![]() |
| The Son of Man by Rene Magritte |
Suatu
siang yang panas. Meskipun ruangan yang digunakan menggunakan AC, tapi suhu saat
itu luar biasa sadis. TV dan surat kabar mengabarkan jogja berada di titik panas
terekstrim. AC tak bisa melawan. Mungkin
karena panas, banyak tamu café yang datang. Sekadar minum es dan menghindar
dari terik dan polusi mungkin.
Dari
berbagai tamu café saat itu, ada satu tamu yang menarik. Bukan karena saking
cantiknya atau saking gantengnya. Ia bahkan biasa. Lelaki paruh baya. Disebut
juga om om dengan kepala yang hampir botak dan perut buncit. Ia mungkin di
pertengahan 30an.
Ketika
ada server yang mengantarkan menu, dengan sopan ia mengatakan bahwa ia akan
pesan setelah temanya datang. Ia menunggu temanya. Mungkin seorang wanita. Jadi
ia menghabiskan waktu dengan membolak-balikan menu dengan sabar. Kadang ia
melirik-lirik jam atau televisi. Kadang ia celingak celinguk untuk memastikan
yang ditunggu mengenalinya. Atau sebaliknya.
Maka
seperti adegan sinetron atau FTV, dimeja lain ada seorang wanita muda.
Sepertinya berusia 20 sekian. Cantik. Rambutnya legam menjuntai sampai dadanya.
Manis, dengan behel gigi yang tertancap digiginya. Ia memakai rok balon setinggi
lutut dengan atasan bunga-bunga. Vintage. Klasik. Elegan.
Saya
menunggu teman. Jawabnya. Maka, teman saya pun membiarkan wanita cantik itu
dalam kesendirianya. Ada pertanyaan yang tersisa, apakah mereka adalah dua
insan yang tengah menunggu tanpa pernah bertemu sebelumnya kecuali melalui
jejaring sosial yang kadang menggunakan foto dan nama samaran? Tak bisa
dipungkiri, teknologi mendekatkan yang jauh meskipun bisa juga menjauhkan yang
dekat. Kalau benar, bisa dipastikan mereka tengah melakukan kencan buta. Ini
menarik sekaligus menggelikan. Saya dengan brutal menjadi penonton yang
bertaruh pada beberapa teman di situ akan beberapa kemungkinan-kemungkinan.
Layaknya
sebuah siaran TV, kami menyaksikan pertunjukan tersebut dengan takjub.
Spekulasi-spekulasi kami lancarkan bahwa laki-laki yang menunggu temannya dan
wanita yang menunggu temannya sedang saling menunggu. Jika demikian, benar saja kalau demikian.
Mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Ini kencan buta seperti yang saya
perkirakan. Kami hanya menunggu momen-momen
kebenaran menampakan diri. Selang beberapa menit kemudian, momen kebenaran itu
pun tersibak. Benar saja, mereka adalah dua anak adam yang tengah saling
menunggu. Si lelaki tampaknya sumringah menemukan bidadarinya. Beda dengan si
wanita itu, ada gurat ketidaksenangan. Tampaknya ia kecewa. Ini sebuah realita
yang tak bisa dielakan. Tak ada salahnya melakukan blind date. Hanya saja sangat disayangkan jika ada ketidakjujuran. Maka
beginilah, ada kekecewaan pada akhirnya. Tapi tampaknya, media sosial sangat
mendukung ketidakjujuran itu. Dari jauh, kencan buta tersebut terlihat kaku.
Sepertinya sang wanita menampik kehadiran lelaki itu. Wanita itu nampak tak
senang. Ada yang salah mungkin. Saya pun tidak tahu jika ada yang keliru disitu. Posisi saya hanyalah penonton saja. Apa mungkin lelaki itu berbeda dari deskripsi
yang ia ketahui sebelumnya yang tak setampan dan sekekar yang ada di foto
jejaring sosial. Ini semacam penipuan. Aku yang takjub apa memang
itu hal yang wajar bagi manusia dunia digital akan beberapa ketidakjujuran yang
terjadi.
Lelaki
itu, berbeda dengan si wanita, terlihat senang-senang saja. Tapi, air muka si
wanita tak bisa terelakan di mata sang lelaki. Air muka itu tetap saja
mengganggu. Si lelaki berusaha membuka pembicaraan. Tanggapan si
wanita datar-datar saja bahkan cenderung dingin dilihat dari pantry dapur.Jika saya berada disana, ini seperti berada di neraka
paling dingin meskipun udara sebetulnya panas. Aku ingin mengakhiri tontonan
itu. Akhir cerita sudah bisa ditebak. Ini bukanlah cerita berakhir bahagia.
Pertemuan
itu singkat saja. sebuah pertunjukan yang anti klimaks. Pangeran tak bisa
menaklukan hati Cinderella nya. Tak sampai satu jam Cinderella pergi
meninggalkan tempat mereka bertemu sebelum kopi dicangkirnya habis ia tenggak.
Pangeran itu kini sendirian. Adakah yang salah dengan dia? Aku tak tahu. masih tak tahu sampai sekarang.
Beberapa
hari setelah itu ia datang lagi. seperti kemarin, sebelum ia ditinggalkan ia hanya meningalkan sebuah pesan “nanti saja pesannya. Saya menunggu
teman.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar