Kilas balik
beberapa waktu yang lampau, ketika usia saya masih dalam satuan, belum puluhan,
matahari pagi yang seperti koin berwarna kuning lembut adalah momen yang paling
saya sukai. Saya benar-benar bisa melihat matahari dengan mata telanjang. Ini
momen yang jarang terjadi karena saya tinggal di daerah pegunungan yang sering
kali berkabut. Adakalanya saya bersama Ibu saya pergi ke pasar.jalan kaki
dengan membawa hasil sayuran yang kami tanam di kebun hendak dijual. Berangkat
setelah subuh sekitar jam 04.30. jarak desa kami ke pasar cukup jauh dengan
jalan kaki, sehingga harus pagi-pagi benar berangkatnya untuk mendapatkan
tempat dipasar. Ditengah perjalanan itu, saya juga seringkali mendapatkan
pemandangan matahari terbit dimana dua Gunung berapi Sumbing dan Sindoro berada
jauh di timur sana. Saat itu saya belum tahu lokasi kedua gunung cantik
tersebut. Ingatan tentang matahari terbit kala itu hanya saya simpan di memori
saya. Belum ada kamera saat itu. toh, saya masih mampu mengingat detail
keindahanya sampai sekarang. Pemandangan ini saya dapatkan sebelum sampai di
sebuah tempat dimana ada gunung kecil yang di sebut warga sekitar Gunung
Mandala dengan puncak sebuah batu besar menyerupai kepala manusia yang kala itu
saya analogikan sebagai seorang pertapa yang telah membatu. Ibu saya mungkin
tak peduli dengan momen-momen kelahiran sang surya ke permukaan. Padahal
harusnya ibu tahu betapa melahirkan adalah proses yang tidak mudah. Atu kungkin
karena beliau telah melahirkan 3 kali sehingga benar-benar tak peduli lagi
sakitnya. Lagipula saya masih ingat betapa mudahnya saya dilahirkan. Kata beliau
ketika saya mau lahir, bahkan beliau tak membutuhkan dukun beranak apalagi
seorang bidan. Saya lahir begitu saja diatas sebuah tampah. Sebuah benda yang
sering digunakan untuk menjemur kerupuk kering atau mengayak tepung jagung yang mau dijadikan nasi. Momen-momen
kelahiran itu hanya saya yang menimati, bagi saya momen itu adalah momen yang
begitu indah, begitu sacral, dan begitu romantis. ibu saya yang tak peduli, dan hanya memedulikan sayuran
yang digendongnya terus saja berjalan dan menyuruh saya cepat-cepat karena hari
hampir siang. Takut tak dapat tempat di pasar. Maka karena saya juga takut
ditinggal ditengah-tengah jalan sepi yang dikelilingi kebun maupun belukar saya
pun bergegas. Saya hanya menikmati momen-momen kontraksi cakrawala yang mau
melahirkan bayinya dalam waktu yang begitu singkat. Bayi yang akan menerangi dunia. Bayi yang akan membawa
kebahagiaan. Semacam Nabi yang dikultuskan untuk menerangi si Jahiliyah. Kami tergesa-gesa.
Ternyata pasar telah ramai sekali dengan orang-orang melakukan transaksi.
Sampai
sekarang, momen matahari terbit adalah momen yang saya sukai. Indah dan lembut.
Bersahaja. Matahari mau dilihat dengan mata telanjang tanpa menyakiti. Maka
ketika teman saya bercerita bahwa ia mau mendaki gunung, saya meminta untuk
diajak. Merengek seperti anak kecil. Beberapa acara yang seharusnya saya
kerjakan saat itu saya batalkan, seperti mengunjungi peringatan Waisak di candi
Borobudur. Saya benar-benar ingin ikut karena katanya dipuncak gunung kita bisa
mendapatkan pemandangan matahari terbit yang menawan. Maka berangkatlah saya ke
sebuah gunung dimana ketika kecil saya selalu melihat matahari menampakan
wujudnya di sana, Gunung sindoro.
Saat itu
harusnya saya bisa menikmati detik-detik kelahiran sang surya. Tetapi, dalam
perjalanan dari tempat kemah ke puncak saya terengah-engah. Saya hampir tidak
sampai puncak. Sebentar-sebentar saya merasa letih dan sesak. Mungkin karena
suhu udara yang sangat dingin sehingga kadar oksigen rendah. Maka ketika sampai
dipuncak, matahari telah meninggi. Apa mau dikata. Saya juga tak bisa dan tak
punya kuasa mengembalikan matahari lagi ke kantong cakrawala. Saya juga tak
bisa memutar waktu dimana saya bisa kembali sebelum jam 05.00. maka, saya
menikmati apa yang ada saja. setidaknya saya tak begitu kecewa dengan
pemandangan kawah Gunung Sindoro dan pemandangan beberapa atap langit seperti Gunung Merapi yang paling banyak
mengeluarkan uap, gunung Lawu, dan Gunung Merbabu disebelah timur maupun tenggara
Gunung Sindoro ini. Di sebelah selatan gunung ini, ada saudara dekatnya yang
berdiri teguh. Gunung Sumbing.
Memang, itu
tidak terlalu buruk, ketika ke Gunung Prau, Dieng bahkan saya tak sempat
melihat langit yang biru di puncak. Kabut dimana-mana padahal harusnya musim
kemarau. Musim yang sangat pas untuk mendaki dan menikmati keindahan gunung
prau dan sekitarnya dari puncak seperti yang ada di internet.
Beberapa
minggu kemudian dari waktu saya mendaki gunung tresebut, beberapa teman pendaki yang saya kenal ke gunung tersebut.
Saya iri, background foto yang dipamerkan di facebook memperlihatkan gunung
Prau yang cerah. Sial!!
Maka saya
pun berkelana lagi, hingga akhirnya saya ke Gunung Merapi atas rekomendasi
teman saya. Ia bilang gunungnya bagus dan medan pendakian tak terlalu sulit
hingga saya sebagai pendaki pemula mengalami sendiri. saya sempat protes di
tengah pendakian saya karena tak semudah yang ia ceritakan. Saat itu tengah
musim kemarau. Debu-debu menghambat pendakian. Bahkan debu itu seringkali
membuat pendaki yang turun berpapasan dengan saya seperti debu berjalan.
Paginya,
sebelum jam 05.00 saya naik ke puncak dan benar saja puncak merapi sangat
indah. Paling tidak itu membayar jerih payah saya. Dan bonusnya, sebuah
pemandangan yang telah saya cari-cari. Semua keluh kesah terkunci. Saya tak
bisa berbahasa kecuali diam dan menikmati karya Tuhan yang begitu cantik. Matahari
terbit. Saya menyaksikan dengan seksama ketika matahari itu masih berupa embrio
kecil di ufuk timur. Lantas detik-detik jam menjadikanya seperti bayi. Sangat
lembut. Sangat cantik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar