
Waktu
itu juga yang menunjukan ada air mata. Air mata bukan untuk siapa-siapa seperti
selama ini ia menangisi kesedihan yang terjadi di Bumi karena manusia yang
saling bertikai pada kesalah pahaman. Air mata ini untuk dirinya sendiri. air
mata ini karena ia melihat air mata sang pendaki. Ia mengamati dari jauh
seperti mentari yang bersinar tanpa perlu menyentuh. Dari jauh itu ia menemukan
sebuah kenyataan pahit. Sang pendaki menangisi seoarang wanita yang benar-benar
manusia. Wanita yang pernah ada di hidupnya. Wanita yang ia kasihi hingga berurai
air mata. Wanita yang telah pergi dan kelak ia tahu wanita itu akan berlabuh
pada pengembara lain. Sang dewi menangis akan kenyataan bahwa ia tak ubahnya
seperti purnama ditengah hari. Ada tapi apa daya tak ada sinar. Ia terabaikan
sebelum malam tiba. Ia hanyalah bayangan yang memantulkan sosok lain. Ia semu.
Ia tidak nyata. Seperti wayang pelipur lara. Tak kurang apalagi lebih.
Ia
telah merasakan menjadi manusia. Sisi manusia yang tak mudah. Sisi manusia yang
sakit. ia baru tahu arti sebuah realita. Ia ingin menjadi rimba kini karena
menjadi wanita yang meninggalkan si pendaki adalah tidak mungkin. Ia tetap
bukan seorang manusia. Mau seperti apa pun, ia tak mampu menjadi wanita yang
telah membuat si pendaki penuh dengan lara. Lara yang membuat sang dewi merasa
terkapar, bahkan terseok ketika ia berupaya melangkahkan kaki. Setidaknya jika
memang ia tak bisa dan tak akan pernah bisa menjadi wanita itu ia bisa menjadi
rimba. Rimba yang selau menjadi cinta pertamanya selain wanita yang juga telah
merenggut hati si pendaki yang telah merenggut hatinya. Rimba yang selalu
dirindu. Rimba yang selalu ia jelajahi. Rimba yang selalu dikagumi. Rimba yang
bukan bayangan dari wanita itu. Tak peduli betapa pun susah payahnya untuk
menggapai puncak rimba-rimba yang ia taklukan. Tak peduli memar, kram dan
cedera, rimba selalu dijadikan temanya, rimba selalu menjadi cintanya meskipun
rimba tak selalu manis padanya. Pendaki akan hadir karena rindunya. Meskipun
rimba kadang emnyakiti sekali pun, si pendaki selalu memiliki waktu untuk
bersua.
Pahit.
Ia bukanlah rimba apalagi wanita itu. ia hanya bayangan. Pun, ia bukan belukar
maupun rumput kerdil yang rapuh sekalipun. Ia bukan siapa-siapa. Ia mungkin
hanya titik kecil yang dianggap singgah.
Air
mata si pendaki menjadi air matanya. Bagaimana rasanya sebuah keberadaan
menjadi sebuah omong kosong. Bagaimana tawa, kata-kata indah hanya sesuatu
tanpa makna. Tiba-tiba sang dewi ingin sendiri.
Hujan
pun turun begitu deras.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar