Minggu, 05 Januari 2014

KOPI HITAM: NOSTALGIA DAN SEBUAH PESONA

Apa menariknya kopi hitam. Pahit. Bagi sebagian orang kopi hitam akan membuat masalah dengan lambung mereka tapi bagi sebagian orang lain kopi hitam adalah teman. Bukan sekedar minuman belaka. Ia bisa menjadi teman yang menarik meskipun hitam dan pahit. Meskipun ada white coffee, cappuccino, latte dan minuman lain berbahan kopi. Di pagi hari, ia bisa menjadi teman untuk menyambut pagi menghilangkan kantuk yang enggan pergi. Mungkin ditemani rokok dan Koran bagi kaum urban. Mungkin ditemani perapian tungku bagi kaum pedesaan dengan cemilan ketela bakar. Lihatlah, bahkan ia menyatu dengan kelas sosial mana pun dan peradaban macam apa pun. Ia tetap nikmat disruput di café mewah, hotel berbintang, di pinggir jalan, maupun di rumah reyot di sela-sela gerimis. Hebat. Ia lebih tua dari cappuccino mungkin tapi ia tetap saja tak lekang. Ia melegenda.
Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, kopi hitam tak saja enak dinikmati dengan singkong bakar tapi juga dengan cake lembut dan juga biscuit. Lain daripada itu, ia adalah teman ngobrol yang asyik. Mungkin di café, di pos ronda, maupun di angkringan. Obrolan politik, film, dan trivia-trivia sepele semacam gossip ariel, farhat abbas, maupun Miley Cyrus.
Kopi hitam ada sebelum saya. Tentu ia lebih tua dari saya. Saya mengenal kopi hitam semenjak SD. Ketika itu Bapak saya akrab sekali dengan kopi hitam sebelum berangkat ke ladang setiap pagi. Dari Bapak saya, saya mulai mencicipi rasa kopi hitam. Lantas setiap pagi saya terbiasa meminum kopi hitam. Dulu tak terlintas kesan apa-apa. Rasanya nikmat saja meikmatinya ketika pagi yang dingin dan berkabut di pedesaan dengan tungku yang menyala. Sekarang, setiap kali saya meneguk kopi hitam terlintas sebuah romansa yang sederhana nan manis. Duduk bersama Bapak di dekat tungku perapian. Kami sama-sama bersiap-siap untuk beraktifitas. Bapak pergi ke ladang, dan saya pergi ke sekolah. Saya merindukan raut wajahnya. Raut wajah seorang ayah yang bijaksana. Ia pribadi yang tak banyak bicara. Seperti kopi hitam, ia pribadi yang sederhana tapi dirindukan.
Seperti beberapa orang yang menganggap kopi hitam menarik, saya jatuh cinta dengan kopi hitam. Aromanya yang segar sering membawa saya ke memori-memori masa lalu yang hangat. Ketika itu mungkin saya masih lugu. Saya sadar, saya merindukan masa itu. masa dimana saya tak memiliki banyak beban, masa dimana saya masih bisa menikmati hujan, masa dimana saya tak perlu berfikir tentang kebutuhan-kebutuhan orang dewasa. Tapi hidup tak melulu indah. Rasakanlah, meskipun ada gula dalam kopi, tetap saja ada rasa pahitnya, tetap saja ada ampas kopinya. Lagipula, bukankah kebanyakan gula akan membuat obesitas dan diabetes. Manis dan pahit mungkin seperti yin dan yang. Saling melengkapi. Tak saling menghujat. Mereka ada karena mereka harus ada. Pahit dalam kopi bisa menyadarkan anugerah Tuhan akan manisnya gula. Seperti manusia yang harus bersyukur mungkin akan anugerah-anugerah ketika ia dibanjiri air mata. Air mata inilah yang kadang-kadang datang karena pahit dan air mata inilah yang seringkali membuka mata untuk belajar mendengar, melihat, dan merasakah. Bukan tawa. Tawa memang gurih dan manis, tapi ia sering membuat lupa. Tawa dan air mata ada karena memang harus ada. Sayangnya salah satu dari mereka ada yang benar-benar dipuja dan salah satu yang lain dihujat.
Saya masih akrab dengan kopi dan setiap kali mencium aroma kopi, kembali ingatan saya melalang ke sebuah masa dimana saya merasa begitu beruntung. Mungkin saya merindukan mereka yang lama saya tinggalkan.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar