Satu sore yang cukup cerah. Seperti biasanya,
café ini bertambah rame setelah jam 16.00. saya cukup lelah hari ini. Seperti
biasa hari minggu selalu dibanjiri konsumen. Ada saja yang datang setelah ada
yang pergi. Sepertinya banyak yang terburu-buru. Tak banyak yang nongkrong dan
cas cis cus berlama-lama.
Kelelahan ini kadang membuat saya senang.
Kadang juga cemberut dan menggerutu. Pekerjaan yang saya tekuni memungkinkan
untuk berinteraksi dengan berbagai macam karakter. Dan manusia, adalah satu
makhluk yang ceritanya tak akan pernah habis. Dari merekalah sejarah tetap
mengalir. Dari merekalah gerutu, tawa, dan air mata ada. Dan dari pekerjaan
ini, saya bisa berinteraksi dan mengamati orang-orang tersebut. Dari pekerjaan
ini juga saya bisa bercerita.
Seperti yang saya bilang tadi, cerita-cerita
yang tercerita tidak melulu cerita tawa. Ada juga yang lucu. Ada juga yang
getir. Seperti selayaknya hidup, tempat kerja saya mewakili dunia kecil dari
dunia yang luas ini.
Kembali ke hari minggu lagi. Saya baru ingat
ini hari minggu terakhir libur panjang sekolah. Pantas saja, sedari tadi banyak
tamu café dari luar kota. Dan pantas saja mereka tak perlu berlama-lama cas cis
cus ngobrol di café. Kebanyakan dari mereka hanya ingin mencoba beberapa menu
yang café ini miliki. Ada juga yang bernostalgia masa-masa menjadi mahasiswa
yang beberapa telah bertransformasi menjadi om om gendut dan buncit dan menjadi
tante-tante yang glamour. Memang tak semua. Ada juga yang masih rata perutnya.
Ada yang unik jika ada tamu yang datang dari
luar kota. Tadi saja ada pelanggan yang memaksa untuk dibikinkan menu yang dulu
mereka sering pesan. Katanya mereka jauh-jauh datang dari Kalimantan. Pernah
juga ada pelanggan yang nyaris sama kasusnya. Bedanya pelanggan yang dulu dari
Jakarta. Kadang tidak tega juga mengecewakan mereka. Tapi mau bagaimana lagi.
Menu yang dipesan habis. Ia seperti primadona beberapa minggu ini. tapi jujur
saja saya juga jengah dengan pelanggan tersebut, masalahnya dia memaksa untuk
meng-adakan menu itu, sebuah cake coklat yang didalamnya adalah coklat leleh,
sering juga disebut lava cake. Seolah-olah menu tersebut bisa dibikin dengan
sim salabim dan jadi. Seolah-olah menu tersebut bisa ada dengan satu kali
tiupan. Seolah-olah asal pelanggan tersebut bisa menjadi excuse. Bukan tidak
bisa dibikin. Bisa saja jika: satu, pelanggan tersebut mau menunggu sampai
besok sore, kedua, chef nya tidak tengah libur. Jadi dengan berat hati karena
saya juga bukan pesulap tidak bisa menghadirkan yang ia pesan dengan
abracadabra.
Lagipula, habis adalah habis. Maksudnya ia
tak terbatas ranah geography. Jika menu tersebut dinyatakan habis, maka berlaku
bagi semua pelanggan, baik yang datang dari jogja maupun Sumatera sekalipun.
Bukan berarti habis tersebut hanya untuk pelanggan yang dari jogja. lantas
tiba-tiba akan ada jika ada palanggan dari Papua yang jauh. habis itu objektif
bukan subjektif. Ketika kasus Kalimantan ini, saya sempat menggerutu di dapur.
Saya tentu saja tak boleh menggerutu di depan pelanggan bukan. Meskipun saya
adalah pekerja rendahan, tapi saya juga punya kode etik tak kalah dengan
anggota DPR yang juga punya kode etik. saya cukup emosional saat itu.
maksudnya, hello, nggak peduli darimana pun kamu, dari America sekalipun tak
bisa menghadirkan yang tidak ada tiba-tiba ada. Bahkan dengan bayaran
berapapun. Sadis memang.
Lantas aku dapati jam telah menunjukan jam
18.00. saya bergegas mengganti seragam saya. Saya merdeka lagi. Saya utuh lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar