Rabu, 08 Januari 2014

Mengejar Matahari


Kilas balik beberapa waktu yang lampau, ketika usia saya masih dalam satuan, belum puluhan, matahari pagi yang seperti koin berwarna kuning lembut adalah momen yang paling saya sukai. Saya benar-benar bisa melihat matahari dengan mata telanjang. Ini momen yang jarang terjadi karena saya tinggal di daerah pegunungan yang sering kali berkabut. Adakalanya saya bersama Ibu saya pergi ke pasar.jalan kaki dengan membawa hasil sayuran yang kami tanam di kebun hendak dijual. Berangkat setelah subuh sekitar jam 04.30. jarak desa kami ke pasar cukup jauh dengan jalan kaki, sehingga harus pagi-pagi benar berangkatnya untuk mendapatkan tempat dipasar. Ditengah perjalanan itu, saya juga seringkali mendapatkan pemandangan matahari terbit dimana dua Gunung berapi Sumbing dan Sindoro berada jauh di timur sana. Saat itu saya belum tahu lokasi kedua gunung cantik tersebut. Ingatan tentang matahari terbit kala itu hanya saya simpan di memori saya. Belum ada kamera saat itu. toh, saya masih mampu mengingat detail keindahanya sampai sekarang. Pemandangan ini saya dapatkan sebelum sampai di sebuah tempat dimana ada gunung kecil yang di sebut warga sekitar Gunung Mandala dengan puncak sebuah batu besar menyerupai kepala manusia yang kala itu saya analogikan sebagai seorang pertapa yang telah membatu. Ibu saya mungkin tak peduli dengan momen-momen kelahiran sang surya ke permukaan. Padahal harusnya ibu tahu betapa melahirkan adalah proses yang tidak mudah. Atu kungkin karena beliau telah melahirkan 3 kali sehingga benar-benar tak peduli lagi sakitnya. Lagipula saya masih ingat betapa mudahnya saya dilahirkan. Kata beliau ketika saya mau lahir, bahkan beliau tak membutuhkan dukun beranak apalagi seorang bidan. Saya lahir begitu saja diatas sebuah tampah. Sebuah benda yang sering digunakan untuk menjemur kerupuk kering atau mengayak tepung jagung yang mau dijadikan nasi. Momen-momen kelahiran itu hanya saya yang menimati, bagi saya momen itu adalah momen yang begitu indah, begitu sacral, dan begitu romantis. ibu saya  yang tak peduli, dan hanya memedulikan sayuran yang digendongnya terus saja berjalan dan menyuruh saya cepat-cepat karena hari hampir siang. Takut tak dapat tempat di pasar. Maka karena saya juga takut ditinggal ditengah-tengah jalan sepi yang dikelilingi kebun maupun belukar saya pun bergegas. Saya hanya menikmati momen-momen kontraksi cakrawala yang mau melahirkan bayinya dalam waktu yang begitu singkat. Bayi yang akan menerangi dunia. Bayi yang akan membawa kebahagiaan. Semacam Nabi yang dikultuskan untuk menerangi si Jahiliyah. Kami tergesa-gesa. Ternyata pasar telah ramai sekali dengan orang-orang melakukan transaksi.
Sampai sekarang, momen matahari terbit adalah momen yang saya sukai. Indah dan lembut. Bersahaja. Matahari mau dilihat dengan mata telanjang tanpa menyakiti. Maka ketika teman saya bercerita bahwa ia mau mendaki gunung, saya meminta untuk diajak. Merengek seperti anak kecil. Beberapa acara yang seharusnya saya kerjakan saat itu saya batalkan, seperti mengunjungi peringatan Waisak di candi Borobudur. Saya benar-benar ingin ikut karena katanya dipuncak gunung kita bisa mendapatkan pemandangan matahari terbit yang menawan. Maka berangkatlah saya ke sebuah gunung dimana ketika kecil saya selalu melihat matahari menampakan wujudnya di sana, Gunung sindoro.
Saat itu harusnya saya bisa menikmati detik-detik kelahiran sang surya. Tetapi, dalam perjalanan dari tempat kemah ke puncak saya terengah-engah. Saya hampir tidak sampai puncak. Sebentar-sebentar saya merasa letih dan sesak. Mungkin karena suhu udara yang sangat dingin sehingga kadar oksigen rendah. Maka ketika sampai dipuncak, matahari telah meninggi. Apa mau dikata. Saya juga tak bisa dan tak punya kuasa mengembalikan matahari lagi ke kantong cakrawala. Saya juga tak bisa memutar waktu dimana saya bisa kembali sebelum jam 05.00. maka, saya menikmati apa yang ada saja. setidaknya saya tak begitu kecewa dengan pemandangan kawah Gunung Sindoro dan pemandangan beberapa atap langit  seperti Gunung Merapi yang paling banyak mengeluarkan uap, gunung Lawu, dan Gunung Merbabu disebelah timur maupun tenggara Gunung Sindoro ini. Di sebelah selatan gunung ini, ada saudara dekatnya yang berdiri teguh. Gunung Sumbing.
Memang, itu tidak terlalu buruk, ketika ke Gunung Prau, Dieng bahkan saya tak sempat melihat langit yang biru di puncak. Kabut dimana-mana padahal harusnya musim kemarau. Musim yang sangat pas untuk mendaki dan menikmati keindahan gunung prau dan sekitarnya dari puncak seperti yang ada di internet.
Beberapa minggu kemudian dari waktu saya mendaki gunung tresebut, beberapa  teman pendaki yang saya kenal ke gunung tersebut. Saya iri, background foto yang dipamerkan di facebook memperlihatkan gunung Prau yang cerah. Sial!!
Maka saya pun berkelana lagi, hingga akhirnya saya ke Gunung Merapi atas rekomendasi teman saya. Ia bilang gunungnya bagus dan medan pendakian tak terlalu sulit hingga saya sebagai pendaki pemula mengalami sendiri. saya sempat protes di tengah pendakian saya karena tak semudah yang ia ceritakan. Saat itu tengah musim kemarau. Debu-debu menghambat pendakian. Bahkan debu itu seringkali membuat pendaki yang turun berpapasan dengan saya seperti debu berjalan.

Paginya, sebelum jam 05.00 saya naik ke puncak dan benar saja puncak merapi sangat indah. Paling tidak itu membayar jerih payah saya. Dan bonusnya, sebuah pemandangan yang telah saya cari-cari. Semua keluh kesah terkunci. Saya tak bisa berbahasa kecuali diam dan menikmati karya Tuhan yang begitu cantik. Matahari terbit. Saya menyaksikan dengan seksama ketika matahari itu masih berupa embrio kecil di ufuk timur. Lantas detik-detik jam menjadikanya seperti bayi. Sangat lembut. Sangat cantik. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar