Kamis, 23 Januari 2014

Café: Kencan Buta

The Son of Man by Rene Magritte
Suatu siang yang panas. Meskipun ruangan yang digunakan menggunakan AC, tapi suhu saat itu luar biasa sadis. TV dan surat kabar mengabarkan jogja berada di titik panas terekstrim. AC  tak bisa melawan. Mungkin karena panas, banyak tamu café yang datang. Sekadar minum es dan menghindar dari terik dan polusi mungkin.
Dari berbagai tamu café saat itu, ada satu tamu yang menarik. Bukan karena saking cantiknya atau saking gantengnya. Ia bahkan biasa. Lelaki paruh baya. Disebut juga om om dengan kepala yang hampir botak dan perut buncit. Ia mungkin di pertengahan 30an.
Ketika ada server yang mengantarkan menu, dengan sopan ia mengatakan bahwa ia akan pesan setelah temanya datang. Ia menunggu temanya. Mungkin seorang wanita. Jadi ia menghabiskan waktu dengan membolak-balikan menu dengan sabar. Kadang ia melirik-lirik jam atau televisi. Kadang ia celingak celinguk untuk memastikan yang ditunggu mengenalinya. Atau sebaliknya.
Maka seperti adegan sinetron atau FTV, dimeja lain ada seorang wanita muda. Sepertinya berusia 20 sekian. Cantik. Rambutnya legam menjuntai sampai dadanya. Manis, dengan behel gigi yang tertancap digiginya. Ia memakai rok balon setinggi lutut dengan atasan bunga-bunga. Vintage. Klasik. Elegan.
Saya menunggu teman. Jawabnya. Maka, teman saya pun membiarkan wanita cantik itu dalam kesendirianya. Ada pertanyaan yang tersisa, apakah mereka adalah dua insan yang tengah menunggu tanpa pernah bertemu sebelumnya kecuali melalui jejaring sosial yang kadang menggunakan foto dan nama samaran? Tak bisa dipungkiri, teknologi mendekatkan yang jauh meskipun bisa juga menjauhkan yang dekat. Kalau benar, bisa dipastikan mereka tengah melakukan kencan buta. Ini menarik sekaligus menggelikan. Saya dengan brutal menjadi penonton yang bertaruh pada beberapa teman di situ akan beberapa kemungkinan-kemungkinan.
Layaknya sebuah siaran TV, kami menyaksikan pertunjukan tersebut dengan takjub. Spekulasi-spekulasi kami lancarkan bahwa laki-laki yang menunggu temannya dan wanita yang menunggu temannya sedang saling menunggu. Jika demikian, benar saja kalau demikian. Mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Ini kencan buta seperti yang saya perkirakan.  Kami hanya menunggu momen-momen kebenaran menampakan diri. Selang beberapa menit kemudian, momen kebenaran itu pun tersibak. Benar saja, mereka adalah dua anak adam yang tengah saling menunggu. Si lelaki tampaknya sumringah menemukan bidadarinya. Beda dengan si wanita itu, ada gurat ketidaksenangan. Tampaknya ia kecewa. Ini sebuah realita yang tak bisa dielakan. Tak ada salahnya melakukan blind date. Hanya saja sangat disayangkan jika ada ketidakjujuran. Maka beginilah, ada kekecewaan pada akhirnya. Tapi tampaknya, media sosial sangat mendukung ketidakjujuran itu. Dari jauh, kencan buta tersebut terlihat kaku. Sepertinya sang wanita menampik kehadiran lelaki itu. Wanita itu nampak tak senang. Ada yang salah mungkin. Saya pun tidak tahu jika ada yang keliru disitu. Posisi saya hanyalah penonton saja. Apa mungkin lelaki itu berbeda dari deskripsi yang ia ketahui sebelumnya yang tak setampan dan sekekar yang ada di foto jejaring sosial. Ini semacam penipuan. Aku yang takjub apa memang itu hal yang wajar bagi manusia dunia digital akan beberapa ketidakjujuran yang terjadi.
Lelaki itu, berbeda dengan si wanita, terlihat senang-senang saja. Tapi, air muka si wanita tak bisa terelakan di mata sang lelaki. Air muka itu tetap saja mengganggu. Si lelaki berusaha membuka pembicaraan. Tanggapan si wanita datar-datar saja bahkan cenderung dingin dilihat dari pantry dapur.Jika saya berada disana, ini seperti berada di neraka paling dingin meskipun udara sebetulnya panas. Aku ingin mengakhiri tontonan itu. Akhir cerita sudah bisa ditebak. Ini bukanlah cerita berakhir bahagia.
Pertemuan itu singkat saja. sebuah pertunjukan yang anti klimaks. Pangeran tak bisa menaklukan hati Cinderella nya. Tak sampai satu jam Cinderella pergi meninggalkan tempat mereka bertemu sebelum kopi dicangkirnya habis ia tenggak. Pangeran itu kini sendirian. Adakah yang salah dengan dia? Aku tak tahu. masih tak tahu sampai sekarang.
Beberapa hari setelah itu ia datang lagi. seperti kemarin, sebelum ia ditinggalkan ia hanya meningalkan sebuah pesan “nanti saja pesannya. Saya menunggu teman.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar