Apa
menariknya kopi hitam. Pahit. Bagi sebagian orang kopi hitam akan membuat
masalah dengan lambung mereka tapi bagi sebagian orang lain kopi hitam adalah
teman. Bukan sekedar minuman belaka. Ia bisa menjadi teman yang menarik
meskipun hitam dan pahit. Meskipun ada white
coffee, cappuccino, latte dan
minuman lain berbahan kopi. Di pagi hari, ia bisa menjadi teman untuk menyambut
pagi menghilangkan kantuk yang enggan pergi. Mungkin ditemani rokok dan Koran
bagi kaum urban. Mungkin ditemani perapian tungku bagi kaum pedesaan dengan
cemilan ketela bakar. Lihatlah, bahkan ia menyatu dengan kelas sosial mana pun
dan peradaban macam apa pun. Ia tetap nikmat disruput di café mewah, hotel
berbintang, di pinggir jalan, maupun di rumah reyot di sela-sela gerimis.
Hebat. Ia lebih tua dari cappuccino mungkin
tapi ia tetap saja tak lekang. Ia melegenda.
Seperti yang
telah saya tulis sebelumnya, kopi hitam tak saja enak dinikmati dengan singkong
bakar tapi juga dengan cake lembut dan juga biscuit. Lain daripada itu, ia
adalah teman ngobrol yang asyik. Mungkin di café, di pos ronda, maupun di
angkringan. Obrolan politik, film, dan trivia-trivia sepele semacam gossip
ariel, farhat abbas, maupun Miley Cyrus.
Kopi hitam
ada sebelum saya. Tentu ia lebih tua dari saya. Saya mengenal kopi hitam
semenjak SD. Ketika itu Bapak saya akrab sekali dengan kopi hitam sebelum
berangkat ke ladang setiap pagi. Dari Bapak saya, saya mulai mencicipi rasa
kopi hitam. Lantas setiap pagi saya terbiasa meminum kopi hitam. Dulu tak
terlintas kesan apa-apa. Rasanya nikmat saja meikmatinya ketika pagi yang
dingin dan berkabut di pedesaan dengan tungku yang menyala. Sekarang, setiap
kali saya meneguk kopi hitam terlintas sebuah romansa yang sederhana nan manis.
Duduk bersama Bapak di dekat tungku perapian. Kami sama-sama bersiap-siap untuk
beraktifitas. Bapak pergi ke ladang, dan saya pergi ke sekolah. Saya merindukan
raut wajahnya. Raut wajah seorang ayah yang bijaksana. Ia pribadi yang tak
banyak bicara. Seperti kopi hitam, ia pribadi yang sederhana tapi dirindukan.
Seperti
beberapa orang yang menganggap kopi hitam menarik, saya jatuh cinta dengan kopi
hitam. Aromanya yang segar sering membawa saya ke memori-memori masa lalu yang
hangat. Ketika itu mungkin saya masih lugu. Saya sadar, saya merindukan masa
itu. masa dimana saya tak memiliki banyak beban, masa dimana saya masih bisa
menikmati hujan, masa dimana saya tak perlu berfikir tentang
kebutuhan-kebutuhan orang dewasa. Tapi hidup tak melulu indah. Rasakanlah,
meskipun ada gula dalam kopi, tetap saja ada rasa pahitnya, tetap saja ada
ampas kopinya. Lagipula, bukankah kebanyakan gula akan membuat obesitas dan
diabetes. Manis dan pahit mungkin seperti yin dan yang. Saling melengkapi. Tak
saling menghujat. Mereka ada karena mereka harus ada. Pahit dalam kopi bisa
menyadarkan anugerah Tuhan akan manisnya gula. Seperti manusia yang harus
bersyukur mungkin akan anugerah-anugerah ketika ia dibanjiri air mata. Air mata
inilah yang kadang-kadang datang karena pahit dan air mata inilah yang
seringkali membuka mata untuk belajar mendengar, melihat, dan merasakah. Bukan
tawa. Tawa memang gurih dan manis, tapi ia sering membuat lupa. Tawa dan air
mata ada karena memang harus ada. Sayangnya salah satu dari mereka ada yang
benar-benar dipuja dan salah satu yang lain dihujat.
Saya masih
akrab dengan kopi dan setiap kali mencium aroma kopi, kembali ingatan saya
melalang ke sebuah masa dimana saya merasa begitu beruntung. Mungkin saya
merindukan mereka yang lama saya tinggalkan.
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar