Kamis, 16 Januari 2014

Cafe: Tentang Manusia

Satu sore yang cukup cerah. Seperti biasanya, café ini bertambah rame setelah jam 16.00. saya cukup lelah hari ini. Seperti biasa hari minggu selalu dibanjiri konsumen. Ada saja yang datang setelah ada yang pergi. Sepertinya banyak yang terburu-buru. Tak banyak yang nongkrong dan cas cis cus berlama-lama.
Kelelahan ini kadang membuat saya senang. Kadang juga cemberut dan menggerutu. Pekerjaan yang saya tekuni memungkinkan untuk berinteraksi dengan berbagai macam karakter. Dan manusia, adalah satu makhluk yang ceritanya tak akan pernah habis. Dari merekalah sejarah tetap mengalir. Dari merekalah gerutu, tawa, dan air mata ada. Dan dari pekerjaan ini, saya bisa berinteraksi dan mengamati orang-orang tersebut. Dari pekerjaan ini juga saya bisa bercerita.
Seperti yang saya bilang tadi, cerita-cerita yang tercerita tidak melulu cerita tawa. Ada juga yang lucu. Ada juga yang getir. Seperti selayaknya hidup, tempat kerja saya mewakili dunia kecil dari dunia yang luas ini.
Kembali ke hari minggu lagi. Saya baru ingat ini hari minggu terakhir libur panjang sekolah. Pantas saja, sedari tadi banyak tamu café dari luar kota. Dan pantas saja mereka tak perlu berlama-lama cas cis cus ngobrol di café. Kebanyakan dari mereka hanya ingin mencoba beberapa menu yang café ini miliki. Ada juga yang bernostalgia masa-masa menjadi mahasiswa yang beberapa telah bertransformasi menjadi om om gendut dan buncit dan menjadi tante-tante yang glamour. Memang tak semua. Ada juga yang masih rata perutnya.
Ada yang unik jika ada tamu yang datang dari luar kota. Tadi saja ada pelanggan yang memaksa untuk dibikinkan menu yang dulu mereka sering pesan. Katanya mereka jauh-jauh datang dari Kalimantan. Pernah juga ada pelanggan yang nyaris sama kasusnya. Bedanya pelanggan yang dulu dari Jakarta. Kadang tidak tega juga mengecewakan mereka. Tapi mau bagaimana lagi. Menu yang dipesan habis. Ia seperti primadona beberapa minggu ini. tapi jujur saja saya juga jengah dengan pelanggan tersebut, masalahnya dia memaksa untuk meng-adakan menu itu, sebuah cake coklat yang didalamnya adalah coklat leleh, sering juga disebut lava cake. Seolah-olah menu tersebut bisa dibikin dengan sim salabim dan jadi. Seolah-olah menu tersebut bisa ada dengan satu kali tiupan. Seolah-olah asal pelanggan tersebut bisa menjadi excuse. Bukan tidak bisa dibikin. Bisa saja jika: satu, pelanggan tersebut mau menunggu sampai besok sore, kedua, chef nya tidak tengah libur. Jadi dengan berat hati karena saya juga bukan pesulap tidak bisa menghadirkan yang ia pesan dengan abracadabra.
Lagipula, habis adalah habis. Maksudnya ia tak terbatas ranah geography. Jika menu tersebut dinyatakan habis, maka berlaku bagi semua pelanggan, baik yang datang dari jogja maupun Sumatera sekalipun. Bukan berarti habis tersebut hanya untuk pelanggan yang dari jogja. lantas tiba-tiba akan ada jika ada palanggan dari Papua yang jauh. habis itu objektif bukan subjektif. Ketika kasus Kalimantan ini, saya sempat menggerutu di dapur. Saya tentu saja tak boleh menggerutu di depan pelanggan bukan. Meskipun saya adalah pekerja rendahan, tapi saya juga punya kode etik tak kalah dengan anggota DPR yang juga punya kode etik. saya cukup emosional saat itu. maksudnya, hello, nggak peduli darimana pun kamu, dari America sekalipun tak bisa menghadirkan yang tidak ada tiba-tiba ada. Bahkan dengan bayaran berapapun. Sadis memang.
Lantas aku dapati jam telah menunjukan jam 18.00. saya bergegas mengganti seragam saya. Saya merdeka lagi. Saya utuh lagi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar